Masjid Kampung Keling Malaka – Malaysia

Masjid Kampung Keling Malaka – Malaysia

Pembangnan Masjid Kampung Keling dibangun tidak lama setelah Pembangunan Masjid Kampung Hulu Malaka yang sudah kita bahas pada artikel lainnya. Pembangunan kedua masjid tersebut dilakukan pada saat-saat penjajahan Belanda di Malaka. Pada awalnya, Masjid Kampung Keling ini merupakan sebuah masjid yang didirikan dengna dana swadaya masyarakat pada saat itu, dengan ukuran yang relatif kecil. Pada masa penjajahan Belanda di Malaka, pihak penjajah membebaskan seluruh umat beragama untuk membangun tempat peribadatannya. Namun, pada saat Belanda terusir oleh Penjajah Portugis, keseluruhan tempat ibada di Kampung Keling Malaka , Malaysia  termasuk bangunan Masjid Kampung Keling ini dihancurkan.

Masjid yang kita ketahui dan masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah hasil dari renovasi / pembangunan ulang dengan tetap memperhatikan seni bina bangunan asli yang dimiliki masjid ini. Bangunan masjid ini menganut arsitektur masjid di Jawa dan Sumatera, bahkan beberapa kayu yang dipakai untuk membangun masjid ini didatangkan langsung dari Kalimantan.

masjid kampung keling

Keramik serta beberapa ornamen yang menghiasi masjid ini didatangkan langsung dari negeri China. Kemudian, meskipun dinding dan beberapa tiang kayu sudah diganti, namun ada satu peninggalan yang sudah berumur sangat tua, yaitu 4 Soko guru yang masih bisa diselamatkan dan di dirikan kembali hingga saat ini.

Lokasi Masjid Kampung Keling terletak di Jln. Hang Lekiu / Jln. Tokong / Lorong Harmoni / Temple Street, Malaka, Malaysia. Di beberapa ruas jalan tersebut hampir keseluruhan agama yang ada di Malaka berkumpul menjadi satu tempat. Selain bangunan Masjid tentu saja kita bisa menemukan beberapa tempat ibadah agama lain seperti Kelenteng China Cheng Hoon Tseng, dan juga Kuil Hindu Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi. Memang beberapa umat beragama sengaja dikumpulkan menjadi satu, agar wilayah tersebut dapat menunjukkan kerukunan umat beragama yang terjaga dengan apik.

Arsitektur Masjid Kampung Keling Malaka – Malaysia

Masjid kampung keling yang sengaja dibangun setelah Masjid Kampung Hulu Malaka memiliki desain yang mirip dengan Masjid Kampung Hulu Malaka. Hal ini bisa dilihat dari adopsi arsitektur bangunannya yang mengadopsi tradisi Masjid Jawa dan Sumatera, dengan beranda di sekeliling atap bangunannya. Bangunan masjid ini dapat menampung hingga 600 jamaah sekaligus.

Ada yang unik dari masjid ini, yaitu adanya sebuah tempat berwudhu yang tidak seperti biasanya, tempat berwudhu tersebut menggunakan kolam langsung, dan tidak menggunakan keran seperti pada masjid-masjid lainnya.

Kemudian, ada juga bangunan menara yang sengaja dipisahkan dari bangunan utama dengan berbahan beton tanpa kayu. Menara tersebut tergolong sangat unik karena lebih mirip dengan Pagoda di China, ditambah dengan beberapa jendela lengkung bertelari besi.

interior masjid kampung kling

Sejarah Pembangunan Masjid Kampung Keling Malaka

Masjid Kampung Keling ini dibangun pertama kali pada tahun 1748, pada saat masa-masa penjajahan Belanda di Malaka. Jadi sampai saat ini, masjid ini sudah berumur hampir 3 abad lamanya, namun kekohonan bangunan aslinya masih banyak terjaga, meskipun sudah mengalami beberapa kali renovasi.

Renovasi yang pertama kali dilakukan pada tahun 1872 dengan merubahnya ke bangunan beton. Lalu renovasi kedua dilakukan pada tahun 1908 dengan meninggikan atap masjid, seperti yang dilakukan pada Masjid Kmapung Hulu Malaka. Keseluruhan biaya renovasi masjid hanya berasal dari swadaya masyarakat sekitar saja, tanpa ada campur tangan dari pemerintah. Karena memang sudah berumur hampir 300 tahun, tidak heran jika Masjid Kampung Keling juga menjadi salah satu masjid tertua yang ada di Malaka atau bahkan di Malaysia secara umum.

Masjid Kampung Hulu Malaka – Malaysia

Masjid Kampung Hulu Malaka – Malaysia

Sejarah berdirinya Malaka tidak bisa dipisahkan dengan Sejarah Negara kita Negara Republik Indonesia, karena pada saat yang sama negeri tetangga kita juga sedang berjuang melawan penjajahan Belanda dan Portugis pada saat yang sama dengan masa-masa perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Berbagai saksi bisu yang masih berdiri hingga sekarang juga dapat menunjukkan bahwa eksistensi perjuangan penyebaran islam dan kemerdekaan sama persis dengan yang terjadi di Indonesia. Masjid yang menjadi saksi bisu tersebut diantaranya adalah Masjid Kampung Hulu Malaka, Malaysia, yang akan kita bahas kali ini.

Masjid Kampung Hulu Malaka menjadi salah satu masjid tertua di negeri Malaysia dan sampai saat ini dijadikan salah satu bangunan warisan sejarah dan cagar budaya nasional oleh pemerintah Kerajaan Malaysia. Meskipun menjadi masjid tertua di Malaysia, namun majid ini masih menjalankan fungsinya sebagai tempat peribadatan dengan baik. Bahkan saat ini Masjid Kampung Hulu juga turut dijadikan objek wisata dan salah satu landmark Kota Malaka khususnya.

masjid kampung hulu malaka

Didalam areal Masjid Kampung Hulu Malaka terdapat sebuah makam keramat yang diyakini merupakan makam Sayyid Abdullah Al-Haddad, yakni seorang guru agama yang dianggap wali pada masa-masa itu. Umat non-muslim tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam masjid, namun masih boleh mengunjungi masjid ini hanya sekedar melihat dari luar saja.

Masjid Kampung Hulu Malaka berdiri di lokasi yang tidak pernah dipindahkan dari awal didirikan, yaitu berada di sebuah pusat kota mala yang terkenal dengan dominasi ruko-ruko milik keturunan warga China.

Arsitektural Masjid Kampung Hulu

Arsitektural bangunan Masjid Kampung Hulu dibangun dengan adopsi dari arsitektur Sumatera dan Jawa, dilengkapi dengan satu bangunan menara di bagian samping kiri masjid, dan terpisah jauh dengan bangunan utamanya. Atap bangunan masjid ini dibuat sedemikian rupa menyerupai bentuk piramida yang bersusun tiga, dengan 4 soko guru utama sebagai penopang utama, dan beberapa soko guru yang lebih kecil untuk menopang bagian atap lainnya.

Jika dilihat sekilas, memang Masjid Kampung Hulu ini sangat mirip dengan masjid yang ada di Sumatera dan di Pulau Jawa, jadi Orang Indonesia yang datang berkunjung pastinya tidak akan merasa asing dengan desain bangunannya.

Selain Budaya Sumatera dan Jawa, ternyata Budaya Bangunan Cina juga diadopsi, terlihat dari Ornamen dari puncak atap di Impor langsung dari Cina, keramik sebagai pelapis lantai juga didatangkan dari negara Cina, bahkan bentuk bangunan menaranya lebih mirip dengan bangunan Pagoda.

interior masjid kampung hulu malaka

Sejarah Masjid Kampung Hulu Malaka – Malaysia

Bangunan Masjid Kampung Hulu didirikan pertama kali pada tahun 1728 oleh Dato’ Samsudin Bin Arom, seorang Wakil dari Masyarakat Melayu pada saat masa-masa penjajahan Belanda di Malaka. Pada saat itu, kebebasan umat beragama masih sangat dihargai dan agama apapun diperbolehkan untuk mendirikan tempat ibadahnya. Namun, kebijakan pembebasan agama apapun tersebut ternyata hanya sebagai sebuah politik yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, agar simpatisme dari masyarakat pribumi bisa didapatkan oleh Belanda, setelah Portugis membumi hanguskan seluruh tempat ibadah yang ada di Malaysia, kecuali bangunan Gereja Katolik.

Kemudian, pada saat Portugis dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1640-an, kekuasaan Malaka pun beralih kepada Belanda. Pada masa penjajahan Belanda inilah agama Katolik dilarang, selain itu diperbolehkan.

Kemudian kolonial Belanda menunjuk Dato’ Syamsuddin bin Arom sebagai Kapitan, pimpinana masyarakat pada masa itu, untuk memimpin sebuah pembangunan masjid dan memimpin umat muslim di Malaka.

Masjid Gifu Jepang

Masjid Gifu Jepang

Negara Jepang yang dikenal dengan bunga sakura memiliki populasi penduduknya yang banyak. Disana juga sangat sibuk karena banyaknya industry serta tekhnologi yang semakin maju berasal dari Jepang. Tak hanya itu saja, di Jepang juga banyak sekali bangunan yang menjadi kebanggaan warga Jepang. Salah satunya dalah bangunan masjid yang merupakan tempat beribadah bagi umat muslim Jepang. Salah satunya adalah masjid Gifu masjid Gifu sendiri berada di kota Gifu dan di kota tersebut merupakan kota yang dihuni oleh muslim disana dan sangat banyak. Masjid Gifu sendiri adalah masjid pertama yang telah ada berdiri pertama kali di awasan Jepang Tengah.

Tak hanya difungsikan sebagia tempat beribadah, di dalam komplek masjid Gifu juga terdapat sebuah Pusat Budaya Muslim dan International Islamic School dan merupakan sekolah resmi di Jepang. Berada di tempat yang cukup strategis yaitu dekat dengan salah satu Universitas di Jepang tak lain Universitas Gifu, diharapkan keberadaan masjid tersebut dapat memfasilitasi kebutuhan masyarakat muslim sebagai tempat beribadah. Sehingga mereka dapat melaksanakannya secara khusyu’ dan juga nyaman. Serta dapat mewadahi bagi pendatang baru terutama mahasisa dari berbagai Negara lain yang melanjutkan pendidikannya di Jepang, salah satunya yaitu berasal dari Indonesia.

masjid gifu

Masjid Gifu juga memiliki sejarah sendiri dengan Indonesia dimana untuk pertama kalinya warga Indonesia terlibat secara langsung dalam proses pembangunan masjid Gifu. Mereka adalah mahasiswa dan juga alumni dari berbagai Universitas di Gifu, Osaka, Kyoto dan dari berbagai Universitas lainnya. Diketahui sekitar 10 ribu warga Jepang asli telah memeluk agama Islam yang didapatkan dari sebuah catatan Masjid Jami’ Tokyo. Saat ini jumlah warga muslim di Jepang telah mencapai angka 100 ribu juwa. Dengan adanya masjid Gifu diharapkan agar syiar ajaran islam terus berkembang di kawasan Jepang Tengah dan umumnya di Negara Jepang.

Pada proses pembangunan masjid Gifu telah menghabiskan dana sebesar 129 juta yen atau setara dengan 1.1 juta dolar AS. Masjid tersebut memiliki ukuran seluas 351 meter persegi ditambah dengan adanya sekolah internasional dan kebudayaan islam membuat masjid tersebut terkesan sangat lengkap karena ditunjang oleh berbagai fasilitas yang sangat memadai. Untuk pembangunan sekolah dan pusat budaya tersebut menghabiskan dana sebesar 135 juta yen.

Dibagian gedung utama masjid Gifu terdiri dari ruang shalat, ruang konsultasi dan juga perpustakaan yang menyediakan berbagai buku yang menarik dan informatif. Masjid tersebut terlihat sangat megah dan mewah lengkap dengan bangunan kubah yang berada di bagian atap masjid. Selain itu terdapat juga menara meskipun tidak terlalu tinggi. Kubah masjid tersebut dicat menggunakan warna putih sehingga terlihat elegan dan mewah sedangkan bagian luar masjid didominasi dengan warna krem. Setelah selesai dibangun, masjid Gifu terlihat sangat mencolok karena berada di tengah-tengah hamparan hijau sawah yang ada di sekelilingnya.

interior masjid gifu

Pada mulanya, peletakan batu pertama kali untuk masjid ini dilakukan pada tanggal 27 Oktober 2007 pada saat gerimis turun. Kemudian masjid tersebut dibangun dan rampung pada tanggal 30 Juni 2008 lalu diresmikan pada tanggal 27 Juli 2008 lalu. Ketika acara peresmian masjid Gifu dihadiri oleh beberapa tokoh penting serta undangan dari beberapa perwakilan Negara sahabat seperti Afghanistan, Irak, Iran, Qatar dan berbagai Negara lainnya. Seperti halnya masjid lainnya, masjid Gifu juga memiliki hiasan kaligrafi di bagian dalam masjid dan masjid ini menjadi sebuah kebanggan bagi warga muslim di Jepang.

Masjid Agung Damaskus – Syria

Masjid Agung Damaskus – Syria

Masjid Agung Damaskus yang juga lebih dikenal sebagai “Masjid Umayyah” merupakan masjid terbesar di dunia pada masanya, sekaligus menjadi salah satu masjid tertua yang pernah berdiri di bumi ini. Sultan Salahuddin Al-Ayubi atau Sultan Saladin yang sangat terkenal di berbagai cerita dimakamkan di areal masjid ini. Bahkan, konon masyarakat sekitar percaya bahwa salah satu makam yang berada di dalam masjid ini merupakan makam dari Nabi Yahya A.S, atau jika di kaum Nasrani dikenal sebagai John The Baptist atau Johanes Sang Pembabtis.

Masjid Agung Damaskus juga merupakan masjid pertama kali didunia ini yang memiliki teknologi jam, sebuah jam matahari buatan Ala Al-Din Abu Al-Hasan Ali Bin Ibrahim Ibnu Al-Shatir. Lokasi masjid ini berada di kawasan jantung kota Damaskus.

masjid damaskus

Sejarah Masjid Agung Damaskus

Kota Damaskus dipercaya masyarakat sekitar sebagai kota tertua yang terus berpenghuni sejak sebelum masehi. Masjid Agung Damaskus bahkan sudah berada di tempat yang dianggap suci tersebut selama lebih dari 3,000 tahun lamanya. Bahkan 1,000 tahun sebelum masehi, sebuah bangsa bernama Aram sudah membangun sebuah kuil pemujaan terhadap Dewa Badai dan Dewa Petir yang disebut dengan Hadad.

Kemudian, pada awal abad pertama masehi, Bangsa Romawi merebut kekuasaan atas tanah ini dan mendirikan sebuah kuil Temenus untuk pemujaan Dewa Jupiter di atas reruntuhan kuil bangsa Aram yang telah disebutkan sebelumnya. Kuil besar tersebut berbentuk persegi panjang dengan ukuran 385 x 305 meter dengan 4 menara yang diletakkan diseluruh penjurunya.  Beberapa bagian kecil dari tembok sejak awal abad pertama masehi masih dipertahankan  hingga kini, namun sebagian besar kuilnya sudah tidak tersisa.

Selanjuntyan, pada penghujung abad ke empat masehi, Kuil pemujaan Dewa Jupiter tersebut diruntuhkan dan dibangun sebuah gereja yang didedikasikan untuk Johanes Sang Pembabtis (Nabi Yahya A.S). Gereja tersebut dipercaya sebagai makam Johanes Sang Pembabtis, dan menjadikan tempat ziarah tersebut menjadi tempat yang penting di masa Bizantium.

masjid agung damaskus

Kemudian Masa Kekuasaan Islam sampai ke kota Damaskus pada tahun 14 Hijriyah atau 653 Masehi. Damaskus dikepung oleh ribuan umat muslim yang dipimpin beberapa pemimpin perang sekaligus yaitu Khalid Bin Walid dari Gerbang Timur, Amru Bin Ash dari Thomas Gate, Sharbabil dari Orchards Gate, Abu Ubaudah dari Water Through Gate dan Yazid bin Abi Sofyan dari Small Gate. Pengepungan dari keseluruhan pintu masuk Damaskus tersebut menghasilkan keberhasilan.

Kemudian pada saat kekuasaan Islam sudah berkuasa di Damaskus, Umat Islam dan Kristen (yang masih tersisa) bersepakat untuk membagi tempat ibadah yang sudah berdiri menjadi dua bagian. Separuh untuk Masjid dan Separuh untuk Gereja. Mereka semua beribadah secara bersama-sama disatu tempat, namun utuk dua agama sekaligus. Peribadatan hanya dipisahkan dengan dinding pemisah, sementara umat islam mengumandangkan adzan, umat kristen membunyikan lonceng, kegiatan tersebut berlangsung hingga 79 tahun lamanya.

interior masjid damaskus

Suatu saat Khalifah Al Walid bin Abdul Malik menganggap perlu untuk membangun masjid yang megah untuk keperluan umat muslim yang sudah membludak pada saat itu. Akhirnya bangunan yang saat itu di gunakan umat islam dan kristen secara bersama-sama dibangun ulang menjadi masjid, sedangkan umat kristen diizinkan untuk membangun gereja di Bab Touma (Thomas Gate) dan sekitarnya. Pembangunan memerlukan waktu hingga 10 tahun, dan akhirnya berdirilah sebah Masjid Agung Damaskus yang sangat besar dan megah dengan ukuran 150 x 100 meter.

Masjid Agung Damaskus sudah mengalami beberapa kali renovasi yang terjadi pada tahun 1069, 1401, dan yang terakhir pada tahun 1893 dengan bentuk bangunan yang masih bisa kita lihat kokoh sampai saat ini.

Masjid Agung Coquimbo – Chile

Masjid Agung Coquimbo – Chile

Nama Coquimbo pastilah sangat asing bagi pengengaran orang Indonesia pada umumnya, karena memang jarang sekali dijelaskan di pelajaran sekolah maupun jarang di singgung di media sosial. Coquimbo merupakan kota di negara Chile, Chile sendiri merupakan negara yang umat muslimnya hanya minoritas, dan mayoritas penduduknya beragama katolik.

Dari data statistik yang tersedia menunjukkan bahwa umat muslim di Chile hanya sekitar 4.000 orang saja, atau kurang dari 1% dari total penduduknya. Meskipun hanya kurang dari 1%, namun jumlah tersebut tidak lantas menyurutkan semangat umat muslim disana, bahkan mereka justru membuat beberapa komunitas muslim sepeti Sociedad Musulmana de Chile (Komunitas Muslim Chile). Beberapa masjid pun turut dibangun seperti Chile Mezquita As-Salam, Mezquita Bilal, dan Masjid Agung Coquimbo yang akan kita bahas kali ini.

Masjid Agung Coquimbo atau biasa dikenal dengan “The Mohammed VI Center for Dialogue of Civilizations”, terletak di Coquimbo, Chile. Ada yang unik dari pendirian masjid ini, yaitu pembangunan masjid ini bukan berasal dari gagasan orang islam, maupun komunitas muslim disana, namun berasal dari para pemeluk agama Katolik yang ingin membangun sebuah monumental representasi dari 3 agama samawi : Yahudi, Kristn dan Islam, kemudian dijadikan sebagai simbol Kota Coquimbo.

masjid agung coquimbo

Masjid Agung Coquimbo memang sengaja dibangun di atas bukit, agar sebuah landmar kota Coquimbo tersebut dapat di lihat dari kejauhan. Bahkan kita bisa melihanya dari seluruh pejuru kota Coquimbo. Tempat berdirinya Masjid Agung Coquimbo di sebuah puncak bukil Villa Dominant. Untuk mencapai bukit tersebut, pengunjung harus menempuh Jln. Videla Avenue yang terbuhung dengan Ruta Panamarecana La Serena.

Arsitektural Masjid Agung Coquimbo – Chile

Masjid Agung Coquimbo memang sengaja dibangun di atas puncak bukit Villa Dominant, dengan satu menara setinggi 40 meter yang meniru desain dari menara Masjid Koutoubia, Marrakech, Maroko. Menara tersebut didesain sedemikian rupa mengadopsi budaya Moor (Maroko), dengan denah segi empat dengan puncak yang lancip. Pembangunan masjid ini melibatkan berbagai arsitek mulai dari arsitek arab, hingga pimpinan arsitek, Faissal Cherradi yang berasal dari Marokok.

Keseluruhan luas bangunan masjid ini mencapai 722 meter persegi. Terdiri dari dua ruang sholat utama, perpustakaan, dan museum. Perpustakaan dan Museum tersebut selalu terbuka untuk umum, artinya umat  non-muslim pun juga diizinkan untuk berkunjung ke perpustakaan maupun museum, dan tidak diperbolehkan mengunjungi ruang sholat. Namun, syarat yang harus dilakukan adalah menutup aurat mereka.

interior masjid agung coquimbo

Sejarah Masjid Agung Coquimbo – Chile

Pendirian Masjid Agung Coquimbo merupakan sebuah gagasan yang dibuat oleh Pedro Velasquez, Walikota Coquimbo pada saat itu. Ia sangat antusias untuk membuat 3 landmark kota Coquimbo yang akan mewakili tiga agama yang bertempat disana yaitu Islam, Kristen dan Yahudi.

Masjid Agung Coquimbo didirikan setinggi 36 meter, dan sekaligus menjadi sebuah landmark baru bagi kota Coquimbo. Bangunannya menjadi landmark kedua yang selesai dibangun setelah Gereja Katholik Cross of The Third Millennium yang sudah selesai dibangun. Barulah landmark ketiga berupa bangunan Sinagog Yahudi akan dibangun.

Rencana yang digagas oleh Pedro Velazquest ini sudah muncul sejak tahun 2004 lalu, namun pembangunannya membutuhkan waktu yang relatif lama, selesai dan diresmikan pada tanggal 14 Maret 2007 pada era masa pemerintahan selanjutnya yang dipimpin oleh Walikota Oscar Preira.

Upacara peresmian ketiga landmark kota Coquimbo tersebut dilakukan di kaki bukit The Village Parent. Bahkan berbagai ragam acara turut diadakan pada saat peresmian tersebut, seperti seremonial, pengibaran bendera Chile, sambutan dari para pejabat penting, dan lain sebagainya.

Masjid Sultan Riau – Pulau Penyengat

Masjid Sultan Riau – Pulau Penyengat

Masjid Sultan Riau atau juga lebih terkenal dengan nama “Masjid Pulau Penyengat” ini merupakan salah satu bangunan peninggalan dari masa kejayaan kesultanan Riau di Pulau Penyengat. Hingga saat ini bangunan yang memiliki sejarah tingi tersebut masih terawat dengan sangat baik.

Masjid ini kadang-kadang disebut dengan “Masjid Putih Telur”, karena memang bahan yang digunakan untuk membangun masjid ini pada awalnya didominasi oleh putih telur sebagai perekatnya.

masjid sultan riau

Jika kita ingin berkunjung ke Masjid Sultan Riau, kita bisa mencapainya menggunakan perahu motor dari Dermaga Sri Bintan Indrapura Kota Tanjung Pinang, ke kawasan Cagar Budaya Pulau Penyengat. Karena letaknya berada di tepi laut, tidak heran jika kedua wisata religius dan keindahan alam dapat sekaligus di nikmati jika berkunjung ke Masjid Sultan Riau ini.

Sejarah Masjid Sultan Riau – Pulau Penyengat

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat ini memang sangat terkenal dengan sebutan Masjid Putih Telur, karena memang pada proses pembangunan masjid ini, banyak sekali putih telur yang dijadikan campuran khusus untuk bahan material bangunannya. Hal ini terjadi karena pasokan telur yang ada di Pulau Penyengat tersebut sangat membludak, sehingga banyak telur yang tidak dikonsumsi dijadikan sebagai campuran material bangunan dengan harapan agar bangunan yang dihasilkan lebih kokoh dna tahan lama.

masjid sultan riau.

Pada awalnya, Pulau Penyengat merupakan sebuah Mahar untuk pernikahan antara Raja Mahmudsyah dan Engku Putri pada tahun 1805. Kemudian pada saat itu sudah berdiri sebuah surau yang kemudian di bangun ulang oleh Sultan Mahmudsyah menjadi sebuah masjid yang dapat kita lihat hingga saat ini.

Masjid ini kemudian mengalami sebuah renovasi dan perluasan besar-besaran yang terjadi pada tahun 1832 Masehi, atas perintah dari Abdurrahman Muazham Shah , penguasa Riau yang menggantikan Raja Ja’far. Konon pada saat raja memerintahkan masyarakat untuk bergotong royong membangun masjid ini,banyak sekali yang membawa perbekalan termasuk makanan berupa telur. Namun, saking banyaknya telur yang tidak habis dimakan, akhirnya para pekerja memasukkan banyak putih telur untuk dijadikan campuran adukan bangunan tersebut.

Bahkan, sejak dilakukan renovasi besar-besaran pada tahun 1832, dengan pembangunan berupa beton di hampir keseluruhan bangunannya, tidak pernah terjadi lagi sebuah renovasi hingga kini. Artinya, umur bangunan yang saat ini masih berdiri kokoh sudah hampir 200 tahun lamanya tanpa ada renovasi sedikitpun.

masjid sultan riau

Selain bangunannya yang masih asli dan indah, serta terbukti bahwa pencampuran putih telur untuk bangunannya membuat keseluruhan bangunan menjadi awet, ada keunikan lain yang dimiliki masjid ini, yaitu memiliki dua mushaf Al-Qur’an tulisan tangan yang sudah berumur lebih dari 150 tahun. Mushaf tersebut merupakan mushaf yang ditulis oleh Abdurrahman Stambul, salah satu Putera Riau Pulau Penyengat yang ditulis pada tahun 1867.

Lalu, ada 1 mushaf tulisan tangan yang lebih tua lagi yaitu mushaf tulisan Abdullah Al Bugisi yang dibuat pada tahun 1752. Namun, mushaf yang satu ini tidak terlalu sering dipamerkan ke publik, karena usia yang sudah sangat tua, serta kertas yang digunakan sudah banyak yang rapuh.

Arsitektur Masjid Sultan Riau – Pulau Penyengat

Pada bangunan masjid ini terdapat sekitar 13 kubah bentuk bawang yang susunannya bervariasi. Empat pilar berupa beton juga turut ditambahkan di ruang utama sholat sebagai penyangga atap.  Dibangun pula 4 menara yang diletakkan di ke-empat penjuru masjid yang masing-masing memiliki ketinggian hingga 19 meter.

interior masjid sultan riau

Masjid yang saat ini menjadi satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga ini memiliki ukuran keseluruhan bangunan 54 x 32 meter, sedangkan ukuran ruang utama untuk sholat sebesar 29,3 x 19,5 meter.

Keunikan desain masjid ini adalah arsitekturnya sangat kental dengan bangunan dari India, karena memang para pekerja bangunannya merupakan warga india yang berada di Singapura. Di komplek masjid ini terdapat komplek  pemakaman yang sudah berusia tua, dan juga dibangun 2 rumah Sotoh, yang dapat digunakan oleh musafir untuk beristirahat sejenak.

Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd – Buenos Aires Argentina

Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd – Buenos Aires Argentina

Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd atau jika dalam bahasa Argentina disebut dengan “Centro de Estudios Islamicos King Fahd”, terletak di Boenos Aires, Argentina. Masjid ini bahkan masih menghadirkan sedikit nuansa Timur Tengah dibeberapa seni bina bangunannya, sekaligus menjadi salah satu pusat Islam terbesar yang berada di Kawasan Argentina.

Masjid ini didirikan dengan denah segi empat dipadukan dengan nuansa yang terlihat modern, dan juga dibangun dua menara yang tinggi menjulang, membuat bangunan masjid ini sangat berbeda dibandingkan dengan berbagai gedung apartemen dan perkantoran yang berada di sekitarnya.

Sejarah Masjid Pusat Kebudayaan Raja Fahd

masjid raja fahd

Sejarah pembangunan Masjid Pusat Kebudayaan Raja Fahd ini tidak bisa lepas dari peran penting Presiden Argentina kala itu, Carlos Menem. Tepatnya pada tahun 1995, Carlos Menem, menghadiahkan sebuah lahan seluas 34,000 meter persegi milik pemerintah kota Boenos Aires di Kawasan Palermo kepada kaum muslimin disana. kemudian lahan tersebut digunakan untuk pembangunan Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd ini.

Pembangunan Masjid Kebudayaan Islam Raja Fahd dimulai pada tahun 1998, dan dirancang sepenuhnya oleh Zuhair Faiz, seorang arsitek dari Saudi Arabia. Pembangunan masjid ini merupakan salah satu betuk kerjasama yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Boenos Aires dengan Pemerintah Saudi Arabia, dan menghabiskan dana lebih dari $20 juta.

Bangunan Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd ini selesai dan diresmikan pada tanggal 25 September 2000 oleh Ferdinando de la Rua, Presiden Argentina pada kala itu, dan juga Abdullah Bin Abdul Aziz Al-Saud, Putra Mahkota Saudi Arabia bersama dengan 250 orang rombongannya yang terdiri dari keluarga dan kabinet kerajaan.

Sumbangan yang dilakukan oleh Carlos Menem pada kala itu bahkan sempat menuai kontroversi yang besar. Bahkan dari pihak senator juga ikut menentang keras tentang pemberian tanah kepada umat muslim yang memang menjadi minoritas disana. Namun, akhirnya dengan keteguhan hati dan juga berbagai usaha yang dilakukan Carlos Menem, akhirnya persetujuan pemberian tanah dan pembangunan masjid ini bisa dilakukan.

Arsitektural Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd

interior masjid raja fahd

Pembangunan Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd dilakukan dengan sangat megah, bahkan seluruh lantainya di lapisi dengan marmr yang mengkilap. Lalu, ada beberapa hiasan kolam air pancur yang sengaja dibuat didalam kawasan masjid ini untuk memperindah dan menyejukkan suasana masjid.

Selain bangunan utama yang digunakan sebagai tempat sholat, berbagai fasilitas lain juga ikut dibangun yaitu sebuah gedung perpustakaan, dua buah sekolah untuk penyelenggaraan Sekolah Islam untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Lalu, dibangun pula sebuah asrama pesantren yang cukup untuk menampung hingga 50 santri. Ruang utama sholat pada masjid ini dapat menampung hingga 1,200 jamaah laki-laki dan 400 jamaah wanita sekaligus.

Aktivitas Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd

Selain hanya berfungsi sebagai masjid tempat sholat, bangunan Masjid Pusat Kebudayaan Islam ini juga menjadi tempat diselenggarakannya kegiatan belajar Al-Qur’an dan Bahasa Arab. Perpustakaan yang terletak di kawasan masjid tersebut juga terbuka setiap hari untuk umum, artinya bukan hanya orang islam saja yang dapat mengunjunginya, akan tetapi warga non-muslim sekitar juga diperbolehkan untuk berkunjung.

Masjid ini terbuka untuk umum setiap harinya, dan hanya ditutup untuk umum pada saat perayaan 2 hari raya islam. Pengurus masjid juga bekerja sama dengan Organisasi Dunia Islam untuk menyelenggarakan jenjang pendidikan setingkat SD dan SMP untuk masyarakat sekitar, tanpa memandang agama apa yang mereka peluk.

Masjid Jami’ Zakariyya – Bolton  Inggris

Masjid Jami’ Zakariyya – Bolton Inggris

Masjid Jami’ Zakariyya atau bisa dikenal dengan bahasa sekitar “Zakariyya Jame Masjid” adalah Masjid Sentral di Bolton, Great Britain / Britain Raya. Masjid ini merupakan salah satu dari banyak masjid di Inggris Raya yang dibangun diatas bangunan bekas Gereja yang sudah tidak dipakai. Masjid Jami’ Zakariyya atau juga dikenal dengan Masjid Jami’ Bolton ini dibangun dari bekas “Gereja Methodist” yang sudah mengalami kerusakan parah akibat terbakar. Lalu, bangunan tersebut tidak di bangun kembali dan dijual ke Umat Muslim yang ada di Bolton yang memang sedang membutuhkan tempat untuk beribadah yang layak dan resmi, apalagi pada saat itu bangunan yang digunakan oleh umat muslim di Bolton masih merupakan gedung sewa dan sudah tidak mampu menampung jamaah lagi.

masjid jami zakariyya

Sejarah Pembangunan Masjid Zakariyya Bolton

Pada sekitar tahun 1965 – 1967, jamaah sholat fardhu dan sholat jum’at sudah semakin membengkak dan bangunan yang lama sudah tidak mampu menampung jamaah lagi. Lalu mereka pun menyewa gedung yang berada di depan Loyds Bank yang berada di pusat kota untuk melaksanakan Sholat Jum’at. Tempat yang disewa tersebut sebelmnya merupakan klab malam / bar yang memang disewa dan dijadikan untuk sholat jum’at berjamaah.

Umat muslim di Bolton dan disekitar Blackburn kemudian mulai bergabung pada sholat jum’at berjama’ah tersebut. Semakin waktu berlanjut, jamaah yang datang semakin banyak dan mengharuskan perpindahan ke tempat yang lebih luas. Lalu, Umat muslim Bolton dan Blackburn sepakat untuk mencari sebuah bangunan yang bisa dijadikan masjid dan pusat komunitas muslim pada tahun 1967.

Pada tahun 1967, Dewan Kota memberikan berbagai tekanan kepada komite umat muslim setempat agar tempat peribadatan mereka segera ditutup. Hal ini disebabkan meluapnya jamaah yang hadir dan juga tempat tersebut memang identik dengan kemaksiatan dan tidak cocok untuk dijadikan tempat ibadah umat muslim.

masjid jami zakariyya.

Kemudian umat muslim Bolton mengajukan sebuah permohonan kepada pemerintah kota untuk mencarikan tempat yang lebih besar untuk dijadikan tempat ibadah mereka.  Namun, beberapa lokasi yang ditawarkan dinilai tidak sesuai dengan keperluan masjid. Pada saat kebuntuan tersebut terjajdi, akhirnya muncul solusi pembelian bangunan Gereja dan Sekolah Methodist di Peace Street, yang memang terpaksa di jual akibat mengalami kerusakan yang parah pada saat bencana kebakaran menimpa bangunan tersebut.

Harga yang ditawarkan untuk pertama kali adalah 2,500 Poundsterling ditambah dengan pajak bangunan 250 Poundsterling. Dana yang digunakan untuk membeli bangunan tersebut murni dari swadaya masyarakat setempat, kemudian dibangun ulang menjadi sebuah Masjid yang saat ini dikenal dengan “Masjid Zakariyya”.

interior masjid jami zakariyya

Pembangunan masjid ini menghabiskan dana 3 juta Poundsterling, dana yang sangat besar tersebut murni merupakan donasi dari keseluruhan umat muslim yang ada di Bolton dan sekitarnya. Bangunan masjid ini dapat menampung hingga 3,000 jamaah.

Selain digunakan sebagai tempat peribadatan umat muslim, Masjid Bolton turut menjadi fasilitator kebutuhan masyarakat serta pendidikan untuk anak-anak dan remaja di Bolton dan sekitarnya. Selain itu, aktifitas lainnya pun juga difasilitasi oleh masjid seperti pengurusan kelahiran, pernikahan hingga ke pemakaman.

Seperti masjid lain yang berada di negara non-muslim, Masjid Jami’ Zakariyya ini juga terbuka untuk umum. Artinya, tidak hanya umat muslim saja yang diperbolehkan mengunjungi masjid ini, namun umat non-muslim juga diperbolehkan untuk mengunjungi masjid ini sebagai sarana wisata maupun sarana pengetahuan.

Masjid Cipari – Garut Jawa Barat

Masjid Cipari – Garut Jawa Barat

Masjid Cipari atau yang lebih dikenal dengan “Masjdi Al-Syura merupakan salah satu masjid tertua yang berada di daerah Garut, Jawa Barat. Masjid yang terletak di sebuah pesantren tersebut tidak mirip sama sekali dengan bangunan masjid pada umumnya, dan justru lebih mirip dengan bangunan gereja, dengan denah persegi panjang, dan  didirikan menara persis diatas pintu utama. Karena sudah memiliki usia yang sangat tua, tidak heran jika masjid ini menjadi salah satu masjid yang digunakan untuk basis perjuangan rakyat pada masa penjajahan belanda kala itu.

Masjid Al-Syura ini merupakan satu dari dua masjid yang bangunannya lebih mirip dengan bangunan gereja. selain masjid ini, masjid Somobito Mojokerto, Jawa Timur juga memiliki desain seperti gereja. Masjid Cipari terletak di kawasan pondok pesantren Cipari. Tepatnya di Desa Sukarasa, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

masjid cipari

Sejarah Berdirinya Masjid Cipari

Masjdi Cipari atau Al-Syura ini diperkirakan dibangun pada tahun 1895 oleh Pendiri Pondok Pesantren Cipari, KH. Zaenal Abidin, atau lebih dikenal dengan julukannya “Eyang Bungsu”. Masjid yang sudah berumur lebih dari 1 abad ini berdiri didalam lingkungan Pondok Pesantren Cipari, dan tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya tanpa perubahan sedikitpun.

Dana Pembangunan masjid ini menurut cerita tutur masyarakat setempat berasal dari gotong royong keluarga pesantren, sumbangan santri dan juga masyarakat sekitar pesantren. Pada awalnya masjid dan pondok pesantren ini dibangun dan dipimpin oleh KH. Zaenal Abidin, kemudian setelah beliau meninggal kepemimpinan beralih ke KH. Harmaen.

Kemudian pada tahun 1933 KH. Harmaen meninggal kemudian kepemimpinan dilanjutkan oleh putra-putri beliau yaitu H. Abdul Kudus, KH. Yusuf Tauziri dan Hj. Siti Quraisyin. Saat pada masa kepemimpinan KH. Yusuf Tauziri, bangunan masjid ini di bangun dan diperluas seiring dengan kemajuan pesat pada pesantren Cipari terssebut. Bentuk bangunan yang dibangun oleh KH. Yusuf Tauziri inilah yang kita lihat sampai saat ini, bangunan mirip dengan gereja yang selesai dibangun pada tahun 1935, dengan luas bangunan 75 x 30 meter.

Perancang bangunan masjid ini adalah R.M Abikusno Tjokrosuyoso, keponakan dari H.O.S Tjokroaminoto. Beliau kemudian memadukan seni bina bangunan antara seni budaya Jawa dengan Eropa. Masjid ini selesai dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1936 oleh H.O.S Tjokroaminoto, dan langsung menjadi pusat kegiatan muslim sekitar, dan juga pertemuan tokoh Syarikat Islam (SI) dan juga tokoh nasionalis pergerakan nasional belanda.

Peran Masjid Cipari didalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia

Masjid dan Pesantren Cipari ini memiliki peran didalam pergerakan kemerdekaan indonesia. Para santri yang belajar di Cipari selain belajar ilmu agama juga dididik untuk menjadi seorang pejuang kemerdekaan. Pesantren ini juga menjadi salah satu pesantren yang melahirkan pejuang kemerdekaan Indonesia.

interior masjid cipari

Bahkan, Pesantren dan Masjid ini pernah menjadi tempat pengungsian rakyat sekitar pada saat perang kemerdekaan berlangsung. Bahkan, keajaiban pun pernah terjadi pada saat pesantren dan pasukan DI / TII menyerbu ke masjid ini sebanyak 52 kali tanpa ada 1 pun yang sukses.

Arsitektural Masjid Cipari

Masjid Cipari atau Al-Syura ini menjadi salah satu masjid kolonial Belanda yang memiliki ciri khas bangunan eropa dengan perpaduan bangunan Jawa. Bahkan bangunan ini menjadi sangat mirip dengan gereja dengan bangunannya yang berbentuk persegi panjang, serta keberadaan menaranya yang diletakkan persis diatas pintu utama, persis seperti pada gereja Eropa.

Ciri khas lainnya yang tidak bakal anda temui pada masjid tua lainnya adalah Langgam Art Deco yang bisa dilihat pada Fasad Masjid. Pola-pola dekorasi unik tersebut hanya bisa ditemukan pada Masjid Cipari Garut Jawa Barat.

Masjid Babul Islam, Tacna Peru

Masjid Babul Islam, Tacna Peru

Peru merupakan salah satu Negara dari Amerika Selatan yang beribukota di Kota Lima. Tacna sendiri adalah sebuah kota yang berada di perbatasan dengan Negara Chile secara langsung. Meskipun muslim disana disebhut sebagai kaum minoritas, namun perkembangan islam di Peru lumayan pesat terlihat dari berbagai bangunan masjid yang berdiri di berbagai tempat. Karena saking minoritasnya, bahkan jumlah muslim disana hanya berada dalam presentase dibawah satu persen. Tetapi meskipun demikian, muslim di Peru merasa nyaman karena terdapat dukungan dari Pemerintah Peru yang bebas dalam beragama serta haknya dijamin oleh mereka. Pemerintah Peru juga memberikan kebebasan untuk para muslim mendirikan bangunan tempat beribadah. Selain itu, Pemerintah Peru juga memiliki toleransi tinggi dalam bidang pendidikan karena bagi para siswa muslim yang sekolah di non-muslim, mereka diberikan kesempatan untuk menyusun program pembelajaran agama yang disesuaikan dengan agama mereka masing-masing terutama agama islam.

Muslim di Peru pun terbagi menjadi beberapa komunitas diantaranya yaitu pendatang baru dari Palestina, Syiria, Lebanon dan Pakistan. Tak hanya itu saja, suku Indian Peru juga tertarik dengan ajaran islam serta mereka ikut mempelajari tentang agama islam. Bahkan di pinggiran kota Lima sudah terdapat sebuah komunitas muslim yang merupakan penduduk asli sana.

masjid babul islam

Karena umat muslim di Peru semakin bertambah, maka tak heran disana juga dibangun masjid untuk melaksanakan ibadah. Masjid tersebut adalah masjid Babul Islam yang juga mrupakan masjid pertama dibangun di Peru. Bangunan masjid tersebut terlihat cukup megah dengan kubah dan menaranya yang menonjol sehingga menjadikan landmark bagi kota Tacna.

Dimulai dari 25 orang pebisnis dari Pakistan yang mulai hijrah pada tahun 1995 yang merupakan pebisnis mobil bekas pakai dari Jepang. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, muslim di Peru semakin bertambah dengan berbagai imigran yang datang kesana, terutama di kota Tacna. Bangunan masjid Babul Islam sendiri berdiri di tengah ladang pertanian yang tak lepas dari peran seorang Sher Afzal Khan Barikoti. Beliau juga telah membangun sekolah formal islam bernama Shah Wali Ullah yang berada di area masjid Babul Islam. Namun sekarang masjid Babul Islam sudah berada di tengah pusat keramaian kota Tacna dan pemeluk islam disana saat ini telah mencapai 350 jiwa. Hingga sekarang juga masjid tersebut merupakan sebagai pusat penyebaran dakwah islam di Peru.

interior masjid babul islam

Meskipun pada awalnya berdiri di pertengan ladang pertanian, namun sekarang masjid Babul Islam telah berubah di suatu tempat yang cukup strategis. Sehingga masjid tersebut selalu ramai dikunjungi oleh para muslim. Masjid Babul Islam sangat menonjol dengan beberapa kubahnya terutama kubah utama yang ukurannya paling besar. Ditambah dengan menara yang berada disebelah masjid menjadikan bangunan tersebut terlihat megah diantara beberapa bangunan lainnya yang berada di sekeliling wilayah tersebut. Dinding masjid yang bernuansa cat putih menjadikan masjid tersebut terlihat lebih elegan dan mewah. Masjid Babul Islam juga memiliki sebuah halaman yang cukup luas ditambah dengan berbagai kaca masjid. Keramik disana pun disesuaikan dengan warna dinding masjid sehingga para jamaah akan merasa lebih nyaman ketika melaksankan ibadah.

Kesederhanaan serta kepedulian umat muslim di Peru sangat tinggi karena mereka sangat membantu terhadap kaum miskin dan kurang mampu di Peru. Tanpa melihat perbedaan dari latar belakang, mereka selalu memberikan perhatian yang lebih kepada kaum yang kurang mampu disana. Sehingga tak heran umat muslim disana sangat dihargai dan dihormati oleh masyarakat sekitar.