Masjid Kashmiri Taqiya – Nepal

Masjid Kashmiri Taqiya – Nepal

Nepal merupakan salah satu negara yang juga merupakan wilayah dataran tinggi. Sebelum Islam masuk di negara tersebut, sekitar 480 tahun lalu hampir keseluruhan warga Nepal masih memeluk agama Hindu dengan taat. Ada 2 bangunan yang menjadi saksi bisu penyebaran Islam di daerah Nepal, yaitu Masjid Jama Kathmandu, dan Masjid Khasmiri Taqiya yang akan kita bahas pada tulisan kali ini.

Masjid Kashmiri Taqiya

Pada tahun 1991, Agama Islam menempati urutan ketiga sebagai agama yang paling banyak di peluk oleh masyarakat Nepal setelah Agama Hindu dan Budha. Secara keseluruhan, wilayah nepal dihuni oleh 4 etnis besar yaitu Muslim India, Khasmir, Tibet, dan Muslim Asli Nepal. Sebelumnya, umat muslim di Nepal menjadi umat yang tertindas, terutama pada masa rezim dinasti Rana. Namun akhirnya, pada tahun 1951 hingga 1959 umat muslim  mulai diakui oleh pemerintah negara sebagai masyarakat dengan agama yang sah. Lalu pada tahun 1960, Raja Mahendra menerbitkan undang-undang baru yang menyatakan kesetaraan warga muslim dengan warga nepal lainnya.

Sejarah Masjid Khasmiri Taqia

Masjid Khasmiri atau biasa dikenal juga dengan sebutan “Masjid Khasmiri Pancha Taqia” dibangun pertama kali pada tahun 1524 Masehi oleh seorang ulama Khasmir pada saat pemerintahan Raja Rama Malla. Beliau merupakan salah satu pedagang khasmir yang menjalankan bisnisnya di Katmandu, sekaligus pendiri Masjid Terbesar pertama di Nepal.

Pada masa itu, beliau diperbolehkan untuk berdagang dan menetap di daerah Kathmandu, namun dengan syarat tidak boleh menyebarkan agama islam kepada penduduk lainnya yang beragama lain. Masjid Kashmiri Taqiya pun hanya difungsikan sebagai pusat pengembangan islam saja, tanpa boleh digunakan sebagai sarana penyebaran agama islam di sana.

Masjid Kashmiri Taqiya yang sudah berumur lebih dari 450 tahun ini juga pernah mengalami kejadian na’as, yaitu pada saat 4.000 orang datang menyerang pada tanggal 1 Septermber 2004 lalu. Serangan tersebut merupakan wujud pelampiasan kemarahan karena 12 pekerja Nepal diculik dan dibunuh oleh milisi bersenjata di Iraq. Akhirnya, umat muslim di Nepal pun menjadi kambing hitam tanpa memperdulikan bahwa tidak ada hubungan sama sekali muslim di Iraq dan di Nepal.

Bangunan Masjid Kashmiri Taqiya dibakar, dan perabotan masjidnya pun di hancurkan secara paksa. Beruntungnya, aksi anarkis tersebut dapat dilerai dan dibubarkan oleh pihak kepolisian setempat. Apalagi, setelah itu pihak pemerintah setempat juga mengeluarkan larangan langsung kepada para perusuh dengan ancaman akan ditembak mati ditempat jika tetap memicu anarkisme lanjutan.

Arsitektur Masjid Kashmiri Taqia

interior Masjid Kashmiri Taqiya

Bangunan Masjid Khasmiri Taqia ini sangat kental dengan gaya seni bina bangunan khas India Utara sebagai leluhur muslim Kashmiri Nepal. Beberapa menara kecil didirikan diatap masjid, beserta tiga kubah yang terbuat dari batu. Beberapa sentuhan seni khas dinasti Mughal juga bisa ditemukan dibagian kubah dan beberapa menara kecil tersebut.

Masjid Khasmiri Taqia juga memiliki bagian koridor yang khas dengan lengkungan-lengkungan yang tidak biasa. Ditambah dengan halaman tengah yang cukup luas, yang juga difungsikan sebagai ruang sholat tambahan jika didalam bangunan utamanya sudah tidak mampu untuk menampung jamaah.

Kawasan bangunan masjid ini juga dibuat untuk 4 tingkat, dimana ke empatnya juga digunakan sebagai ruang sholat jika bagian ruang utama dan halaman sudah tidak muat lagi. Jadi, jangan heran jika pada saat sholat hari raya, anda akan menemukan pemandangan aneh, yaitu ada jamaah yang melakukan sholat di lantai atas ataupun pada atap bangunan yang mengelilingi bangunan utamanya.

Masjid Jami’ Cheraman – Masjid Pertama di India

Masjid Jami’ Cheraman – Masjid Pertama di India

Jika kita baru mengetahui fenomena bekas guratan “Moon Split” atau Bulan Terbelah yang baru diungkapkan NASA baru-baru ini, pasti sebagai umat muslim kita langsung mengetahui bahwa peristiwa tersebut sudah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya didalam Al-Qur’an, dan terjadi pada masa Rosulullah SAW. Fenomena itulah yang bisa dikaitkan dengan Masjid Jami’ Cheraman. Kenapa bisa dikaitkan dengan hal tersebut?.

Masjid Jami’ Cheraman

Karena Raja Cheraman Perumal, Raja India pertama yang masuk Islam disebabkan oleh kesaksiannya melihat Moon Split tersebut pada zaman Rosulullah SAW, atau paling tidak mempercayai tentang mukjizat yang dibuktikan oleh Rosulullah SAW.  Raja Cheraman Perumal menjadi Raja yang pertama kali masuk Islam dan oleh karena itu pembangunan masjid pertama di India juga disematkan pada nama beliau.

Masjid Cheraman atau biasa disebut dengan “Ceraman Juma Masjid” merupakan masjid yang dibangun pada tahun 629 Masehi oleh malik Bin Dinar atas permintaan terakhir Raja Cheraman Perumal sebelum beliau wafat pada saat perjalanan pulang dari Makkah Almukarromah.

Bangunan masjid ini terletak di Desa Methala, Kota Kodongallur, Kerala, India, tepatnya sekitar 2 Km dari pusat kota.

Sejarah Masjid Cheraman

Pada zaman dahulu, hubungan liberal terutama pada pangsa perdagangan Arab dan India sudah terjalin dengan baik, bahkan sebelum Agama Islam menyebar di negara tersebut. Pada saudagar Arab sering berkunjung ke wilayah Malabar yang menjadi titik utama penghubung Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Proses masuknya Islam ke negara India dimulai dari kerjasama perdagangan antara Arab dan India tersebut. Pada saat itu, selain berdagang saudagar Arab juga terus berusaha menyebarkan agama islam di wilayah tersebut, terutama dimulai dari wilayah pantai Kerala. Konon, Raja Rama Varma Kulashekhara atau Chakrawati Farmas, atau Cheraman Perumal disebut sebagai pemeluk Islam pertama di daerah tersebut.

Konon, pada suatu malam Raja Cheraman Perumal sedang menikmati indahnya malam dari istana bersama dengan sang permaisuri. Tiba-tiba beliau melihat pemandangan yang sangat indah yaitu “Moon Split” atau “Bulan Terbelah” dilangit. Sontak pemandangan tersebut membuat beliau terkagum-kagum dan penasaran apa yang menyebabkan bulan bisa terbelah seperti itu. Sampai kemudian beliau mendengar cerita dari Pedagang Arab bahwa Bulan Terbelah tersebut merupakan salah satu mukjizat pembawa agama Islam yaitu Rosulullah Muhammad SAW. Segera setelah mengetahui cerita tersebut, beliau langsung berangkat ke mekkah untuk menemui Rosulullah SAW secara langsung

interior Masjid Jami’ Cheraman

Raja Cheraman Perumal kemudian bertemu dengan Rosulullah SAW dan melafalkan dua kalimat syahadat dibimbing langsung oleh Rosul, disaksikan oleh beberapa sahabat nabi. Raja Cheraman Pemumal kemudian berganti nama menjadi Tajudin setelah beliau masuk islam.

Belum sempat pulang ke kampung halamannya, Raja Cheraman jatuh sakit ditengah perjalanannya, dan memberikan mandat terakhirnya kepada sahabat Arab yang mendampinginya. Beliau berpesan agar sahabatnya tersebut meneruskan perjalanan kembali ke India dan menyebarkan agama Islam disana. Raja Cheraman / Tajudin wafat di Salalah, Oman, dan dimakamkan disana. sampai saat ini makam tersebut terkenal dengan “Makamnya Raja India” dan masih sering di ziarahi oleh umat muslim.

Segera setelah wafatnya Raja Cheraman, rombongan muslim pimpinan Malik Bin Deenar dan Malik bin Habib kembali ke India, dan langsung membangun sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Jami’ Cheraman yang terletak di Kodungalloor. Menurut sejarah, pembangunan masjid tersebut dilakukan pada tahun 629 Masehi, sekaligus menjadikannya sebagai bangunan Masjid yang pertama kali berdiri di India dan juga Masjid kedua setela Masjid Nabawi di Madinah Almunawaroh.

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Paola – Malta

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Paola – Malta

Jika kita mendengar sebutan “Malta” pasti terasa sangat asing dan kita belum pernah mengetahuinya, namun Malta sendiri merupakan sebuah negara yang berada disuatu pulau di laut mediterania. Negara Malta disebut sebagai Negara Paling Katholik di Dunia, karena memang mayoritas penduduknya beragama Katholik.

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Paola

Meskipun begitu, di Negara tersebut telah berdiri sebuah bangunan Masjid yang cukup megah di Kota Paola. Nama kota tersebut juga digunakan sebagai penamaan Masjid ini. Selain berdiri sebuah bangunan masjid, ternyata di area tersebut juga berdiri Lembaga Sekolah Islam, dan Pemakaman Khusus Muslim Pertama di Malta.

Masjid Paola menjadi satu-satunya Masjid yang berdiri di Negara Malta, dan sekaligus menjadi satu-satunya simbol peradaban kebudayaan Islam disana. Saat ini penduduk Malta mayoritas beragama Katholik, meskipun pada masa kejayaan Emperium Usmaniyah, mayoritas penduduk Malta merupakan muslim.

Letak masjid ini cukup unik, yaitu berada di puncak Bukit Corradino. Ketinggian tersebut membuat menara Masjid Paola bisa dilihat dari Town Square. Di komplek masjid ini juga terdapat satu lahan pemakaman khusus umat muslim, mengingat dari dulu belum pernah ada pemakaman khusus muslim di daerah tersebut.

Beberapa bagian bangunan di sebelah atas terlihat sedikit menjorok dibandingkan bagian bangunan penopangnya. Lalu bagian atas tersebtu dihiasi dengan warna-warni yang lebih cerah dibandingkan bagian bawahnya, agar kesan megah dapat terjadi.

Pada kawasan Masjid Paola juga dibangun sebuah gedung Sekolah Islam Mariam Al-Batool, dan juga Gedung Sekretariat pengurus masjid. Pembangunan masjid ini dilakukan pada tahun 1978 dan didanai penuh oleh World Islamic Call Society, sebuah yayasan yang bertujuan untuk menyediakan tempat ibadah umat muslim, terutama di negara non-muslim, milik pemerintah Libya yang dibentuk pada masa pemerintahan Muammar Khadafi. Masjid hasil pendanaan dari Muammar Khadafi juga bisa ditemukan di Indonesia, yaitu Masjid Khadafi Sentul, Bogor, Jawa Barat.

interior Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Paola

Meskipun bangunan Masjid Paola hanya memiliki satu lantai saja, namun tempat sholat untuk jamaah pria dan wanita tetap dipisahkan dan dibedakan ruangannya. Kedua ruangan tersebut memiliki tempat wudhu dan toilet yang berada di sampingnya.

Meskipun saat ini penduduk muslim di Malta menjadi minoritas, namun kerukunan umat beragama disana begitu kental. Misalnya saja pada saat pelaksanaan hari raya, pihak pengamanan yang dikerahkan pemerintah setempat akan ikut berjaga dan melarang orang-orang katholik berjalan-jalan dengan anjingnya. Beberapa kegiatan muslim pun juga turut mengundang beberapa tokoh agama katolik setempat, begitu juga sebaliknya, karena kerukunan antar umat beragama adalah yang terpenting.

Seperti kebanyakan masjid lain yang berdiri di negara non-muslim, Masjid Paola ini pun juga terbuka untuk umum meskipun pengunjungnya non-muslim, asalkan mau menutup auratnya. Beberapa kunjungan dari berbagai duta besar pun juga pernah dilakukan di masjid ini. Beberapa sekoah non-muslim juga turut memasukkan masjid ini sebagai destinasi wisata religius bagi siswa mereka, agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi.

Yang paling menarik adalah kunjungan dari Uskup Paul Cremoda pada tanggal 26 Februari 2008. Dalam kunjungan tersebut, Uskup disambut dengan meriah oleh para murid-murid madrasah, dan juga beberapa tokoh muslim lainnya. Bahkan, pada saat kunjungan terjadi, Uskup Paul Cremoda menyempatkan diri untuk berdoa bersama didalam masjid menghadap kiblat bersama-sama dengan imam Muhammad Elsadi. Dari sini sudah bisa dilihat bahwa keharmonisan dan kerukunan antar umat beragama Malta dapat terjalin dengan baik hingga kini.

Masjid Chaqchan – Pakistan

Masjid Chaqchan – Pakistan

Masjid Chaqchan ini juga terletak di atap dunia. Bagaimana tidak, bangunan masjid ini didirikan di Kawasan Gilgit Baltistan, yaitu salah satu kawasan yang menjadi pertemuan tiga puncak tertinggi di nuai yaitu Himalaya, Hindukush, dan Karakorum. Jadi, tidak heran jika masjid ini memang pantas mendapatkan julukan “Masjid di Atap Dunia”, karena terletak di puncak tertinggi dunia.

Masjid Chaqchan

Kawasan Gligit-Baltistan sendiri menjadi surga untuk para pendaki dan pemanjat tebing, karena kawasan tersebut memang memiliki tebing-tebing yang menjulang tinggi. Bahkan berbagai macam flora dan fauna langka juga masih ada dan berkembang dikawasan tersebut.

Masjid Chaqchan ini menjadi salah satu masjid tertua di kawasan Khaplu, yang juga dibangun oleh Syed Ali Hamdan pada tahun 1384 Masehi, sama seperti Masjid Amburiq – Pakistan. Syed Ali Hamdan adalah penyebar agama Islam di wilayah Khaplu sekaligus Baltistan. Masjid ini juga merupakan masjid pertama kali yang dibangun dikawasan Khaplu yang menjadi saksi bisu penyebaran islam didaerah tersebut.

Sama seperti masjid-masjid tua lainnya, Masjid Chaqchan ini juga merupakan masjid yang sangat bersejarah, namun pernah hampir rusak total termakan oleh usia, karena memang bangunannya mayoritas hanya terbuat dari kayu saja. Untuk mencegah ambruknya masjid, akhirnya renovasi dilakukan oleh Aga Khan yang juga merestorasi bangunan masjid lain disekitar tempat tersebut.

Meskipun renovasi dilakukan, namun bangunan asli masjid ini masih dipertahankan sampai sekarang, termasuk berbagai bentuk ukiran dan ornamen yang sudah berumur ratusan tahun.

Arsitektural Masjid Chaqchan

interior Masjid Chaqchan

Jika sekilas dilihat, memang bangunan ini tidak mirip sama sekali dengan bentuk bangunan khas masjid pada umumnya yang memiliki kubah besar dan ornamen islam lainnya. Jika dilihat dari seni bina bangunannya, masjid ini sangat kental dengan bangunan tempat peribadatan pemeluk agama Budha di Tibet. Hal ini bisa dimaklumi karena memang pada masa sebelum islam disebarkan oleh Syed Ali Hamdani, penduduk Khaplu mayoritas masih beragama budha.

Sebenarnya tidak hanya Masjid Chaqchan saja yang memiliki bangunan unik dan tidak mirip sama sekali dengan masjid didaerah pegunungan tersebut. eksterior dan interior bangunannya bahkan lebih mirip dengan bangunan khas agama Budha, dengan ukiran khas flora dan fauna khas Tibet.

Uniknya, bangunan Masjid Chaqchan ini memiliki 2 lantai yang berbeda dan digunakan pada musim yang berbeda pula. Pada musim dingin, lantai dasar masjid yang digunakan sebagai ruang sholat agar terhindar dari dinginnya suhu di daerah tersebut, sedangkan pada musim panas lantai ataslah yang menjadi ruang utama pelaksanaan ibadah.

Pada ruang utama, terdapat empat tiang kayu yang berukuran lumayan besar dengan ukiran-ukiran khas menghiasi keseluruhan tiang penopang atap tersebut. Beberapa ukiran geometris pun juga tampak pada bagian plafon masjid. Namun anehnya, tidak ada satupun ukiran yang terdapat dibagian pintu dan jendela masjid ini.

Lalu, mihrab pada masjid ini juga dibuat dari bahan baku kayu dengan denah kecil dan sangat sederhana. Diletakkan juga sebuah mimbar yang terbuat dari kayu disisi Mihrabnya, berbagai hiasan ukiran kayu khas tibet memenuhi keseluruhan bagian bangunannya kecuali pada bagian pintu dan jendela.

Jika dilihat dari lokasinya yang merupakan dataran tinggi, tidak heran jika masjid ini selalu “adem”, sehingga banyak yang singgah ke masjid ini untuk merasakan sensasi beribadah dengan udara yang sejuk alami. Apalagi berbagai pemandangan yang sangat indah juga turut dihadirkan sebagai bahan renungan tentang kekuasaan penciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Masjid Amburig – Pakistan

Masjid Amburig – Pakistan

Masjid dengan nama “Amburiq” ini terletak di lembah Shigar, Sekitar 32 km dari Skardu, Ibukota Baltistan, Provinsi Utara, Pakistan. Shigar sendiri merupakan ibukota kerajaan pada masa lalu, namun kini hanya berupa sebuah kota / dsa kecil di ketinggian kawasan Balistan. Daerah ini dikelilingi oleh benteng alami berupa pegunungan yang hijau, tak heran jika banyak yang menyebut kawasan ini sebagai “Surga yang Tersembunyi”, karena memang keindahan yang ditawarkan sangat memukau mata.

Masjid Amburig

Masjid Amburig ini juga sering disebut dengan Masjid di Atap Dunia, karena memang terletak di puncak tertinggi di bumi, kira-kira 8 km dari permukaan laut. Shigar merupakan kawasan untuk menuju titik tertinggi bumi, namun masih merupakan titik yang terendah setelah Gasherbrum, Broad Peak dan puncak ketinggian lainnya.

Masjid Amburiq juga dinobatkan sebagai masjid warisan budaya dunia, karena pada saat ditemukan bangunannya hampir hancur dan roboh. Untungnya, berkat usaha keras dari Yayasan The Aga Khan Trus for Culture (AKTC), masjid ini bisa direnovasi sedemikian rupa dan masih terlihat kokoh sampai saat ini. AKTC bekerjasama dengan Aga Khan Cultural Service Pakistan dengan bantuan dana yang diberikan oleh provinsi utara, Pakistan. Pemugaran pada saat itu memang bertujuan untuk memulihkan bangunan masjid ini, tanpa merubah bentuk asli dari bangunan masjid aslinya. Akhirnya, pembangunan dapat diselesaikan dengan baik, dan kembali difungkikan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat peribadatan.

Masjid yang sudah berumur ber-abad-abad ini dimasukkan kedalam daftar warisan budaya dunia oleh UNESCO. Plakat penghargaan pun di berikan kepada masjid ini dengan tujuan sebagai pengingat agar masjid ini selalu dilestarikan dan dijaga dari kerusakan oleh masyarakat dan pemerintah setempat.

Arsitektural Masjid Amburiq

interior Masjid Amburig

Masjid Amburiq memiliki arsitektur yang sangat unik, jauh dari bayangan kita yang  biasanya hanya melihat bentuk masjid pada umumnya. Biasanya masjid-masjid memiliki kubah besar dan menara tinggi yang menjulang. Namun berbeda dengan Masjid Amburiq ini, diman tidak ada satupun bangunan kubah maupun menara yang didirikan dibangunan masjidnya. Bahkan ornamen khas islam seperti lambang bulan sabit juga tidak ada dibangunan masjid ini.

Jika kita hanya melihatnya sekilas saja, pasti kita tidak akan mengira bahwa bangunan ini adalah sebuah masjid. Barulah jika kita memasuki ruangannya, kita akan disambut dengan ruangan yang berbalut sajadah sederhana, kemudian tersedia sebuah mihrab dan mimbar yang menunjukkan bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan masjid.

Cara pembangunan masjid ini pun juga tergolong unik, karena 75% persen bahan baku bangunannya merupakan kayu, sedangkan 25% nya adalah batu. Beberapa kayu ditata dengan membentuk sebuah celah yang kemudian diberi batu didalam celah tersebut untuk memperkokoh bangunannya.

Sedangkan bagian atap disusun menjadi dua bagian bersusun, pada bagian puncaknya didirikan sebuah menara kecil yang terbuat dari balok. Lalu menara tersebut dibuat sedemikian rupa dengan ukiran bermotif Kashmir Tibet dan juga Mughal. Ukiran motif tersebut merupakan karya seni masyarakat secara turun temurun dan sudah berumur hingga ratusan tahun.

Sebagai catatan, Masjid Amburiq ini dibangun pada tahun 1384 Masehi, oleh Syed Ali Hamdani, pada saat beliau berdakwah dikawasan tersebut. Beliau merupakan salah satu penyebar agama Islam pertama di daerah Balistan. Para pengikutnya yang merupakan pengukir inilah yang kemudian membuat ukiran-ukiran khas yang masih dapat kita lihat hingga saat ini. Lalu, mengingat umur masjid yang sudah tua, pemugaran pada tahun 1998 pun dilakukan dan terlihat hingga saat ini Masjid Amburiq masih berdiri dengan kokoh.

Masjid Agung Lhasa – Tibet

Masjid Agung Lhasa – Tibet

Masjid Agung Lhasa juga disebut-sebut sebagai “Masjid di Atap Dunia”, karena memang terletak di Kota Lhasa, Ibukota Tibet, yang memiliki ketinggian 4.900 meter diatas permukaan laut. Sejarah Islam di Tibet juga sudah dimulai sejak 1.000 tahun yang lalu, dan salah satu bentuk bukti otentik dari masa-masa penyebaran islam tersebut adalah berdirinya Masjid Agung Lhasa yang masih bisa kita kunjungi saat ini, meskipun banguannnya bukan merupakan bangunan asli.

Masjid Agung Lhasa

Alamat Masjid Agung Lhasa secara lengkap adalah Wengduixingka Road No.3, Hui Community Southeast of Hebalin, Old Town, Lasha Tibet, China.

Sejarah Masjid Agung Lasha

Masjid Agung Lasha juga biasa dikenal dengan “Masjid Hebalin”, karena terletak di daerah Hebalin, Pusat Kota Lasha. Masjid Agung Lasha dibangun pertama kali pada sekitar tahun 1716 Masehi, pada saat pemerintahan Kaisar Kangxi, Dinasti Qing. Masjid ini juga masih difungsikan sedemikian rupa sebagai tempat peribadatan, serta tempat berkumpulnya anggota komunitas muslim Hui di Tibet.

Pada awalnya, bangunan masjid ini hanya memiliki luas sekitar 200 meter persegi saja, namun akhirnya mengalami perluasan pada tahun 1793 Mashie pada saat banyak tentara muslim yang tinggal di Lhasa. Bangunan masjid ini pun pernah terbakar habis pada tahun 1959, karena memang bangunannya pada saat itu hanya terbuat dari bahan baku kayu saja. Akhirnya, setelah kebakaran tersebut membumi hanguskan keseluruhan bangunannya, maka dilakukan renovasi pembangunan ulang yang menghasilkan bangunan seperti saat ini.

Insiden Na’as juga pernah terjadi pada sekitar tahun 2008 lalu, dimana pendemo anti China melakukan huru-hara demo disertai anarkisme yang berakibat rusaknya beberapa bangunan diwilayah tersebut, termasuk Masjid Agung Lhasa. Kerusakan bangunan Masjid Agung Lhasa terjadi dimana-mana, bahkan area tersebut sempat ditutup oleh pihak kepolisian.

Masyarakat kota Lasha mengenal Masjid Agung Lasha ini sebagai “Masjid Besar” umat muslim Hui, karena memang dibangun oleh umat muslim yang berasal dari etnis Hui, meskipun penggunaan masjid ini tidak hanya dikhusukan bagi etnis ini namun untuk keseluruhan umat muslim yang ada pada kawasan tersebut. Sedangkan yang lebih dikenal dengan “Masjid Kecil” atau “Lhasa Small Mosque” adalah masjid yang berada di Balang Street, Hebalin, Chengbing.

Arsitektural Masjid Agung Lasha

interior Masjid Agung Lhasa

Masjid Agung Lasha memiliki arsitektur bangunan khas Tibet dengan bentuk lengkungan sirkular dan ditambahkan dua menara kecil yang menyatu dengan atap sidi depan masjid. Dekorasinya pun sesuai dengan budaya Tibet yang mahir dalam ukiran kayu. Ukiran-ukiran dan lukisan bunga dan tumbuh-tumbuhan turut menghiasi bangunan utama masjid ini.

Meskipun cuup sederhana, namun bentuk bangunan, arsitektur dan keseluruhan ornamennya sangat mencolok dibandingkan bangunan lain disekitarnya.

Bangunan utama Masjid Agung Lhasa memiliki 3 pintu masuk, dan 1 pintu gerbang besar. Keseluruhan bagian pintu dan gerbang tersebut diadopsi dari Tibet, mirip gerbang dan pintu khas bangunan Vihara Umat Budha. Bagian pintu dan gerbangnya di dominasi oleh ukiran-ukiran flora yang dipoles dengan warna merah dan hitam.

Bangunan Masjid Agung Lhasa berdiri diatas tanah seluar 2.600 meter persegi, dengan luas banguann utamanya 1.300 meter persegi. Bangunannya terdiri dari ruang sholat utama, menara penampung air, toilet, tempat wudhu, dan keseluruhan fasilitas yang dibutuhkan oleh jamaah pada umumnya. Ruang utama untuk sholat pada masjid ini memiliki luas 285 meter persegi.

Interior bangunan masjid ini terbilang sangat sederhana, lalu lantai masjid terbuat dari bahan baku kayu dibalut dengan permadani khas Tibet. Hal yang unik juga terlihat didalam masjid, dimana setiap saff sholat / setiap tempat sholat individu disediakan 1 tasbih untuk berdzikir, jadi bisa dibayangkan berapa banyak tasbih yang disediakan oleh masjid ini.

Masjid Jum’ah Wekande, Sri Lanka

Masjid Jum’ah Wekande, Sri Lanka

Sri Lanka memiliki sebuah bangunan bagi umat muslim untuk melaksanakan ibadah. Bangunan tersebut merupakan yang tertua dan dan juga terbesar di Sri Lanka. Masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Weande Jummah. Berada di kota Kolombo Slave Island, berada di Slave Island karena memang dulunya tempat inimerupakan tempat kaum budak dari Afrika. Mereka adalah budak yang dibawa oleh penjajah Portugis dan Belanda ke Sri Lanka.

Meskipun mayoritas penduduk di Sri Lanka adalah beragama non muslim, yaitu sebanyak 75%, namun sebenarnya disana terdapat kaum muslim yang tinggal dan sangat berpegang teguh dalam keimanannya. Bahkan para muslim tersebut merupakan komunitas Melayu keturunan dari Indonesia yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Mereka sendiri aalah beberapa orang yang menentang kekuasaan Belanda di Indonesia lalu ditangkap sehingga dibuang ke Sri Lanka oleh Belanda. Ta hanya Indonesia saja, Sri Lanka juga menjadi Negara jajahan Belanda pada masa itu.

masjid jum'ah wekande

Atas sebuah kebaikan hati dari seorang bangsawan yang kaya asal Indonesia yang dibuang ke Sri Lanka oleh penjajah Belanda, maka beliau mewakafkan sebuah masjid yang kini merupakan bangunan tersbesar di Kolombo. Beliau adalah seorang Pandaan Bali. Pandaan Bali sendiri merupakan seorang muslim yang merupakan dari bangsawan kaya raya dari Indonesia. Pandaan Bali tiba di Sri Lanka yang telah dibuang oleh Belanda. Namun meskipun diasingkan, ternyata hal tersebut mebuat sebuah keajaiban dimana Pandaan Bali bertemu dengan Sabu Latif yang dibuang oleh Belanda ke Sri Lanka. Sabu Latif tiba di Sri Lanka bersama ayahnya yang bernama Raden Framana Latif pada tahun 1722. Kemudian Sabu Latif menikah dengan seorang putrid dari Kapten Tentara Resimen Melayu.

Kemudian disusul dengan Pandaan Bali menikah. Namun dari pernikahannya, beliau masih belum dikarunia keturunan. Sehingga beliau bernadzar jika memiliki keturunan maka beliau akan membangun sebuah masjid. Akhirnya beliau dikarunia seorang putri yang diberi nama Sriya Umma. Pandaan Bali pun tidak melupakan nadzarnya, lalu beliau mewakafkan sebidang tanah untuk dibangun sebuahmasjid yang juga sekaligus taman pemakaman umum muslim disana yang ternyata merupakan sebuah nadzar beliau.

Pandaan Bali membeli sebuah lahan dari Jeynadien Marikar Sinna Cassien pada tahun 1786. Kemudian beliau mewakafkannya untuk umat muslim pada tanggal 1 Agustus 1786 dan memberikan kepercayaan untuk mengelola dan mengurus masjid tersebut kepada Sabu Latif. Pandaan Bali juga membiayai seluruh proses pembangunan masjid tersebut yang ternyata juga termasuk dari nadzar beliau. Setelah selesai dibangun, Sabu Latif menjadi imam pertama kali yang memimpin masjid Jum’ah Wekande.

interior masjid wekande jummah

Kini masjid Jum’ah Wekande tak hanya digunakan sebagai bangunan tempat beribadah saja, tetapi difungsikan sebagai berbagai aktivitas keagamaan lainnya. Seperti mempelajari tentang bahasa Arab dan mengaji Al-Qur’an karena disana juga terdapat sebuah madrasah yang disebut dengan nama Pandaan Bali. Masjid Jum’ah Wekande sangat terawat karena memiliki perhatain yang sangat lebih dari Din Yunus. Dengan seiringnya waktu, maka jamaah disana semakin banya. Maka dilakukan perluasan serta perbaikan. Kemudian pada bulan Desember 1966 setelah dilakukan renovasi serta perluasan, masjid Jum’ah Wekande telah diresmikan serta dihadiri oleh Perdana Menteri Sri Lanka pada saat itu yang bernama Dudley Senanayake.

Kini bangunan masjid Jum’ah Wekande telah berdiri dengan kokoh disertai sebuah kubah besar tepat berada di pusat atas masjid. Ditambah dengan cat tembok berwarna putih menjadikan masjid ini terlihat lebih luas dan besar serta elegan. Bahkan ketika memasuki masjid ini, keindahan masjid Jum’ah Wekande sangat terasa.

Masjid Agung Kolombo – The Colombo Mosque Sri Lanka

Masjid Agung Kolombo – The Colombo Mosque Sri Lanka

Masjid Agung Kolombo atau biasa dikenal dengan “The Colombo Grand Mosque” merupakan bangunan masjid yang didirikan oleh etnis Muslim Melayu di Srilangka yang berasal dari Indonesia. Masjid ini pertama kali dibangun oleh muslim arab yang melakukan perdagangna lintas negara dengan jalur laut.

Sebagian dari pedagang tersebut kemudian menetap di Sri Lanka dan membangun sebuah masjid diwilayah tersebut. Pada masa-masa itu, Sri Lanka masih berebentuk sebah kerajaan yang dipimpin oelh Raja dari Shinnala. Masjid ini juga pernah mengalami kehancuran total pada sat Invasi yang dilakukan oleh pemerintah Perancis untuk memperluas wilayanya.

masjid kolombo

Pembangunan Masjid Agung Kolombo

Masjid Agung yang berdiri di Kolombo saat ini merupakan wujud dari renovasi yang dilakukan oleh seorang Hlu Balang Kaya / Muhammad Balang Kaya, yang sangat dekat dengan umat muslim di Moor Ceylon. Muhammad Balang kaya merupakan salah seorang arsitektur dan seorang alim ulama pada saat itu.

Kemudian beliau menyadari bahwa Masjid Kolombo sudah tidak dapat menampung jamaah yang membludak, lalu muncullah ide dari beliau untuk memperluas bangunan masjid ini agar daya tampungnya dapat bertambah lebih besar. Seni Rancang Bangunannya dibuat sendiri oelh Muhammad Balang Kaya sebagai hasilnya belajar otodida, tidak heran jika ranangan Masjid Agung Kolombo menjadi sangat sulit dan tidak bisa ditemukan dimanapun di seluruh Ceylon.

Pada saat proses pembangunan masjid tersebut selesai total. Gubernur Inggris di Cheylo datang berkunjung ke bangunan masjid. Lalu dia memberikan pujian dan apresiasi atas apa yang dilakukan Muhammad Balang Kaya kepada masjid tersebut.  Padalah sekitar 306 tahun sebelum berdiri sebuah masjid, ada masjid pertama yang sudah dibumihanguskan untuk order.

Ada beberapa bangunan yang dengan sengaja ditambahkan setelah renovasi pertama sukses yaitu, dibangun pula gedung madrasah yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sarana untuk belajar mengajar. Bangunan sekolah tersebut terkenal dengan nama “Hameedia Boys English School”.

masjid kolombo

Salah satu yang menjadi ciri khas dari sejarah Masjid Agung Kolombo adalah adanya 1 meriam yang dimiliki oleh bangunan masjid ini. Meriam tersebut sengaja diletakkan didalam bangunan masjdi oleh pengurus masjid pada tahun 1898.meriam ini dulunya digunakan sebagai penanda waktu Imsak dan Berbuka Puasa seperti yang biasa dilakukan di Indonesia sebelum media elektronik dan jam beredar luas di masyarakat.

Meriam yang kini disimpan di Masjid Agung Kolombo adalah hasil subangan dari A.A. Abdul Raheman. Beliau menghadiahkan meriam ini khusus untuk digunakan sebagai penanda datangnya waktu maghrib dan imsyak.

Pada saat pertama kali dibangun, Masjid Agung Kolombo ini ternyata juga dilengkapi dengan komplek areal pemakaman umumt, namun akhirnya di tutup pada tanggal 21 Oktober 1874.

Lalu, ada pula fasilitas Sekolah Islam Al-Madrasatur Hameeda yang bisa digunakan sebagai sarana pendidikan di wilayah tersebut. Hingga kini, sudah banyak sekali alumni dari sekolah tersebut yang kemudian ikut turut andil didalam keberlangsungan masjid ini.

Masjid Agung Kolombo ini sekaligus memberikan sebuah contoh konkrit pada kita bahwa meskipun terhalang dengan tempat yang sangat terpencil, kita tidak boleh menyerah dengan keadaan untuk melanjutkan peribadatan dan pembelajaran.

Jika dihitung dari tahun pendiriannya secara kongris pada tahun 1505, bisa dipilang masjid ini sudah berumur lebih dari 500 tahun. Namun jika kita ukur pembangunannya dari Muhammad Balang Kaya, yaitu pada tahun 1826, hingga saat ini masjid ini sudah berumur lebih dari 180 tahun.

Masjid Shirothal Mustaqim – Masjid Tertua di Samarinda

Masjid Shirothal Mustaqim – Masjid Tertua di Samarinda

Masjid Shirothal Mustaqim berdiri disebuah kampung yang disebut “Kampung Masjid”, hal ini merujuk pada masjid yang memang sudah berdiri di Kota Samarinda sejak abad ke-19 silam. Masjid ini juga menjadi masjid tertua di kawasan kota Samarinda dan dibangun tepatnya pada tahun 1881 dengan sebutan “Masjid Jami’. Kemudian, pada tahun 1960, nama masjid ini kemudian diganti menjadi “Masjid Shirotal Mustaqim”.

Bangunan masjid ini berkolasi di Jln. Pangeran Bendahara, Kampung Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapai lokasi ini dari pusat kota samarinda, anda harus menyeberangi Sungai Mahakam terlebih dahulu, karena letaknya memang di seberang sungai.

masjid shiratal mustaqiem

Sejarah Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda

Kota Samarinda pada zaman dahulu dipercayai dibangun oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa setelah dikalahkan oleh Penjajah Belanda pada abad ke-16. Pejuang dari Kerajaan Gowa yang selamat kemudian mengungsi ke daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutau pada saat itu. kedatangan pengungsi tersebut disambut dengan baik oleh Raja Kutai, lalu Sang Raja memberikan suatu daerah pemukiman di sekitar wilayah kampung melantai, yaitu suatu daerah didataran rendah yang dapat digunakan untuk Pertanian, Perdagangan, maupun Perikanan karena sangat dekat dengan aliran Sungai Mahakam.

Namun, pemberian tersebut tidak secara Cuma-Cuma, karena pejuang Bugis harus membantu seluruh kepentingan Raja Kutai jika memang dibutuhkan untuk menghadapi musuh yang datang, termasuk penjajah Belanda. Seiring waktu berjalan, dari tahun 1668 mereka menetap hingga beberapa abad, daerah pemukiman pengungsian tersebut lebih dikenal dengan sebutan “Samarinda” yang berarti Sama = Sama dan Rinda = Rendah, atau “Sama Rendah”. Artinya, hak dan kewajiban ditanah tersebut tidak dibeda-bedakan.

interior masjid shiratal mustaqiem.

Cerita pembangunan masjid dimulai pada tahun 1880, pada saat kawasan pemukiman Bugis sudah dikenal dengan Samarinda. Seorang pedagang muslim yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat, bernama Said Abdurrahman bin Assegaf datang ke Kerajaan Kutai untuk berdagang dan meminta izin untuk menyebarkan agama islam di daerah Samarinda. Melihat ketekunan dan keramahan serta kejujuran yang dibawa oleh Said Abdurrahman, akhirnya Raja Kutai mengijinkannya  untuk menyebarkan agama Islam didaerah tersebut, mengingat keseharian penduduknya dipenuhi dengan hal-hal yang tidak berguna, yaitu berjudi dan sabung ayam.

Akhirnya Said Abdurrahman memiliki keinginan kuat untuk merubah segala sesuatu hal buruk yang dilakukan di kampung tersebut dengan membangun sebuah bangunan masjid dipusat kegiatan judi dan sabung ayam tersebut. Yang lebih parahnya, pada saat itu orang-orang Samarinda juga merupakan penyembah berhala / patung.

Akhirnya, pembangunan masjid dimulai pada sekitar tahun 1881 Masehi, dengan perancangan masjid mirip dengan masjid Jawa yaitu memiliki 4 soko guru. 4 soko guru tersebut juga memiliki sejarah tersendiri, yaitu didatangkan dari 4 tempat yang berbeda, yaitu Loa Haur (Gunung Lipan), Gunung Donang Samboja, Gunung Salo Tireng, dan Sungai Karang.

interior masjid shiratal mustaqiem

Pembanguan masjid ini terbilang cukup lama karena memakan waktu hingga 10 tahun. Selesai dan diresmikan pada tahun 1891 oleh Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman yang sekaligus menjadi imam sholat pertama di Masjid Shirothal Mustaqim.

Kawasan yang semula hanya dipenuhi dengan kegiatan judi dan sabung ayam serta penyembahan berhala tersebut akhirnya bisa menjadi area yang religius, penuh dengan kedamaian Islam. Hal ini juga merupakan suatu hasil gemilang yang telah diraih Said  Abdurrahman sebagai tokoh penyebar Islam di daerah Samarinda.

Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Masjid Raya Darussalam berdiri dengan megahnya di tepi Sungai Mahakam, dengan nuansa Emperium Usmaniyah / Turki Usmani, Masjid ini didirikan di pusta kota Samarinda Ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Masjid ini memiliki gaya Turki Usmani dengan ciri khasnya yaitu Kubah berukuran besar, dan empat menara tinggi yang ramping dengan bagian ujungnya yang lancip. Namun, menara tersebut memberikan kesan yang sedikit berbeda dari berbagai masjid Timur Tengah lainnya.

Masjid Raya Darussalam juga menjadi masjid kedua terbesar setelah Masjid Islamic Center Samarinda. Masjid Raya Darussalam bisa langsung dikenali dari kejauhan karena memiliki ciri khas empat menara yang sangat tinggi di keempat penjuru bangunan utamanya. Apalagi, kubah besar berbentuk unik juga terdapat pada bagian atas masjid ini, dibalut dengan keramik berwarna hijau muda dan hijau tua yang disusun secara rapi membentuk sebuah hiasan yang apik.

masjid darussalam

Masjid Raya Darussalam terletak di kelurahan Pasar Pagi, Kec. Samarinda Lilir, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. Kawasan Pasar Pagi ini menjadi salah satu kawasan palign ramai di kota Samarinda.

Sejarah Masjid Raya Samarinda

Bangunan Masjid Raya Darussalam Samarinda pada awalnya dibangun oleh para saudagar kaya Bugis dan Banjar yang tinggal di daerah Samarinda pada tahun 1925. Lokasinya berada persis ditepi Sungai Mahakam, dan berdiri diatas lahan seluas 25 x 25 meter.

Masjid Raya Darussalam Samarinda juga telah mengalami beberapa kali renovasi, yaitu pada tahun 1953 dan 1967 meskipun ciri khasnya tetap dipertahankan. Sejak pertama kali dibangun, masjid ini memang difungsikan sebagai Masjid Jami’.

masjid raya darussalam

Karena kemajuan kota yang sangat pesat, akhirnya dibutuhkan bangunan masjid yang lebih besar dan luas sebagai tempat peribadatan jamaah muslim di samarinda yang sudah membludak. Akhirnya, masjid ini pun dipindah ke Jln. Yos Sudarso dengan lahan seluas 15 ribu meter persegi. Bangunan masjid yang saat ini bisa kita lihat adalah hasil dari renovasi yang dilakukan pada tahun 1990-an, diresmikan oleh Dr. H. Tarmizi Taher, Menteri Agama RI pada saat itu, pada tanggal 25 Agustus 1997 Masehi.

Masjid ini dirancang dengan beton dan dibangun berlantai tiga dan dapat menampung hingga 14.000 jamaah. Di kawasan masjid ini dilengkapi dengan taman, perpustakaan dan kolam.

Arsitektural Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Masjid Raya Darussalam Samarinda memiliki arsitektural unik karena sangat jarang masjid yang ada di Indonesia menganut arsitektur dari Timur Tengah / Emperium Usmaniya, yang bisa dilihat dari satu kubah besar dibagian atap, dengan beberapa menara yang menjulang tinggi dengan bentuk yang sangat ramping. Puncak menara yang ramping ditambah dengan ornamen bulan dan bintang juga tidak pernah luput dari berbagai bentuk masjid bergaya Turki Usmani.

interior masjid darussalam

Masjid Raya Darussalam Samarinda memiliki empat menara masjid yang dibangun di empat penjuru bangunan utama masjid. Bangunannya didominasi oleh Warna Putih, termasuk pada bagian menaranya. Ada keunikan yang ada di masjid ini, yaitu dari kubahnya yang berukuran besar, diapit dengan beberapa kubah kecil yang ditempelkan pada kubah utama. Lalu, ditambahkan pula empat kubah kecil yang ditempatkan di keempat sisi penjuru atap masjid. Selain gaya khas masjid Turki Usmani, ternyata masing-masing kubah diberi ornamen-ornamen khas kalimantan, sehingga kubahnya terlihat lebih unik.

Masjid Raya Darussalam Samarinda juga dilengkapi dengan beranda yang melengkung. Ruang utama masjid ini dibangun dengan sangat luas hingga dapat menampung 14.000 jamaah sekaligus.