Masjid Agung Sheikh Zayed – Uni Emirat Arab

Masjid Agung Sheikh Zayed – Uni Emirat Arab

Masjid Agung Sheikh Zayed terletak di Al-Maqtaa, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Masjid ini begitu memukau dan mendapatkan julukan sebagai “Masjid Putih Ditengah Gurun” karena memang letaknya ditengah-tengah gurun. Masjid ini merupakan pemegang rekor masjid terbesar di seluruh Uni Emirat Arab, dan diberi nama sesuai dengan penggagasnya yaitu “Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan”, yaitu salah satu tokoh Nasional Uni Emirat Arab, sekaligus pendiri Negara tersebut. Beliau memang sempat terlibat didalam pembangunan awal masjid ini, namun akhirnya wafat sebelum pembangunan masjid selesai dilakukan.

Sheikh Zayed wafat pada tahun 2004 lalu, dan proses pembangunannya diteruskan oleh keturunannya. Ketika diresmikan, masjid ini langsung mendapatkan beberapa rekor dunia sekaligus, tidak hanya sebagai Masjid Terbesar dan Terindah, namun juga bangunan yang memilihi maha karya arsitektural modern yang keindahannya tidak ada duanya. Masjid ini sekaligus merebut rekor dunia dari Masjid Sultan Qaboos Oman atas Lampu Gantung terbesar didunia, dan Bentangan karpet rajut paling luas di dunia. Masjid ini tidak hanya menjadi kebanggaan seluruh umat muslim di Uni Emirat saja, namun juga menjadi kebanggaan dan simbol bagi kekayaan dunia islam secara keseluruhan.

masjid sheikh zayed

Masjid Agung Sheikh Zayed ini merupakan salah satu ide dan impian dari Sheikh Zayed, Sang Pendiri Negara Uni Emirat Arab tersebu yang pada saat itu menjadi negara yang berkembang. Pembangunan masjid ini berhasil memadukan antara seni tradisional dan modern serta beberapa kecanggihan turut ditanamkan di masjid tersebut.

Kemampuan Sheikh Zayed dalam modernisasi Uni Emirat Arab memang tidak ada duanya, hal ini terlihat dari munculnya sebuah negar modern yang mencuat di tengah-tengah padang pasir yang tandus. Apalagi suksesnya pembangunan Masjid Agung Sheikh Zayed ini sekaligus menunjukkan kesuksesan impian beliau dalam mendirikan sebuah negara yang maju dan modern ditengah-tengah padang pasir yang terhampar luas.

Dalam rancang pembangunan masjid ini, Sheikh Zayed memang dengan sengaja membuat satu prinsip unik yaitu “Unite The World” dimana para seniman dari seluruh belahan dunia diundang untuk ikut serta dalam pembangunannya. Bahkan, bahan bangunannya pun di Impor langsung dari berbagai negara seperti Italia, Jerman, India, Maroko, Inggris Raya, China dan lain sebagainya.

Pada saat pendiriannya, sedikitnya ada lebih dari 3000 pekerja yang terlibat dalam seluruh proses pembangunan, termasuk sebanyak 38 perusahaan kontraktor yang turut andil. Beberapa material bangunan memang dipilih secara selektif, mengingat tempat berdirinya masjid adalah suatu padang pasir yang tandus. Beberapa materialnya adalah batu pualam, emas, batu alam, kristal, keramik, dan beberapa batu permata dari alam.

interior masjid sheikh zayed.

Sebenarnya, cita-cita pembangunan masjid tersebut sudah mulai digagas pada tahun 1980-an, namun akhirnya baru dimulai pada tanggal 05 November 1996, karena berbagai hal yang masih terkendala. Masjid ini memilii luas sekitar 22.000 meter persegi, dan mampu menampung hingga 41.000 jamaah sekaligus. Meskipun pada tahun 2007 lalu pembangunan masjid ini belum selesai secara keseluruhan, namun tempat ruang sholat utama sudah difungsikan pada saat sholat Idul Adha pada tahun tersebut.

Karena memang menjadi Masjid terbesar dan termegah di seluruh Uni Emiret Arab, atau bahkan di negara Timur Tengah lainnya, tak heran jika masjid ini mampu menyedot perhatian dari wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Akhirnya pada tahun 2008, dibentuklah suatu komunitas yang diberi nama Sheikh Zayed Grand Mosque Center, yang bertugas untuk mengurus segala keperluan masjid, dan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan maupun penyambutan para wisatawan.

Karena memang didesain dengan sempurna dengan keindahan dan kemegahan yang tiada tandingannya, tidak heran jika Masjid Agung Sheikh Zayed mampu untuk menyedot perhatian dari tokoh-tokoh utama dari berbagai Negara di dunia. Beberapa pemimpin negara pun pernah berkunjung ke masjid ini seperti Ratu Elizabeth II, Inggris dan Ratu Beatix, Belanda. Bahkan pada saat kunjungan Ratu Beatrix, menjadi salah satu kontroversi yang besar terkait penggunaan kerudung yang dipakai oleh Ratu Beatrix pada saat berkunjung ke masjid tersebut.

Selain itu, beberapa tokoh lain juga pernah berkunjung, seperti Duta Besar Amerika Serikat Untuk Uni Emirat Arab, Michael H. Corbin, juga pernah datang pada tanggal 30 Juli 2011. Sampai saat ini, masjid ini juga sering dijadikan kunjungan wisata religius bagi anak-anak sekolah, maupun para mahasiswa yang ingin menyaksikan sendiri kemegahan Masjid Putih ini.

masjid sheikh zayed

Fasilitas Masjid Agung Sheikh Zayed

Tidak hanya bangunan utama untuk ruang sholat saja yang dimiliki Masjid Agung Sheikh Zayed ini, namun ada beberapa fasilitas lainnya yang turut dibangun guna melengkapi kegiatan masyarakat sekitar, seperti Perpustakaan yang dibangun dengan ratusan hingga ribuan buku-buku klasik maupun modern yang berkaitan dengan Islam, Kaligrafi, Seni dan Budaya, dan segala sesuatu tentang Ilmu Pengetahuan lainnya.  Bahkan dari beberapa buku tersebut ada yang berbahasa Inggris, Italia, Jerman, Perancis dan Korea.

masjid sheikh zayed

Sekilas Arsitektur Masjid Agung Sheikh Zayed

Masjid ini dibangun sedemikian rupa dengan beberapa gabungan arsitektur, terutama yang mendominasi adalah arsitektural Mughal (Bangladesh, Pakistan dan India) serta arsitektur khas Mooris (Maroko). Masjid ini memiliki 82 kubah bergaya Mooris dan kesemuanya dihiasi dengan batu pualam berwarna putih.

Bagian pelataran tengah diadopsi dari Masjid Badshahi Kota Lahore Pakistan yang juga menganut gaya Mughal. Kubah pada masjid tersebut di desain dengan diameter 32,8 meter, tinggi 55 mter dai dalam, ataupun 85 meter dari luar. Kubah pada Masjid Agung Sheikh Zayed ini juga mendapatkan rekor sebagai kubah terbesar didunia yang dibentuk dari bahan dan jenis yang sama. Secara keseluruhan, Masjid Sheikh Zayed ini memadukan beberapa gabungan arsitektur dari Mughal, Arab dan Mooris.

Ukuran masjid tersebut juga sangat luas, setara dengan 5 buah lapangan sepakbola, dengan luas total sekitar 22.000 meter persegi, dan dapat menampung hingga 41.000 jamaah sekaligus. Masjid ini juga memiliki lebih dari 100 pilar yang diletakkan di bagian luar dengan lapisan puluhan ribu lembar batu pualam, maupun batu lain yang sudah dipoles, seperti Red Agate, Lazuli, Abalone Shell, Mother of Pearl, dan Amethyst.

interior masjid sheikh zayed

Sedangkan pada ruang utama dibangun 96 pilar bundar dengan ukuran sangat besar, yang semuanya dilapisi dengan batu Mother Of Pearl yang sudah dipoles. Lalu dibangun pula empat bangunan menara yang tingginya mencapai 107 meter dan diletakkan di empat penjuru masjid.

Dibagian sekeliling masjid juga dibangun kolam yang memiliki luas sekitar 7.800 mter persegi, yang dibangun dengan bahan baku keranmik dengan warna gelap. Kolam tersebut memantulkan arkade masjid sehingga pemandangan yang didapat lebih terasa, apalagi pada saat malam hari saat masjid ini dipenuhi dengan cahaya lampu yang memukau.

Pada bagian dalam masjid juga dihias dengan polesan-polesan batu pualam, serta mozaik kaca emas. Sedangkan pada bagian pintu utama masjid juga dibuat dengan bahan kaca setinggi 12,2 mter, lebar 7 meter, dengan berat total 2,2 ton.

Masjid Agung Roma – Italia

Masjid Agung Roma – Italia

Masjid Agung Roma atau biasa disebut dengan Viale Della Moschea atau Mosque of Rome merupakan salah satu masjid yang boleh dibilang “Unik” karena penampilannya seperti di negeri dongeng, yang terletak di Roma, Italia.

Roma merupakan salah satu kota yang paling kental dengan sejarah Kekaisaran Romawi di masa lalu, dan sampai saat ini dijadikan sebagai Ibukota negara Italia. Roma juga merupakan salah satu bangsa yang sejarahnya di sebut didalam Al-Qur’an, namanya pun juga diabadikan didalam Al-Qur’an Surah ke 30 bernama Ar-Rum.

masjid agung roma

Roma juga dikenal kental dengan pusat keagamaan Katolik, serta terkenal dengan Tahta Suci Vatikan untuk Paus atau pemimpin tertinggi umat katolik diseluruh dunia. Jika dilihat dari mayoritas penduduknya yang beragama katolik, hampir tidak mungkin bagi umat muslim yang notabene hanya minoritas, untuk dapat mendirikan masjid di kota ini. Bahkan salah satu diktator Italia, Benito Mussolini, pernah mengatakan bahwa :

“Tidak akan ada Masjid di Roma – Selama tidak ada Gereja di Mekkah”.

Tepatnya 50 tahun setelah kematian Sang Diktator tersebut, umat muslim di kota Roma akhirnya memiliki sebuah kesempatan untuk mendirikan sebuah masjid yang megah, sekaligus menjadi salah satu masjid terbesar di kawasan Eropa.

Masjid Agung Roma selesai dibangun dan diresmikan pada tanggal 21 Juni 1995 melalui proses pembangunan yang cukup panjang, mencapai kurun waktu 20 tahun lamanya. Karena pembangunan awal majsid ini sudah dimulai pada tahun 1974, dan mengambil tempat diatas tanah yang diberikan oleh Dewan Kota Roma atas bantuan Lobi Intensif dari Raja Faisal, Arab Saudi.

masjid agung roma

Kedutaan Besar Italia untuk Indonesia di Jakarta juga pernah menggelar sebuah pameran foto tentang Masjid Agung Roma tersebut, pameran tersebut dilakukan karena Indonesia juga merupakan salah satu negara yang mendanai pembangunan Masjid Agung tersebut, bersama dengan 23 Negara Islam lainnya. Sedangkan untuk penyandang dana terbesarnya adalah Saudi Arabia.

Masjid Agung Roma terletak di utara kota Roma, dengan jarak 5 Km dari inti kota Roma. Tepatnya berada di salah satu distrik yang bernama Parioli, dipenuhi dengan beberapa hunian apartemen pencakar langit. Kawasan tempat berdirinya masjid ini juga merupakan kawasan dengan sejarah yang cukup panjang, apalagi kerajaan Roma memang terkenal dengan sejarahnya yang unik.

Dari laporan yang didapatkan dari arsitektur Masjid Agung Roma, Sami Maosawi, menyebutkan bahwa pembangunan Masjid Agung Roma ini merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi masyarakat muslim di Roma, apalagi pada saat itu mayoritas penduduk roma merupakan umat beragama Katolik.

Karena beberapa kendala yang disebabkan oleh faktor dana, politik, bahkan sosial, pembangunan masjid ini membutuhkan waktu sekitar 20 tahun dari tahun 1975 hingga benar-benar selesai pada tahun 1995 lalu.

interior masjid agung roma

Sebelum masjid ini dibangun, komunitas muslim yang berada di Kota Roma biasanya melakukan aktifitas sholat berjamaah di sebuah gedung apartemen sewaan.  Lalu sebuah Islamic Center kemudian dibentuk pada tahun 1959 sebagai upaya untuk memberikan sarana dan prasarana kepada umat muslim yang tinggal di Eropa.

Umat Islam yang terkumpul didalam Islamic Center tersebut kemudian berusaha keras untuk mewujudkan satu masjid sebenarnya sebagai pusat tempat kegiatan peribadatan mereka. Namun berbagai kendala, terutama dari pihak otoritas pemerintahan tetap tidak menyetujui bangunan masjid didirikan di daerah Roma, sampai pada tahun 1975.

Akhirnya, pada tahun 1995, Masjid yang diidam-idamkan pun terealisasi meskipun dengan perjuangan keras. Tidak heran jika keindahan yang ditawarkan masjid ini begitu memukau seperti pada kisah dongeng, dengan arsitektur khas romawi yang sangat kental.

Masjid Agugn Al-Makmur Lampriet – Banda Aceh

Masjid Agugn Al-Makmur Lampriet – Banda Aceh

Masjid Agung Al-Makmur terletak di Jln. Taman Ratu Syafaruddin atau Jln. Muhammad Daud Beureuh Lampriet, Kota Banda Aceh, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. tepatnya di pertigaan Jln. Taman Ratu Syafaruddin, disebelah taman ratu Safituddin, Banda Aceh. Masjid ini juga langsung dapat dikenali dari ciri khasnya dengan masjid bergaya timur tengah, yaitu kubah besar dengan menara kembar di samping masjid. Masjid ini merupakan hadiah dari pemerintah Oman sebagai bentuk kerjasama dengan Pemerintah Indonesia. Seluruh pendanaan pembangunan masjid ini langsung di tangani oleh pemerintah Oman.

Nangroe Aceh Darussalam sendiri merupakan provinsi di Indonesia yang mendapatkan gelar “Serambi Mekah”, karena memang penyebaran Islam di Indonesia dimulai dari provinsi ini.  Tak heran jika banyak sekali masjid yang megah dan indah yang terletak di seluruh wilayah provinsi tersebut, apalagi banyak dari masjid-masjid tersebut yang terkenal “Ajaib”, karena tidak mengalami kerusakan sedikitpun pada saat gempat dan tsunami hebat yang melanda Aceh pada tahun 2004 lalu. Masjid-masjid yang bisa dikategorikan ajaib adalah Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Baiturrahim, dan Masjid Rahmatullah. Masjid-masjid tersebut tidak mengalami kerusakan fatal meskipun diterjang gempa dan tsunami pada kala itu. namun, yang akan menjadi pembahasan kali ini adalah Masjid Agung Al-Makmur, yang mengalami kerusakan lumayan pada saat bencana tersebut terjadi.

masjid agung al makmur

Sebenarnya, Masjid Agung Al-Makmur Lampriet sudah mulai dibangun sejak tahun 1979, ditujukan sebagai Masjid Agung untuk kota Banda Aceh. Namun, pada saat terjadi gempa dan tsunami yang melanda Aceh, Nias, dan juga kawasan Samudera Hindia, masjid ini telah mengalami kerusakan yang lumayan parah. Lalu, Pemerintah Oman tergerak hatinya untuk kemudian menyumbangkan dana untuk keseluruhan perbaikan masjid, akhirnya menjadi masjid bergaya timur tengah dengan ciri khas Kubah Besar dan Menara Kembar yang kita ketahui saat ini.

Proses perbaikannya memakan waktu sekitar 2 tahun, yaitu dimulai pada tahun 2006, selesai dan diresmikan pada tahun 2008. Setelah diresmikan, banyak yang berkeinginan untuk menamai masjid ini sebagai Masjid Al-Makur Sultan Qaboos, yaitu diambil dari nama Sultan Qaboos Oman. Namun, Sultan Qaboos Oman dengan jelas mengatakan bahwa bantuan yang diberikan Ikhlas untuk membantu umat muslim Aceh, dan tidak perlu menyematkan nama beliau sebagai nama masjid.

Masjid Agung Al-Makmur ini sudah didirikan pada tahun 1979, oleh masyarakat Banda Aceh, dengan dana swadaya masyarakat sendiri. Dahulu kala, wilayah Banda Aceh merupakan wilayah jajahan belanda, bahkan sempat pemerintahan penjajah didirikan di kota tersebut. Masjid ini kemudian mengalami kerusakan hampir total pada saat gempa dan tsunami terjadi.

interior masjid agung

Akhirnya, bantuan dari pemerintah Oman pun datang, sehingga masjid ini dapat difungsikan lagi pada tahun 2008 lalu.  Karena letaknya yang sangat strategis, tidak heran jika masjid ini setiap harinya selalu ramai dikunjungi oleh para jamaah dari beberapa kalangan. Misalnya dari para pekerja, pedagang, maupun beberapa pelancong yang sengaja mampir ke masjid ini untuk beribadah dan beristirahat.

Sebagai Masjid Agung Kota Banda Aceh, masjid ini seringkali digunakan sebagai tempat diselenggarakannya beberapa acara pemerintah kota, maupun pemerintah provinsi Nangroe Aceh Darussalam. acara-acara tersebut seperti Pekan Budaya Aceh, bahkan yang unik lagi, calon pemimpin / Walikota Banda Aceh turut di uji di masjid ini, mulai dari pendidikan agamanya, hingga kepiawaiannya membaca Al-Qur’an. Karena salah satu syarat untuk memimpin Banda Aceh adalah memiliki pendidikan agama yang kuat.

Islamic Center Lhokseumawe

Islamic Center Lhokseumawe

Masjid Islamic Center Lhokseumawe berada di T. Hamzah Bendahara – Simpang Empat, Kecamatan anda Sakti, Kota Lhokseumawe, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Masjid ini berdiri dengan megahnya di Kota Lhokseumawe dan menghadirkan Nuansa Timur Tengah yang sangat kental. Berdirinya Masjid Islamic Center ini membangkitkan kembali nuansa kental dari Kerajaan Islam Samudera Pasai yang pernah menjadi kerajaan Islam Pertama di Indonesia.

Beberapa tahap juga dilakukan untuk membangun masjid Islamic Center ini, dimulai dari pembangunan struktur utama masjid yang begitu besar, dengan kubah-kubahnya yang juga sangat mengagumkan. Kehadiran masjid ini juga bisa menjadi pelipur lara bagi rakyat Lhokseumawe saat bencana Gempa dan Tsunami yang menghancurkan wilayah tersebut pada tahun 2004 lalu.

icc lhokseumawe

Beberapa fasilitas pun turut dibangun seperti Gedung Serbaguna, Madrasah Diniyah, Gedung Pustaka, Wisma Tamu, Museum, Taman Kanak-kanak, serta Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA). Selain itu juga dibangun oleh Rumah Imam Besar yang digunakan sebagai tempat tinggal Imam yang memimpin masjid.

Beberapa Fasilitas Islamic Center Lhokseumawe

  • Masjid Agung : Dibangun dengan tiga laintai, dua lantai utama digunakan sebagai area sholat yang mampu menampung hingga 6.000 jamaah di lantai satu, dan dilantai dua digunakan untuk menampung jamaah sekitar 3000 orang. Sedangkan lantai basement di gunakan sebagai areal tambahan jika daya tampung di lantai 1 dan 2 tidak terbendung lagi.
  • Gedung Perpustakaan : Bangunannya dibangun seluas 3.662 meter persegi, dan mampu menampung 250 orang sekaligus. Beberapa buku referensi, penelitan, serta buku-buku lain dapat dibaca di perpustakaan ini.
  • Wisma Tamu : Dibangun dengan dua lantai, sepuluh kamar tidur, dengan 2 orang per kamar. Wisma tamu digunakan khusus untuk para tamu-tamu dari berbagai wilayah, maupun da’I yang didatangkan dari berbagai wilayah.
  • Madrasah Diniyah : Dilengkapi dengan dua belas ruang belajar, ditambah dua labolatorium serta ruang pustaka yang mampu menampung 368 siswa. Madrasah Diniyah ini bisa dibilang lumayan lengkap dengan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh para siswa sebagai penunjangnya.
  • Gerai-Gerai : Terdiri dari puluhan Kios makanan / Kantin, puluhan toko oleh-oleh, toko buku, boutique, Warnet, Wartel, ATK Fotocopy dan lain sebagainya.
  • Museum : Museum dibangun dengan luas 1.112 meter persegi, kemudian ditambah dengan beberapa ruang pameran utama, serta ruang temporer yang dapat digunakan.
  • Gedung Serbaguna : Beberapa fungsi juga turut dihadirkan, seperti ruang pertunjukan, pameran kesenian, olahraga dan lain sebagainya. Ruang Gedung Serbaguna dapat menampung hingga 2.200 orang.
  • Rumah Imam Besar : Dikhususkan sebagai tempat tinggal Imam Besar Masjid, agar lokasi tempat tinggalnya tidak jauh dari masjid, dan kegiatan jamaah sholat dapat dilakukan secara lancar.

 islamic center lhokseumawe

Background dan Tujuan Islamic Center Kota Lhokseumawe

Islamic Center atau Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam ini berdiri di pusat kota Lhokseumawe. Islamic Center ini juga menjadi sebagian Ikon baru di wilayah Samudera Pasai sebagai pusat Konsentrasi baru untuk mewujudkan kembali peradaban islam yang tenggelam di Negara Islam Pertama di Asia Tenggara.

interior icc lhokseumawe

Kebesaran Kesultanan Samudera Pasai memang dulunya sangat menyebar hingga ke seluruh daerah Aceh. Tujuan utama pembangunan Masjid dan Islamic Center Kota Lhokseumawe ini adalah untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat perdaban umat Islam, dengan berbagai failitas yang memadukan fungsi Religius, Pendidikan, bahkan sampai pada unsur Ekonomi.

Sejarah Pembangunan Masjid dan Islamic Center Lhokseumawe

Pembangunan masjid ini didasarkan kepada uraian sejarah sebelumnya, dimana Kejayaan Islam Samudera Pasai ingin dikembalikan, serta keseluruhan fungsi totalitas masjid sebagai pemersatu umat juga turut dimasukkan kedalam gagasan pembangunan masjid nan megah ini. Gagasan pembangunan Masjid dan Islamic Center Lhokseumawe ini berasal dari beberapa tokoh Ulama serta Cendikiawan yang berada di wilayah Aceh Utara, dipimpin oleh Ir. H. Tarmizi A Karim, M.Sc, Mantan Bupati Aceh Utara pada masa itu.

Pada saat Aceh masih dalam kemelut konflik, gagasan pembangunan Masjid Islamic Center ini mulai dilakukan dengan mengambil tempat seluas 16.475 meter persegi, yang akan mampu untuk menampung hingga 20.000 jamaah sekaligus. Selain membangun bangunan utama sebagai ruang sholat, masjid ini juga mengadopsi Multi Purpose Building, artinya beberapa gedung untuk fasilitas juga turut dibangun seperti gedung Perpustakaan Umum, Dirasah Khassah (Tempat Pembelajaran Islam), Museum, Taman Kanak-kanak, Wisma Tamu, Gerai, Menara, Tugu dan masih banyak yang lainnya. Keseluruhan pembangunan bangunan di komplek Islamic Center Lhokseumawe ini menghabiskan dana sekitar Rp. 150 miliar.

icc lhokseumawe

Karena dana yang dibutuhkan lumayan besar, pembangunan masjid ini pun banyak mengalami kendala diantaranya batasan Anggaran Pembangunan dan Belanja Kabupaten yang hanya sampai pada limit Rp. 50 miliar saja. beberapa asupan dana juga ikut terhenti, karena ada beberapa program pemekaran kota yang dilakukan oleh pemerintah kota Lhokseumawe.

Setelah pembangunan Masjid dan Islamic Center Lhokseumawe terhenti untuk beberapa lama, akhirnya penyerahan Islamic Center seutuhnya diserahkan kepada Pemerintah Kota Lhoksumawe. Lalu pembangunan pun mulai dilakukan kembali, meskipun dana yang tersedia baru mencapai Rp. 4 miliar yang berasal dari APBK pemerintah kota Lhokseumawe. Pada saat itu, kebutuhan dana yang kurang adalah sekitar Rp. 70 miliar lagi, meskipun dana yang dimiliki masih sangat terbatas, namun pembangunannya tetap dilanjutkan dengan membangun beberapa tempat wudhu, pemasangan jaringan listrik, serta bagian lainnya sampai pada tahun 2012 lalu pembangunan masih mencapai 80%.

Meskipun keseluruhan fasilitas bangunan belum rampung sepenuhnya, namun beberapa fasilitas yang memadai sudah tersedia dan dapat difungsikan dengan baik. Kehadiran Masjid dan Islamic Center Lhokseumawe ini juga menunjukkan bahwa peradaban islam di tanah Rencong tersebut semakin maju, dengan segala aktifitas Islami yang juga sering dilakukan di komplek Masjid dan Islamic Center ini.

Jika ingin melihat puncak keramaian pada Masjid dan Islamic Center Lhokseumawe, anda bisa datang pada saat bulan Ramadhan berlangsung. Disana ada beberapa tradisi unik yang dinamakan “Tradisi Kanji Rumbi”, yaitu sejenis panganan khas untuk berbuka puasa bagi warga sekitar. Bubur dengan ciri khas yang lembut dan enak tersebut disediakan secara Cuma-Cuma oleh para pengurus masjid.

interior icc lhokseumawe

Kegiatan berbuka bersama dengan panganan khas Kanji Rumbi tersebut dilakukan oleh Badan Kenaziran Masjid (BKM) Islamic Center dengan pemerintah daerah setempat. Kegiatan tersebut dialkukan di sekitar halaman Masjid dan Islamic Center dan menjadi salah satu agenda rutin BKM dan pemerintah kota sampai saat ini yang diadakan pada saat bulan Ramadhan berlangsung.

Setelah kegiatan berbuka puasa dilakukan, dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah dan diadakan kuliah / pengajian singkat sambil menunggu waktu sholat Isya’ dan Tarawih. Ribuan orang turut memadati keseluruhan ruangan masjid ini setiap harinya. Selain beberapa kegiatan yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada juga beberapa kegiatan lain seperti Ramadhan Fair yang dilaksanakan selama bulan puasa, yang menyediakan berbagai macam jajanan khas yang bisa dibeli oleh para jamaah.

Masjid Syuhada – Kotabaru Yogyakarta

Masjid Syuhada – Kotabaru Yogyakarta

Masjid yang diberi nama “Syuhada” ini terletak di Jln. Dewa Nyoman Oka No. 13, Kotabaru, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini didirikan dengan tujuan selain sebagai tempat ibadah umat muslim di sekitar Kotabaru, juga sebagai monumen untuk mengenang jasa-jasa para Syuhada yang telah gugur di medan perang pada saat kemerdekaan bangsa Indonesia sedang diperjuangkan. Selain itu, juga digunakan sebagai simbol kenang-kenangan untuk kota Yogyakarta yang pernah difungsikan sebagai ibukota NKRI.

Masjid Syuhada didirikan di atas tanah wakaf yang berasal dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Peletakan batu pertama sebagai simbol permulaan pembangunan masjid dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Beberapa tokoh penting juga pernah terlibat dengan aktivitas masjid ini, seperti Presiden Soekarno yang pernah memberikan sambutan pada saat peletakan batu pertama dilakukan, kemudian Muhammad Natsir, salah satu tokoh penting Nasional juga pernah menajdi khatib di masjid ini. Lalu Muhammad Hatta juga pernah mengisi acara perkuliahannya di masjid ini.

masjid syuhada

Tidak hanya itu, ternyata pembangunan masjid ini juga sampai menarik perhatian pemerintah negara Pakistan. Mereka menyumbangkan hamparan permadani untuk menutupi lantai masjid sebagai hadiah dan simbol tentang persahabatan antara Indonesia dan Pakistan, sebagai sesama saudara muslim.

Selain terdapat bangunan utama masjid, ternyata Masjid Syuhada juga telah mengelola beberapa lembaga pendidikan mulai Taman Kanak-Kanak Islam, sampai dengan Sekolah Menengah Islam Terpadu.

Cerita pembangunan masjid ini dimulai pada saat masa penjajahan belanda, sekitar tahun 1940-an. Awalnya, kotabaru ini dihuni oleh mayoritas orang belanda berkulit putih dari kasta atas/ bangsawan. Kotabaru menjadi kota yang bersih, sehat, dan ramai dengan pembangunan-pembangunan infrastruktur oleh penjajah belanda. Kemudian pada tahun 1942 pada saat tentara sekutu berhasil merebut kekuasaan kotabaru, orang-orang belanda kemudian dideportasi dari wilayah tersebut.

masjid syuhada

Kemudian, pada saat kemerdekaan RI sudah di proklamirkan, komposisi penghuni kotabaru berubah menjadi mayoritas muslim, dan kebutuhan akan tempat ibadah yang nyaman sangat terasa, apalagi pada saat itu belum ada satupun masjid yang didirikan di wilayah kotabaru.

Akhirnya, pada tahun 1949, disaat ada rencana pemindahan Ibukota Negara ke wilayah Jakarta, masyarakat Yogyakarta menginginkan sebuah peninggalan, tapi bukan dalam bentuk patung / benda mati yang tidak memiliki fungsi yang bermanfaat, melainkan sebuah bangunan masjid yang bisa senantiasa digunakan untuk keperluan beribadah.

Pembangunan Masjid Syuhada pun dimulai pada tanggal 14 Oktober 1949,kemudian pada tanggal 17 Agustus 1950 dilakukan penetapan arah dan garis kiblat oleh KH. Badawi. Tepatnya pada bulan September 1950, peletakan batu pertama dilakukan sendiri oleh Sultan Hamengkubuwono IX, selaku menteri pertahanan RI pada saat itu.

Lalu pada tanggal 25 Mei 1952, dilakukan pembentukan resmi sebuah Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA Syuhada). Akhirnya setelah 2 tahun pembangunan dilakukan, Masjid Syuhada selesai dibangun dan diresmikan pada tanggal 20 September 1952.

interior masjid syuhada

Sedangkan untuk ranah Arsitektural bangunannya, Masjid Syuhada mengadopsi beberapa arsitektur dari berbagai negara islam yang ada. Pada kubah masjid bisa kita lihat arsitektural khas negara Persia, dimana kubah yang dibangun berbentuk bundar, dikelilingi oleh empat buah kubah kecil pada empat sudutnya.

Karena memang masjid ini didirikan pada event kemerdekaan Indonesia, tak heran jika arsitekturnya juga banyak yang menyimbolkan hari jadi negara Indonesia tersebut. kita bisa melihat 17 anak tangga dibagian depan sebagai simbol tanggal 17, kemudian delapan segi tiang gapura menyimbolkan bulan 8 (Agustus), lalu empat buah kupel bawah dan lima buah kupel atas menyimbolkan 45 (1945).

Masjid Panepan – Keraton Yogyakarta

Masjid Panepan – Keraton Yogyakarta

Masjid Panepan atau biasa disebut dengan masjid Kagungan Dalem Panepen pada masanya merupakan salah satu masjid tua zaman keranonan Yogyakarta yang memang tidka pernah diketahui keberadaannya maupun dimuat didalam media konvensional maupun media digital. Bahkan masjid ini juga tidak dimasukkan pada destinasi wisata Yogyakarta, karena masyarakat umum jarang yang mengetahuinya. Apalagi, masjid ini dibangun memang khusus sebagai masjid keraton, yang digunakan untuk keluarga keraton saja pada masanya.

Masjid Panepan dibangun pertama kali pada tahun 1327 Hijriyah, oleh Sultan Hamengkubuwono VII. Sebelumnya, tidak ada yang mengetahui bahwa masjid ini pernah eksis, karena memang hanya dikhususkan untuk pihak keraton saja. namun, pada tanggal 18 Oktober 2011 lalu, pada saat diselenggarakannya upaca akad nikah putri Sultan Hamengkubwono X yang bertempat di Masjid Panepen, masjid ini mulai dikenal masyarakat sekitar.

masjid panepan

Masjid Panepen terletak di bagian barat komplek Keraton Yogyakarta, searah dengan kediaman Sri Sultan Hamengkubuwono X (Keraton Kilen). Masjid Panepen sendiri jika diartikan didalam bahasa jawa berarti majsid untuk menepi, menyendiri, atau lebih dikhususkan untuk refleksi diri mengingat keseluruhan ciptaan Tuhan, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Sedangkan untuk segi arsitekturnya, Masjid Panepen dibuat dengan luas 7 x 12 meter, dan hanya dapat menampung hingga 60 orang jamaah saja. Dibuat dengan dua ruangan, ditambah dengan serambi yang terdapat enam cendela yang di cat hijau tua. Lalu dibagian tengah dibangun empat soko guru sebagai penopang atap bangunan yang berbentuk joglo dengan jarak antara tiang dibuat sekitar dua meter. Dinding-dindingnya dibalut dengan warna putih, agar terasa lebih tenang, nyaman dan adem untuk digunakan sebagai tempat sholat jamaah ataupun ber-iktikaf untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

masjid panepan

Pada bagian serambi luar, terdapat empat jendela yang juga dicat dengan hijau tua, lalu beberapa prasasti kuno kekeratonan yang terbuat dari kuningan dengan huruf arab gundul juga ikut dipasang pada bagian dinding utara dan selatan. Salah satu prasasti tersebut mengandung tanggal dan tahun pembuatan masjid tersebut.

Setiap harinya, masjid ini dijaga dan dirawat khusus oleh juru kunci keraton, yang dikenal dengan sebutan Konco Kaji dan Konco Suranata, yang bisa dikenali dengan mudah karena Konco Kaji memakai busana serba putih, sedangkan Konco Suranata memakai pakaian baju batik lurik warna biru tua.

Sejak pembangunan masjid ini selesai pada 1327 Hijriyah, dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono VII, masjid ini dijadikan sebagai lokasi ijab qobul beberapa putra putri ngarsa dalem, termasuk putra putri dari Sultan Hamengkubono X.

Sedangkan pada hari-hari biasa, tempat tersebut dijadikan tempat ibadah dan kegiatan abdi dalem punokawan kaji dan abdi dalem suranata. Selain itu tidak dilakukan kegiatan lain secara umum, karena memang masjid ini hanya dikhususkan untuk kegiatan kekeratonan saja.

interior masjid panepan

Menurut beberapa Punokawan Kaji, masjid ini memang dibangun dengan ukuran kecil, dan lebih mirip dengan musholla, karena tidak digunakan untuk sholat jum’at. Namun sampai saat ini lebih dikenal dengan Masjid Panepen.

Jika melihat namanya, Panepen berarti menepi ataupun menyendiri. Memang masjid ini digunakan sebagia tempat dimana para sultan beriktikaf, menyendiri dan mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa pada saat-saat tertentu. Hanya pada momen-momen tertentu, masjid ini digunakan sebagai tempat menepi, seperti jika ada sesuatu keputusan maupun kebijakan yang sulit diambil.

Ruang untuk menepi pun di sediakan tempat khusus disebelah tenggara masjid, yaitu terdapat satu ruangan kecil yang dapat digunakan untuk 1 orang saja.

Masjid Ki Ageng Henis Laweyan – Surakarta

Masjid Ki Ageng Henis Laweyan – Surakarta

Masjid Ki Ageng Henis Laweyan terletak di Jln. Liris No.1, Pajang Laweyan, Kampung Batik Laweyan, Dsn. Belukan, Ds. Pajang, Kec. Laweyan, Kabupaten Surakarta, Provinsi Jawa Tengah.

Berdiri di atas Bekas Pura

Beberapa budaya Islam dan Hindu pada zaman dahulu merupakan sejarah khas di Pulau Jawa, kedua agama tersebut memang memenuhi hampir seluruh aspek yang berada di tanah jawa. Bahkan, ada beberapa bangunan tempat ibadah yang mengadopsi kedua ciri khas agama tersebut seperti Masjid Ki Ageng Henis atau biasa dikenal dengan Masjid Laweyan yang terletak di Kota Solo, Jawa Tengah.

masjid laweyan

Masjid ini terletak di kampung Batik Laweyan Solo, sekaligus menjadi bukti sejarah akulturasi dari 2 agama sekaligus, yaitu agama Islam dan agama Hindu. Bagaimana tidak, bangunan masjid yang saat ini ada, sebelumnya merupakan suatu bangunan pura Hindu. Namun saat ini, bekas bangunan pura tersebut sudah tidak bisa ditemukan lagi keberadaannya, karena Masjid Ki Ageng Henis Laweyan sudah mengalami beberapa kali renovasi.

Masjid Laweyan menjadi masjid yang tertua di daerah kota Solo, pendiri masjid ini juga merupakan sosok cikal bakal penerus tahta di beberapa kerajaan yang terletak di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Nama masjid ini diadopsi kepada nama pendirinya yiatu Ki Ageng Henis, yang pada saat itu menjadi penasehat spiritual kesultanan Pajang.

Pada zaman dahulu, masjid Ki Ageng Henis Laweyan digunakan sebagai pusat pembelajaran agama Islam di kesultanan Pajang.  Meski sebelumnya masjid ini menjadi masjid khusus untuk kasunanan Surakarta, namun saat ini masjid ini dibuka untuk umum, dan kepengurusan masjid dilakukan oleh para jamaah masjid.

Karena sebelumnya memang merupakan masjid kekeratoran beberapa Ritual-ritual keraton pun masih diselenggarakan di masjid ini, meskipun frekuensinya sudah sangat jarang. Masjid ini juga menjadi masjid pertama yang dibangun di wilayah Surakarta, tak heran masjid ini disebut sebagai pintu masuk bagi agama Islam di Surakarta.

Ada satu cerita rakyat yang menarik pada kampung tempat berdirinya masjid tersebut, yaitu pada zama dahulu ditempat tersebut berdiri sebuah pesantren yang sangat ramai pengikutnya, mereka semua ingin belajar agama islam pada sang kiai. Saking banyaknya, pesantren tersebut tidak pernah berhenti menanak nasi di “pawonan” dan selalu keluar asap yang mengepul dari dapur pesantren tersebut. kemudian julukan kampung belukan yang berarti kampung asap melekat pada tempat berdirinya Masjid Ki Ageng Henis Laweyan.

interior masjid laweyan

Saat ini, kampung tersebut digunakan sebagai sentral pembuatan batik yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari pusat kota Surakarta. Lalu, Laweyan sendiri berasal dari “Lawe” yang berarti benang atau pilinan kapas. Pada zaman tersebut, para petani di daerah pedan banyak sekali yang menghasilkan lawe, yang kemudian di proses di kampung ini.

Sebagai masjid yang usianya sudah sangat tua, Masjid Ki Ageng Henis Laweyan saat ini dijadikan sebagai kawasan cagar budaya nasional Indonesia. Beberapa situs-situs tua yang bisa ditemukan didaerah tersebut adalah : Masjid Laweyan, Makam Laweyan, langgar Makmoer, Langgar merdeka, serta Rumah H. Samanhudi, yang merupakan pendiri dari Serikat Dagang Islam. Kawasan Laweyan memang didesain sedemikian rupa dengan kecantikan dan keindahan kampung yang mampu menarik para wisatawan lokal maupun dari mancanegara. Apalagi ada Sentra Pembuatan Batik yang pastinya akan menambah ketertarikan dari para pengunjung, karena pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan batik dari mulai proses penggambaran, pewarnaan, bahkan hingga selesai.

Sekilas Sejarah Masjid Ki Ageng Henis Laweyan

Pembangunan masjid ini tidak bisa lepas dari pengaruh Ki Ageng Henis atau kakek dari Sultan Pakubuwono II yang bersahabat baik dengan salah seorang pendeta umat Hindu, Ki Beluk. Lambat laun, dari beberapa pembicaraan yang dilakukan, akhirnya Ki Beluk mulai tertarik dengan ajaran Islam yang disebarkan oleh Ki Ageng Henis, yang juga merupakan sahabat dari Sunan Kalijaga.

Setelah itu, Sang Pendeta tersebut langsung memeluk agama Islam dengan mengikrarkan 2 kalimat Syahadat. Bangunan Pura yang sebelumnya dijadikan tempat umat Hindu yang dipimpin oleh Ki Beluk akhirnya diserahkan kepada Ki Ageng Henis, untuk dirubah dan dialihfungsikan sebagai tempat ibadah umat muslim. Pada saat pertama kali diserahkan, bangunan pura tersebut merupakan bangunan yang relatif kecil, dan dirubah menjadi mushola. Seiring waktu berjalan, beberapa pemugaran dilakukan dan akhirnya bangunannya bisa disebut dengan masjid.

masjid laweyan

Masjid Laweyan ini menurut sejarah sudah berdiri sejak tahun 1546, pada masa Kerajaan Pajang, jauh sebelum berdirinya Kota dan Keraton Surakarta (1745 M). Kerajaan tersebut merupakan cikal bakal dari kesultanan Mataram, namun akhirnya pecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Ngayogyakarta. Ki Ageng Henis merupakan Imam di keraton Kesultanan pajang, yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya atau bisa disebut dengan Jaka Tingkir. Beliau adalah keturunan langsung dari Raja Majapahit, lalu keturunan Ki Ageng Henis saat ini menjadi raja-raja di beberapa keraton Kasunanan dan Mataram.

Kawasan Laweyan dari dulu memang sangat terkenal dengan sentra batik, apalagi sejak kesultanan Pajang masih berjaya. Pada saat itu, Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir menunjung Danang Sutawijaya sebagai Syahbandar . kemudian Danang Sutawijaya membuat Sungai Kabanaran menjadi salah satu urat nadi perdagangan yang penting bagi kesultanan Pajang.

Arsitektur Bangunan Masjid Ki Ageng Henis Laweyan

Keseluruhan bangunan yang masih asli dan berasal dari masa Jaka Tingkir merupakan barang yang sudah berusia ratusan tahun. Seperti sebuah kentongan besar yang usianya sudah ratusan tahun, namun saat ini jarang difungsikan dan hanya disimpan saja, karena sudah digantikan dengan bedug. Lalu ada pula 12 tiang utama masjid yang terbuat dari kayu jati. Tiga lorong jalur masuk pada bagian depan masjid menandakan 3 pedoman hidup yang harus dimiliki seseorang yaitu Islam, Iman dan Ihsan.

Perwujudan akulturasi budayanya sangat kental dengan bangunan masjid jawa dan pura Hindu. Pengaruh budaya hindu bisa dilihat dari letak bangunannya yang lebih tinggi daripada bangunan disekitarnya. Jika didalam masjid kita sudah tidak bisa menemukan ornamen khas Hindu, namun kita masih bisa menemukan beberapa hiasan khas hindu seperi ukiran-ukiran batu yang ditempatkan di makam kuno di sekitar komplek masjid.

interior masjid ki ageng henis

Penataan ruang Masjid Laweyan juga mengadopsi budaya Jawa pada umumnya, dengan pembagian ruangan menjadi tiga, yaitu Ruang Induk Utama seluas 162 meter persegi, kemudian ditambah dengan serambi kiri dan serambi kanan. Pengaruh kerajaan pun juga ikut terasa yang bisa dilihat dari pendopo atau bangunan utama dan serambi.

Ciri Khas arsitektur Jawa juga dapat ditemukan dari bentuk atap masjid yang menggunakan tajuk atau bersusun. Kemudian Dinding Masjid Laweyan sudah direnovasi menggunakan batu bata dan semen, yaitu dilakukan pada tahun 1800-an. Sebelum di renovasi, hampir keseluruhan bangunan masjid terbuat dari bahan baku kayu.

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Di salah satu tempat di Indonesia terdapat sebuah bangunan masjid yang terkenal.  Tepatnya di Kaman Yogyakarta. Tak hanya terkenal sebagai tempat pariwisata dan kuliner, ternyata di Ygyakarta terdapat sebuah bangunan masjid yang menjadi kebanggaan warga Kauman. Masjid tersebut dikenal dengan nama masjid Ghede.

Lokasi masjid Gedhe berada d Jalan Aln-Alun Utaea, Gondomanan Yogyakarta. Selain dikenal dengan masjid Gedhe, masjid ini juga biasanya disebut sebagai masjid Raya Daerah Istimew Yogyakarta atau masjid Kagungan Dalem Keraton Ngayokyakarta Hadiningrat. Masjid ini dibangun pada masa kekuasaan pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I dan merupakan masjid sentral yang didirikan di pusat kekuasaan Kesutanan Ngyokyakarta Hadiningrat. Selain itu, masjid ini juga erupakan sebagai poros sentral bagi limamasjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat yang telah dibangun di masing-masing empat penjuru mata angin. Hal tersebut menjadi sebuah penanda batas terluar dari wilayah kesultanan.

masjid gede kauman

Masjid Gedhe juga merupakan masjid tua du pulau Jawa. Karena bangunan masjid ini didirikan pada hari Minggu 29 Mei 1773 lalu. Masjid Gedhe berdri megah dan luas di alun-alun utara Yogyakarta dan merupakan salah satu bangunan cagar budaya Nasional berdasarkan Monumenten Ordonante 238/1931. Masjid ini juga memiliki sejarah yang erat hubungannya dengan kesultanan Jogja dan menjadi sejarah dari nasional Indonesia. Salah satu organisasi islam muai lahir di masjid ini adalah Muhammadiyah.

Tak heran bangunan masjid ang berada di tengah alun-aun kota menjadi sebuah ciri khas dari pusat keagamaan atau tempat ibadah umat muslim di tempat tersebut. Masjid Gedhe yang berada disebelah alun-alun pun tak lepasdari sbol transendensi untuk menunjukan keberadaan Sultan di samping pimpinan perang atau penguasa pemerintahan. Selain itu juga sebaga sayidina panatagama khalifatulah di dunia yang memimpin tentang agama islam berada di Kesultanan tersebut.

interior masjid gede kauman

Proses pebagunan masjid Gedhe Kauman dilakukan delapan belas tahun setelah berdirinya Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Pembangunan tersebut ternyata melalui sebuah perjanjian yang bernama Giyanti 13 Februari 1755. Pembangunnan masjid Gedhe juga dilaksanakan atas perintah dari Sri Sultan Hamengkubuwono I dan rampung pada hari Mnggu tanggal 29 bulan Mei 1773. Bangunan masjid Gedhe Kauman ini menjadkan sebuah persembahan khusus dari Sang Sultan untuk warganya yang dhuafa.

Diabgain sisi selatan masjid Gedhe Kauman terdapat fasilitas untuk mencuci serta mandi bagi kaum dhuafa tersebut karena tak sedikit dari mereka yang tidak memiliki tempat tinggal. Oleh karena itu Sang Sultan merasa iba dan ingin meberikan perhatian yang lebih sehingga mereka dapat hidup dengan layak. Tak hanya di sediakan fasilitas yang menunjang, disana huga telah disediakan beberapa kebutuhan makanan bagi kaum dhuafa.

mimbar masjid gede kauman

Kebaikan dari Sang Sultan juga dirasakan oleh para Ulama, Khotib serta abdi dalem karena di sekitar masjid juga telah disediakan fasilitas perumahan bagi mereka. Nama Kauman sendri memiliki arti dari ‘tempat para kaum’. Selain bagi mereka, Sang Sultan juga menyiapkan bagi penghulu keraton dan keluarga sebuah perumahan yang berada di sisi utara dan bernama Pengulon.

Sang Sultan memilih arsitek K. Wiryokusumo untuk mendeain bangunan masjid Gedhe Kauman. Hasil dari rancangannya, beliau menghasilkan sebuah bangunan masjid dengan ciri khas dengan sebuah lambang kebesaran dari Keraon Yogya terpampang di bagian gerbang utama masjid. Interior masjid nya sangat unik dan menark karena dihiasi oleh berbagai ornamen ukiran khas Jawa.Di  dalamnya juga terdapat banyak balok kayu sebagai penyangga atap. Meskipun tidak memiliki kubah, masjid ini memiliki gaya sendiri sebagai bangunan khas Jawa yang unik.

Masjid Al Wustho – Mangkunegaran Surakarta

Masjid Al Wustho – Mangkunegaran Surakarta

Masjid Al Wustho menjadi salah satu dari tiga masjid bersejarah di daerah kota Surakarta, tepatnya di Jln. RA Kartini No. 3, RT/RW 003/009, Ketelan, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah. Dua masjid tertua lainnya adalah Masjid Darussalam dan Agung Surakarta.

Pendirian masjid ini pertama kali dilakukan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I, sebagai masjid kerajaan bagi Mangkunagaran. Pada awalnya lokasi masjid berada di Kauman, Pasar Legi, namun dengan beberapa pertimbangan seperti letak strategis akhirnya masjid ini dipindah di dekat Pura Mangkunagaran sebagai Masjid Keraton.

masjid al wustho

Pada awalnya, memang masjid ini dibangun oleh anggota keluarga kerajaan, maka dari itu bangunan masjidnya hanya khusus digunakan oleh anggota / keluarga kerajaan Pura Mangkunagaran saja. Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya masjid ini dibuka untuk umum. Nama Al Wustho disematkan pada bangunan masjid ini oleh Bopo Penghulu Pura Mangkunagaran, Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi pada tahun 1949. Meskipun dibangun dengan seni arsitektur khas jawa, namun menurut sejarah pembangunan masjid ini juga pernah melibatkan arsitektur dari Perancis.

Saat ini, lokasi Masjid Al-Wustho terletak di bagian barat kompleks Istana Mangkunagaran, Surakarta, lalu dibagian utaranya terdapat Sekolah Dasar Muhammadiyah I Surakarta.

Dari segi seni bina bangunannya, masjid ini dibangun hampir sama dengan bangunan-banguann khas pulau jawa lainnya.Yaitu dibentuk dengan denah persegi kemudian bagian atap didesain dengan atap Limas khas pulau jawa dengan atap tumpang bersusun tiga, yang melambangkan Iman, Islam, dan Ikhsan yang dibutuhkan untuk prinsip hidup kita.

masjid al wustho

Perbedaan yang paling mencolok antara masjid Al-Wustho dengan masjid-masjid lain sezaman adalah adanya ciri khas “Kuncung” pada bagian pintu utamanya, yaitu semacam pintu untuk menuju teras dan memiliki 3 akses pintuk masuk utama, yang masing-masing diberikan ukiran kaligrafi dibagian atasnya.

Kompleks Masjid Al Wustho sendiri terdiri dari satu bangunan utama, dan beberapa bangunan pendukung, seperti tempat pendidikan anak-anak, Bustanul Athfal, rumah tinggal keluarga ta’mir masjid dan unit kesehatan yang terletak di sebelah utara.

Ornamen dan interior yang memenuhi bagian dalam masjid adalah adanya berbagai macam seni kaligrafi tulis dan ukir yang dihiaskan di beberapa bagian masjid, seperti pintu, jendela, sokoguru, soko rawe, kuncungan dan lain sebagainya. Hiasan-hiasan kaligrafi tersebut mengambil referensi dari Al-Qur’an dan Hadits.

Masjid Al Wustho memiliki luas komplek sekitar 4.200 meter persegi, dengan dibatasi oleh beberapa pagar tembok yang mengelilingi areal masjid. Pada bangunan utama masjid terdiri dari, Ruang Sholat Utama, Pawastren, Serambi dan Maligin. Sedangkan pada bagian halaman, terdapat taman, 3 pintu gerbang utama, markis, menara dan juga kantor pengurus Masjid.

interior masjid al wustho

Menara Masjid Al-Wustho sendiri dibangun pada masa yang berbeda dengan pembangunan bangunan utama masjid, yaitu pada sekitar tahun 1926 oleh Mangkunagara VII. Menara ini memilki tinggi hingga 25 meter, dan digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan. Pada saat itu diperlukan 4 orang muadzin yang secara bersama-sama mengumandangkan adzan diseluruh penjuru mata angin.

Meskipun masjid ini dibangun pada sekitar pertengahan abad ke 17, namun masjid ini pernah mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 1878 dan baru selesai pada tahun 1918. Pada saat renovasi besar-besaran dimulai, Adipati Mangkunagara VII memberikan perintah kepada seorang arsitek bernama Ir. Herman Thomas, agar desain masjid yang sudah rusak bisa diganti dengan yang baru tenpa menghilangkan nilai sejarahnya.

Masjid Agung Surakarta – Jawa Tengah

Masjid Agung Surakarta – Jawa Tengah

Masjid Agung Surakarta atau juga dikenal dengan Masjid Agung Solo pada awal pembangunannya ditujukan sebagai masjid khusus untuk Negara Keraton Surakarta Hadiningrat. Dirawat dan difungsikan oleh pihak anggota keluarga kerajaan. Lalu semua pengurus masjid merupakan abdi dalem Keraton Surakarta, sebagai contoh misalnya Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom, dan juga Lurah Muadzin.

Masjid Agung Surakarta / Masjid Agung Solo ini dibangun pertama kali pada tahun 1763 M Oleh Sultan Pakubuwono III. Selesai dan difungsikan pada tahun 1768 M dan berdiri diatas lahan seluas 19.180 meter persegi. Sebagai batas areal masjid dengan areal pemukiman warga, dibangun tembok yang mengelilinya setinggi 3.25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta mirip dengan bangunan masjid di Jawa pada umumnya, yiatu berupa tajug dengan atap tumpang tiga, serta ditambah ornamen mustaka pada puncaknya.

masjid ageng surakarta

Masjid Agung Surakarta terletak di sebelah Pasar Klewer Surakarta yang terkenal dengan pasar grosir kain, dan juga terletak di sebelah barat Alun-Alun sebelah utara Keraton Kasunanan Surakarta. Tak heran jika setiap hari masjid ini juga tetap ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar untuk menunaikan ibadahnya.

Jika kita menilik dari sejarah, Masjid Agung Surakarta merupakan salah satu elemen yang tidak dapat dipisahkan dari proses perkembangan Syiar agama Islam yang beredar di pulau Jawa, khususnya di Kota Surakarta dan sekitarnya. Bisa dilihat bahwa pada zaman dahulu, Keraton Surakarta sudah sangat maju dimana memiliki keseluruhan aspek yang harus dimiliki oleh sebuah negara maupun kesultanan. Yaitu Masji sebagai unsur agama (sebagai tempat ibadah), kemudian alun-alun sebagai sarana Raja bertemu dengan rakyat luas, dan Pasar (saat ini disebut Pasar Klewer) sebagai pusat kegiatan Ekonomi berlangsung. Struktur seperti ini menunjukkan bahwa Kerajaan Surakarta benar-benar maju dan memperhatikan keseluruhan aspek kehidupan dan kesinambungan antara pihak keraton dengan rakyatnya.

masjid ageng surakarta

Masjid Agung Surakarta meskipun sudah berumur hampir 300 tahun, ternyata masih dapat berdiri kokoh dan masih difungsikan sebagaimana tempat ibadah umat muslim lainnya. Bahkan bangunannya pun masih terlihat asli tanpa perubahan apapun pada bangunan utamanya. Masjid ini dari satu versi cerita di bangun oleh Raja Surakarta Paku Buwono III pada tahun 1785 M, namun menurut versi lain dari Basid Adnan dan Eko Budihardjo, Masjid Agung Surakarta dibangun pada sekitar tahun 1757 dengan adopsi Masjid Demak. Tepat setelah 12 tahun pindahnya Kasunanan Surakarta ke wilayah desa Sala dari Kartasura.

Menurut cerita tutur masyarakat setempat, konon kubah atau mutaka yang dipasang dibagian atap masjid pada zaman dahulu dilapisi dengan emas murni seberat 7,5 Kg, yaitu terdiri dari 192 keping uang ringgit emas. Namun, karena beberapa kejadian saat ini emas tersebut sudah hilang. Pemasangan kubah emas tersebut diprakarsai oleh Raja Pakubuwono VII bersama dengan Condro Sangkolo pada sekitar tahun 1878 M.

interior masjid ageng surakarta

Bentuk ciri khas asli bangunannya tetap dipertahankan meskipun sudah beberapa kali mengalami renovasi. Renovasi pertama dilakukan oleh Pakubuwono IV, lalu dilanjutkan oleh Pakubuwono VII pada tahun 1856. Beberapa bangunan yang dipugar pada saat itu adalah penambahan serambi masjid untuk pertemuan dengan kaum muslim, kemudian ditambahkan pula satu menara untuk adzan dan juga memperbaiki beberapa tempat wudhu dan gapura disekitar.

Pembangunan menara kembali dilakukan pada tahun 1929 yang menghabiskan dana 100.000 gulden, dengan tinggi sekitar 30 meter dan terbuat dari beton bertulang. Pondasinya dibuat dengan beberapa batang kayu cemara, sehingga dapat bertahan sampai saat ini.