Masjid Jami’ Kebon Jeruk – Jakarta Barat

Masjid Jami’ Kebon Jeruk – Jakarta Barat

Masjid jami’ Kebon Jeruk terletak di Jln. Hayam Wuruk, Desa Maphar, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Masjid ini merekam sejarah kiprah muslim Tionghoa di Indoneia di beberapa bagian masjid yang sangat indah dengan seni khas masyarakat Tionghoa.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk juga menjadi salah satu masjid tua yang berada di daerah Jakarta, karena dibangun pada masa-masa penjajahan Belanda. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Chau Tsien Hwu atau biasa dikenal dengan Tschoa pada tahun 1786 M, yaitu seorang muslim kaya berdarah Tionghoa yang hidup pada masa itu. Pada awal dibangun, masjid ini hanya berupa Surau atau Musholla yang kecil, karena memang pada saat itu masih digunakan oleh beberapa orang saja.

masjid jami' kebon jeruk

Pada samping masjid tua yang masih berdiri saat ini, terdapat makam tua bertuliskan “Hsienpi Men Tsu Now” atau jika dalam bahasa Indonesianya adalah Makam China dari Keluarga Chai. Makam tersebut adalah makam Fatimah Hwu, Istri dari Chau Tsien Hwu.

Surau atau Musholla Kecil pada masa itu, kini menjadi sebuah masjid yang besar, dan masih berdiri kokoh sampai saat ini. Masjid ini sekaligus menjadi saksi bisu tentang perjalanan masyarakat etnis Tionghoa yang berada di Indonesia, terutama di Jakarta.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk juga menjadi masjid pertama kali yang didirikan oleh etnis Tionghoa, dan sampai saat ini sudah berumur lebih dari 200 tahun. Meskipun sudah tua, ternyata sampai sekarang masjid ini masih padat oleh jamaah yang melaksanakan sholat berjama’ah, apalagi pada waktu sholat Jum’at. Bukan hanya dari warga lokal saja yang sering datang mengunjungi masjid ini, namun wisatawan dari Pakistan, India, Arab Saudi, serta Malaysia juga sering mengunjungi masjid dengan nilai sejarah yang tinggi ini.

Karena merupakan peninggalan bersejarah yang sudah berumur ratusan tahun, pada tanggal 10 Januari 1972, pemerintah DKI Jakarta, Dinas Museum dan Sejarah menetapkan Masjid Jami’ Kebon Jeruk – Jakarta Barat ini menjadi salah satu monumen sejarah yang harus dilestarikan dan dilindungi bersama.

Menurut sejarah, Chau Tsien Hwu, Pendiri masjid ini berasal dari Sin Kiang, Tiongkok, yang mengungsi ke Indonesia karena pada saat itu terjadi penindasan dari pemerintah kepada rakyat di Tiongkok. Sesampainya di Batavia / Jakarta, Chau Tsien Hwu bersama dengan teman-temannya menemukan Musholla kecil yang sudah tidak terawat dan hampir roboh. Akhirnya mereka sepakat untuk membangun ulang Surau tersebut menjadi sebuah Masjid dengan nama Masjid Kebon Jeruk. Dinamai Kebon Jeruk karena memang pada saat itu lokasi berdirinya Masjid berada di sebuah kebun yang di penuhi dengan pohon jeruk.

interior masjid jakarta timur

Diketahui bahwa Surau yang saat ini menjadi Masjid Jami’ Kebon Jeruk telah berdiri sejak tahun 1448 Masehi. Dengan bangunan yang berbentuk bulat, memiliki 4 tiang, dan atap daun nipah, serta beberapa ukiran dibagian interior surau-nya. Sampai saat ini tidak diketahui siapa yang mendirikan surau tersebut.

Selain terkenal dengan nilai sejarahnya yang tinggi, masjid Jami’ Kebon Jeruk juga terkenal dengan kegiatan Tabligh dan Dakwah Islam di Indonesia. Masjid ini dijadikan pusat perkumpulan Jamaah Tabligh yang bahkan sampai saat ini selalu berkeliling daerah seluruh nusantara untuk terus menyebarkan syiar ajaran islam yang benar.

Hal yang unik dari masjid ini terjadi pada bulan Ramadhan, dimana banyak sekali orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru negeri, bahkan ada beberapa yang datang dari mancanegara, untuk bermukim di masjid tersebut selama bulan Ramadhan berlangsung atau biasa di sebut dengan Pondok Romadhon.

Selama bulan Romadhon tersebut mereka isi dengan kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan iman, seperti Shalat Dhuha, Tahajud, Isra’, Membaca Al-Qur’an dan lain-lain. Keunikan lainnya terjadi pada saat berbuka puasa, para jamaah akan berkumpul dan menikmati hidangan secara bersama-sama pada sebuah nampan. Hal ini dimaksudkan untuk meniru Sunah Nabi Muhammad SAW, serta untuk merekatkan kebersamaan diantara para jamaah.

Masjid Sentral Adelaide Australia

Meskipun di Australia mayoritas penduduknya bukan beragama islam, namun tak menyurutkan untuk membangun sebuah tempat ibadah bagi umat muslim yang tinggal disana. Salah satunya berada di Adelaide. Adelaide sendiri adalah seuah ibukota wilayah selatan Australia yang awalnya di huni oeh pemukim bebas pada tahun 1830 di sepanjang sisi sungai Torrens. Namun saat ini Adelaide memiliki jumlah penduduk yang telah mencapai 1.28 juta jiwa dan menjadikan tempat ini sebagai kota terbesar kelima yang berada di Australia. Tak hanya itu, Adelaide juga merupakan sebuah kota pantai yang sangat terkenal dengan pemandangan alam indahnya. Tempat ini juga merupakan salah satu pilihan dan tujuan utama bagi penduduk sekitar bahkan penduduk lainnya yang berada di Australia.

masjid adelaide

Hubungan islam dan Adelaide yaitu pada tahun 1860. Hadirnya islam pada saat itu diawali dengan masuknya imigran muslim dari Afghanistan yang menunggang Onta. Pada saat itu mereka menggunakan Onta sebagai alat transportasi dan mereka juga pergi ke australia untuk mendukung aktivitas pertambangan di daerah gurun Australia. Lalu, mereka pula lah yang membangun pertama kali tempat ibadah di Adelaide yang hingga saat ini dikenal dengan nama Masjid Sentral Adelaide atau Central Mosque Adelaide. Sekarang masjid ini dikelola oleh Islamic Society of South Australia.

Perlu diketahui bahwa masjid Sentral Adelaide adalah masjid tertua di Adelaide yang telah dibangun sejak tahun 1888. Bangunan masjid ini memiliki empat menara namun dibuat pada tahun 1903. Banyak para jamaah yang datang ke masjid ini tak hanya dari muslim sekitar saja tetapi hingga dari wilayah Broken Hill dan Kalgoorlie. Mereka biasanya berkumpul di masjid Sentral Adelaide terutama pada saat bulan Ramadhan tiba. Bahkan pada tahun 1890 para jamaah masjid Sentral Adelaide telah mencapai jumlah 80 muslm Afghanistan yang memeriahkan bulan suci Ramadhan sekaligus merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Selain dikenal dengannama masjid Sentral Adelaide, masjid ini juga kadang disebut dengan Masjid Afghan atau Afghan Chapel karena memang pembangunan masjid ini dilakukan oleh muslim imigran dari Afghanistan. Pada saat pembangunannya, masjid Sentral Adelaide menghabiskan dana 150 pound dan dana tersebut dikeluarkan oleh muslim Afghan dan dibantu oleh beberapa sponsor dari kota Melbourne.

interior masjid adelaide

Dibalik pembangunan masjid yang dilakukan imigran Afghan, ternyata mereka memiliki cerita yang cukup keras. Karena pada saat ituu terdapat tindakan rasisme atas agama yang mereka anut. Tak hanya masalah agama, mereka juga harus kuat dari berbagai tindakan rasis karena warna kulit dan penampilan mereka berbeda dengan penduduk sekitar. Namun karena para imigran muslim tersebut memiliki keimanan yang cukup kuat dan tangguh dalam memegang ajaran agama islam, akhirnya mereka dapat membangun sebuah tempat ibadah umat muslim yang masih digunakan hingga saat ini. Tak hanya berharga dan menjadi suatu kebanggan umat muslim saja, ternyata bangunan masjid ini menjadi sangat berharga bagi Australia.

Jika dilihat dari ukuran masjid, masjid Sentral Adelaide tidak sebesar masjid yang berada di Indonesia. Masjid ni berdenah persegi panjang membujur ke arah kiblat serta untuk dindingnya menggunakan bahan batu bata. Namun dinding bagian dalam masjid ini menggunakan kayu. Ketika memasuki masjid ini akan terihat suasana yang sangat sederhana dan terasa hangat yang berasal dari bahan kayu. Meskipun ruangan masjid tidak dipenuhi oleh berbagai ornamen, namun dilengkapi oleh mihrab kecil dan terdapat sebuah mimbar yang juga terbuat dari kayu. Meskipun terkesan sederhana, namun masjid Sentral Adeliade ini memiliki sejarah tersendiri bagi umat muslim di Australia.

 

Masjid Melayu Kurunegala Sri Lanka

Masjid Melayu Kurunegala Sri Lanka

Tak hanya masyarakat Sri Lanka, di negara tersebut terdapat sebuah masjid yang merupakan tempat ibadah muslim melayu. Masjid tersebut bernama masjid Melayu Kurunegala atau disebut juga dengan nama Malay Jumma Mosque atau Masjid Jum’ah Melayu Kurunegala. Masjid ini telah dibangun pada masa kolonial Inggris di Sri Lanka dan merupakan sebuah bangunan tertua di Kurunegala. Tempat ini juga dahulunya merupakan sebuah tempat yang disediakan untuk umat muslim dan merupakan sebagai fasilitas mereka yang datang pertama kali kesana lalu menetap disana. Meskipun mayoritas penduduk Sri Lanka beragama Hindu dan Budha, namun beebrapa tempat ibadah umat muslim disana masih dapat ditemukan. Salah satunya masjid Melayu Kurunegala ini yang menjadi salah satu pilihan dari beberapa masjid di Sri Lanka.

masjid kurunegala di sri langka

Hal yang menarik antara Sri Lanka dan Indonesia adalah sama-sama pernah dijajah ole Belanda. Begitu pula dengan Negara Malaysia. Lebih tepatnya Sri Lanka merupakan sebuah tempat untuk pengasingan dan pembuangan bagi para tokoh yang memperjuangkan negara di Tanah Air. Bahkan beberapa dari mereka tidak kembali ke Indonesia karena penjajahan disana jatuh dan dilanjutkan oleh Inggris.

Dibalik ikatan hubungan antara Sri Lanka, Indonesia dan Malaysia pada dahulu, kini Sri Lanka juga memiliki bangunan masjid yang berhubungan dengan Muslim Melayu dari Indonesia dan juga Malaysia. Tak hanya masjid Melayu Kurunegala saja, ternyata ada beberapa masjid lainnya yang memiliki hubungan yang sama, seperti masjid Agung Colombo atau The Grand Mosque of Colombo yang dibangun oleh Muhammad Balang kaya. Beliau adalah orang kaya yang merupakan putra dari Hulu Balang Kaya berasal dari Kesultanan Goa Sulawesi Selatan. Beliau diasingkan ke Sri Lanka pada tahun 1796 oleh pemerintahan kolonial Belanda. Selain itu juga ada masjid Jumah Wekande atau disebut juga dengan The Wekande Jumma Mosque yang merupakan wakaf dari Muslim Indonesia.

Pada saat pemerintahan Inggris berkuasa di Sri Lanka, mereka ingin menebarkan pengaruhnya hingga seluruh negeri tersebut. Lalu pada tahun 1848 terdapat 30 tentara dalam satu Resimen Melayu dan dua orang staff di tugaskan untuk tinggal di Kurunegala. Pada saat itu, resimen tersebut merupakan seorang muslim yang sangat relijius. Maka dibangunlah pada tahun 1850 sebuah bangunan masjid untuk melaksanakan ibadah umat muslim.

Pada awalnya msjid yang dibangun ini sangat sederhana dengan sebuah fasad depan memiliki corak bangunan india. Sehingga terkenal dengan nama Malay Millitary Mosque atau masjid Militer Melayu pada masanya. Namun seiring berjalannya waktu, saat ini masjid tersebut dikenal dengan nama Malay Mosque, Java Palli hingga Ja Palliya.

masjid kurunegala di sri langka

Tak hanya merupakan bangunan masjid pertama d Kurunegala, masjid ini juga merupakan bangunan yang mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah setempat. Selanjutnya disusul oleh adanya masjid Jummah Al-Jami Ul Azhar yang telah dibangun oleh muslim India dan mereka pula lah yang mengelola masjid tersebut.

Disana juga terdapat beberapa muslim India karena awalnya mereka datang ke Kurunegala sebagai pedagang dan menjadi bagian dari jamaah masjid Melayu Kurunegala. Namun ternyata terdapat perbedaan budaya antara muslim melayu dan muslim indis sehingga komunitas muslim india mendirikan sebuah bangunan masjid untuk tempat ibadah mereka.

Dilihat dari bangunan luar masjid Melayu Kurunegala, masjid ini terlihat sangat sederhana dengan beberapa jendela menghiasi bangunan tersebut. Ketika akan memasuki masjid ini, pengunjung dan jamaah akan melewati sebuah tangga lalu berwudhu dan melaksanakan ibadah dengan tenang disana. Karena lokasinya cukup strategis di pinggir jalan raya, masjid ini selalu ramai setiap harinya. Terutama pada hari Jum’at dan ketika Hari Raya.

Masjid Maidan Al-Jazair Square, Tripoli

Masjid Maidan Al-Jazair Square, Tripoli

Di Libya tepatnya di ibukotanya yaitu Tripoli terdapat sebuah bangunan masjid yang sangat menarik untuk dikunjungi. Masjid tersebut bernama Masjid Maidan Al-Jazair. Sebagai ibukota dari Negara Libya, Tripoli merupakan sebuah kota terbesar di negara tersebut. Pada awalnya, Tripoli memiliki nama Tripolitania yang namanya dinisbatkan kepada wilayah di Libya. Saat ini di pusat kota Tripoli terdapat sebuah lapangan yang terkenal yaitu Al-Jazair Square dan salah satu ciri dan tanda dari bangunan yang ada di lapangan ini adalah Masjid Maidan Al-Jazair atau dikenal juga dengan nama Masjid Jamal Abdel Nasser.

masjid al jazair

Di Libya agama islam telah memerintah selama hampir 13 abad. Dalam waktu yang cukup lama tersebut islam terus berkembang meski dengan silih berganti dinasti. Karena Libya memiliki sejarah kepemerintahan yang cukup panjang, tak heran mayorits penduduk disana memeluk agama islam. Juga  ketika paska runtuhnya kekuasaan pemerintah Muammar Khadafi banyak dari kalangan masyarakat terutama dari fraksi Islam yang menyuarakan dirinya untuk bersikukuh menegakkan syariat islam bagi negara Libya. Namun ternyata ada beberapa fraksi lain yang tidak setuju dan tidak sejalan dengan keinginan tersebut sehingga sampai saat ini Libya masih terkesan merupakan sebuah Negara yang terpecah-pecah.

Dibalik berbagai permasalahan di Libya, negara ini memiliki sebuah tempat favorit masyarakat Libya. Di lapangan Al-Jazair Square juga merupakan tempat pilihan bagi masyarakat Libya untuk berkumpul dan bersantai bersama teman, sahabat atau keluarga. Tempat ini juga digukan oleh mereka untuk menyuarakan kebebasan paska keruntuhan pemerintahan Libya yang berada di bawah seorang Presiden Muammar Khadafi.

interior masjid al jazair

Dahulu sebelum masjid Maidan Al-Jazair dibangun, tempat ini adalah bangunan sebuah katedral katholik yang terkenal dengan nama Tripoli Cathedral atau disebut La Cattedrate dalam bahasa Italia. Bangunan Katedral Katholik Roma ini pertama kali dibuka dan diresmikan pada tahun 1928. Ketika membangunnya pun melibatkan seorang interior designer dari Libya yaitu Othman Nejem. Untuk mendesain bangunannya dilakukan oleh arsitek asal Italia yaitu Saffo Panteri. Dia mendesain bangunan tersebut menggunakan gaya Romanesque dan dilengkapi dengan kubah besar di bagian atapnya. Lalu dibagian menara loncengnya digunakan hiasan dan ukiran dari gaya Venetian. Pada saat itu, gereja tersebut merupakan gereja kedua setelah gereja Santa Maria degli Angel pada tahun 1870.

Lalu sekitar tahun 1970 atau 1990-an pada saat kekuasaan Muhammad Khadafi bangunan gereja katedral teresbut diubah menjadi bangunan masjid. Karena telah diubah menjadi tempat ibadah umat muslim, fungsinya pun diganti untuk berbagai kegiatan keagamaan. Pada saat perubahan bangunan tersebut masih memiliki pola awalnya meskipun perubahnnya dilakukan secara keseluruhan. Termasuk berbagai pernak pernik yang berada dalam interior bangunan gereja semuanya telah dibongkar dan diganti dengan rancangan yang baru dan sangat menarik dengan gaya Arabia.

perubahan masjid al jazair

Dilihat dari luar masjid Maidan Al-Jazair, bangunan ini sangat megah dan besar dengan cat dndingnya yang berwarna cream. Ditambah dengan sebuah taman yang tidak terlalu luas menghiasi halaman masjid Maidan Al-Jazair. Sebuah menara yang menjulang tinggi ditambah dengan kubah besar di bagian atas masjid menyimbolkan sebagai bangunan untuk melaksanakan ibadah umat muslim. Terlihat juga sebuah kubah yang ukurannya lebih kecil dari kubah utama dibagian atas atap pada pintu masjid.

Karena berada di tempat yang cukup strategis, masjid ini selalu ramai oleh beberapa jamaah dan pengunjung untuk melaksanakan ibadah atau melakukan wisata religi di masjid Maidan Al-Jazair.

Masjid Kasunyatan Banten

Masjid Kasunyatan Banten

Di Banten terdapat sebuah masjid yang telah dibangun sejak lama dan merupakan masjid tua. Masjid tersebut adalah masjid Kasunyatan. Meskipun lokasinya tidak berada di kota dan bukan di pinggir jalan, masjid ini sangat unik. Meskipun konon masjid ini angker karena sebagian masyarakat disana pernah tidur di masjid Kasunyatan dan ketika bangun orang tersebut berada di tengah hutan. Ditambah dengan adanya burung hantu dan pepohonan besar disekitar masjid menjadikan tempat ini terkesan angker.

Memiliki nama masjid Kasunyatan karena masjid ini berada di kampong Kasunyatan tetapi masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Al-Fatihah karena dianggap sebagai masjid pembuka. Ditambah dengan luas bangunan masjid Kasunyatan mencapai 144 meter persegi dan angka tersebut merupakan jumlah huruf surah Al-Fatihah yang merupakan surat pembuka dalam Al-Qur’an.

masjid kasunyatan

Masjid Kasunyatan telah dibangun diatas lahan seluas satu hektar dan memiliki tiga bagian dalam bangunan masjid tersebut antara lain dua pendopo dan satu ruangan utama. Bagian ruang utama masjid Kasunyatan tidak terlalu besar dan tidak luas. Namun hal yang unik dari masjid ini yaitu terdapat ‘singgasana’ milik Sultan Maulana Yusuf yang terbuat dari kayu jati dan dilapisi menggunaka cat berwarna putih dan emas. Dibagian atas singgasana tersebut masih terdapat sebuah Pedang Cis berbelah dua dibagian ujungnya yaitu pedang miliki Sultan Maulana Yusuf. Saat ini tempat ‘singgasana’ tersebut dijadikan tempat khutbah dan pedang tersebut dijadikan sebagai pegangan khotib ketika menyampaikan khutbahnya.

Tak hanya itu saja, masjid Kasunyatan memiliki hal unik lainnya, seperti segalanya memiliki jumlah empat. Antara lain masjid ini memiliki empat pintu gerbang, empat pintu masjid, empat tiang besar, menara yang berbentuk persegi empt hingga sebuah kubah yang berbentuk empat burung. Jumlah empat tersebut memiliki simbol sebagai empat perkara yang harus disebarkan yaitu keislaman, keimanan, keikhsanan dan keikhlasan, masjid Kasunyatan juga memiliki empat makna antara lain kesucian, kenyataan, kesepian dan kesunyian.

Disekiar masjid Kasunyatan juga dapat ditemukan sebuah kolam pemandian dengan kedalaman empat meter. Konon biasanya kolam pemandian tersebut di gunakan oleh para mualaf. Bahkan tak jarang setiap Kamis malam beberapa orang datang ke kolam pemandian tersebut dan dilanjutkan dengan ziarah. Karena disana juga terdapat komplek Panembangan Sulaiman yaitu komplek makam yang terbagi dalam dua bagian. Di bagian utara terdapat makam Syekh Abdul Syukur Sepuh, Syekh Ahmad Almadani, Tb Urip, Syekh Habul, Tb Sulaiman dan beberapa lainnya. Sedangkan dibagian selatan terdapat malam dari Nyi Ratu Aisyah, Nyi Karimah, Nyi Ratu Ayu Sari Banon dan lain-lainnya.

interior masjid kasunyatan

Dari tahun pembangunan masjid Kasunyatan memiliki pendapat yang berbeda. Salah satu sumber menyebutkan bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1533 oleh Maulana Hasanuddin yang merupakan  seorang Sultan pertama di Kesultanan Banten. Disandingkan dengan catatan sejarahnya, masjid Kasunyatan dibangun jauh lebih dulu ketika pembangunan masjid Agung Banten tepatnya pada tahun 1522. Hal ini memberikan tanda tanya alasan apakah yang menyebabkan Maulana Hasanuddin membangun masjid ini di Kasunyatan yang tempatnya tidak berada dalam wilayah keraton. Namun lepas dari itu, masjid Kasunyatan tetap merupakan masjid tertua yang masih ada hingga kini di Banten.

Ketika akan memasuki masjid, para jamaah atau pengunjung akan melewati gapura yang dicat berwarna putih. Dan ketika memasuki masjid Kasunyatan, suasana yang adem dan sejuk sangat terasa ditambah dengan luas masjid yang sederhana serta warna yang natural tidak mencolok mebuat jamaah dan pengunjung akan merasa lebih nyaman dan melaksanakan ibadah lebih khusyuk.

Masjid Jami’ Matraman Jakarta Pusat

Masjid Jami’ Matraman Jakarta Pusat

Masjid Jami’ Matraman Jakarta Pusat terletak di Jln. Matraman Masjid 1, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kampung Mataram, Pegangsaan, dulunya merupakan kampung yang dihuni oleh pasukan kerajaan Mataram yang gagal dalam dua kali penyerangan untuk merebut Batavia / Jakarta dari VOC Belanda. Penyerangan tersebut terjadi pada tahun 1645 dan 1649. Kemudian sisa-sisa anggota pasukan Mataram yang enggan kembali ke tanah kelahirannya, menetap di wilyah tersebut dan dinamanakan kampung Mataraman. Namun seiring berjalannya waktu, kampung yang menjadi tempat tinggal pasukan Mataram tersebut kemudian di sebut dengan Matraman.

Konon, pembangunan masjid ini pun dilakukan oleh keturunan dari anggota pasukan tersebut. Sehingga Masjid Jami’ Matraman juga termasuk salah satu masjid tertua di Jakarta. Selain masjid Matraman,  Jakarta juga memiliki masjid-masjid tua lain yang dibangun sekitar 133 tahun setelah pembangunan masjid Matraman, yaitu : Masjid Al-Makmur Tanah Abang yang dibangun pada tahun 1704, kemudian Masjid Jami’ Al-Mansyur Kampung Sawah Lio Jembatan Lima yang dibangun pada tahun 1717.

masjid jami' matraman

Masjid ini juga memiliki sejarah yang lumayan panjang, karena pada saat itu Indonesia sedang dijajah oleh Belanda. Penamaan wilayah Matraman pun disinyalir kuat bahwa dulu tempat ini memang dijadikan tempat tinggal oleh pasukan Mataram yang gagal merebut Batavia. Menurut cerita masyarakat sekitar, masjid ini dulunya hanya sebuah gubuk kecil bekas dari kandang burung Batavia.

Kemudian, pada tahun 1837 lahirnya generasi muda baru keturunan asli Mataram yaitu H. Mursalun dan Bustanul Arifin (Keturunan Sunan Kalijaga). Kemudian mereka berdua mempelopori pembangunan ulang masjid tersebut sampai selesai. Akhirnya masjid ini diberi nama dengan “Masjid Jami’ Mataraman Dalem”, atau jika dalam bahasa indonesianya berarti Masjid yang dimiliki oleh para abdi dalem atau pengikut kerajaan mataram. Nama tersebut dipilih sebagai identitas bahwa masjid tersebut memang dibangun dan dimiliki oleh keturunan dan pengikut setia kerajaan Mataram.

Namun seiring berjalannya waktu, masjid ini dirubah namanya sesuai zaman sekarang, yaitu menjadi “Masjid Jami Matraman”.

Peresmian masjid pada kala itu dilakukan oleh Pangeran Jonet dari Kesultanan Yogyakarya yang masih merupakan keturunan langsung dari Pahlawan Pangeran Diponegoro. Sejak saat itu, masjid ini selalu ramai oleh para generasi pejuang indonesia dalam melakukan aktifitas keagamaan. Selain itu, masjid ini juga digunakan sebagai tempat berkumpulnya pemuda untuk menyusun strategi melawan Belanda. Bahkan, Mantan Presiden Soekarno saat masa-masa perjuangan  juga menjadikan masjid Jami’ Matraman sebagai tempat perkumpulan untuk rapat penyusunan strategi melawan kolonialisme Belanda.

interior masjid jami' matraman

Seiring berjalannya waktu, bangunan tua Masjid Matraman juga mengalami kekeroposan di beberapa bagian dan mengharuskan renovasi terjadi. Kala itu renovasi yang pertama dilakukan oleh sekelompok warga sekitar Mataraman diketuai oleh Nyai Patiloy pada tahun 1930. Pada saat itu, Belanda tidak setuju jika masjid ini direnovasi, karena terletak di pinggir jalan. Akhirnya, belanda memerintahkan supaya pembangunan ulang masjid dilakukan lebih kedalam, dan jika dituruti Belanda berjanji akan membantu dana sebesar 10.000 Gulden.

Namun, masyarakat sekitar Mataraman tidak setuju dengan perintah tersebut dan tetap melanjutkan proses renovasinya pada lokasi bangunan aslinya.

Sedangkan untuk arsitektur bangunannya, Masjid Jami’ Matraman mengadopsi gaya Mekah dan India. Apalagi perancangnya adalah H. Mursalun yang sudah pernah ke tanah suci. Dengan kekagumannya terhadap bangunan Masjidil Haram dan Taj Mahal india, H. Mursalun kemudian mengambil beberapa arsitektur dari kedua masjid mengagumkan tersebut, dan menerapkannya di dalam rancangan Masjid Jami’ Matraman.

Beberapa ciri kuat dari Arsitektur Masjidil Haram dan Masjid Taj mahal adalah pada bentuk beranda masjid yang menggunakan pilar-pilar tipis melengkung. Kemudian kubah yang besar dengan bangunan menara disampingnya, dapat mencerminkan adopsi masjid ini terhadap Masjidil Haram dan Masjid Taj Mahal.

Masjid Jabal Nur – Lumajang

Masjid Jabal Nur – Lumajang

Masjid Jabal Nur Hidayatullah atau kerap disebut dengan Masjid Jabal Nur  terletak di Dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Memang jika kita lihat secara sekilas dari foto masjid tersebut, tidak ada yang istimewa dari bangunan masjidnya, apalagi ukuran bangunannya yang lumayan kecil.

Namun, ada yang benar-benar istimewa dari masjid ini, yaitu mendapatkan sebutan sebagai masjid tertinggi di seluruh Pulau Jawa, lokasi berdirinya masjid terletak di dataran tinggi Tenger, sekitar 2000 meter diatas permukaan laut (DPL). Ditambah dengan sebuah sejarah tentang perjuangan seorang penyebar agama islam yang berusaha keras selama 20 tahun lamanya untuk meng-islamkan kembali warga Suku Tenger .

masjid jabal nur

Secara geografis, dataran letak lokasi Tengger adalah sebuah pegunungan dengan bukit bergunung. Wajar saja bila Masjid Jabal Nur menjadi masjid tertinggi dipulau Jawa karena memang terletak di puncak bukit. Untuk akses jalan menuju masjid pun diperlukan usaha yang keras, karena jalan yang masih bisa dibilang sangat tidak memadai serta ada beberapa jurang terjal disamping jalan. Bisa kita bayangkan bagaimana perjuangan ustadz muda Ali Farqu selama 20 tahun dalam bertahan dalam misinya meng-islamkan kembali masyarakat sekitar Tengger.

Masjid Jabal Nur ini juga memiliki kisah yang lumayang panjang, yaitu selama 20 tahun, seorang da’i bernama Ustadz Ali Farqu Thoha berusaha keras untuk meng-islamkan kembali warga Tengger karena memang menurut Warsito, salah satu Da’i yang juga aktif berdakwah dikawasan tersebut, awal mula dari agama di Tengger adalah Islam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa peninggalan sejarah berupa Mushola yang terdapat disana pada saat beliau datang. Namun, setelah juru dakwah penyebar agama islam pergi, lambat laun pengaruh Islam disana mulai memudar, bahkan mati.

Kemudian setelah 20 tahun lamanya Ustadz Ali Farqu Thoha mengenalkan kembali agama islam kepada penduduk disana, usahanya berbuah hasil manis, yaitu dari 37 Kepala Keluarga hanya 9 Kepala Keluarga saja yang sampai saat ini masih memeluk agama Hindu.

Metode penyebaran agama islam Ustadz Ali Farqu Thoha sangat sederhana, yaitu mulai dengan mengucapkan salam kepada warga setiap kali bertemu. Kemudian lama-kelamaan mereka mulai menerima hal tersebut dan mulai bertanya apa arti dibalik salam tersebut.

Perjuangan selama 20 tahun tersebut diwarnai dengan beberapa hambatan, seperti jalan yang terjal yang harus dilalui dengan berjalan kaki, hujan, gelap, kekurangan makanan dan lain-lain. Bahkan masih ditambah dengan teror-teror dari pihak yang tidak suka atas kehadiran beliau dalam menyebarkan agama islam.

masjid di puncak

Pada akhirnya, usaha keras tersebut membuahkan hasil yang baik. Satu-persatu warga di Tengger kembali menerima agama islam sebagai pedoman hidupnya,. Semakin lama waktu berjalan, hampir seluruh warga di Tengger kembali memeluk agama islam. Lalu kebutuhan akan tempat ibadah berjamaah semakin diperlukan. Akhirnya warga bersatu untuk membangun mushola sederhana dengan ukuran 5 x 5 meter, berdinding  papan, dan beratapkan karung saja.

Akhirnya pada tahun 2009, bantuan dari Pemerintah Lumajang datang, dengan gagasan pembangunan masjid didaerah tersebut untuk menyediakan fasilitas kepada warga Tengger yang sudah kembali memeluk agama islam. Namun, rencana tersebut sempat menuai kontroversi dari penganut agama hindu yang rencananya juga akan membangun pura yang berhadapan dengan masjid. Pada akhirnya mediasi dilakukan dari tokoh muslim setempat, kepada tokoh hindu disana, sehingga lokasi pembangunan pura bisa digeser 500 meter dengan metode tukar lahan.

Pembangunan masjid Jabal Nur dimulai pada tanggal 10 Januari 2009, selesai dan diresmikan pada tanggal 18 Juli 2010, dengan menghabiskan dana sekitar Rp. 150 juta lebih. Dana terseut berasal dari berbagai sumber seperti BMH (Baitul Maal Hidayatullah), LSM, Swadaya Masyarakat, Bantuan Individu dan lain sebagainya.

Akhirnya masjid Jabal Nur bisa dibangun dengan ukuran 10 x 8 meter, dengan desain minimalis namun bernuansa modern. Meskipun berukuran kecil, namun paling tidak bisa menampung jamaah  lebih dari 50 orang.

Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib di Lakemba Australia

Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib di Lakemba Australia

Terdapat salah satu bangunan tempat ibadah bagi umat mulslim di Australia yang sangat terkenal, tepatnya di Lakemba, yaitu masjid Imam Ali Bin Abi Thalib. Karena berada di Lakemba,atau kawasan Lakemba New South Wales tak jarang juga disebut dengan Masjid Lakemba. Masjid Lakemba juga merupakan salah satu masjid terbesar yang ada di Negara Australia.

Masjid Lakemba telah dibangun oleh Muslim Australia yang merupakan keturunan dari Lebanon. Mereka juga yang mengelola masjid Imam Ali Bin Abi Thalib. Mereka juga dikenal dengan istilah Lebanese Australians. Para jamaah masjid ini sebagian besar adalah mereka yang keturunan Lebanon dibawah organisasi Lebanese Moslems Association.

masjid di australia

Beberapa tokoh yang terkenal dalam kepengurusan masjid Imam Ali Bin Abi Thalib ini adalah Sheikh Yahya yang juga merupakan seorang imam di Lebanon sebelumm kemudian tiba di Australia dan beliau juga menjadi seorang imam di masjid tersebut pada tahun 1996. Tak hanya dikenal sebagai seorang imam, beliau juga pernah mendapatkan gelar master dalam bidang penterjemahan Al-Qur’an pada tahun 2002. Selain itu, ada juga ada Sheikh Shady Alsulaiman adalah seorang wakil dari pemuda islam. Ada juga Faisal Kasir yang merupakan memiliki sebuah jabatan kepala departemen pendidikan di masjid Imam Ali Bin Abi Thalib.

Pada tahun 2005 pernah terjadi kerusuhan besar di Australia dan memicu umat muslim disana untuk mengantisipasi issue serangan terhadap masjid Ali Biin Abi Thalib. Namun akhirnya kerumunan massa tersebut dapat reda dan dibubarkan setelah kehadiran para aparat disana dan beberapa tokoh muslim setempat.

Dilihat dari arsitektur masjid, masjid Imam Ali Bin Abi Thalib memiliki dua lantai. Lantai pertama yaitu sebuah lantai yang diperuntukan bagi jamaah laki-laki melaksanakan shalat dan ruangan tersebut merupakan ruangan utama. Sedangkan lantai dua adalah tempat yang dikhususkan bagi jamaah wanita. Bangunan masjid Imam Ali Bin Ai Thalib juga dilengkapi dengan tempat parkir yang berada di lantai sub basement.

Tak hanya itu saja, masjid Imam Ali Bin Abi Thalib dilengkapi dengan fasilitas Al-Qur’an ditambah dengan berbagai cermah yang menggunakan bahasa Arab serta kajian tentang keislaman. Ketika waktu ibadah tiba, terdapat lebih dari 1000 jamaah melaksakan shalat berjamaah setiap harinya disana. Bahkan pada shalat Jum’at para jamaah tersebut akan bertambah hinggga 5000 jamaah. Apalagi ketika Hari Raya tiba, para jamaah memenuhi tiap bangunnan masjid Ali Bin Abi Thalib bahkan hingga memadati jalan raya karena masjid tersebut tidak memiliki kapasitas dalam menampung para jamaah yang bertambah pada saat Hari Raya tiba.

Di bagian interior masjid terlihat begiu luas dan megah karena dihiasi dengan ornamen-ornamen yang sangat menarik. Ditambah dengat dindingnya menggunakan cat warna terang, menjadikan masjid ini terkesan sangat luas, besar dan modern. Apalagi dengan adanya lampu menarik yang menggantung di ruangan utama masjid. Di sekitar lampu hias tersebut semakin terlihat mempesona karena terdapat ukiran yang sangat indah dengan di dominasi warna biru cerah.

interior masjid imam ali nin abi thalib

Namun sayangnya, masjid Imam Ali Bin Abi Thalib pernah menjadi sorotan tajam dari Dinas Rahasia Amerika Serikat atau CIA. Mereka menyatakan bahwa pimpinan Al-Qaida Anwar Al-Awlaki yang melakukan kuliah jarak jauh dari Yaman. Kuliah tersebut dilakukan pada malam hari dan dipimpin oleh Sheikh Shady Alsulaiman. Mereka menduga sebagai perekrutan tokoh teroris. Karena hal tersebut, menyebabkan kegiatan pengajian malam hari dilarang serta materi ceramah yang dilaksanakan di masjid tersebut harus mendapatkan persetujuan dari Asosiasi terlebih dahulu.

Namun saat ini, masjid Imam Ali Bin Abi Thalib terus berjalan seperti biasanya dan selalu dipenuhi oleh jamaah di Australia. Terutama pada hari Jum’at ketika akan melaksanakan shalat Jum’at dan pada saat Hari raya Idul Fitri da Hari Raya Idul Adha.

Masjid Dar-As-Salam – Masjid Pertama di P.E.I Kanada

Masjid Dar-As-Salam – Masjid Pertama di P.E.I Kanada

Masjid Dar-As-Salam terletak di P.E.I atau Prince Edward Island, tepatnya di 15 MacAleer Drive, Charlotte Town, PE C1E 2A1, Kanada. P.E.I merupakan salah satu provinsi di negara Kanada dengan jumlah penduduk dan luas yang terkecil dibandingkan provinsi lainnya.

P.E.I menjadi satu-satunya provinsi di Kanada dengan bagian daerah kepulauan, atau terdiri dari beberapa jejeran pulau-pulau. Salah satu pulau terbesarnya adalah Prince Edward Island atau Pulau Pangeran Edward, sedangkan 231 pulau lain berukuran lebih kecil. Keseluruhan luas daratan provinsi dari kepulauan tersebut, jika dijumlahkan akan menghasilkan luas 5.685 kilometer persegi, sedikit lebih luas dari pulau madura yang memiliki luas 5.290 kilometer persegi atau pulau Bali yang memiliki luas 5.561 kilometer persegi.

masjid as salam

Nama Plau Pangeran Edward tersebut di adopsi sebagai  pengingat terhadap jasa yang dilakukan Pangeran Edward (1767-1820), yaitu putra keempat dari Raja George III dan Ratu Victoria. Pulau Pangeran Edward juga terhubung langsung dengan daratan besar negara Kanada melalui sebuah jembatan laut dengan panjang 13 Km, dinamakan dengan Pont De La Confederation atau Confederation Bridge, atau Jembatan Konfederasi.

Pulau Pangeran Edward tersebut ternyata memiliki sejarah yang sangat penting, dimana pulau tersebut adalah awal mula terciptanya Negara Kanada pada tahun 1867. Sampai saat ini pulau tersebut juga disebut dengan Confederation Island  atau Pulau Konfederasi. Dahulu kala, pulau ini seringkali berganti kekuasaan, mulai dari tahun 1534 dikuasai oleh Koloni Perancis, lalu pada tahun 1763 dikuasai Koloni Inggris, kemudian yang terakhir pada tahun 1867 sampai sekarang menjadi provinsi dari negara Kanada.

Provinsi P.E.I Kanada memiliki sekelompok kecil umat muslim yang mayoritas berasal dari daerah Timur Tengah. Mereka kemudian membentuk Muslim Society Of Prince Edward islam / Komunitas Muslim Pulau Pangeran Edward. Masjid Dar-As-Salam inilah yang saat ini menjadi tempat peribadatan umat muslim di P.E.I tersebut sampai sekarang.

Letak Masjid Dar-As-Salam P.E.I ini secara pasti terletak di 15 MacAleer Driva, Chalottetown, P.E.I, Kanada, berdekatan dengan Bandara Charlottetown, dan Gereja Good News Baptis Church Fundamental, yaitu hanya terpaut 100 hingga 200 meter dari kedua tempat tersebut.

Dari tampilannya saja, kita bisa dengan jelas melihat bahwa masjid ini sangatlah berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya, yang memiliki bangunan khas, kubah setengah lingkaran, serta menara yang menjulang tinggi. Hal tersebut tidak akan kita temui di Masjid Dar-As-Salam, karena memang masjid ini didesain mirip seperti hunian penduduk sekitar.  Dengan ruang basement / bawah tanah, yang bisa digunakan untuk tempat beberapa fasilitas masjid seperti, dapur, cerobong asap, tempat berwudhu dan lain sebagainya.

interior masjid as salam

Pembangunan masjid Dar-As-Salam juga dilakukan sendiri oleh The Muslim Society of P.E.I, dengan dana iuran dari jamaah yang ada disana. Pembangunan dimulai pada tahun 2008 dan selesai pada tahun 2012.

Pembangunan masjid ini pun mengalami tantangan tersendiri, karena pada awalnya, panitia pembangunan masjid hanya memiliki dana sebesar $100 ribu saja, padahal total dana yang dibutuhkan mencapai $500 ribu. Namun, berkat kerja keras dari komunitas muslim tersebut, akhirnya pembangunan masjid pun bisa diselesaikan dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 2012.

Sebelum masjid ini berdiri, komunitas muslim P.E.I melakukan sholat jum’at dengan menumpang di aula gereja di daerah tersebut. ini menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama juga sangat bisa dirasakan di daerah provinsi Prince Edward Island.

Masjid Agung At-Taqwa Kutacane, Aceh

Masjid Agung At-Taqwa Kutacane, Aceh

Aceh merupakan salah satu provinsi yang terkenal dengan kereligiusannya terhadap agama Islam. Bahkan di Aceh telah menerapkan hukum islam sebagai hukum disana. Sedangkan Kutacane merupakan ibukota Aceh Tenggara provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Bagian Aceh Tenggara memiliki suasana yang sangat sejuk karena berada dalam wilayah daerah pegunungan dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.

Karena Aceh merupakan provinsi yang sangat menjunjung agama Islam tak heran disana terdapat beberapa bangunan masjid. Dan salah satu masjid yang sangat populer di Ace khususnya Aceh Tengggara yaitu masjid At-Taqwa. Lokasi masjid At-Taqwa tepatnya berada di Jalan Cut Nyak Dhien, Kute Kutacane Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Aceh.

masjid agung at taqwa

Masjid At-Taqwa telah didirikan pada tahun 1956 dan rampung pada tahun 1962. Masjid ini dibangun secara gotong royong oleh beberapa masyarakat muslim disana. Karena dibangun ketika masa terdahulu, banguan masjid pun terlihat sangat sederhana namun saat ini masjid At-Taqwa telah berdiri kokoh, modern dan sangat menarik untuk dikunjungi. Dilihat dari arsitekturnya, masjid At-Taqwa memiliki gaya Eropa tak ketinggalan dengan sentuhan dari seni islami Aceh.

Karena masjid At-Taqwa berada dilokasi yang startegis yaitu di tengah-tengah kota, masjid ini selalu ramai setiap saatnya. Terlebih pemandangan keindahan masjid At-Taqwa dapat dilihat dari dataran tinggi di pegunungan Mbarung dan puncak Gunung Pokhkisen. Keindahan dan kemegahan masjid At-Taqwa akan semakin terpancar jika dilihat pada malam hari karena masjid tersebut memiliki tata cahaya yang sangat memukau dan diatur sebaik mungkin.

masjid agung at taqwa

Masjid At-Taqwa awalnya didirikan hanya berupa bangunan yang sangat sederhana. Namun seiring dengan perkembangan zaman, akhirnya masjid At-Taqwa telah bermetamorfosis menjadi sebuah bangunan yang sangat memukau. Tapatnya pada tahunn 2009 lalu pada bulan Oktober, masjid ini dibangun ulang di atas lahan seluas 1,5 hektar pada masa pemerintahan Bupati H. Hasanuddin B. Lokasinya juga berada dekat dengan psat perkantoran Kabupaten Aceh Tenggara. Pada saat peletakkan batu pertama sebagai tanda akan dibangunnya masjid yang megah, seorang Gubernur Provinsi Nangroe  Aceh Darussalam ikut andil untuk meletakkannya. Dalam pembangunan masjid At-Taqwa dana yang dibutuhkan sebanyak Rp. 72 miliar. Jumlah yang banyak tersebut menghasilkan sebuah tempat ibadah umat muslim luar biasa megah. Dana tersebut berasal dari berbagai sumbangan salah satunya dari Gubernur Aceh, APBK dan beberpa sumbangan dari pengusaha terkenal seperti Abu Rizal Bakrie.

Lalu selama 7 tahun pembangunan masjid, akhirnya masjid At-Taqwa diresmikan pada hari jum’at 8 April 2006 dan dihadiri oleh beberapa tokoh penting dan pemerintahan disana. Peresmian masjid At-Taqwa ditandai dengan pemukulan beduk dan penandatangan prasasti disana.

Dari arsitekturnya, masjid At-Taqwa sangat kental dengan gaya Eropa. Namun sisi keislamannya juga sangat kental dan ditambah dengan ciri khas dari bangunnan masjid-masjid dinasti Usmaniyah Turki. Seperti kubah nya yang sangat besar dengan berwarna emas dan beberapa bagian dari bangunan megah serta menjulang tinggi melekat pada msjid At-Taqwa. Terdapat juga sebuah rancangan geometris kota-kotak dan beberapa jendelanya yang sangat minimalis merupakan ciri khas yang dimiliki masjid At-Taqwa. Dilihat dari denah bangunannya, masjid At-Taqwa dibuat simetris dengan empat bentuk beranda di ke empat sisinya dan dilengkapi oleh kubah kecil di bagian atapnya. Sehingga masjid ini jika keseluruhan memiliki beberapa kubah dan empat menara disetiap penjuru bangunan masjid.

interior masjid agung at atqwa

Selain itu terdapat kaca patri di bagian interior masjid ditambah dengan sebuah lampu besar nan megah berada di tengah-tengah ruangan masjid menjadikan masjid At-Taqwa lebih menakjubkan. Masjid At-Taqwa memiliki halaman dan tempat parkir yang sangat luas, maka pengunjung ataupun jamaah dapat memarkiran kendaraan mereka tanpa merasa khawatir kurangnya area lahan parkir.