Masjid Jami’ Tan Kok Liong, Cibinong

Masjid Jami’ Tan Kok Liong, Cibinong

Salah satu masjid yang memiliki desain seperti Tiongkok adalah masjid Tan Kok Liong. Masjid tersebut berada di Jalan Raya Kampung Sawah No. 100 RT 02 RW 08, Kampung Bulak Rata, Kelurahan Pondok Rajeg Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor Jawa Barat. Karena desainnya bukan seperti masjid pada umumnya, tak heran masjid ini terkadang tidak dikira sebagai tempat untuk beribadah umat muslim. Masjid Tan Kok Liong sendiri merupakan bagian dari komplek Pondok Pesantren Terpadu At-Ta’ibin. Pondok pesantren tersebut didirikan oleh Mohammad Ramdan Effendi atau lebih dikenal dengan nama Anton Medan. Beliau terkenal karena merupakan seorang mantan preman namun akhirnya telah sadar dan berubah menjadi seorang da’I dan pengusaha. Nama dari masjid tersebut diambil dari nama Anton Medan ketika masih anak-anak dengan sebutan Tan Kok Liong.

Pembangunan masjid Tan Kok Liong dimulai pada tahun 2005 lalu. Dana yang dihabiskan dalam pembangunan tersebut sekitar Rp. 2 Miliar. Keberadaan masjid ini juga diawali dengan kunjungan Presiden Bambang Yudhoyono ke Cina dan mengajak pengusaha Cina agar dapat menanamkan modal di Indonesia. Pada saat itu Anton Medan mengetahuinya dari pemberitaan di televise saja. Kemudian beliau tergerak hatinya dan membangun masjid tersebut serta meyakinkan kepada pengusaha Cina bahwa komunitas Tionghoa di Indonesia sangat dilindungi dan diperhatikan oleh pemerintah Indonesia.

masjid jami' tan kok liong

Anton hanya bermodalkan dari keuntungan usaha percetakan dan sablon, beliau memulai mendesain bentuk dari bangunan masjid yang akan dibangun. Akhirnya beliau memiliki ide untuk membuat sebuah masjid dengan bergaya seperti kelenteng. Anton sangat mandiri dan kreatif karena beliau sendiri yang mendesain dari bangunan masjid tersebut tanpa jasa dari arsitek. Anton berusaha dengan keras agar dapat mewujudkan keinginannya dalam mendirikan sebuah masjid. Beliau juga membeli beberapa VCD tentang berbagai bentuk istana yang berada di Cina. Sebenarnya pada saat itu beliau memiliki tiga pilihan, yaitu Istana Dinasti Ching, Ming dan Han. Lalu Anton memilih kepada istana Dinasti Ching dimana bangunan tersebut terlihat sedikit mirip dengan gaya masjid yang berada di Indonesia.

Bangunan masjid Tan Kok Liong sendiri sangat menarik. Masjid tersebut memiliki tiga lantai dengan ukuran 16 x 20 meter. Masjid tersebut didominasi dengan warna merah yang menyala. Karena didesain seperti dinasti dari Cina,maka tak heran dalam bangunan tersebut jika ditemukan berbagai ornamen  naga terutama ada bagian sudut atap masjid. Pada bagian lantai dasarnya digunakan untuk  kantor pesantren sedangkan pada bagian lantai satu dan lantai dua digunakan untuk melaksanakan ibadah shalat. Kemudian terdapat kubah di bagian atap depan lantai dasar masjid. Kubah tersebut berbeda dengan masjid lainnya karena ukurannya kecil tidak seperti masjid-masjid yang identik memiliki kubah yang besar.

interior masjid jami' tan kok liong

Warna pada masjid Tan Kok Liong pun sangat menarik. Dindingnya di cat menggunakan warna merah muda dan untuk pilarnya dicat dengan warna merah marun. Tetapi ada juga yang berwarna emas pada bagian pilar masjid yang jumlahnya dua pilar. Kemudian atap masjid tersebut berwarna hijau. Atap tersebut terdiri dari tiga undakan dan setiap jengkalnya memiliki ukiran dengan ornamen Cina. Contohnya yaitu seperti lampion-lampion yang berwarna merah. Selain itu dibagian pucuk atap masjid terdapat lafadz Allah menggunakan tulisan bahasa Arab.

Keunikan dari bangunan masjid Tan Kok Liong menjadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung dan jamaah yang ingin datang ke masjid ini. Tak heran masjid tersebut selalu dipenuhi oleh para jamaah setiap waktu.

Masjid Banya Bashi, Bulgaria

Masjid Banya Bashi, Bulgaria

Islam pada masa perkembangannya semakin pesat dan terus berkembang hingga ke berbagai penjuru dunia. Salah satunya hingga ke bagian Eropa Timur yang memang terkenal dengan mayoritas penduduknya non muslim. Tepatnya sejak ratusan tahun lalu islam mulai menyebarkan syiar dan ajarannya dan hingga kini pun jeja dari kejayaannya masih dapat ditemukan. Tak hanya di Spanyol saja, islam pun menyebar hingga ke Bulgaria yang ibukotanya bernama Sofia. Dan peninggalan sejarah yang masih ada kokoh hingga saat ini adalah beberapa bangunan yang telah didirikan oleh khalifah Usmaniah di Turki. Bangunan tersebut pada masanya merupakan sebuah bangunan yang sangat penting dibangun di wilayah tersebut. Dan salah satu bangunannya adalah berupa sebuah tempat beribadah umat muslim yaitu masjid Banya Bashi yang berada di Bulgaria.

Tepatnya masjid Banya Bashi berada di kawasan Boulevard Maria Luiza di pusat kota Sofia. Tempatnya sangat strategis mengingat berdiri di pusat kota Sofia yang merupakan ibukota dari Bulgaria. Awal mula dari pembangunan masjid ini yaitu dengan adanya khalifah Islam Turki Utsmani yang pada saat itu berkuasa selama kurang lebih lima abad yaitu dari abad ke 14 hingga abad ke 19. Setelah masjid Banya bashi selesai dibangun tepatnya pada tahun 1576 pada saat dibawah pimpinan Pemerintahan Sultan Murad III, masjid banya Bashi merupakan salah satu bangunan masjid tertua yang berada di Eropa karena memang dibangun sudah sejak lama.

masjid banya bashi

Meskipun usianya sudah sangat tua, namun bangunan masjid Banya Bashi masih terlihat berdiri kokoh dan kemegahan masjid ini masih terlihat dengan jelas. Namun masjid Banya Bashi juga pernah mengalami hal yang cukup memilukan dimana pada saat era rezim komunis disana berkuasa dan mereka sempat menutup masjid kebanggan umat muslim disana. Setelah rezim komunis tersebut tumbang, masjid Banya Bashi kembali dibuka dan difungsikan sebagai tempat beribadah umat muslim dan berbagai kegiatan lainnya. Hingga kini pun masjid Banya Bashi selalu dipenuhi oleh para jamaah dan pengunjung yang mencapai 8.614 jiwa dari keseluruhan jumlah penduduk yang mencapai 1.170.842 jiwa di Sofia, Bulgaria.

Kemegahan masjid Banya Bashi adalah hasil dari seorang arsitek kreatif yang bernama Kodja Mimar Sinan yang merupakan seorang arsitek resmi Kekhalifahan Turki Utsmani. Beliau sangat terkenal akan desainnya yang selalu memukau sehingga bangunan yang beliau desain selalu menghasilkan sebuah tempat yang mempesona dan megah. Kodja Mimar Sinan juga hidup ketika masa ke empat era kepemimpinan sultan, yaitu diantara lain Salim I, Sulaiman I, Salim II dan Murad III. Selama itu pula beliau telah mendesain berbagai macam bangunan hingga berjumlah 476 macam.

interior masjid banya bashi

Pada tanggal 11 September 2010 lalu, kantor Mufti Bulgaria merasa sangat terganggu terhaap sebuah proyek pembangunan kereta bawah tanah. Mereka sangat kecewa dan memberikan protes keras terhadap Kementrian Kebudayaan serta Pemerintah kota Sofia. Proyek tersebut mengakibatkan hal yang tidak baik kepada masjid Banya Bashi dimana terdapat berbagai kerusakan permanen pada bagian dinding masjid. Hal tersebut dikarenaken pondasi masjid tersebut telah retak oleh proyek tersebut.

Dari segi bangunannya, masjid Banya Bashi sangat terlihat mencolok oleh kubah besar dan menaranya yang sangat tinggi. Bentuk dari menaranya sendiri terlihat seperti pensil tulis. Kubahnya sendiri berjumlah empat dan kubah utama yang paling besar berada di tengah lalu ketiga sisanya berada di sekeliling kubah utama tersebut. Pada bagian dinding luar masjid di dominasi menggunakanwarna merah kecoklatan dan ketika memasuki masjid ini kemegahan masjid Banya Bashi akan sangat terasa oleh para pengunjung dan jamaah.

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Di Indonesia sangat mudah untuk melaksanakan ibadah sahlat. Karena dengan mudahnya pengunjung atau wisatawan yang pada sata itu beraada di wilayah lain menemukan masjid-masjid. Indonesia juga memiliki berbagai masjid dengan sejarahnya yang menarik. Dimulai dari masjid tertua, trbesar hingga masjid termegah pun banyak terdapat di Indonesia dimasing-masing wilayahnya. Salah satu dari wilayah tersebut berada di Kepulauan Riau tepatnya di Natuna.

masjid raya natuna

Masjid tersebut bernama masjid Raya Natuna. Tetapi masyarakat sekitar biasanya menyebut sebagai masjid Agung Natuna. Keberadaan masjid tersebut merupakan simbol kebangkitan umat islam di Natuna serta merupakan kebangkitan awal bagi pembangunan dan perkembangan agama islam di wilayah Natuna. Pembangunan masjid ini juga merupakan sebuah proyek besar yang diberi nama Gerbang Utara Ku dan meliputi  perumahan DPRD, rumah dinas Bupati dan wakil Bupati hingga kampus dan asrama. Pada setiap ada kesempatan, biasanya Bupati Natuna selalu mengjak para PNS untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah di masjid Raya Natuna. Hal yang sangat menarik disana adalah kebersamaan antara pejabat dan beberapa para jamaah yang sangat erat serta berbaur langsung dengan para ulama dan tokoh lainnya. Biasanya setelah melaksanakan ibadah berjamaah, selalu diadakan kuliah tujuh menit. Terutama setelah melaksankan ibadah shalat maghrib berjamaah.  Selain itu kebersamaannya dapat terlihat ari minum kopi dan merasakan berbagai makanan ringan secara bersama-sama sehingga di masjid ini selalu tercipta suasana yang hangat.

Lokasi masjid Raya Natuna tepatnya berada di Komplek gerbang Utaraku. Komplek tersebut merupakan sebuah wilayah pusat pemerintahan dan bisnis Natuna. Sehingga tak heran masjid tersebut selalu dipenuhi oleh para jamaah dari berbagai kalangan karena memang lokasinya sangat strategis. Di kawasan ini juga dilengkapi dengan 8 pusat lainnya, seperti Masjid Agung, Menara, Asrama Haji, Gedung Pertemuan, Gedung Pendidikan, Gedung Komersial, Gerbang hingga Plaza serta taman kota yang selalu dipenuhi oleh para pengunjung.

masjid raya natuna

Proses pembangunan masjid Raya Natuna sudah direncanakan sejak tanggal 13 Agustus 2006 lalu. Atau tepatnya pada saat itu pada masa pemerintahan Bupati kabupaten Natuna yang bernama Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si. tidak mudah dalam melaksankan pembangunannya, karena harus benar-benar direncanakan secara matang dan sesuai dengan arti filosofi pembangunan Masjid Raya Natuna. Kemudian dilakukan peletakan batu pertama tepatnya pada tanggal 4 Mei 2007.

Masjid Raya Natuna aalah sebuah bangunan yang menjadi titik utama omplek Gerbang Utaraku. Setelah itu dilanjutkan dengan pembangunan tahap I B diantaranta Masjid Laut, pusat perekonomian, pasar, terminal dan berbagai fasilitas lainnya. Komplek Gerbang Utaraku merupakan implementasi dari pembangunan lima pilar yaitu Keimanan, Kesehatan, pendidikan, Perekonomian dan Hukum. Lalu setelah pembangunan Tahap I A selesai, maka diresmikan oleh Bupati Kabupaten Natuna yang pada saat itu adalah Drs. H. Daeng Rusnadi, M.S yang dilakukan pada hari Jum’at tanggal 4 April 2009 lalu.

interior masjid raya natuna

Diketahui bahwadana yang dihabiskan dalam pembangunan tersebut mencapai angka Rp. 781 miliar yang berasal dari dana APBD 2007, anggaran 2008 dan 2009. Untuk anggaran dari masjid Raya Natuna sendiri sebenarnya sekitar Rp. 400 miliar. Bangunan msjid ini sangat megah danmewah ditambah dengan kubah besar di atap masjid yang mirip engan kubah Taj Mahal yang berada di India. Selain itu terdapat juga menara di setiap sudut bangunan masjid. Ketika memasuki masjid Raya Natuna pun keindahan dan kemegahanya semakin terasa karena berhias dengan berbagai ornamen dan kaligrafi yang begitu mempesona. Ditambah dengan bagian dalam masjid terkesan sangat luas dengan bahan yang membuat para jamaah nyaman disana.

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien, Manado

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien, Manado

Manado adalah salah satu kota yang lumayan padat dan terkenal dengan perdagangan rempah-repah terutama cengkeh dan pala. Puncak keramaiannya pada tahun 1670 dimana Manado terdapat banyak para pedagang dari berbagai daerah di Indonesia turut serta meramaikannya dan menjajakan dagangannya.

Beberapa pedagang yang berdagang di Manado kebanyakan dari Ternate, Tidore, Hitu-Ambon dan beberapa wilayah lainnya selalu memenuhi kota Manado. Disana biasanya digunakan sebagai tempat singgah oleh para pedagang tersebut namun seiring berjalannya waktu mereka pun tinggal dan menetap di Manado. Saat ini lokasi yang mereka tempati berada di sekitar kawasan Pondol tepatnya Jalan Sam Ratulangi.

Karena Manado menjadi sebuah tempat jalur perdagangan rempah-rempah yang sangat populer, menjadikan kota tersebut menarik bagi para pedagang yang berada di Solo Jawa Tengah. Terutama mereka beragama islam. Tak hanya dari Solo saja, tak sedikit dari mereka berasal dari Surabaya dan ikut menetap di Manado. Pada masanya, tak hanya sebagai pedagang, sebagaian dari mereka juga merupakan pegawai yang bekerja pada pemerintahan Hindia Belanda.masjid agung awwal fathul mubien

Lalu sekitar sepuluh tahun kemudian, terdapat sebuah keinginan pindah tempat yang awalnya dari Pondol ke sebuah perkampungan baru. Akhirnya keinginan tersebut disetujui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dan lokasi baru tersebut adalah sebuah lokasi yang berada di ujung utara Manado. Disana juga dibangun sebuah tempat beribdah umat muslim karena memang diwilayah tersebut banyak masyarakat yang memeluk agama islam. Pada saat  itu hanya sebuah langgar atau masjid yang ukurannya lebih kecil dengan lantainya beralaskan tanah atapnya berasal dari daun rumbia dan dinding langgar tersebut menggunakan anyaman bambu.

Langgar tersebut pada awalnya bernama Soraya. Nama tersebut berasal dari sebuah rumput yang banyak tumbuh di sekitar langgar tersebut. Kemudian pada tahun 1802 langgar Soraya diganti namanya menjadi masjid Awwal Fathul Mubien yang memiliki arti Masjid Pertama Pembuka yang Nyata. Masjid tersebut tepatnya berdiri di kawasan pesisir pantai yang sangat memukau dan indah mempesona.

Dilihat dari bangunannya,masjid Awwal Fathul Mubien terkesan sangat sederhana. Pondasi masjidnya berasald ari batu karang serta lantai dan dinding masjid tersebut berasal dari papan. Masjid Awwal Fathul Mubien pernah mengalami renovasi. Tepatnya pertama kali dilaukan pembaharuanmasjid di tahun 1830 menjadi semakin luas dengan ukuran 8 x 8 meter. Namun meskipun setelah selesai direnovasi, masjid tersebut masih dalam kondisi darurat. Dimana seharusnya sebuah bangunan masjid yang berada dekat dengan pantai harus kokoh menggunakan material yang sangat kuat sehingga masjid tersebut kokoh dari berbagai macam cobaan alam di sekitar pantai tersebut.

masjid agung awwal fathul mubien.

Selanjutnya masjid Awwal Fathul Mubien kmebali di renovasi tepatnya di tahun 1990 semakin diperluas menjadi ukuran 8 x 12 meter. Lalu diperluas kembali menjadi 8 x 14 meter. Kemudian lagi-lagi diperluas akhirnya menjadi 26 x 26 meter yang dilakukan antara tahun 1967 hingga tahun 1995. Setelah dilakukan beberapa renovasi, kini masjid Awwal Fathul Mubien sangat berbeda dengan awal didirikannya masjid tersebut. Sekarang masjid ini berdiri megah dengan lantai dan sebagaian dindingnya menggunakan bahan keramik. Tak hanya itu saja, masjid tersebut juga memiliki ukiran kaligrafi yang sangat indah berwarna kuning di bagian depan. Masjid yang berdiri diatas lahan seluas 1916 meter persegi ini memiliki menara yang menjulang tinggi. Ditambah sebuah kubah besarnya menjadi ciri khas sendiri dari bangunan masjid.

Masjid 4000 Kilometer – Innuvik, Kanada

Masjid 4000 Kilometer – Innuvik, Kanada

Masjid yang memang memiliki nama “Masjid 4000 Kilimeter” ini memang terletak sejauh 4,000 Kilometer dari lokasi penduduk pada masa dibangunnya masjid ini.

Ada kisah menarik dibalik pembangunan Masjid 4000 Kilometer ini. Kisah perjalanan masjid ini dimulai pada saat warga muslim di Kota Innuvik, Kanada, sebuah kota dengan suhu yang rendah dengan hamparan padan tundra yang sangat luas. Diantara 3,000 penduduknya pada saat itu, ada 100 warga beragama muslim yang sangat merindukan akan sebuah masjid sebagai tempat peribadatan mereka.

Pada awalnya, warga muslim yang berada di Kota Innuvik hanya menjalankan ibadahnya di sebuah trailer tua yang sangat sempit dan sudah tidak mampu lagi menampung jamaah yang semakin banyak. Kemudian, warga muslim Innuvik mulai mengambil inisiatif untuk mengumpulkan dana yang dikumpulkan dari sumbangan mereka. Dana yang sudah terkumpul selama kurang lebih 3 tahun tersebut kemudian digunakan untuk membeli sebuah lahan terpencil di wilayah utara Kanada.

Perjalanan Masjid 4,000 Kilometer

Yayasan Zubaidah Tallab, sebuah lembaga amal yang ada di Winnipeg, Manitoba, Kanada, atau lembaga amal yang sengaja didirikan oleh umat muslim Innovik saat itu untuk mengalokasikan dana sumbangan yang digunakan untuk membuat sebuah masjid. Sebuah masjid kemudian dibangun “Secara Utuh” di kota Winnipeg, negara bagian Manitoba, kemudian dikirimkan ke Kota Innuvik yang memiliki jarak lebihd dari 4,000 Kilometer menggunakan angkatan darat maupun melalui angkatan sungai. Perjalanan tersebut melintasi dua negara bagian seacra utuh, ditambah ½ wilayah negara bagian Manitoba dan 3/4 bagian wilayah Notwest Teritories yang memiliki total jarak tempuh sekitar 4,000 kilometer sebelum tiba di Innuvik.

masjid 4000km

Bangunan masjid ini mulai didirikan di Wannipeg pada bulan Juni 2010, kemudian perjalanan masjid tersebut dimulai pada bulan Agustus 2010. Perjalanan masjid ini dimulai dengan alat angkut sebuah truk trailer yang berjalan scara perlahan dari kota Winnipeg. Perjalanan tersebut bahkan menemui berbagai hambatan seperti cuaca buruk, kemacetan, bahkan perizinan di negara bagian yang berbeda, karena muatan yang diangkut trailer tersebut tidak biasa.

Kemudian pada saat tiba di Kota Edmunton, bangunan masjid secara utuh tersebut dipindahkan dari Truk ke kapal tunda di sungai Hay, kemudian mulai perjalanan melalui jalur air dimulai pada tanggal 22 September 2010. Perjalanan melewati jalur sungai tersebut memakan waktu hingga 24 hari dan akhirnya tiba di Dermaga Kota Innuvik dengan sambutan haru penuh suka cita oleh warga muslim Innuvik. Kebahagiaan menyelimuti warga muslim disana setelah merasa cemas dan was-was apakah bangunan masjid secara utuh tersebut dapat sampai dengan selamat ke wilayah mereka.

Berkat do’a dan keyakinan mereka, akhirnya Masjid 4,000 Kilometer dapat sampai dengan selamat tanpa ada goresan sedikitpun. Setelah sampai pada lokasi yang ditetapkan, masjid ini kemudian ditambah dengan pintu  sekunder dan juga karpet dan akhirnya mulai digunakan pada bulan Oktober 2010.

masjid 4000km

Perjalanan bangunan masjid yang sudah menempuh jarak hingga 4,000 kilometer ini bahkan seperti sebuah keajaiban yang terjadi secara nyata. Bahkan, beberapa rekor pun turut didapatkan oleh masjid ini sebelum digunakan oleh umat muslim di Innuvik. Beberapa rekor yang didapatkan adalah menjadi Masjid Paling Utara di Benua Amerika, dan menjadi Masjid Paling Utara ke-empat di bumi ini. Bahkan, rekor lain yang sangat unik adalah menjadi satu-satunya Bangunan Masjid yang menempuh jarak paling jauh di muka bumi ini.

Masjid 4,000 kilometer atau “Masjid Innuvik” atau lebih terkenal dengan julukannya “Mid Night Sun Mosque” atau “Masjid Cahaya Matahari di Tengah Malam” menjadi salah satu masjid yang letak lokasinya berada di titik paling utara di muka bumi ini. Innuvik sendiri merupakan sebuah nama kota yang terletak di bagian utara kanada, terletak di 2 derajat sedikit diatas garis lingkar kutub utara. Sekaligus menjadi salah satu tempat paling utara di bumi ini.

Kota Innuvik hanya dihuni oleh sekitar 4,000 orang saja dan sekitar 10% penduduknya beragama muslim. Bahkan semakin berjalannya waktu, populasi umat muslim semakin bertambah di area tersebut.

masjid 4000km

Lokasi Masjid 4,000 Kilometer tepatnya di 29 Wolverine Road, Inuvik, NT, Kanada, atau di tepian sungai dan delta Mackenzie. Delta sungai mackenzie sendiri merupakan suatu delta air tawar terluas dan terbesar di Kanada.

Sebelumnya sudah dijelaskan bagaimana perjalanan panjang Masjid 4,000 Kilometer ini dalam menempuh keseluruhan perjalanannya dari Winipeg. Kali ini kita akan sedikit mundur bahwa sebelum masjid Innuvik tersebut di kirim dan didikan di Winipeg, sebelumnya masyarakat muslim Innuvik hanya menggunakan sebuah Trailer (Box Angkutan) yang direnovasi menjadi sebuah bangunan yang mirip dengan hunian sekitar. Kemudian hasil dari rumah tersebut difungsikan sebagai tempat peribadatan mereka.

Bahkan sebelum adanya Masjid Innuvik atau Masjid 4,000, para warga muslim mengirimkan anak-anak mereka ke berbagai pelosok Kota Kanada untuk menempuh jenjang pendidikannya, karena di Innuvik memang belum tersedia tempat semacam sekolah maupun madrasah. Bahkan saking terpencilnya, warga Innuvik yang meninggal jenazahnya akan dikirimkan ke Winipeg untuk dimakamkan di sebuah komplek pemakaman muslim disana.

Dari berbagai macam hambatan dan halangan inilah, semangat dari kaum muslimin Innuvik muncul. Mereka sepakat untuk mengumpulkan dana bersama-sama selama beberapa tahun, hal ini dilakukan mengingat pada saat pertama kali rencana masjid dibangun jumlah umat muslim yang ada di Innuvik hanya sekitar 100 orang. Akhirnya, setelah berusaha selama 3 tahun penuh untuk mengumpulkan dana, akhirnya warga muslim Innuvik dapat membeli sebidang tanah dan mampu untuk membeli sebuah bangunan Masjid yang dibangun secara utuh di Winipeg, kemudian di kirimkan ke Innuvik secara utuh.

masjid 4000km

Tiba di Innuvik

Tepatnya pada hari Rabu petang, Tanggal 22 September 2010, kapal yang membawa bangunan Masjid Innuvik datang  di dermaga NTCL setelah perjalanannya selama kurang lebih 24 hari lamanya.  Kedatangan tersebut sontak disambut dengan gembira oleh warga Innuvik yang kemudian bersorak atas kedatangan sebuah masjid yang sudah dinanti-nanti selama beberapa tahun terakhir.

Pada saat itu, sekitar 40 orang muslim datang menyambut bangunan masjid di dermaga, meskipun pada saat itu salju sedang turun. Kegembiraan datangnya bangunan masjid ini menambah kegembiraan mereka setelah menyambut hari raya idul fitri 1431 H.

Pada awalnya masjid tersebut memang belum memiliki nama, akhirnya beberapa jamaah menyarankan nama “Gracefull Mosque” atau “Masjid Yang Diberkati” karena memang sudah menempuh perjalanan panjang hingga 4,000 Kilometer. Namun nama yang sangat melekat hingga kini adalah Masjid 4,000 Kilometer dan Masjid Kilauan Cahaya Mentari di Malam Hari.

Saat ini, Masjid Innuvik selain difungsikan sebagai masjid (tempat peribadatan umat muslim), juga bagian ruangan lain difungsikan sebagai sekolah / madrasah tempat anak-anak Innuvik melakukan kegiatan belajarnya. Akhirnya mereka tidak perlu lagi mengalami perjalanan jauh ke Kota Winipeg setiap kali ingin menuntut ilmu.

Masjid Tua Al-Hilal Katangka atau Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Tua Al-Hilal Katangka atau Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Tua Al-Hilal katangga yang juga dikenal sebagai “Masjid Agung Syeh Yusuf” menjadi masjid perrtama yang didirikan di  Pulau Sulawesi. Karena dibangun pertama, Masjid Tua Al-Hilal Katangga sekaligus menjadi sosok masjid yang tertua di keseluruhan Sulawesi, dan juga ikut masuk pada nominasi salah satu dari 10 Masjid Tertua di Indonesia.

Penamaan Masjid Tua Al-Hilal atau Masjid Agung Syeh Yusuf diambil dari salah seorang Syufi yang sangat berkarisma yang bernana “Syeh Yusuf Al Makkasari”, selaigus kerabat Raja Gowa. Beliau merupakan kelahiran 1626 di kabupaten Gowa, yang mempunyai jiwa yang sangat tangguh memperjuangkan kemerdekaan RI, hingga beliau dibuang di Capetown, Afrika Selatan oleh Belanda. Bahkan, beliau wafat di Capetown pada usia 73 tahun, tepatnya pada tahun 1699. Lalu, pada tahun 1795, makam Syekh Yusuf kemudian di pindahkan ke daerah Lakiung, di dekat Masjid Katangka.

Atas semangat juang Syekh Yusuf yang sangat hebat, pemerintah Indonesia menganugerahinya dengan gelar pahlawan nasional RI. Tidak sampai disitu saja, bahkan Syekh Yusuf juga dianggap sebagai salah satu pahlawan nasional di Afrika Selatan, karena jasa-jasa beliau yang selalu memperjuangkan kesetaraan hak bagi setiap individu di Afrika Selatan.

masjid al hilal

Sejarah Masjid Al-Hilal Katangka

Masjid Al-Hilal Katangka pertama kali dibangun oleh Raja Gowa XIV, Sultan Alaudin I, pada tahun 1603. Beliau merupakan Raja Gowa yang pertama kali masuk Islam.  Masjid yang saudha berumur lebih dari 400 tahun ini bahkan sempat menginspirasi Syahrul Yasin Limpu, Gubernur Sulawesi Selatan yang menjabat kala itu untuk mendirikan beberapa bangunan masjid yang memiiki desain arsitektur yang sangat mirip, dengan harapan bahwa masjid-masjid yang digasanya tersebut dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama seperti Masjid Tua Al-Hilal Katangka.

Masjid Syekh Yusuf terletak di Jalan dengan nama yang sama, yaitu “Syekh Yusuf”, Katangka, Sumba Ompu, Gowa, Sulawesi Selatan, atau lebih tepatnya pada wilayah bagian perbatasan antara Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.

Sejak tanggal 04 Oktober 1999 silam, Masjid Tua Al-Hilal yang sudah berumur lebih dari 400 tahun ditetapkan sebagai Cagara Budaya Nasional secara resmi dan harus dilindungi oleh masyarakat sekitar dan pemerintah setempat.

Arsitektur Masjid Tua Al-Hilal Katangka

Bangunan utama masjid ini memiliki luas sekitar 212 meter persegi, dengan pagar besi dan pagar tempok sebagai pembatas areal masjid ini. Masjid yang berada di Gowa ini bahkan memiliki Soko Guru yang biasanya menjadi ciri khas bangunan masjid di Pulau Jawa.

Pintu akses masuk untuk masjid ini hanyalah satu pintu yang terletak di bagian depan, kemudian saat masuk kedalam bangunan ruang utama sholat, kita akan melihat cendela dengan hiasan ukiran berlubah sebagai ventilasi udara secara alami.

interior masjid al hilal

Bahkan jika kita teliti lebih jauh, masjid yang sudah berumur ratusan tahun ini memiliki arsitektur mirip Masjid Agung Demak, dengan atap yang bersusun tiga, dan juga 4 soko guru sebagai penopang atapnya. Pada masanya, ternyata masjid ini juga memiliki sebuah menara yang tinggi, namun sejarah kehancuran menara tersebut sampai saat ini belum bisa di identifikasi secara pasti.

Pada bagian barat masjid terdapat kompleks pemakaman yang sudah sangat tua. Komplek pemakaman tersebut digunakan sebagai tempat pemakaman pendiri masjid dan juga keturunannya.

Sejak tahun 1603 hingga sekarang, Masjid Tua Al-Hilal sudah mengalami beberap akali renovasi yaitu pada tahun 1818, 1826, 1893, 1948, 1962, 1979 dan yang terakhir dilakukan pada tahun 2007 lalu. Meskipun sudah lebih dari 6 kali renovai dilakukan, namun keaslian arsitektur serta berbagai ornamen masjid masih terjaga dengan baik.

Masjid Agung Jami’ Singaraja, Bali.

Masjid Agung Jami’ Singaraja, Bali.

Bali memang sebuah pulau yang sudah terkenal hingga penjuru dunia. Populer akan keindahan alam dan berbagai wisatanya, pulau ini selalu dikunjungi oleh berbagai wisatawan domestic dan mancanegara. Bali juga merupakan salah satu tujuan utama yang biasanya dipilih oleh para pengunjung ketika akan menghabiskan waktu liburannya. Beberapa tempat wisata dengan panorama keindahan alam yang sangat luar biasa selalu menjadi daya tarik para wisatawan. Ditambah dengan kebudayaannya yang menarik dan unik menjadikan Bali selalu dirindukan tak hanya oleh wisatawan lokal saja.

Disamping tempat wisata dan pantainya yang sangat indah dan mempesona, Bali memiliki beberapa bangunan yang bersejarah. Salah satunya adalah bangunan untuk umat muslim melaksanakan ibadah shalat. Amsjid tersebut salah satunya adalah masjid Agung Jami’ Singaraja. Masjid tersebut berada di Kelurhan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng Bali. Masjid Agung Jami’ Singaraja termasuk sebuah bangunan yang cukup megah dan didalamnya memiliki sebuah Mushaf Al-Qur’an yang ditulis secara langsung oleh salah satu keturunan dari Kerajaan Buleleng pada masa itu.

masjid agung jami

Keberadaan masjid Agung Jami’ Singaraja tidak lepas dari peran seorang Raja Buleleng yang bernama A.A. Ngurah Ketut Jelantik Polong. Beliau adalah seorang putra dari A.A. Panji Sakti yang merupakan seorang Raja Buleleng I. Beliau juga bukan seorang pemeluk agama islam melainkan seorang beragama Hindu. Meskipun di Bali mayoritas penduduknya beragama Hindu, namun sikap toleransi beragama disana sangat tinggi. Salah satu buktinya pada dahulu adalah dengan adanya pintu kayu dengan berukir berwarna hijau pada bagian gerbang masjid merupakan pemberian beliau pada saat masjid tersebut dibangun pertama kali.

Pembangunan masjid Agung Jami’ Singaraja dimulai pada tahun 1846 pada masa pemerintahan Raja Buleleng  A.A. Ngurah Ketut Jelantik Polong. Karena beliau adalah seorang Raja beragama Hindu, maka kepengurusan masjid tersebut diserahkan kepada saudaranya yang beragama islam. Beliau adalah A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie dan Abdullah Maskati.

Pemberian gerbang oleh sang Raja disebutkan juga karena sebagai wujud agar mencegah adanya perbedaan pandangan untuk memindahkan umat dari masjid Keramat ke masjid Jami’. Hingga kini pun masjid ini merupakan sebuah bangunan masjid yang terbesar di Singaraja dan juga difungsikan sebagai pusat bagi umat muslim untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan.

masjid agung jami.

Masjid Agung Jami’ Singaraja berdiri diatas lahan seluas 1980 meter persegi dan dikelilingi oleh pagar besi. Pengunjung dan para jamaah yang akan memasuki masjid ini akan melewati sebuah pintu gerbang yang merupakan pemberian dari Raja Buleleng tepatnya disebelah timur di halaman masjid tersebut. Pintu tersebut merupakan sebuah pintu bekas dari gerbang puri kerajaan Buleleng. Pada bagian atap masjid tersebut berbentuk limas an dan pada bagian sudutnya terdapat sebuah ukiran cungkup seperti sulur yang berjumlah enam buah. Pada bagian pintu tersebut juga memiliki dua daun pintu berupa teralis besi. Kemudian di sebelah utara bangunan induk masjid terdapat sebuah ruang sekertariat berukuran 6.5 x 14.5 meter. Bangunan tersebut berjumlah dua lantai dengan bagian atasnya merupakan ruang sekertariat dan bagian bawahnya adalah tempat untuk berwudhu dan juga terdapat kamar mandi. Lalu di depan bangunan induk terdapat menara yang berbentuk bulat dengan jendelanya berbentuk persegi panjang dan pelipit di bagian atasnya. Majid Agung Jami’ Singaraja selalu dipenuhi oleh para jamaah dan juga dikunjungi oleh beberapa pengunjung. Dan meskipun bangunannya sudah berumur sangat tua, namun masjid ini masih berdiri kokoh dan terawat dengan sangat baik.

Masjid Nasional Abuja, Nigeria

Masjid Nasional Abuja, Nigeria

Umat muslim di dunia semakin berkembang pesat termasuk ke beberapa wilayah yang memang notaben nya bukan dari kaum muslim. Salah satunya berada di Nigeria tepatnya di Abuja. Abuja sendiri merupakan ibukota dari Nigeria yang memiliki jumlah penduduk mencapai 800.000 jiwa. Kota ini juga samhat tertata karena memang salah satu tujuannya agar dialokasikan seperti itu. Abuja dibuat pada tahun 1980 kemudian dipilih menjadi ibukota Nigeria pada tanggal 12 Desember 1991. Sebelumnya ibukota dari Nigeria adalah Lagos tetapi sekarang sudah diganti menjadi Abuja. Kota Abuja sendiri memiliki daya tarik yang luar biasa bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Dimana di Abuja terdapat beberapa tempat wisata yang menarik serta disana juga terdapat kedutaan besar dari berbagai Negara.

Sedangkan Nigeria sendiri merupakan sebuah Negara yang terdiri dari berbagai etnik. Tercatat dari kelompok etnik disana bahkan mencapai 250 kelompok. Bahasa utama yang digunakan untuk sehari-hari di Nigeria adalah menggunakan bahasa Inggris. Perkembangan islam pun mencapai Negara ini sehingga saat ini jumlah penduduk yang memeluk agama islam di Nigeria merupakan yang terbanyak. Yaitu mencapai angka 50% dari jumlah penduduk Nigeria. Kemudian sebanyak 40% menganut agama Kristen dan sisanya meyakini kepercayaan terhadap nenek moyang terdahulu.

masjid abuja

Dengan banyaknya umat muslim di Nigeria, tak mengherankan jika disana terdapat banyak bangunan masjid yang mudah ditemukan. Dan salah satu masjid yang terkenal dari Negara terebut adalah masjid Nasional Abuja. Masjid tersebut sangat populer hingga ke berbagai wilayah di Nigeria karena memiliki struktur bangunan yang sangat besar dan juga desain masjidnya sangat megah, mewah dan mempesona.

Masjid Nasional Abuja berada di tempat yang strategis. Tepatnya berdiri kokoh di pusat Pemerintahan Nigeria dan bersebrangan dengan tempat beribadah umat Kristen yang bernama Gereja Kristen Nasional Abuja di Independent Avenue. Masjid tersebut juga jaraknya sangat dekat dengan kantor Departemen Pertahanan Nasional Nigeria. Kantor tersebut dilihat dari bentuk bangunannya seperti kapal laut dan sangat mirip. Sedangkan posisi antara masjid Nasional Abuja yang bersebrangan dengan bangunan Gereja sengaja dibuat seperti itu karena hal tersebut menunjukan simbol dari keharmonisan di Nigeria. Pada dahulu juga Nigeria memiliki sebuah sejarah yang kurang baik dimana antara kaum muslim dan kristiani pernah mengalami konflik yang sangat panjang sehingga konflik tersebut merupakan sebuah hal yang tidak berkesudahan. Namun sekarang kedua kaum tersebut telah saling berdampingan dengan sikap toleransi tinggi serta sangat harmonis.

interior masjid nasional abuja

Proses pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1984 bersamaan dengan dibangunnya kota Abuja yang pada saat itu merupakan ibukota baru bagi Negara Nigeria. Tak hanya digunakan sebagai tempat beribadah umat muslim saja, di dalam masjid Nasional Abuja ini dilengkapi dengan fasilitas yang menunjang. Seperti perpustakaan, ruang pertemuan bagi ratusan tamu serta terdapat sebuah tempat tinggal untuk imam dan muadzin. Sejak dari proses pembangunannya, masjid Nasional Abuja berada di bawah kelola Abuja National Mosque Management Board. Sedangkan untuk proses dari desain masjid tersebut diserahkan kepada AIM Consultant Ltd.

Sekilas jika dilihat dari bangunannya, masjid Nasional Abuja memang terkesan sangat megah dan mewah. Hal tersebut dapat dilihat dari satu kubah utama masjid yang sangat besar serta dilapisi dengan emas. Sehingga ketika terkena sinar matahari maka kubah tersebut memancarkan kilauan yang sangat mempesona. Ditambah dengan menaranya yang menjulang tinggi berjumlah empat dan didirikan di masing-masing sudut masjid. Kemudian terdapat juga ke empat kubah lainnya yang ukurannya lebih kecil dibagian ke empat penjuru atap masjid.

Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Surabaya yang merupakan ibukota dari Jawa Timur merupakan kota metropolitan di Jawa Timur. Kota Surabaya sendiri merupakan kota terbesar ke dua setelah Jakarta. Terkenal sebagai kota Pahlawan karena memang pada dahulunya dari kota ini memiliki sejarah perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan semangat jiwa tinggi terhadap serangan penjajah. Saat ini Surabaya sudah sangat maju serta kota Surabaya terkesan sangat bersih. Selain itu, karena merupakan salah salah satu kota metropolitan, tak heran disana terdapat berbagai bangunan dan gedung yang terkenal. Seperti berbagai perkantoran, perhotelan hingga ke bangunan Universitas di Surabaya.

masjid cheng ho surabaya

Selain itu, Surabaya sendiri memiliki sejarah tentang perkembangan islam. Dikota tersebut juga terdapat salah satu Wali Songo yang menyebarkan ajaran islam. Yaitu Sunan Ampel. Bahkan disana juga terdapat sebuah Universitas dan bangunan masjid merujuk terhadap Sunan Ampel. Tak hanya itu saja, keberadaan bangunan masjid di Surabaya sangat memudahkan para kaum muslim untuk melaksanakan shalat. Karena tak hanya dipenuhi oleh kaum muslim saja, kota Surabaya ternyata dipenuhi oleh non-muslim. Terutama kebanyakan darimereka adalah pendatang dan keturunan dari Cina.

Salah satu masjid yang memiliki daya tarik tersendiri adalah masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya. Masjid ini adalah salah satu masjid Cheng Ho yang berada di Indonesia selain masjid Cheng Ho Palembang dan masjid Cheng Ho yang berada di Pasuruan. Masjid ini juga bernama masjid Muhammad Cheng Ho Indonesia tapi dikenal dengan nama masjid Cheng Ho Surabaya karena memang letaknya berada di Surabaya Jawa Timur. Masjid tersebut merupakan masjid pertama yang telah dibangun dengan desain dari Tiongkok. Tak heran jika sekilas bangunan tersebut tidak terlihat seperti tempat beribadah umat muslim melainkan seperti kelenteng-kelenteng yang berada di Tiongkok.

masjid cheng ho sby

Pembangunan masjid Cheng Ho Surabaya diawali oleh gagasan dari HMY Bambang Sujianto. Beliau adalah seorang ketua dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia. Selain itu, gagasan tersebut didukung oleh para sesepuh, penasehat hingga ke pengurus PITI atau Pembina Iman Tauhid Islam Jawa Timur. Tokoh masyarakt Tionghoa juga ikut serta dalam proses pembangunan masjid Cheng Ho Surabaya. Keberadaan masjid ini juga menjadi salah satu kebanggaan warga Surabaya karena memiliki desain yang unik serta pernah mendapatkan rekor MURI sebagai ‘Pemrakarsa’ dan ‘Pembuat’ masjid berarsitektur Tiongkok pertama yang ada di Indonesia.

Lokasi masjid ini tepatnya berada di belakang gedung serbaguna PITI Jawa Timur Jalan Gading Nomor 2, Ketabang, Genteng Surabaya. Awal mulanya dilaukan peletakan batu pertama dilokasi tersebut pada tanggal 15 Oktober 2001. Pada saat itu juga bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Proses pembangunan masjid Cheng Ho Surabaya dimulai pada tanggal 10 Maret 2002 kemudian selesai pada tangga; 13 Oktober 2002. Peresmian masjid ini dilakukan oleh Menteri Agama Republik Indonesia yang pada saat itu menjabat adalah Prof. Dr. Said Agil Husain Al-Munawar, MA. Peresmian tersebut dilaksankan pada tanggal 28 Mei 2003. Dalam membangun masjid Cheng Ho Surabaya menghabiskan dana sebesar Rp. 700 juta dan menghasilkan sebuah bangunan masjid yang sangat unik serta menarik.

interior masjid cheng ho surabaya

Dilihat dari bangunannya, masjid ini memang terkesan seperti kelenteng dibandingkan seperti sebuah masjid. Warna yang mendominasi masjid Cheng Ho Surabay adalah warna merah, hijau dan kuning. Masjid ini tidak terdapat kubah yang biasanya menjadi sebuah simbol dari bangunan masjid. Ketika memasuki masjid ini para jamaah atau pengunjung akan menikmati keunikan tersendiri ditambah dengan berbagai hiasan kaligrafi yang sangat indah.

Masjid Islamic Center Wina, Austria.

Masjid Islamic Center Wina, Austria.

Tidak semua Negara memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap salah satu kaum. Tetapi di Austria tepatnya di Wina, pemerintah disana memiliki kebebasan beragama dan terjamin oleh pemerintah. Salah satunya adalah toleransi terhadap umat muslim yang berada di Wina, Austria. Disana juga terdapat sebuah bangunan masjid yang telah dari tiga puluh tahun menjadi sebuah pusat kajian, studi hingga perkembangan islam di Austria. Pemerintah Austria sendiri sangat memperhatikan lebih terhadap keagamaan yang dianut oleh masyarakatnya. Contohnya yaitu bahwa pelajaran keagamaan sangat penting shingga diajarkan di berbagai sekolah termasuk juga pelajaran agama islam. Pelajaran tersebut diajarkan oleh seorang guru keturunan dari Turki. Di Austria penduduk yang memeluk agama islam mencapai jumlah 4.2% dan menepati urutan ke tiga setelah agama Katolik dan Protestan.

Meskipun bukan merupakan kaum mayoritas di Austria, namun bangunan untuk beribadah umatmuslim disana masih dapat ditemukan sekitar 8 hingga 9 masjid di kota Wina. Dan salah satu masjid yang sangat populer di Wina adalah masjid Islamic Center Vienna. Masjid tersebut sangat terkenal karenamemang bangunannya sangat megah dan mewah serta berbeda dengan berbagai masjid lainnya dimana hanya terlihat seperti apartemen dibagian luarnya. Selain masjid Islamic Center Vienna, di Wina juga terdapat masjid As-Salam Wapena yang ternyata didirikan oleh muslim Indonesia di kota tersebut.

icc wina

Proses pembangunanmasjid Islamic Center Wina dimulai pada tahun 1975 dan selesai di tahun 1979. Dana dari pembangunan masjid tersebut berasal dari sumbangan Raja Saudi Arabia yang pada saat itu adalah Faisal Bin Abdul Aziz. Pada awalnya juga proses pembangunan masjid Islamic Center Wina ini berdiri diatas lahan yang dibeli dari dana yang berasal 8 Negara Islam. Tepatnya dilakukan pada tahun 1968 dan saat itu juga mendapatkan duungan dari Pemerintah Austria. Hal tersebut juga dapat ditemukan di sebuah prasasti pembangunannya yang berisi tentang pembangunanmasjid Islamic Center Wina adalah merupakan sebuah inisiatif dari kedutaan besar Negara-negara Islam. Dan yang paling utama adalah dari Saudi Arabia Yang Mulias Raja Faisal bin Abdul Aziz. Pada saat itu juga dilakukan peletakan batu pertama yang menunjukan akan dibangunnya sebuah bangunanmasjid tepatnya pada tanggal 28 Februari 1968. Setelah selesai dibangun kemudian masjid tersebut diresmikan oleh presiden Austria yang pada saat itu adalah DR. R. Kirschschlager tepatnya pada tanggal 20 November 1979 dan bertepatan dengan 1 Muharram 1400 H.

interior icc wina

Bangunan masjid Islamic Center Wina sangat menonjol karena memang terkesan sangat mewah dan berbeda dengan masjid lainnya. Ing. R. Lugher dipercaya untuk mendesain masjid Islamic Center Wina dan berhasil menciptakan sebuah bangunan yang mempesona. Masjid tersebut terkesanm egah karena memiliki kubah dengan berukuran 16 meter dan berdiameter 20 meter ditambah dengan menaranya yang mencapai 32 meter. Menara masjid Islamic Center Wina terlihat sangat menjulang tinggi karena memang sengaja di desain seperti itu. Seperti halnya masjid lainnya, masjid Islamic Center Wina juga terdapat pemisah untuk para kaum muslimah melaksanakan shalat yang berada di bagian belakang mimbar dan mihrab sang khatib. Pada bagian ruangan shalatnya kira-kira berukuran 100 x 200 meter. Masjid Islamic Center Wina terdiri dari tiga lantai. Antara lain yaitu lantai basement, lantai dasar dan juga lantai atas.Masjid ini selalu dipenuhi oleh para jamaah terutama ketika hari Jum’at. Pada hari itu jamaah semakin banyak dan datang berkali lipat.