Masjid Huaisheng, China

Masjid Huaisheng, China

Perkembangan islam hingga sekarang telah menyebar hingga ke berbagai wilayah di dunia. Negara yang awalnya tidak terdapat penduduk muslim, sekarang dimana pun kaummuslim dapat di temukan dimana saja. Termasuk di Negara China. Keberadaan kaum muslim sendiri tak lepas dari sejarah awal mulanya islam masuk ke China. Saat ini penduduk China terdapat dari berbagai kaum yang berbaur menjadi satu. Karena sudah terdapat banyak masyarakat yang beragama islam, maka tak heran jika disana terdapat sebuah bangunan untuk melaksanakan ibadahnya. Bangunan tersebut adalah masjid untuk umat muslim melaksanakan shalat dan berbagai kegiatan lainnya.

Salah satu masjid yang berada di China bernama masjid Huaisheng. Masjid tersebut berada di ibukota propinsi Guangdong, masjid Huaisheng sendiri berdiri di atas lahan tanah seluas 2.966 meter persegi. Berdasarkan sejarah bahwa masjid ini didirikan oleh Sa’d ibn Abi Waqqas. Beliau sendiri merupakan paman dari Nabi Muhammad SAW. Sebenarnya nama dari masjid Huaisheng sendiri memiliki arti Rindu kepada Rasulullah Muhammad SAW.

masjid huaiseng cina

Masjid Huaisheng juga dikenal dengan nama masjid Guangtasi atau tak jarang dikenal sebagai masjid mercusuar atau menara api. Hal tersebut karena menara pada masjid Huaisheng terlihat seperti bentuk mercusuar. Menara tersebut lumayan tinggi dengan tingginya yang mencapai 36.3 meter serta berwarna putih. Bangunan ini juga disebut-sebut sebagai bangunan tertinggi yang berada di wilayah tersebut. Selain itu keunikan dari menara masjid Huaisheng sangat berbeda dengan berbagai menara masjid lainnya. Karena bentuknya silinder sederhana serta terdapat kubah pada bagian paling atas menara tersebut. Biasanya bentuk seperti itu merupakan cirri dari bangunan khas Arab.

Keberadaan menara tersebut memiliki cerita tersendiri dimana pada waktu dahulu setiap bulan Mei dan Juni banyak sekali kapal pedagang asing yang selalu lalu lalang melewati Sungai Mutiara. Pada saat itu juga umat muslim selalu menyalakan lampu pada malam hari untuk menerangi dan memadu para kapal tersebut yang sedang berlayar tepatnya di malam hari. Di menara itu juga difungsikan oleh muadzin untuk mengumandangkan adzan dan mengajak untuk segera melaksankan shalat. Kemudian menara tersebut dibandingkan dengan menara Cahaya atau disebut juga dengan Guangtasi. Tak heran masyarakat sekitar juga menyebutnya dengan masjid Guangtasi. Tapi ternyata selain nama tersebut, masjid Huaisheng memiliki beberapa nama lainnya, seperti masjid  Agung Canton, masjid Hwai Sun Su, masjid Ying Tong dan masjid Huai Shang Si.

interior masjid huaiseng

Sejarah dari pembangunan masjid Huaisheng tak lepas dari seorang paman dari Nabi Muhammad SAW yang pertama kali menyebarkan agama islam di Cina. Beliau adalah Sa’d ibn Abi Waqqas yang memulai penyebaran ajaran islam di Cina pada tahun 630-an. Seiring dengan berjalannya waktu perkembangan agama islam semakin menyebar dan dibangunlah sebuah bangunan untuk melaksanakan ibadah. Salah satunya adlaah masjid Huaisheng ini. Masjid Huaisheng pernah mengalami renovasi sebanyak empat kali. Namun masjid tersebut pernah dilakukan pembangunan ulang secara keseluruhan pada tahun 1350 pada masa pemerintahan Dinasti Yuan.

Dilihat dari arsitektur masjid Huaisheng, masjid ini tidak terlihat seperti beberapa masjid pada umumnya. Melainkan seperti bangunan kuil. Pada bagian luar masjid akan terlihat sangat menarik dengan batu bata berwarna merah dan atapnya menggunakan genteng berwarna hijau. Bangunan tersebut didesain seperti gaya Tiongkok yang sangat eksotis namun ketika memasuki masjid ini tampilan dalamnya terlihat sangat sederhana. Terdapat berbagai tulisan menggunakan bahasa Arab juga terdapat sebuah prasasti yang berisi tentang pemugaran masjid yang telah dilakukan sebanyak empat kali.

Masjid Ganting, Padang

Masjid Ganting, Padang

Bangunan masjid di Indonesia sudah tersebar di setiap wilayah. Jika mengunjungi Indonesia dan melakukan perjalanan diberbagai wilayahnya, khusus bagi umat muslim sangat mudah menemukan tempat beribadah. Tak heran karena di Indonesia sendiri memang mayoritas penduduknya beragama islam. Dimulai dari masjid terbesar, tertua hingga masjid termegah sudah banyak dimiliki oleh Indonesia ditambah dengan berbagais ejarah yang dimiliki setiap pembangunan masjid tersebut. Dan salah satunya masjid yang sangat terkenal di Pulau Sumatera berada di Padang yaitu dengan nama masjid Ganting.

Masjid Ganting tepatnya berada di Jalan Ganting No. 3 Kelurahan Ganting Selatan Kecamatan Padang Timur Kota Padang Sumatera Selatan. Masjid Ganting sendiri menjadi daya tarik bagi para jamaah dan pengunjung yang berada di wilayah tersebut atau dari wilayah luar. Karena masjid ini merupakan masjid tertua yang berdiri di kota Padang. Awalnya dibangun masjid Ganting pun bertujuan agar sebagai sarana pemersatu 8 suku yang ada di Kota Padang. Selain itu masjid Ganting pernah menjadi sebuah pusat pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 silam.

masjid raya ganting

Pembangunan masjid Ganting dimulai sekitar tahun 1700. Pada saat itu pembangunannya bersamaan dengan dibangun pelabuhan Ema Heaven atau yang saat ini dikenal dengan nama pelabuhan Teluk Bayur. Keberadaan masjid ini pun akhirnya dapat memenuhi awal dari didirikan masjid. Yaitu sebagai sarana pemersatu ke 8 suku yang berada di Padang. Sejak awal dibangun, masjid Ganting tidak pernah dilakukan pemugaran secara besar-besaran. Hanya pernah dilakukan penambahan bangunan masjid tepatnya pada bagian depanmasjid bertambahmenjadi panjang 20 meter. Kemudian sejak tahun 1950 pengelolaan masjid Ganting berada di bawah Pemda kota Padang dan diserahkan kepada masyarakat Ganting untuk mengurus dan masjid tertua di Padang tersebut. Dengan ketelatenan dan kedisiplinan yang tinggi, masyarakat Ganting selalu merawat dan mengurus masjid Ganting secara baik maka tak heran bangunanmasjid tersebut masih berdiri kokoh meskipun usianya sudah sangat tua.

Dilihat dari segi bangunannya, masjid Ganting memilii desain bergaya Eropa. Hal tersebut terlihat dari kontruksi masjid dengan bentuk tumpang. Karena masjid ini sudah sangat lama dibangun dan disebut juga sebagai masjid kuno maka tak heran jika dilihat dari bangunannya memiliki denah persegi panjang serta memiliki serambi dibagian depan dan sisi samping ruang utama. Selain itu terdapat juga sebuah mihrab dan pagar yang mengelilingi masjid tersebut dengan satu pintu utama. Di Indonesia sendiri biasanya bentuk tumpang tersebut cukup beraneka macam yaitu mulai dari 2 tingkat hingga 7 tingkat. Sedangkan masjid Ganting memililki jumlah tingkat sebanyak 5. Jika mengunjungi masjid Ganting jangan kaget hanya karena masjid tersebut tidak seperti halnya masjid modern yang banyak dibangun pada saat ini. Melainkan bangunan masjid tersebut tetap dipertahankan dan terus dilesatarikan mengingat sebagai sejarah adanya sebuah masjid yang telah dibangun sejak dahulu kala.

interior masjid raya ganting

Masjid Ganting sendiri berdenah 42 x 38 meter dengan pondasi masjid yang terbuat dari batu dan semen. Sedangkan tembok bangunannya terbuat dari bata. Ketika memasuki masjid Ganting maka pengunjung akan menemukan beberpa ruangan, seperti ruang utama, ruang serambi masjid, mihrab dan mimbar. Tiang penyangga masjid tersebut berjumlah 25 buah dengan bentuk segienam berdiameter 40 cm dan tingginya mencapai 4.2 meter. Tiang tersebut polos tanpa adanya hiasan apapun dan terbuat dari beton. Selain itu masjid ini memiliki satu kubah serta dilengkapi dengan dua menara. Meskipun usianya sudah sangat lama,namun masjid Ganting terus dilestarikan oleh masyarakat sekitar.

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Cheng Ho Palembang

Indonesia memang sudah terkenal hingga berbagai belahan dunia. Tak hanya dari budaya dan wisatanya saja, Indonesia memiliki daya tarik sendiri sehingga membuat Negara tersebut terkenal hingga penjuru dunia. Selain itu mayoritas penduduk Indonesia pun sangat ramah dan peduli sehingga banyak juga wisatawan dari luar yang sengaja datang ke Indonesia untuk melakukan perjalanan liburannya atau belajar menuntut ilmu di Indonesia. Disamping itu, Indonesia sendiri mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Jadi sangat mudah jika ingin menemukan berbagai masjid di Indonesia. Salah satunya terdapat sebuah masjid dengan bangunan unik. Tepatnya berada di Perumahan Amen Mulia, Jakabaring, Palembang. Masjid tersebut bernama masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya Palembang atau disebut dengan nama masjid Cheng Ho Palembang.

Nama masjid tersebut berbeda dengan masjid umumnya yang berada di Indonesia. Namun meski demikian, keberadaan masjid ini memiliki cerita sendiri yang menarik. Masjid Cheng Ho Palembang diprakasai oleh para sesepuh wilayah tersebut, penasehat hingga pengurus Pembina Iman Tauhid Islam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia Sumatera Selatan.

masjid cheng ho

Sebenarnya terdapat tiga masjid Cheng Ho yang berada di Indonesia. Dua diantaranya berada di Surabaya dan Pasuruan. Perbedaan masjid Cheng Ho Palembang dengan masjid Cheng Ho lainnya adalah segi bangunan masjid Cheng Ho Palembang ukurannya adalah yang paling besar dibandingkan dengan kedua masjid Cheng Ho lainnya. Masjid Cheng Ho Palembang juga tak hanya difungsikan sebagai tempat beribadah umat muslim melainkan juga sebagai tempat kegiatan-kegiatan yang dilakuan disana. Serta menjadi sebuah tujuan utama wisata religi biasanya pengunjung masjid Cheng Ho berasal dari Malaysia, Singapura hingga Taiwan dan Rusia.

Bangunan masjid Cheng Ho terkesan dengan paduan dari unsur Cina, Nusantara, Melayu dan Arab. Di masjid tersebut juga telah dilengkapi dengan tempat tinggal sang imam masjid, tempat Pendidikan Al-Qur’an, Kantor DKM, perpustakaan hingga ruang serbaguna. Bangunan masjid sendiri berukuran 25 x 25 meter yang berdiri di atas lahan seluas 5000 meter persegi. Proses pembangunan masjid Cheng Ho telah menghabiskan dana sekitar Rp. 4 miliar.

gerbang masjid cheng ho

Masjid Cheng Ho Palembang ini dapat menampung jamaah hingga 600 jamaah dan memiliki dua lantai. Pada bagian lantai pertama digunakan untuk jamaah laki-laki sedangkan lantai kedua digunakan khusus bagi jamaah wanita. Hal yang menarik dari masjid tersebut adalah terdapat menara yang berada di kedua sisi masjid dan persis seperti klenteng-klenteng yang berada di Cina serta dicat menggunakan warna merah dan hijau giok. Selain itu terdapat juga sebuah kubah yang besar berada di atap masjid dengan warna hijau. Dilihat dari warna masjid Cheng Ho Palembang, masjid tersebut didominasi oleh warna merah dan juga hijau giok. Meskipun terkesan seperti bukan merupakan tempat beribadah umat muslim, namun keberadaan masjid ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para jamaah sekitar dan pengunjung lokal hingga mancanegara. Sehingga tak heran jika masjid Cheng Ho Palembang selalu dipenuhi oleh para jamaah yang tak hanya melakukan ibadah shalat tetapi juga berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

interior masjid cheng ho

Pada bulan September 2005 lalu dilakukan peletakan batu pertama di masjid Cheng Ho Palembang sebagai salah satu tanda akan dibangun sebuah tempat beribadah umat muslim. Perlu diketahui bahwa modal awal dari pembangunan masjid ini adalah Rp. 150 juta yang didapatkan dari iuran anggota PITI Sumatera Selatan. Kini masjid Cheng Ho Palembang terus menjadi daya tarik tersendiri dan juga merupakan sebuah bangunan masjid kebanggan masyarakat Palembang.

Masjid Babussalam Gelumbang

Masjid Babussalam Gelumbang

Berbagai bangunan masjid tersebar di wikayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Salah satunya berada di Sumatera Selatan tepatnya berada di Kelurahan Gelumbang, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Seklatan.masjid tersebut bernama masjid Babussalam Gelumbang. Masjid tersebut seperti halnya dengan beberapa masjid pada umumnya yang berada di Indonesia.

Berada di jalur lintas tengah Sumatera diantara kota Prabumulih dan kota Palembang menjadikan masjid ini selalu dikunjungi oleh para wisatawan. Jika ingin mengunjungimasjid ini maka pengunjngi dapat menggunkan kendaraan umum dari kota Prabumulih lebih kurang selama setengah jam dalam perjalanannya ke arah utara. Atau jika dari kota Palembang kea rah selatan dapat ditempuh selama satu hingga satu setengah jam.

masjid babussalam

Pada awalnya Gelumbung adalah sebuah nama desa namun selang beberapa tahun statusnya berubah menjadi Kelurahan dan dikepalai oleh seorang Lurah. Awal mula masjid Babussalam Gelumbang ini didirikan pada tahun 1978 setelah bangunan lama dari masjid tersebut sudah lagi tidak dapat menampung para jamaah yang kian waktu kian banyak. Selain itu bangunan masjid tersebut juga sudah mulai terlihat beberapa kerusakan yang cukup parah pada bagian atap masjid. Dan hal yag utama pada saat itu juga arah kiblat masjid tidak akurat sehingga kesepakatan dari masyarakat memutuskan untuk membangun ulang masjid tersebut. Akhirnya masjid Babussalam Gelumbang dirobohkan lalu diganti dengan sebuah bangunan masjid yang lebih besar berdiri di tempat yang sama.

Sekarang bentuk dari bangunan masjid Babussalam Gelumbang  yang sedang berdiri kokoh bukanlah seperti bangunan awal masjid. Pada dahulu, bangunan masjid tersebut seperti halnya dengan beberapa masjid lainnya yang bentuknya seperti masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II yang berada di kota Palembang. Saat ini, terlihat bangunan masjid Babussalam telah berdiri dengan atap yang bersusun dan disangga oleh empat tiang soko guru yang berasal dari kayu. Selain itu struktur atap juga menggunakan bahan dari kayu. Dinding masjid terebut berasal dari bahan batu bata ditambah dengan jendalanya yang berukuran besar. Disebelah samping masjid tersebut juga terdapat sebuah menara namun tidak terlalu tinggi. Keberadaan masjid ini tetap menjadi sebuah tempat beribadah kebanggan umat muslim bagi para warga sekitar.

interior masjid babussalam

Pada saat bangunan masjid Babussalam di robohkan yaitu tepatnya di tahun 1978 ternyata diketahui bahwa batu bata yang digunakan pada masa sebelumnya tersebut ukurannya jauh lebih besar dibandingkan dengan ukuran batu bata yang seperti biasanya. Dilihat dari ukurannya, bisa jadi bangunan pertama masjid Babussalam Gelumbang ini sejaman dengan bangunan lainnya yang sudah runtuh terlebih dahulu. Contohnya seperti bangunan stasiun kereta api Gelumbang yang ternyata dibangun pada zaman Belanda dan tempat tersebut masih kokoh h ingga sekarang.

 masjid babussalam

Kemudian kembali ke bagian struktur bangunanmasjid Babussalam Gelumbang, di puncak atap masjid tersebut dapat ditemukan mahkota yang berupa kayu berukir dengan tambahan ornamen kawat baja yang merupakan sebagai aksesoris. Sedangkan dibagian ke empat penjuru atap telah dihiasi dengan berbagai ornamen yang mirip dengan bangunan atap kelenteng. Dan perlu diketahui juga bahwa pendanaan masjid tersebut ketika dibangun ulang berasal dari iuran masyarakat sekitar dan memakan waktu yang cukup lama untuk membangunnya kembali. Hingga kini masjid Babussalam Gelumbang selalu dipenuhi oleh para jamaah terutama pada saat hari Raya Besar tiba maka para jamaah akan semakin meningkat untuk melakasankan shalat berjamaah.

Masjid Agung Air Mata, Kupang

Masjid Agung Air Mata, Kupang

Hingga keberbagai wilayah manapun di Negara Indonesia sangat mudah untuk menemukan bangunan masjid. Tak heran demikian karena kebanyakan dari masyarakat Indonesia beragama islam. Bahkan di pulau yang terpencil pun masih terdapat umat muslim meskipun termasuk minoritas. Di Kupang sendiri terdapat sebuah bangunan masjid bernama Masjid Agung Air Mata. Air mata sendiri adalah nama salah satu dari tiga kawasan pemukiman muslim yang berada di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ternyata nama dari Air mata sendiri memiliki dua makna. Pertama yaitu kawasan inimemang merupakan sebuah sumber mata air yang berasal dari sungai yang membelah kota Kupang. Kemudian makna kedua yaitu di tempat tersebut banyak sekali airmata yang tumpah akibat dari kekejaman pemerintah Belanda dan Jepang yang pada saat itu menjajah di kota Kupang. Pada masa itu sangat kelam dimana setidaknya terdapat tiga ulama yang ditangkap dan diasingkan oleh Belanda hingga mereka wafat dan dimakamkan di tempat tersebut. Ketiga ulama tersebut adalah Kiyai  Arsyad yang berasal dari Banten, Dipari Amir Baheain yang berasal dari Bangka dan Sultan Dompu yang berasal dari Bima. Dari ketiga tokoh ulama tersebut juga yang menyebarkan agama islam di Kupang dan sekitarnya. Setelah mereka wafat, makamnya berada dekat dengan sebuah komplek yang saat ini dikenal dengan nama Kuburan Batu Kadera.

masjid ahungng al baitul

Masjid Agung Airmata atau masjid Agung Al-Baitul Qadim Airmata tepatnya berada di Kelurahan Air mata, Kota Kupang Nusa Tenggata Timur. Pemukiman muslim pertama di Kupang tepatnya berada di Kelurahan Air Mata. Keberadaaan masjid Air Mata ini menjadi sebuah symbol pemersatu umat beragama yang berada di Kupang. Hal tersebut dikarenakan pada awal pembangunannya, proses tersebut dibantu oleh para kaum Nasrani yang bergotong royong mendirikan masjid Agung Air Mata. Masjid ini menjadi salah satu objek wisata rohani yang berada di Kupang. Sehingga masjid Agung Mata Air tak jarang dikunjungi oleh para masyarakat luar atau wisatawan dari berbagai wilayah lainnya.

Bangunan masjid Agung Air Mata ini berdiri diatas lahan tanah hibah Sya’ban bin Sanga Kala. Tepatnya dimulai pada tahun 1806 silam bersama dengan Kiyai Arsyad turut serta dalam proses pembangunan masjid tersebut. Masjid Agung Air Mata juga merupakan pusat dari penyebaran agama islam pada masa itu hingga ke Timor Portugis atau saat ini dikenal dengan nama Timor Leste. Syahban bin Sanga Kala sendiri adalah seorang warga muslim pertama yang menginjakan kakinya di Pulau Timor dalam sebuah pelayarannya dari Pulau Solor Flores Timur. Beliau sendiri berasal dari Mananga yaitu sebuah kampong yang berada di Pulau Solor bagian barat.

interior masjid air mata

Dilihat dari bangunan masjid Agung Air Mata, masjid tersebut memiliki desain antara unsur budaya Flores Timur dan Arab. Hal tersebut memiliki simbol tersendiri dimana bertujuan sebagai perlawanan terhadap koloni Belanda dan Jepang yang pada masa itu berkuasa. Selain itu ditambah dengan perpaduan dari seni arsitektur Jawa dan Cina. Masjid tersebut berukuran 10 x 10 meter serta bentuknya seperti joglo dan atapnya berasal dari genteng.

Pada tahun 1984 masjid Agung Air Mata pernah dilakukan pemugaran secara total yang diprakasai oleh Imam H. Birando bin Taher sehingga masjid tersebut yang saat ini merupakan hasil dari renovasi total sebelumnya. Pemugaran masjid tersebut juga atas persetujuan jamaah setempat. Alasannya yaitu bertambah pesat warga muslim di wilayah tersebut serta bangunannya sendiri terlihat sudah sangat rapuh dan lebih baik untuk dilakukan renovasi total. Hingga kini masjid tersebut masih berdiri kokoh dengan tembok dindingnya yang berwarna putih.

Sigi Lamo, Masjid Sultan Ternate

Sigi Lamo, Masjid Sultan Ternate

Masjid Sigi Lamo berada di kawasan Jalan Sultan Khairun, Kelurahan Soa Sio, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Masjid ini juga disebut dengan nama Masjid Sultan Ternate namun masyarakat sekitar biasanya menyebut dengan menggunakan bahasa Ternate, yaitu Sigi Lamo. Sigi sendiri memiliki arti masjid sedangkan Lamo artinya adalah Besar. Jika disatukan artinya adalah Masjid Besar. Tak heran pada zamannya masjid tersebut merupakan masjid terbesar dan masjid pertama di Ternate.  Keberadaan masjid ini juga merupakan sebuah salah satu bukti sejarah dari Kesultanan Islam pertama di Kawasan Timur Indonesia. Pertama kali Kesultanan Ternate memeluk islam ketika pemimpin rajanya yang berkuasa ke-18 yaitu Kolano Marhum. Beliau adalah seorang raja yang bertahta dari tahun 1465 hingga tahun 1486. Selanjutnya Kolano Marhum diganti oleh putranya yang bernama Zainal Abidin. Zainal Abidin semakin memantapkan Ternate sebagai Kesultanan Islam yang mengganti gelar Kolano menjadi Sultan. Saat itu juga beliau meresmikan agama islam sebagai agama disana pada masanya serta memberlakukan syariat islam. Selain itu juga beliau membentuk lembaga kerajaan yang sesuai dengan syariat islam serta melibatkan para ulama didalamnya.

masjid sigilamo

Proses awal dari pembangunan masjid Sultan Ternate memiliki pendapat berbeda. Pertama diperkirakan pendirian masjid ini telah ada sejak masa Sultan Zainal Abidin yaitu seorang Raja Ternate kedua yang pada saat itu juga sudah memeluk agama islam dan meresmikan agama islam sebagai agama resmi kerajaan. Tetapi hal berbeda disampaikan oleh direktori masjid bersejarah Departemen Agama RI bahwa masjid Sultan Ternate baru didirikan pada awal abad ke 17. Yaitu sekitar tahun 1606 pada masa Sultan Saidi Barakati berkuasa. Kemudian pembangunan masjid tersebut dilanjutkan oleh Sultan Mudafar dan dirampungkan oleh Sultan Hamzah tepatnya di tahun 1648.

Masjid Sultan Ternate juga pernah mengalami renovasi. Awalnya dilakukan oleh Sultan Sibori Amsterdam pada tahun 1679. Beliau adalah putra dari Sultan Mandarsyah dengan bentuk atap tumpang tiga dan bahannya berasal dari kayu. Tetapi sayangnya pada tahun 1705 terjadi sebuah musibah terjadi dimana masjid Sultan Ternate mengalami kebakaran. Lalu dibangun kembali oleh Sultan Said Fathullah atau dikenal juga dengan nama Pangeran Rotterdam. Setelah itu masjid Sultan Ternate dilakukan renovasi kembali oleh Sultan Muhammad Zain di tahun 1818. Dan terakhir dilakukan pada tahun 1983 dengan renovasi besar-besaran secara total namun tetap mempertahankan bentuk asli dari masjid Sultan Ternate.

interior masjid sigilamo

Seperti halnya dengan Kesultanan Islam lainnya yang ada di Nusantara, masjid Sultan Ternate didirikan dekat dengan istana Sultan Ternate sendiri. Lokasinya dengan istana hanya sekitar 100 meter sebelah  tenggara istana. Pada awalnya masjid ini dibangun menggunakan bahan dari susunan batu serta bahan perekat dari campuran kulit kayu pohon kalumpang. Masjid tersebut berdiri diatas lahan seluas 76.70 x 62.45 meter dan bangunannya sendiri berukuran 22 x 22.5 meter. Masjid Sultan Ternate juga memiliki kemiripan dengan beberapa masjid dari Jawa karena lantai masjidnya ditinggikan. Pada masa itu atap masjid menggunakan daun rumbia tetapi telah diganti menggunakan seng pada tahun 1995.

Selain itu masjid Sultan Ternate tidak memiliki kubah melainkan atapnya berbentuk limas. Meskipun sekarang usia masjid tersebut sudah tua, tetapi masih terdapat peninggalan yang utuh dari dahulu yaitu ke empat koleksi Al-Qur’an yang ditulis secara langsung oleh ulamaTernate pada masa itu. Tulisan serta kertasnya masih terlihat sangat baik karena memang dirawat dan dijaga sebaik mungin demi melestarikan peninggalan sejarah yang begitu berharga di Ternate.

Masjid Raya Seoul Korea Selatan

Masjid Raya Seoul Korea Selatan

Korea Selatan memang terkenal dengan beberapa Artis Aktor Drama dan juga Pop. Mereka sangat populer hingga ke berbagai Negara lainnya termasuk hingga ke Indonesia. Selain itu, Korea Selatan juga sangat terkenal dengan tempat wisatanya yang sangat menarik. Ditambah cuacanya yang selalu adem dan dingin menjadikan Korea Selatan menjadi salah satu tujuan utama wisatawan dari berbagai Negara terutama dari Negara sekitarnya.masjid raya seoul

Ternyata selain itu juga Korea Selatan memiliki sebuah bangunan yang tak kalah menarik. Bangunan tersebut merupakan sebuah tempat beribadah umat muslim di Korea. Meskipun penduduk disana yang memeluk agama islam termasuk minoritas, namun para muslim disana memiliki sebuah bangunan untuk beribadah. Masjid tersebut berada di ibukota Korea Selatan sendiri yaitu Seoul dengan nama masjid Seoul Central Masjud atau nama resminya adalah Masjid Si’ul Al-Markaz. Supaya lebih mudah maka masjid tersebut dapat disebut juga dengan nama masjid Raya Seoul.

Masjid Raya Seoul juga merupakan masjid pertama dan satu-satunya yang berada di kota Seoul. Masjid tersebut juga menjadi masjid terbesar yang ada di Korea Selatan. Selain itu karena berada di daerah Itaewon terkadang masjid ini disebut juga dengan nama masjid Itaewon Seoul. Masjid Raya Seoul juga merupakan masjid kebanggaan bagi umat muslim disana yang berjumlah sekitar 4 ribu orang Korea asli yang sudah memeluk agama islam sejak awal.

masjid raya seoul

Pemerintah di Korea Selatan sangat memperhatian betul terhadap masjid Raya Seoul. Setiap ada suatu isu tentang umat muslim, mereka langsung menempatkan aparat keamanan untuk menjaga masjid tersebut. Hal tersebut selalu dilakukan karena pernah ada kejadian terror di masjid Raya Seoul. Sehingga Pemerintah disana tidak ingin hal tersebut terulang kembali. Dan umat muslim di Seoul pun dapat menjalankan ibadahnya secara khusyu’ dan juga nyaman.

Masjid Raya Seoul juga difungsikan sebagai salah satu tempat untuk menyambung silaturahmi. Dimana tak sedikit dari warga Indonesia juga yang berada di Korea Selatan sehingga jika ingin melepas rindu dan mempererat tali silaturahmi, tak jarang mereka mengunjungi masjid Raya Seoul disamping melaksanakan ibadah juga. Tak hanya warga Negara Indonesia saja, mereka juga banyak berasal dari Timur Tengah dan juga warga asli dari Korea Selatan yang telah lama sudah memeluk agama islam. Selain itu juga terdapat berbagai makanan halal yang berada di sekitar masjid di toko dan kedai-kedai yang telah tersedia. Dan salah satunya adalah makanan favorit Indonesia sendiri yaitu mie instan yang selalu menjadi pilihan para jamaah dan pengunjung masjid Raya Seoul.

masjid raya seoul

Masjid Ryaa Seoul pun pernah memiliki seorang muadzin berasal dari Indonesia. Yaitu Hasan Sogimin sejak 25 Juli 2005 lalu. Selain itu beberapa tokoh Indonesia juga pernah melaksanakan ibadah shalat di masjid Raya Seoul seperti Mantan Ketua MPR yang pada saat itu adalah Dr. Hidayat Nurwahid. Jserta Prof. M. Amien Rais juga pernah shalat disana.

Masjid Raya Seoul berdiri diatas lahan seluas 4.870 meter persegi. Sebenarnya luas masjid Raya Seoul sendiri hanya seluas 427 meter persegi karena selain masjid tersebut ada pula Islamic Center yang berdiri seluas 1.917 meter persegi. Masjid Raya Seoul memiliki keunikan sendiri dimana pada hari Jum’at khotib menyampaikan khutbah dengan menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Korea dan Bahasa Inggris. Setelah itu juga, biasanya para jamaah akan mendapatkann oleh-oleh berupa 1 buah roti besar dan 1 kotak susu segar secara gratis. Setelah melaksanan ibadah shalat Jum’at biasanya para jamaah istirahat sejenak sambil menikmati roti serta susu segar tersebut.

Masjid Raya Batam Kepulauan Riau

Masjid Raya Batam Kepulauan Riau

Di Batam terdapat sebuah masjid yang sangat megah dan mewah sehingga terkenal ke berbagai wilayah lainnya. Masjid tersebut adalah masjid Raya Batam. Keberadaan masjid ini juga diharapkan tak hanya sebagai tempat beribadah umat muslim saja, tetapi dapat juga difungsikan sebagai tempat yang representatif untuk menampung berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan serta syiar islam. Sehingga tak heran jika masjid Raya Batam selalu dipenuhi oleh berbagai jamaah dan juga berbagai kegiatan yang menumpuk.

Berada di lokasi yang strategi yaitu tepatnya di kawasan Batam Center yang juga merupakan pusat pemerintahan kota Batam dan juga berhadapan langsung dengan kantor Badan Otorita Pengembangan pulau Batam. Selain itu, keberadaannya juga menjadi sebuah bangunan kebanggaan dari warga Batam sendiri ditambah dengan adanya sebuah penghargaan yang didapatkan oleh masjid Raya Batam pada tahun 2009 lalu atas Masjid Award dari Dewan Masjid Indonesia. Harapan lain juga dari Pulau Batam sediri adalah masjid Raya Batam dapat menunjang dunia kepariwisataan nasional.

masjid raya batam

Proses pembangunan awal dari masjid Raya Batam dimulai pada tahun 1899. Arsitek yang bertanggung jawab dalam mendesain masjid tersebut adalah Ir. Achmad Noe’man. Persetujuan masjid tersebut didapatkan pada tanggal 31 Agustus 1997. Ir. Achmad Noe’man sendiri sangat terkenal dalam dunia arsitektur karena telah menciptaan desain yang luar biasa diantaranya masjid Salman yang berada di ITB, masjid Baiturrahim yang berada di kawasan Istana Negara Jakarta dan beberapa masjid lainnya yang cukup fenomenal.

Bangunan masjid Raya Batam berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 75.000 meter persegi yang terdiri dari ruang salat dan mazenin seluas 2515.00 meter persegi, tempat wudhu khusus laki-laki seluas 506.70 meter persegi sedangkan tempat wudhu untuk perempuan berada pada bagian lahan seluas 178.10 meter persegi. Kemudian ruang simpan sepatu seluas 39.96 meter persegi dan untuk ruang kegiatan di lantai dasar seluas 2.190.24 meter persegi. Terdapat juga menara yang tingginya mencapai 66 meter dengan luas 9.00 meter persegi. Ditambah dengan bagian selasar penghubung dengan luas 1.270.00 meter persegi.  Dengan ukurannya yang cukup besar tak heran masjid Raya Batam dapat menampung jamaah sebanyak kurang lebih sebanyak 3.500 masjid di bagian dalam masjid dan sebanyak kurang lebih 15.000 jamaah dibagian luar masjid.

interior masjid raya batam

Bentuk masjid Raya Batam sendiri merupakan penggabungan dari dua bentuk dasar yaitu balok bujur sangkar yang merupakan badan bangunan serta bentuk limas sama sisi pada bagian kepala bangunan. Alasan dipilihnya bentuk balok bujur sangkar sendiri yaitu tujuannya agar lebih kokoh dan kompak sehingga dapat memenuhi syarat sebagai masjid dalam mencerminkan keimanan yang kuat serta dapat memenuhi syarat untuk bangunan benteng besar dan dapat menampung jamaah shalat lebih banyak.

Sedangkan atap limas mencerminkan sebagai simbol hubungan antara Tuhan dan hamba karena persepsi tersebut berasal dari bentuknya yang vertical menuju satu titik di atas. Di masjid Raya Batam juga terdapat pelataran halaman utama masjid yang bentuknya lebih tinggi dari jalan masuk sendiri.  Tempat tersebut sangat luas karena bisa menjadi sebuah tempat tambahan bagi para jamaah yang biasanya bertambah sangat banyak pada hari Raya Besar tiba. Di bagian plaza bawah juga terdapat sebuah air mancur yang bisa digunakan untuk para jamaah berwudhu. Keindahan serta kemegahan masjid Raya Batam memang sangat memukau danmenjadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung. Ditambah dengan tampilan luarnya sangat luar biasa menjadikan masjid ini selalu dipenuhi oleh para pengunjung dan jamaah,

Masjid Raya Al-Bantani, Banten

Masjid Raya Al-Bantani, Banten

Di setiap kota khususnya di Indonesia biasanya memiliki cirri has masing-masing. Tak hanya berupa makanan, tempat wisata serta budaya dari setiap daerah, terkadang sebuah bangunan juga menjadi ion tersendiri bagi kota tersebut. Salah satunya adalah kota Banten yang populer dengan bangunan masjid besarnya bernama masjid Raya Al-Bantani.

Masjid Raya Al-Bantani merupakan bangunan masjid yang megah dan besar tak heran masjid tersebut disebut sebagai masjid terbesar dan termegah yang berada di Provinsi Banten. Tak hanya difungsikan sebagai tempat untuk beribadah, masjid Raya Al-Bantani juga biasanya digunakan untuk pendidikan dan penyebaran agama islam secara menyeluruh. Setelah selesai pembangunannya dan diresmikan, masjid Raya Al-Bantani juga diharapkan dapat meningkatkan tali silaturahmi antar pegawai yang berada di provinsi Batam karena lokasinya memang strategis.

masjid raya al bantani

Berada di kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten tepatnya di Jalan KP3B Kecamatan Curug Kota Serang Banten ini selalu menjadi daya tarik sendiri bagi para jamaah atau pengunjung yang pada saat itu berada di wilayah tersebut. Proses pembangunannya sendiri dimulai pada bulan Januari 2008 dan diresmikan pada tanggal 4 Oktober 2010. Peresmian masjid Raya Al-Bantani dilakukan oleh Gubernur Banten sendiri yang pada saat itu adalah Ratu Atut Choosiyah. Meskipun pada saat itu juga ketika peresmian masjid berlangsung terjadi hujan yang cukup lebat dan anginnya kencang namun acara tersebut terus berlangsung dan berjalan baik. Awal peresmian masjid tersebut akan dilakukan di tenda halamanmasjid tetapi karena turun hujan dan angin kencang maka peresmiannya dipindahkan ke dalam masjid Raya Al-Bintani. Bersamaan dengan peresmian masjid itu juga, Ratu Atut Choosiyah meresmikan peluncuruna Mushaf Al-Qur’an yang jumlahnya sebanyak 30 ribu serta melepas tpetugas tim pembimbing haji daerah Banten. Tak heran pada saat itu peresmianmasjid serta peresmian lainnya dihadiri oleh banyak orang.

Proses pembangunanya pun menghabiskan dana sebesar Rp. 94.3 miliar. Tak heran hasilnya pun sangat luar biasa megah nanmewah. Bahkan diperkirakan sebanyak 13 ribu jamaah dapat ditampung di masjid Raya Al-Bantani. Dengan dana yang luar biasa tersebut membhuat masjid Raya Al-Bantani semain terkenal dan menjadi salah satu tujuan utama bagi para pengunjung yang ingin melakukan wisata religi. Pembangunan masjid pun dilakukan oleh para tim dan petugas bangunan pada siang dan malam hari agar prosesnya cepat selesai sesuai rencana. Mereka bekerja membangun masjid Raya Al-Bantani dimulai pada pukul 8 pagi hingga pukul 12 malam. Pekerjanya punmencapai sebanyak 300 orang. Ketelitian dan kecepatan dalam proses pembangunannya pun perlu diperhatikan karena hamper semua bagian masjid cukup rumit namun sangat indah. Pada saat proses pembangunan masjid terebut ternyata menyimpan cerita yang cukup unik karena posisi dan letaknya harus digeser dari rencana sebelumnya. Hal tersebut dilakukan karena terdapat sebuah pohon besar dilingkunganmasjid dan penduduk sekitar melarang untuk menebang pohon tersebut. Akhirnya tempat masjid Raya Al-Bantani dipindahkan dan di geser.

interior masjid raya al bantani

Arsitektur masjid Raya Al-Bantani sangat menarik salah satunya terdapat pada bagioan atap dengan memadukan atap limas bersusun dengan kubahnya yang besar seperti halnya masjid modern. Ditmabah dengan menara yang berjumlah dari tiga membuat masjid tersebut terkesan sangat mewah. Serta warna dari dinding luar dan masjid yang sangat kalem terkesan bangunan masjid tersebut semakin nyaman dan terlihat lebih luas dan besar. Pada bagian pelataran masjid pun sangat luas sehingga para jamaah ketika melaksankaan ibadah shalat terutama ketika kedua Hari Raya Besar tiba, maka para jamaah akan shalat disana. Pad abagian interior majsid pun tak kalah megah karena dihias dengan berbagai ornamen dan kaligrafi yang begitu menarik.

Masjid Kobe – Jepang

Masjid Kobe – Jepang

Masjid Kobe atau bisa disebut dengan “Kobe Muslim Mosque” atau “Kobe-Kaikyo-Jiin” atau juga disebut dengan “Kobe-Mosuku” merupakan sebuah masjid yang pertama kali didirikan di negeri sakura tersebut. Masjid ini bahkan bisa dibilang sebagai “Masjid Ajaib”, karena dapat bertahan dari dua bencana besar yang menimpa kota kobe.

Insiden pertama terjadi pada saat Perang Dunia II, pada saat hujan bom dilakukan oleh tentara sekutu yang meluluhlantakkan kota Kobe, dan hanya menyisakan satu bangunan yang masih berdiri kokoh yaitu Masjid Kobe.

masjid kobe

Insiden kedua adalah pada tahun 1995, persitiwa yang terkenal dengan “Great Hanshin Earthquake”, sebuah gempat berkekuatan 7,3 SR mengguncang kota kobe pada tanggal 17 Januari 1995. Gempa Bumi dengan kekuatan besar tersebut meluluhlantakkan Kota Kobe, menghancurkan 180,000 lebih bangunan dan menelan ribuan korban jiwa, 35,000 orang terluka, serta 300,000 orang kehilangan rumah dan tempat tinggalnya. Tapi ajaibnya, lagi-lagi Masjid Kobe menjadi satu-satunya bangunan yang tidak terkena efek apapun dan masih kokoh diantara puing kehancuran kota kobe. Bahkan, masjid ini sempat menjadi tempat pengungsian sementara untuk masyarakat Jepang sekitarnya.

Sejarah Berdirinya Masjid Kobe – Jepang

Kebutuhan tempat ibadah untuk komunitas muslim di Kobe mulai mencuat pada sekitar tahun 1920-an, ketika itu umat muslim yang berada di Kota Kobe sudah semakin bertambah. Pada tahun 1928, dibentuk sebuah komite masjid kobe yang terdiri dari beberapa muslim india, beberapa pedagang dari Mesir dan Saudi Arabia dna lain sebagainya.

Dari tahun tersebut, pengumpulan dana untuk pembangunan masjid mulai dilakukan, dan membutuhkan waktu 5 hingga tahun untuk mendapatkan dana yang cukup untuk melakukan pembangunan.

masjid kobe

Akhirnya, pada tanggal 30 November 1934 Ketua Komite Masjid, Ferozuddin, salah seorang pengusaha india yang kaya raya menghibahkan sejumlah dana senilah 66,000 Yen untuk keperluan pembangunan masjid. Lalu setelah mendapatkan uang tersebut, pihak Komite kemudian membeli sebidang tanah yang saat ini menjadi tempat berdirinya masjid ini.

Peletakan batu pertama untuk menandai dimulainya pembangunan masjid ini dilakukan oleh Muhammad Bochia, yaitu penanggung jawab utama atas didirikannya Masjid Kobe tersebut. Rancangan Masjid Kobe diserahkan kepada Arsitek Jan Josef Svagr yang berasal dari Republik Czech. Pemilihan desain pun dilakukan dan Josef memutuskan untuk menggunakan arsitektur khas Turki Usmani, dengan ciri khas kubah yang besar dan menara yang menjulang tinggi dengan ujungnya yang lancip.

interior masjid kobe

Kontraktor yang disewa untuk pembangunan masjid ini adalah kontraktor asli jepang yaitu Takenaka Construction Company, dan pembangunan membutuhkan waktu 1 tahun lamanya. Tepatnya pada tanggal 02 Agustus 1935 masjid tersebut secara resmi dibuka oleh Ferozuddin, Ketua Komite Muslim pada saat itu, disaksikan ratusan jamaah muslim dari berbagai bangsa seperti India, Rusia, China, Turki, Jawa, Jepang, Mesir dan juga Afghanistan. Setelah menyampaikan sebuah sambutan singkat, Ferozuddin kemudian membuka pintu masjid dan langsung menuju menara disamping bangunan utama untuk mengumandangkan adzan sholat jum’at, karena pada saat peresmian dilakukan merupakan hari jum’at.

Pada saat itu, Islam bukanlah merupakan sebuah agama yang diakui secara resmi oleh pemerintah, karena itu akta kepemilikan Masjid Kobe tidak dapat dicantumkan nama sebuah masjid, namun dicantumkan secara personal. Akhirnya, Ferozuddin sebagai penyumbang terbesar mengambil tanggung jawab untuk mengurus seluruh akta kepemilikan masjid tersebut, meski masih diatasnamakan dirinya.

Keseluruhan biaya konstruksi masjid ini menghabiskan dana sekitar 118,000 yen, dan berasal dari berbagai sumbangan dari para pengusaha dan saudagar kaya India dan Timur Tengah. Lalu dilanjutkan ke pembangunan fasilitas gedung sekolah, pagar dan fasilitas lainnya yang menghabiskan dana 87,000 yen.