Masjid Diyanet Center of Amerika – Amerika Serikat

Masjid Diyanet Center of Amerika – Amerika Serikat

Masjid yang diberi nama “Diyanet Center of Amerika” terletak di 9704 Good Luck Road, Lanham, MD 20706, Amerika Serikat. Selesai dan diresmikan pada hari Sabtu, 02 April 2016 lalu, oleh Presiden Turki, Recep Tayip Erdogan. Masjid dan Islamic Center atau Komunitas Muslim Turki tersebut merupakan pertama kali yang dibangun di daerah Maryland, Amerika Serikat. Pendanaan pembangunan keseluruhan bangunan masjid pun berasal dadi pemerintah Turki. Komplek kawasan Islamic Center atau jika dalam bahasa Turki disebut dengan “Kulliye” ini mencerminkan peradaban islam Turki di Amerika Seringat. Struktur bangunannya pun mengambil struktur bangunan masjid yang dimiliki oleh Emperium Usmaniyah / Turki Usmani / Ottoman.

Masjid Diyanet Center of Amerika

Keseluruhan luas tanah Masjid Diyanet Center of Amerika ini memiliki luas sekitar 60.000 meter persegi. Sedangkan bangunan masjidnya berdiri ditas lahan seluas 879 meter persegi, dilengkapi dengna halaman yang lumayan besar untuk menampung hingga 3.000 jamaah bersamaan. Dilengkapi juga dengna sebuah taman khas Islam Turki dibagian depannya, kemudian tepat disebelah bangunan masjid ada pusat budaya yang menunjukkan hubungan antara arsitektur modern dan klasik. Pusat kebudayaan islam yang dibangun disamping masjid tersebut berupa sebuah perpustakaan, ruang pameran dan ruang konferensi, serta sebuah aula pertemuan yang digunakan sebagai ruang penyambutan para tamu.

Pembangunan Masjid Diyanet Center of America ini mengambil asrsitektur alsi Emperium Usmaniyah yang berjaya sejak abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-19 Masehi. Ciri khas yang dimilikinya adalha bangunannya berukuran tinggi besar, dengan satu kubah besar di atasnya, dikelilingi oleh beberapa kubah kecil. Lalu ditambahkan dengan 2 menara lancip yang tinggi menjulang seperti sebuah pensil dengan ornamen Bulan Sabit yang selalu menjadi ciri khas sebuah masjid pada masa Emperium Usmaniyah pada kala itu.

Sedangkan beberapa tempat pusat budaya disamping masjid dibangun dengan arsitektur Emperium Islam Seljuk yang berjaya pada abad ke-11 Masehi, yang terdiri dari beberapa ruangan termasuk ruang perpustakaan, pameran, pertemuan, sampai pada ruang khusus untuk menyambut para tamu besar.

interior Masjid Diyanet Center of Amerika

Selain itu, ada juga Pusat Penelitian Islam di dalam gedung tersebut yang bisa digunakan sebagai fasilitas konsultasi untuk para mahasiswa yang sedang mengejar gelar Sarjana maupun Pascasarjana yang berasal dari Turki. Kemudian ada juga sebuah museum Islam seluas 300 meter persegi yang menyimpan beberapa benda sejarah dari Emperium Usmaniyah. 10 rumah tradisional khas Dinasti Usmaniyah pun juga ikut dibangun sebagai fasilitas tempat menginap bagi para tamu yang mengunjungi masjid tersebut. rumah-rumah muslim di daerah tersebut dibuat sedemikian rupa dengan menggunakan arsitel lawas yang dimiliki bangsa turki. Selain itu, dibangun juga kompleks pemandian (Hamam) khas Turki, beberapa kolam renang, ruangan serba guna serta beberapa kompleks Gym / Olahraga. Karena memiliki luas dan ukuran bangunan yang super besar, tak heran jika Masjid Diyanet Center of America menjadi masjid terbesar di Amerika Serikat sampai saat ini.

Pembangunan seluruh kompleks masjid dimulai pada tahun 1990-an, diatas tanah yang sebelumnya merupakan rawa-rawa yang dibeli oleh Turkish Presidency of Religious Affairs / Badan Keagamaan Presidensial Turki. Lalu, arsitektur yang menangani seluruh bangunannya adalah Muharrem Hilmi Senalp, salah satu arsitek lokal turki. Meskipun sudah di gagas dari tahun 1990-an, namun proses pembangunan kompleks masjid ini baru dimulai pada tahun 2009 lalu dan baru selesai pada tahun 2016.

Meskipun masjid ini dibangun dengan bekerjasama dengan kontraktor asli Amerika Serikat, namun semua bahan material didatangkan langsung dari Turki melalui angkutan darat, laut, maupun udara. Sedangkan untuk seni bina bangunan serta hiasan ornamen serta interior dan eksteriornya di tangani langsung oleh para arsitek seni asli Turki.

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia merupakan salah satu bangunan masjid yang didirikan oleh Dompet Peduli Ummat Daartu Tauhiid Indonesia di wilayah Gaza tengah, tepatnya di daerah Deir Balah. Masjid tersebut dinamakan “Masjid Daartu Tauhiid Indonesia” karena biaya pendaaan bangunan masjid tersebut berasal dari dana kumpulan rakyat Indonesia yang dikumpulkan dan disalurkan oleh Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid.

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Pembangunan masjid ini merupakan wujud dari kepedulian bangsa Indonesia terhadap saudara nya yang terletak di Gaza. Mereka tidak lagi memiliki tempat peribadatan yang nyaman dan aman karena paska penyerangan zionis dalam perebutan wilayah perbatasan Gaza sudah banyak yang dibombardir dan diluluhlantakkan. Bahkan pada saat belum dibangun masjid yang baru, umat muslim disana hanya melakukan sholat fardhu dan sholat jum’at di sekitar puing-puing masjid yang sudah hancur tersebut.

Pembangunan Masjid Daarut Tauhiid Indonesia dilalukukan diatas tanah lahan milik Departemen Agama dan Perwakafan Palestina. Ditambah lagi dari tanah wakaf warga setempat seluas 250 meter persegi, masjid tersebut kemudian mampu untuk menampung hingga 300 jamaah, dilengkapi dengan beberapa fasilitas kecil sepert kipas angin, beberapa tempat wudhu dan toilet. Konstruksinya dibangun dari beton dengan fondasi dasar yang berkekuatan 5 lantai. Rencananya memang masjid ini akan di tingkat sampai 5 lantai, karena nantinya akan digunakan sebagai tempat / ruangan menghafal Al-Qur’an yang diberi nama Markaz Baitul Qur’an.

Program pembangunan Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina ini merupakan sebuah ide dan konsep dari mubaligh kondang Indonesia, AA Gym, selaku Ketua Yayasan Daarut Tauhiid Indonesia. Proses pembangunan dimulai dengan suvei lapangan terlebih dahulu dari Jalur Gaza yang porak-poranda akibat konflik perebutan wilayah perbatasan tersebut. Dari beberapa daerah yang disurvei akhirnya diputuskan bahwa yang masih layak dipakai dan masih aman adalah daerah Deir Balah Gaza Tengah.

Peletakan batu pertama bangunan masjid ini dimulai pada tanggal 31 Juli 2015, setelah sholat Jum’at dilakukan. Kemudian awal bulan September 2015, konstruksi dan enginering didatangkan untuk memulai pembangunan di atas tanah wakaf tersebut. Proses pembangunan masjid ini hanya diperkirakan menghabiskan waktu sekitar 2 bulan saja, mengingat sering terjadi konfril disana. Namun, akhirnya mundur menjadi empat bulan, karena terhambat oleh faktor krisis bahan material bangunan.

Hal ini disebabkan oleh seluruh bahan bangunan dan material seperti, semen, besi, batu bata dan lain sebagainya hanya bisa melewati satu jalur saja, yaitu dari pintu perbatasan Kareem Abo Saleem, pintu perbatasan antara Gaza dan Israel. Pembangunan terhambat karena setiap kali mendatangkan semen dari luar daerah Gaza, maka akan selalu di tanya surat-surat izinnya, bahkan ditanya secara detail untuk apa semen digunakan, bangunan masjid mana, luas masjid berapa dan pertanyaan-pertanyaan lain yagn sering menghambat kegiatan pengiriman tersebut.

interior Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Meskipun pembangunan berjalan dengan lambat, namun secara pasti akhirnya Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina berhasil dibangun. Selesai dan diresmikan pada hari Kamis, 31 Desember 2015 pada jam 10 pagi dan disambut langsung oleh Aa’ Gym emlalui sambungan telepon langsung dari pondok pesantren Daarut Tauhid, Geger Kalong, Bandung. Aa Gym dengan haru berujar bahwa, “Semoga menjadi amal shaleh bagi pihak manapun yang berjuang dalam pendirian Masjid Daarut Tauhiid”. Sebelumnya, dijadwalkan bahwa KH. Abdullah Gymnastiar atau kerap disapa dengan Aa Gym akan menyampaikan sambutannya lewat Skype, namun pada saat peresmian berlangsung, listrik tiba-tiba padam, dan akhirnya sebagai alternatif menggunakan jaringan telepon saja.

Masjid Baiken Kazakkhstan

Masjid Baiken Kazakkhstan

Pada saat Kazakhstan berada di bawah kendali Uni Soviet, bangunan masjid di sana dialihfungsikan menjadi berbagai tempat militer Uni Soviet. Padahal bangunan masjid disana sangat banyak dan berdiri megah di berbagai tempat di Kazakhstan.  Ta hanya dijadikan tempat untuk fasilitas militer, masjid-masjid tersebut juga banyak yang ditutup dan digunakan sebagai tempat lainnya.

Masjid Baiken Kazakkhstan

Dan salah satu bangunan masjid yang terkenal di Kazakhstan adalah masjid Baiken. Masjid ini terkenal karena dahulu bangunanya merupakan sebuah tempat untuk perjudian. Hal itu beraal dari ide Presiden pertama dan juga merupakan pemimpin Nasional Kazakhstan, N.A. Nzarbayev pada tahun 2014 lalu.

Pada dahulu bangunan tersebut merupakan bangunan Casino Zodiac.  Bangunan tersebut berdiri megah diatas lahan seluas 6000 meter  persegi. Tepatnya berada di pertigaan jalan Zhandosov Rozybakiyev kota Almaty. Pada awalnya kota Almaty adalah ibukota dari Kazakhstan namun sekarang telah dipindahkan ke kota Astana. Kota Almaty juga merupakan kota metropolitan yang sangat padat serta sudah berumur sangat lama.

Proses pembangunan masjid Baiken Aljazair dimulai pada bulan Agustus 2012 dan selesai secara keseluruhannya pada tahun 2014. Pembangunan masjid Baiken tersebut termasuk cepat karena setelah merdeka para muslim disana menginginkan sebuah bangunan masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah serta beberapa shalat sunat lainnya dan berbagai kegiatan keislaman lainnya.

Meskiipun untuk pendanaan masjid Baiken tidak secara terbuka dijelaskan, namun saat masjid ini telah berdiri terlihat jelas bangunan masjid tersebut sangat megah dan mewah. Pada saat proses pembongkaran Casino terlihat alat-alat berat menghancurkan Casino lalu menggali lubang yang besar untuk dibangun sebuah masjid. Pada saat pembangunan masjid tersebut berada di  bawah kendali otoritas agama Islam kazahstan serta bekerja sama dengan Departemen Arsitektur dan Tata Kota Almaty.

Pada saat itu juga banyak dari masyarakat sekitar yang menyaksikan langsung dari awal proses pembongkaran hingga mulai pembangunan masjid Baiken. Bahkan hingga berbulan-bulan mereka khususnya masyarakat muslim tetap setia menyaksikan dan tak sedikit dari merka yang membantu pembangunan masjid tersebut. Mulai dari dibangunnya dinding masjid, kubah serta menara pada masjid Baiken. Hal itu wajar disaksikan banyak orang karena masjid Baiken berada di pusat kota Almaty yang padat penduduknya. Tak hanya menyaksikan proses pembongkaran Casino yang menarik saja, mereka juga menunggu omen-momen diabngunnya masjid Baiken.

interior Masjid Baiken Kazakkhstan

Setelah selesai pada tahun 2014 lalu, masjid ini langsung diresmikan oleh Presiden Kazakhstan sendiri yang bernama Nursultan Nzarbayev. Dipilih nama ‘baiken’ karena merupakan salah satu tokoh besar Kazakhstan yang bernama Dirt Bike Ashimova. Beliau seorang tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat dan juga disegani oleh mereka pada masa pemerintahan Uni Soviet.

Ketika acara peresmian masjid Baiken, banyak juga yang menghadiri tak hanya masyarakat sekitar tetapi juga Mufti Agung Kazakhstan bernama Yerzhan Kazhy Malgazhhyuly turut serta menghadiri peresmian tersebut. Selain juga turut hadir beberapa tokoh penting muslim setempat seperti Naib Mufti-Serikbai Oraz dan Akhmetzhan Yesimov. Dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an dan ditutup dengan shalat Jum’at berjamaah.

Masjid Baiken yang megah ini terdiri dari lantai bawah yang merupakan tempat parkir sedangkan lantai atas digunakan sebagai ruang utama untuk melaksanakan shalat. Juga terdapat ruang khusus untuk para jamaah wanita yaitu sebuah mazenin disana. Ketika memasuki masjid ini sangat terlihat arsitektur megah dan modern ditambah dengan warna hijau pastel sehingga menyejukkan mata para jamaah. Sekarang masjid Baiken menjadi salah satu bangunan umat muslim yang mereka banggakan.

Masjid Al-Aksa – Bekas Sinagog Kota Den Haag

Masjid Al-Aksa – Bekas Sinagog Kota Den Haag

Masjid Al-Aqsa atau Masjid Al-Aksa atau Meescidi Aksa terletak di Wagenstraat 103, 2512 AS Den Haag, Nederland / Belanda. Perkembangan Islam di Negara Belanda memang di sinyalir cukup pesat. Komunitas Muslim Indonesia dan juga Komunitas Muslim dari beberapa negara lain yang pernah menjadi wilayah jajahan negeri tersebut turut meramaikan perkembangan muslim disana sudah sejak lama.

Masjid Al-Aksa

Beberapa Masjid pun juga sudah berdiri didaerah tersebut yang dididrikan oleh berbagai macam organisasi muslim di Negara Belanda. Selain itu, juga berdiri sebuah Universitas milik muslim yang dinamai Universitas Islam Belanda, dan sudah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah setempat. Sampai saat ini Universitas Islam Belanda tersebut sudah menjadi salah satu Universitas terkemuka di daerah Eropa.

Sejarah pembangunan Masjid Al-Aksa pun hampir sama dengan sejarah yang dimiliki oleh beberapa masjid lain yang berdiri di negara non-muslim. Yaitu pada awalnya merupakan bangunan gereja yang dibeli oleh komunitas muslim kemudian dialihfungsikan menjadi sebuah masjid.

Selain Masjid Al-Aksa yang akan kita bahas pada artikel kali ini, ternyata ada juga masjid yang dulunya berasal dari bangunan gereja, yaitu Masjid Al-Hikmah yang dikelola oleh komunitas muslim Indonesia yang pada awalnya merupakan bangunan Gereja Immanuel yang sudah sepi dari jamaah dan dibeli oleh komunitas tersebut. pendanaan secara keseluruhan pengalihfungsian masjid tersebut didanai oleh Bapak H. Probosutejo.

Lalu, Masjid Al-Aksa yang menjadi topik pembahasan kali ini berasal dari bangunan bekas Sinagog Agung Yahudi yang dibangun pada tahun 1844 di Wagenstraat. Bangunan ini merupakan saksi sejarah pada saat terjadi insiden deportasi warga yahudi dari belanda. Komunitas Muslim Turki kota Den Hag kemudian membeli bangunan tersebut dan mengalihfungsikan menjadi sebuah bangunan masjid. Renovasi yang dilakukan hanya terbatas pada interior masjid saja, sedangkan bagian luar masjid tetap dibiarkan seperti bangunan sebuah gereja. Penambahan menara dilakukan pada tahun 1985 untuk menegaskan bahwa bangunan tersebut kini telah menjadi sebuah tempat peribadatan umat muslim.

Seperti kebanyakan masjid di wilayah non-muslim, Masjid Al-Aksa ini juga menerapkan Islam Rahmatan Lilaalamin, artinya terbuka untuk umum bahkan untuk non-muslim sekalipun. Mereka biasanya berkunjung untuk melihat keindahan interior bangunannya yang sudah dirubah total, maupun datang untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang agama islam. Para pengurus masjid ini pun selalu ramah menemui dan berbincang kepada para pengunjungnya.

Bangunan Masjid Al-Aksa dibagi menjadi dua area utama, yaitu area lantai dasar digunakan untuk ruang sholat utama jamaah pria, sedangkan area khusus di lantai mezanin digunakan untuk para jamaah wanita. Seluruh Interior dan Pernah-pernik khas sinagog seperti salib, patung, dan lain sebagainya telah digantikan dengan Interior masjid seperti Lukisan, Kaligrafi, dan lain sebagainya.

Bagian atap masjid pun di desain sedemikian rupa mirip lengkungan-lengkungan dengan warna biru laut, dihiasi beberapa kaligrafi diatas dan dibawahnya. kemudian sebagai sumber penerangan utama, masjid ini memiliki 1 lampu gantung utama dibagian tengah, dan beberapa lampu gantung kecil di sekelilingnya.

interior Masjid Al-Aksa

Sedangkan untuk bagian Mihrabnya dirancang unik dengan dipenuhi orneman warna biru yang bersebelahan dengan dua mimbar. Mimbar utama dibangun dengan cukup tinggi yang berbahan baku kayu berukir dikhususkan untuk kutbah dari khatib, sedangkan untuk mimbar yang lebih kecil digunakan untuk muadzin dalam mengumandangkan adzan serta iqomah.

Jika kita bisa mengunjungi masjid ini, kita pasti akan tercengang dengan perbedaan eksterior yang mirip gereja, dengan interior masjid yang sangat khas dengan dunia islam di wilayah timur tengah khususnya di Negara Turki.

Masjid Agung Sana’a – Yaman

Masjid Agung Sana’a – Yaman

Yaman merupakan salah satu negara berbentuk republik yang terletak di ujung selatan Jazirah Arab, dimana pada saat tahun 2016 lalu terjadi kondisi darurat perang. Sejarah negara Yaman sangat erat hubungannya dengan sejarah penyebaran agama Islam pada zaman Rasulullah SAW. Karena pada masa itu, Rasulullah SAW pernah mengutus Ali Bin Abi Thalib, khalifah ke-empat, untuk menyebarkan Islam di wilayah negara Yaman. Pada saat penyebaran agama Islam sudah lumayan berkembang, akhirnya dibangunlah beberapa masjid di negara tersebut, salah satunya adalah Masjid Agung Sana’a yang akan kita bahas kali ini.

Masjid Agung Sana’a – Yaman

Masjid Agung Sana’a memang menurut sejarah dibangun oleh kaum muslimin yang dipimpin oleh Khalifah Ali Bin Abi Thalib. Namun, ada beberapa cerita tutur yang mengatakan bahwa pembangunan masjid tersebut mengandung sebuah mukjizat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. Yaitu, pada saat dibangunnya masjid, kebingungan sempat terjadi, dimana penempatan arah kiblat sangat sulit untuk di lakukan di daerah tersebut. Akhirnya, Rasulullah SAW turun tangan sendiri untuk menentukan arah kiblat yang “Pas” tanpa menggunakan alat apapun. Hal ini juga sempat menjadi perbincangan hangat di dunia maya, bersumber dari hasil penelitian Syeikh Abdul Majid Al-Zandaney yang mengatakan bahwa, tidak mungkin arah kiblat pada saat itu ditentukan dengan sangat tepat kecuali memang ada sebuah “Keajaiban” didalamnya.

Dalam video penelitian Syeikh Abdul Majid Al-Zandaney tersebut juga menjelaskan bahwa penempatan bangunan dan arah masjid searah dengan Gunung Deyn dan Ka’bah dalam satu garis lurus. Penempatan seperti itu jelas belum bisa dilakukan secara cepat dan tepat oleh teknologi pada zaman dahulu. Jika kita menilik di Google Earth, hasil yang didapat pun sama, bahwa Masjid Agung Sana’a, Gunung Deyn, dan Ka’bah terletak di satu garis lurus. Lalu bagaimana Rasulullah SAW dapat secara akurat menentukan sudut arah tersebut tanpa teknologi yang memadai?, jawabannya tentu saja atas petunjuk dari yang maha kuasa.

Ada beberapa nama yang juga dilekatkan pada Masjid Agung Sana’a, yaitu “Masjid Al-Jami’ Al-Kabir bi-san-a”, “Great Mosque of Sana’a” atau juga biasa disebut dengan “Jami’ Kabeer”. Masjid ini terletak di kota tua Sana’a, Republik Yaman, tepatnya disebelah bagian timur bekas bangunan Istana Ghumdan Palace.

Masjid ini pertama kali dibangun pada saat Rasulullah masih hidup, namun masjid ini pernah dihancurkan pada saat pemerintahan Usman Bin Affan, karena kekhawatiran akan digunakan sebagai markat pemberontak pada saat kemelut masalah terjadi antara sahabat pada saat itu.

interior Masjid Agung Sana’a – Yaman

Setelah penghancuran tersebut,  akhirnya masjid ini mengalami beberapa kali renovasi, namun tetap mempertahankan bentuk asilnya. Beberapa benda-benda yang sudah berumur ratusan tahun juga bisa ditemukan pada masjid ini, tepatnya ditemukan pada saat renovasi tahun 1972. Beberapa benda tersebut misalnya, Manuskip Sana’a yang diantaranya terhadap Mushaf Al-Qur’an pada zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Beberapa benda-benda purbakala dari zaman sebelum Islam juga dapat ditemukan pada saat renovasi tersebut.

Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 6 Hijriah atau 630 Masehi, dimana pada saat itu penyebaran Islam yang dilakukan oleh Ali Bin Abi Thalib sudah berhasil meluas, menjadikan Kota Sana’a menjadi salah satu wilayah syiar islam terbesar pada masanya. Menurut sejarah dan juga cerita tutur dari masyarakat, bangunan asli sebelum masjid ini dibangun merupakan sebuah Istana Ghundam (era Himyarite) yang kemudian dirobohkan dan dibangun ulang setelah penyebaran Islam di tanah tersebut meluas.

 

Masjid Agung At-Tin – Taman Mini Indonesia Indah

Masjid Agung At-Tin – Taman Mini Indonesia Indah

Masjid ini dari pertama kali dibangun memang diidentikkan dengan mendiang ibu Negara RI, Ibu Tien Soeharto. Namun  hal tersebut merupakan suatu kesalahpahaman karena masjid ini tidak ada sangkutpautnya dengan Ibu Negara. Meskipun berdirinya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah RI, dan juga pengelolaannya dibawah Yayasan Ibu Tien Soeharto, namun penamaan At-Tin diambil dari bahasa Arab, bukan dari nama beliau.

Masjid Agung At-Tin

Masjid At-Tin pertama kali dibangun pada bulan April 1997, selesai dan diresmikan pada tanggal 26 November 1999. Bangunan masjid ini dibangun diatas lahan seluas 70.000 meter persegi dan dirancang sedemikian rupa agar dapat menampung hingga lebih dari 10.000 jamaah, yaitu 9.000 jamaah di dalam bangunan masjid utama, dan 1.850 jamaah berada di pelataran dan plaza masjid.

Penamaan At-Tin pada masjid tersebut diambil dari salah satu nama surah Juz Amma di dalam Al-Qur’an yang berarti “Sejenis buah yang sangat manis dan lezat serta penuh gizi”, didalam surat tersebut juga dijelaskan bahwa buah tersebut memiliki manfaat yang banyak, sebelum matang maupun sesudah matang.

Selain itu, sebenarnya tujuan lain yang tersirat meskipun tidak disapaikan secara resmi dari pemberian nama “At-Tin” adalah untuk mengenang jasa-jasa yang diberikan oleh Ibu Tien Soeharto, karena pembangunan masjid ini di gagas oleh beberapa anak dan cucu ibu Tien Soeharto. Pembangunan masjid ini pun dapat berlangsung dengna lancar atas bantuan dari Yayasan Ibu Tien Soeharto, secara tidak langsung pembangunan masjid ini merupakan penghargaan dari anak cucu kepada Ibu Tien Soeharto.

Perancang seni bangun masjid ini di tangani oleh pasangan arsitek anak dan ayah, yaitu Fauzan Noe’man dan Ahmad Noeman. Rancangan yang diberikan untuk masjid ini tergolong sangat unik, karena mengambil beberapa perpaduan seni arsitektur bangunan dari beberapa budaya Nusantara Indonesia.

Struktur bangunan utama masjid dibangun sedemikian rupa mirip masjid-masjid pada masa Emperium Usmaniah / Turki Usmani / Ottoman. Yaitu memiliki ciri khas Kubah utama yang berukuran besar, kemudian dilengkapi dengan 4 menara di empat penjurunya, lalu ditambah juga menara tunggal yang ukurannya lebih tinggi namun terpisah dari bangunan utamanya.

Untuk arsitektur khas indonesia yang biasanya ditunjukkan oleh atap yang berbentuk limas, di aplikasikan pada bentuk ornamen diseluruh dinding-dinding masjid. Ornamen atas tersebut bila dilihat dari kejauhan akan terlihat seperti panah yang menunjuk kelangit. Bentuk arsitektur seperti ini sempat menjadi trend bangunan masjid pada masa itu, seperti yang juga diadopsi oleh Masjid Al-Jihad Karawang.

interior Masjid Agung At-Tin

Bentuk dinding masjid yang berbentuk panah tersebut tidak hanya memenuhi bagian eksterior masjid, namun juga diaplikasikan dibagian interior masjid. Hanya saja bagian luar di tampilkan dengan sisi terang, dan bagian dalam di balut dengan warna yang lebih gelap dengan lempengan keramik, mozaik dan dilengkapi dengan kaligrafi. Bentuk panah pada dinding eksterior bangunan juga di lengkapi dengan ventilasi udara dan cahaya, serta ditambah dengan kaca patri yang begitu indah.

Lekukan dan konstruksi serta ornamen yang berbentuk anak panah tersebut didesain secara minimalis, namun tetap tidak melupakan kemegahan geometris yang terus ditunjukkan oleh eksterior dan interior masjid tersebut. Bentuk anak panah ini diambil dari filosofi bahwa manusia tidak boleh berhenti untuk selalu mensyukuri nikmat Sang Maha Pencipta.

Masjid Agung At-Tin juga memiliki plaza yang lumayan luas disisi depan yang mengadopsi bentuk Inner Courtyard yang biasanya diadopsi di masjid-masjid arab hingga masjid afrika. Sederetan pohhon palem juga ikut di tanam di sekeliling plasa untuk membuat efek teduh di pelataran yang memang dikhususkan untuk menampung jamaah yang tidak terbendung didalam bangunan utama.

Masjid Umar Bin Khattab – Maicao Kolumbia

Masjid Umar Bin Khattab – Maicao Kolumbia

“Masjid Umar Bin Khattab” atau dalam bahasa inggris “Omar Ibn Al-Khattab Mosque”, atau dalam bahasa sepanyol “La Mequita Omar Ibn Al-Jattab” merupakan masjid terbesar ketiga di Kawasan Amerika Latin, setelah Masjid Besar Argentina dan Brazil, sekaligus merupakan Masjid Terbesar di Negara Kolumbia. Masjid yang juga disebut dengan “Centro Islamico de Maicao” ini terletak di Maicao, La Guajira, Republik Columbia.

Masjid yang mengadopsi nama Khalifah Kedua, Umar Bin Khattab ini dibangun pada tanggal 17 September 1997, dan mampu menampung hingga 1.000 jamaah sekaligus. Masjid ini dibangun oleh Komunitas Islam Maicao yang mayoritas berasal dari keturunan arab dan menetap di Maicao sejak tahun 1948. Tidak heran jika masjid ini juga lebih sering disebut “Masjid Islamic Center Maicao”.

masjid di colombia

Arsitektur masjid ini dibangun layaknya masjid-masjid Arab pada umumnya, memiliki kubah besar dan menara setinggi 37 meter disampingnya. Karena memang mayoritas penduduk Maicao adalah non-muslim, masjid ini menjadi masjid satu-satunya yang berada di wilayah tersebut. Selain bangunan masjid, ternyata komunitas muslim Maicao juga membangun sebuah sekolah Islam yang diberi nama Dar Alarkam atau Darul Arqom. Selain digunakan sebagai tempat peribadatan dan tempat sekolah, ternyata masjid ini juga memilik sebuah perpustakaan yang terbuka untuk umum.

Masjid Umar Bin Khattab merupakan cerminan dari usaha keras yang dilakukan oleh komunitas Islam Maicao, karena pada saat dibangun pada tahun 1997, dana pembangunan masjid secara keseluruhan hanya berasal dari swadaya umat muslim di kota tersebut saja, tanpa mendapatkan bantuan dari luar.

masjid umar bin khattab

Untungnya, aturan pemerintah kota Maicao membebaskan umat beragama untuk mengekspresikan kegiatannya. Sehingga komunitas muslim Maicao dapat secara bebas menjalankan ibadah mereka di masjid tersebut, maupun menggaungkan adzan dengan pengeras suara.

Sedangkan untuk bagian Arsitekturnya, Masjid Umar Bin Khattab ini dibangun dengan dua lantai, lantai dasar digunakan untuk jamaah laki-laki, sedangkan lantai atas digunakan untuk jamaah wanita. Tidak hanya digunakan oleh anggota komunitas saja, ternyata masjid ini juga digunakan sebagai tempat ibadah warga muslim lokal yang sudah menjadi muallaf.

Masjid Umar Bin Khattab di hiasi dengan cat berwarna putih gading, berlapiskan marmer dan cor, dihiasi juga dengan beberapa kaligrafi Al-qur’an. Permukaan lantai masjid senantiasa dilapisi dengan karpet yang selalu terjaga kesuciannya.

masjid umar bin khattab

Meskipun masjid ini selalu dibuka untuk umum, namun tetap saja ada Stigma Negatif yang mempengaruhi masyarakat non-muslim sekitar. Beberapa media barat seringkali mengkaitkan umat muslim sebagai pembuat onar, terorisme, bahkan bom bunuh diri, sehingga banyak dari masyarakat Maicao yang enggan untuk mendekat ke masjid ataupun berbincang dengan orang-orang muslim disana.

Keseluruhan warga muslim di kolumbia saat ini sudah berjumlah lebih dari 14 ribu jiwa, beberapa dari mereka juga tersebar di berbagai lembaga dan pusat komunitas islam di wilayah San Andres, Narino, Bogota, dan Santa Marta. Sejarah Islam di kolumbia dibawa oleh migran asal Arab, Syria, Lebanon, dan juga palestina yang bermigrasi dan menetap di Kolumbia pada sekitar abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Kebanyakan dari mereka bermigrasi untuk menghindari pertiakaian yang terjadi didalam negeri mereka. Akhirnya, mereka pun pindah ke negara lain dan menjadi pedagang di negara tersebut.

Selain menjadi pedagang atau saudagar, ternyata beberapa orang juga selalu mencoba untuk meng-islamkan warga disana. Bahkan sampai saat ini sudah ribuan warga pribumi Kolumbia yang sudah memeluk agama Islam.

Masjid Sidi Uqba Aljazair

Masjid Sidi Uqba Aljazair

Salah satu bnagunan masjid yang terkenal di Al-Jazair adalah masjid Sidi Uqba. Masjid ini dibangun pada tahun 1025 Masehi atau 416 Hijriyyah. Dilihat dari pembangunan masjid Sidi Uqba, masjid ini tergolong masjid yang umurnya sudah tua. Tepatnya pembangunan tersebut pada saat era kekuasaan Dinasti Zirid. Sidi Uqba sendiri merupakan sebuah kota kecil yang berada di Biskara Aljazair Afrika Utara. Tempat ini merupakan dimakamkannya Uqba Bin Nafi pada saat melakukan pertempuran melawan pasukan pemberontak yang berada dibawah pasukan Koceila. Uqba Bin Nafi sendiri merupakan seseorang yang sangat di hormati dan disegani oleh orang lain karena beliau merupakan orang terpandang dengan jabatannya sebagai Gubernur Ifriqiya.

masjid aljazair

Lokasinya sendiri tepatnya berada di sebelah selatan kota Tehouda sekitar 6 km dan dari sebelah timur kota Biskara sekitar 20 km pada jalan Khengat Sidi Nadji, Sidi Uqba, Biskara Aljazair. Diawali dengan kata ‘sidi’ karena berasal dari kata sayyidina. Masjid Sidi Uqba yang terkenal dengan bangunan masjid tertua di Aljazair ini tak hanya digunakan untuk melaksankan ibadah umat muslim tetapi juga biasanya di kunjungi oleh para pengunjung untuk berziarah terutama ke makam Uqba Bin Nafi.tak hanya warga sekitar yang biasanya rutin berziarah, tetapi berbagai kota di Aljazair bahkan hingga pengunjung dari mancanegara. Makam Uqba Bin Nafi memiliki daya tarik sendiri karena selalu fikunjungi oleh para peziarah. Selain para muslim yang mendatangi makam Uqba Bin Nafi, para non muslim juga terkadang dijumpai datang ke makam tersebut sekedar untuk berziarah atau hanya ingin mengunjungi salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah tersebut. Memiliki nilai yang penting dan sejarah karena Uqba Bin Nafi sendiri merupakan seseorang yang menyebarkan agama Islam serta perkembangan agama islam di sebarkan oleh beliau sehingga tersebar di berbagai kota hingga di benua Afrika.

masjid sidi uqba

Dilihat dari arsitektur masjid uqba Bin Nafi, masjid ini memiliki desain yang sangat sederhana namun tetap memiliki cirri khas dengan uurannya yang luas dan selalu terlihat bersih.bangunan masjid Uqba Bin Nafi ditutupi oleh adukan semen putih dan dalam masjid ini tidak dapat ditemukan hiasan atau material yang sangat mewah seperti bangunanmasjid yang biasanya ada di Timur Tengah khususnya di Turki. Jika diperhatikan, denah masji Uqba Bin Nafi seperti denah masjid Nabawi yang berada di Madinah. Sedangkan untuk mempermudah agar barisan atau shaf shalat lurus, maka dibangun beberapa tiang-tiang yang ditinggikan sekitar 10 cm. Dalam bangunan masjid tersebut juga terdapatbatang pohon kurma yang digunakan pada kolom-kolom masjid  dan juga di tutupi oleh adukan semen putih. Tak hanya dibuat sebagai kolom, kolom-kolom tersebut juga bertujuan untuk menyanggah tiap lengkungan bagian dalam masjid. Pada olom tersebut juga terdapat hiasan yang telah dibuat dari adukan semen putih namun menghasilkan karya yang sangat menarik.

interior masjid sidi uqba

Pada bagian mihrab masjid Uqba Bin Nafi dibuat dengan lengkungan besar berhias adukan semen putih lagi dengan motif geometris namun memiliki warna yang cantik yaitu perpaduan dari warna merah dan hijau. Mihrab tersebut ditambah dengan ukiran yang tidak teratur namun sangat indah serta terdapat sebuah kubah setengan lingkaran berada di atas mihrab.

Terdapat dua kubah yang masing-masing berada di atas ruang utama shalat sedangkan kubah satunya berda di pemakaman Uqba Bin Nafi tepatnya menutupi bangunan makam tersebut. Meskipun bangunan masjid ini sudah sangat tua dan tidak terdapat berbagai hiasan yang mewah, namun masjid Uqba Bin Nafi selalu dikunjungi oleh para jamaah.

Masjid Sentral London Inggris

Masjid Sentral London Inggris

Masjid Central London atau London Central mosque adalah salah satu bangunan masjid yang terkenal  Inggris. Pada awalnya pembangunan masjid ini adalah sebuah bentuk penghargaan untuk umat muslim disana. Penghargaan tersebut didapatkan karena atas bantuannya karena turut serta dalam membela inggris dari para Sekutu. Masjid Sentral London juga dikenal dengan nama The London Central Mosque atau juga disebut dengan nama Islamic Cultural Center. Masjid ini juga di sebut sebagai masjid Regent’s Park sesuai dengan loasi masjid ini berdiri.

Dilihat dari bangunannya terdapat kesamaan atara masjid Sentral London dengan Majid Agung Brussel yang berada di Belgia. Kedua masjid tersebut dibangun pada sebuah taman di jantung kota masing-masing tepatnya masjid Agung Brussel dibangun dalam kawasan taman Cinquantenaire Park. Raja Inggris juga memberikan hadiah berupa lahan tanah yang digunakan untuk membangun masjid Sentral London.  Hal tersebut sama dengan yang dilakukan oleh Raja Belgia yang telah memberikan lahan kepada kaum muslimin untuk dibangun sebuah masjid. Selain itu kesamaan lainnya bahwa proses pembangunan kedua masjid tersebut tak lepas dari keterlibatan Raja Saudi Arabia.

masjid sentral london

Dalam membangun masjid Sentral London dipilih seorang arsitek yang bernama Sir Frederick Gibberd. Masjid ini juga dapat menampung jamaah hingga berjumlah lima ribu jamaah setelah selesai pembangunannya pada tahun 1978. Tak hanya untuk jamaah laki-laki saja, di masjid Sentral Lonndon juga terdapat sebuah ruang khusus tepatnya pada bagian balkoni lantai atas bagi para jamaah wanita. Yang menarik dari bangunan masjid Sentral London ini adalah kubahnya yang keemasan.

Pada awal pembangunan masjid Sentral London ini dimulai pada tahun 1900 hingga 1931 yang merupakan keinginan agar memiliki sebuah bangunan untuk umat muslim melaksanakan ibadah. Hal tersebut disampaikan oleh seorang Inggris yang beragama islam bernama Lord Headley. Lalu pada tahun 1940 terdapat berbagai desakan terhadapa pemerintah Inggris untuk mendirikan sebuah masjid. Akhirnya usaha tersebut tidak sia-sia lalu disetujui pembangunan masjid sebagai tempat ibadah umat muslim serta sebagai bentuk penghormatan bagi tentara muslim India yang kala itu tewas dalam perang membela empirium Inggris.

Berbagai dana sumbangan berasal dari Raja Faisal Bin Abdul Aziz Al-Saud serta Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan pun ikut serta menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid Sentral London. Pada tahub 1954 hingga tahun 1967 telah dibuat rancangan pembangunan masjid. Namun perencanaan tersebut sedikit lama karena pengesahannya tidak kunjung keluar. Lalu setelah mendapatkan pengesahan, selanjutnya terdapat kompetisi internasional untukmerancang dan mendesain masjid Sentral London pada tahun 1969. Pada saat itu banayk dari para arsitek yang mendaftar tak hanya orang muslim saja, non-muslim pun mendaftar ke panitia masjid agar dapat mendesain bangunan masjid tersebut.

interior sentral london

Kemudian paa tahun 1974 dimulai pembangunan untuk ruang utama masjid yang terdiri dari ruang shalat utama, perpustakaan serta blok bangunan untuk administrasi serta tempat tinggal disana. Pada tahun 1977 akhirnya bangunan masjid Sentral London telah selesai dibangun.

Masjid Sentral London juga memiliki fasilitas seperti perpustakaan. Perpustakaan itu juga merupakan yang tertua di Inggris dan memiliki banyak koleksi berbagai buku bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tak hanya itu saja, masjid Sentral London juga memiliki Layanan Keagaman dan Pendidikan khususnya bagi anak-anak berumur 5 hingga 16 tahun. Tak heran masjid Sentral London selalu di kunjungi oleh beberapa orang setiap harinya selain untuk melaksanakan ibadah, mereka juga melakukan kegiatan keagamaan lainnya disana.

Masjid Sendai – Prefektur Miyagi – Jepang

Masjid Sendai – Prefektur Miyagi – Jepang

Masjid Sendai atau Masjid Islamic Cultural Center of Sendai (ICCS) terletak di Sendai Shi, Aobaku, Hacimannanchome 7-24, Miyagi Prefekture, Jepang. Kota Sendai sendiri merupakan Ibukota dari Miyagi Prefektur (Prefektur Miyagi), 350 Km utara Tokyo. Kota ini juga memiliki sebuah universitas bernama Kampus Aobayama Universitas Tohoku yang merupakan Universitas Kekaisaran ketiga di Jepang, setelah Universitas Kyoto dan Tokyo.

Beberapa mahasiswa dari Indonesia pun juga turut ikut serta dalam kegiatan pembelajaran di kampus Aobayama Universitas Tohoku, Sendai. Hal yang uni dari Universitas tersebut adalah adanya kantin yang memang sengaja menyediakan menu makanan Halal bagi kebutuhan mahasiswa muslim yang menuntut ilmu disana. Di Kota Sendai ada sedikitnya 120 keluarga muslim dari berbagai kalangan dan negara, bahkan ada yang berasal dari penduduk lokal jepang. Ketua ICCS pun juga merupakan orang muslim asli Jepang.

masjid prefektur jepang

Masjid Sendai ini kerap disebut dengan Masjid ICCS, karena memang sampai saat ini dijadikan markas komunitas tersebut. Masjid Sendai sampai saat ini juga terus membina kerukunan umat beragama di kota tersebut, dan juga menjalin keeratan hubungan antara beberapa komunitas muslim lainnya yang ada diseluruh jepang, seperti Islamic Center Tokyo, dan juga Keluarga Muslim Indonesia di Sendai (KMI-S).

Tak heran jika berkunjung ke Masjid Sendai kita akan bertemu dengan wajah-wajah melayu, karena memang beberapa pengurus inti dari ICCS merupakan keturunan Indonesia dan Malaysia. Masjid ini juga sekaligus menjadi tempat permanen bagi kaum muslimin Sendai untuk dapat melakukan kegiatan beribadah secara bersama-sama. Mulai dari Sholat Fardhu lima waktu berjamaah, Sholat Jum’at berjamaah, Sholat Hari Raya, Sholat Tarawih, bahkan juga hampir setiap hari diadakan buka bersama pada saat bulan Ramadhan.

masjid pertama di jepang

Tidak hanya itu, ternyata Masjid Sendai / ICCS juga menyelenggarakan pendirikan Al-Qur’an untuk umum. Mereka juga membuka diri kepada umat non-muslim lain yang ingin mengunjungi masjid maupun ingin mengetahui lebih jauh tentang Islam.

Pada awalnya, kegiatan umat muslim di Sendai dilaksanakan di ruang apartemen yang disewa oleh komunitas tersebut dengan dana $900 per bulan. Namun seiring waktu berjalan, akhirnya pada tahun 1994 muncullah keinginan untuk memiliki tempat peribadatan sendiri yang mandiri dan permanen.

Sejarah pembangunan Masjid Sendai ini juga tidak mulus-mulus saja, ada beberapa hambatan yang ditemui oleh pengurus masjid dan juga komunitas ICCS. Dana yang dikumpulkan oleh para jamaah disana belum mencukupi, kemudian para anggota komunitas ICCS meminta bantuan dari komunitas muslim lain didunia bahkan juga dari Indonesia.  Akhirnya komunitas tersebut bisa membeli lahan di Jln. Kunimi dengan harga 20 juta yen. Namun, masalah baru muncul dimana ukuran tanahnya hanya 193 meter persegi dan dianggap terlalu sempit. Akhirnya anggota komunitas tersebut kembali berburu lahan dan menemukan sebidang lahan yang cukup luas, sekitar 665 meter persegi, yang terletak di Jln Hachiman, dengan harga yang lebih murah, yaitu 16,2 juta yen.

interior masjid sendai

Setelah mampu untuk membeli sebidang tanah tersebut, masalah lain muncul, karena untuk pembangunan masjid dibutuhkan dana minimal 17 juta yen. Akhirnya penggalangan dana mulai dilakukan kembali, sampai pada akhirnya tahun 2007 masjid ini selesai dibangun. Tidak heran jika masjid ini menjadi simbol perjuangan komunitas islam ICCS, karena memang butuh waktu 13 tahun dari tahun 1994 hingga tahun 2007, untuk mewujudkan mimpi memiliki tempat peribadatan yang permanen.