Masjid Ortakoy Istanbul

Masjid Ortakoy merupakan salah satu masjid tua yang berada di Kota Instanbul, sekaligus sebagai simbol sejarah penyebaran islam disana. Masjid Ortakoy secara resmi memiliki nama “Buyuk Mecidiye Camii” atau yang berarti Masjid Agung Kekaisaran Sultan Abdulecit. Namun kemudian lebih dikenal dengan nama masjid Ortakoy, karena lokasinya yang berdekatan dengan pelataran Dermaga Ortakoy.  Dalam bahasa turki Masjid Ortakoy disebut dengan “Ortakoy Camii” yang berlokasi dalam wilayah Besiktas, Kota Instanbul, Turki.

Masjid Ortakoy Istanbul

Lokasinya tepat persis ditepian selat Bosporus yang memiliki pemandangan yang menawan. Karena itu, sampai sekarang Masjid Ortakoy di kenal dengan masjid yang menjadi kawasan favorit wisatawan lokal mancanegara sebagai objek wisata religius sekaligus memiliki pemandangan yang sangat indah.

Masjid Ortakoy juga merupakan peninggalan Emperium Usmaniyah Turki pada masa kejayaannya, dan menjadi masjid paling terkenal di Istanbul pada masanya.

Masjid dengan pemandangan yang indah ini sering disebut-sebut dengan “Masjid Romantis” karena warna yang menghiasi temboknya adalah warna Pink atau Merah Muda. Apalagi masjid ini terletak dilokasi tepian selat Bosporus serta lanskap tempatnya menyuguhkan keindahan menakjubkan berlatar belakang wilayah Bosporus yang sampai saat ini menjadi penghubung wilayah Turki dengan Eropa dan Asia.

Kemudian, masjid ini juga berada pada pusat keramaian wisatawan Istanbul, dilengkapi dengan kedai teh dan kopi khas Turki yang bertebaran pada wilaya tersebut. Tidak heran jika setiap hari masjid ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan muslim maupun non-muslim yang ingin menikmati pemandangan pada saat minum kopi. Selain kedai teh dan kopi, terdapat pula rumah makan serta Galeri seni yang bisa digunakan untuk beristirahat sambil mempelajari seni yang berada didaerah turki.

Walaupun sedikit kontradiktif, karena ada beberapa bar dan tempat klub malam yang ada, masih dirasa maklum karena Istanbul merupakan kota metropolitan serta menganut sistem politik sekuler.

Sedangkan untuk lokasi masjid tempat berdiri, terdapat sejarah bahwa seharusnya masjid yang berdiri di tempat ini adalah masjid “Vizier Ibrahim Pasha” yang dibangun pada tahun 1721, hanya saja bangunan masjid tersebut telah hancur tanpa bersisa pada saat kerusuhan Patrona Halil berlangsung.

Sementara itu, masjid yang kini berdiri adalah hasil dari jerih payah Mahmut Aga atas perintah dari Sultan Abdulmecid. Peletakan batu pertama masjid dilakukan pada tahun 1853 kemudian mulai dibangun antara tahun 1854 sampai 1856 diatas reruntuhan Cantemir Palace atau istana Cantemir.

Rancangan masjid Ortakoy dibuat oleh arsitek yang berasal dari Armenia, Garabet Balyan beserta anaknya Nigogayos Balyan yang sekaligus menjadi perancang Istana dan masjid Dolmabahce yang ada tidak ajuh dari lokasi masjid ini. Dua Arsitek asli Armenia tersebut merancang masjid Ortakoy sedemikian rupa dengan gaya Neo-Baroque super elegan.

Sebagai masjid kesultanan, masjid Ortakoy dibangun dengan fasilitas area Harem serta Kantor Kesultanan berupa gedung berlantai dua dengan denah “U” pada sisi barat laut yang menyatu dengan bangunan utama masjid. Sedangkan ruangan masjid utama berdenah segi empat, dan berada dibawah kubah utama masjid.

interior Masjid Ortakoy Istanbul

Interior dan ornamen masjid sangat kental dengan beragam ukiran Neo Baroque dengan warna Pink yang dominan membuat area sekitar masjid ini terasa begitu romantis, pada akhirnya masjid ini mendapatkan julukan sebagai “Masjid Romantis” dari berbagai kalangan wisatawan.

Sedangkan untuk Fasad, masjid ini memiliki beberapa bagian yang dilengkapi dengan pilar-pilar besar untuk memberikan celah guna menempatkan serangkaian ukiran serta relief-relief pada dinding bagian luar masjid. Bangunannya yang tinggi juga memungkinkan penempatan jejeran dua susun jendela kaca besar, agar cahaya alami dapat masuk menerangi masjid.

Masjid Nahkoda Kalkuta – India

Masjid Nahkoda Kalkuta – India

Masjid Nahkoda merupakan salah satu masjid tua yang terletak di Kota Kalkuta, Negara India. Meskipun berumur tua, namun keindahan masjid ini masih sangat terjaga. Sesuai dengan namanya, masjid ini dibangun oleh Abdur Rahim Osman, yaitu seorang pengusaha perkapalan dan pengiriman barang antar benua pada abad ke-20 silam. Pembangunan masjid ini dimulai pada tanggal 11 September 1926 dan menghabiskan dana sebesar 1,5 juta Rupee.

Masjid Nahkoda Kalkuta

Abdur Rahim Osman pada saat itu selain menjadi pengusaha, ia juga merupakan pimpinan sekelompok kecil jamaah muslim Sunni dari Kutch yang menetap di Kalkuta. Kutch sendiri merupakan nama sebuah distrik di negara bagian Gujarat, India barat yang berbatasan langsung dengan negara Pakistan.

Sejak dibangun, masjid Nahkoda merupakan masjid terbesar di Kota Kalkuta. Ukuran masjid yang besar membuatnya mampu menampung 10.000 jamaah shalat secara bersamaan. Lokasinya berada di pusat kota tepatnya di ruas jalan Jacquaria, berdekatan dengan pertigaan antara Chitpore Road dan Mahatma Gandhi Road. Karena merupakan masjid terbesar di Kalkuta sampai sekarang, masjid ini masih terus dipenuhi oleh para jamaah maupun wisatawan yang ingin melihat desain serta keindahan masjid.

Arsitektur masjid ini bisa dibilang cukup menarik karena, bangunannya terdiri dari empat lantai yang sbeagai besar dari lantainya menghadap ke jalan raya, dan dipergunakan sebagai pertokoan. Kemudian lantai diatasnya barulah difungsikan sebagai masjid. Di Indonesia juga memiliki masjid seperti ini, yang merangkap sebagai tempat orang mencari nafkah yaitu “Masjid Kota” di kota kecamatan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, kalimantan Tengah. Masjid Kota tersebut memiliki nama asli Masjid “Al-mubarokah” Sampit.

tampak dalam Masjid Nahkoda Kalkuta

Hampir secara keseluruhan bangunan masjid Nahkoda ini dirancang sedemikian rupa, mengadopsi bagunan “Maosoleum Kaisar Akbar” atau Makam Kaisar Akbar, yaitu salah satu kaisar paling terkenal pada saat Kekaisaran Islam Mughal menguasai hampir seluruh wilayah India saat ini. Kemasyhuran Kaisar Mughal ini telah di adopsi oleh beberapa film Bolywood dan sempat booming di negara Indonesia.

Kaisar Akbar memiliki nama asli “Abu’l-Fath Jalaludin Muhammad Akbar I” atau lebih dikenal dengan “Shahanshah Akbar E-azam” atau Kaisar Akbar Agung. Beliau lahir pada 15 Oktober 1542 dan wafat pada 27 Oktober 1605 dan merupakan cucu dari Zaheeruddin Muhammad Babur, sang pendiri dinasti Mughal. Selama pemerintahan beliau, wilayah kekuasaannya sangat luas, bahkan hampir seluruh india menjadi daerah kekuasaan Islam Mughal pada saat itu. Pada saat beliau wafat, jenazahnya kemudian dimakamkan di sebuah Maosoleum yang terletak di Sikandra, Agra, Negara Bagian Uthar Pradesh, India.

Pada masa kekuasaaannya, beliau memang lebih menekankan pada dunia arsitektur, seni dan budaya. Jadi wajar saja jika pada masa pemerintahan dinasti Mughal banyak muncul bangunan yang sampai saat ini menjadi Warisan Arsitek Dunia. Contohnya Maosoleum di Sikandra yang dibangun begitu indah, dengan torehan karya seni bak Istana, yang sampai saat ini menjadi salah satu warisan seni paling terkenal di India.

Kemudian, Maosoleum tersebut menjadi inspirasi untuk Abdur Rahim Osman, dalam membangun masjid yang berada di Kalkuta tersebut. Masjid ini juga dijuluki sebagai Jiplakan paling apik dari bangunan makam sang kaisar.

Meskipun dibangun dengan meniru bangunan Maosoleum, tentu saja pada bagian “kuburan” tidak di ikutkan.  Hampir secara keseluruhan ornamen maupun instrumen bangunannya sama dengan Maosoleum tersebut dengan warna merah yang tampak sangat cerah.

Masjid Kaca Laban – India

Masjid Kaca Laban – India

Pada awalnya masjid ini sebenarnya bernama “Masjid Madinah” atau dalam bahasa india “Madina Mosque”. Namun kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Masjid Kaca” atau “Glass Mosque” karena bahan baku yang dipakai pada bagunannya mayoritas menggunakan kaca. Kemudian, karena masjid ini terletak didaerah Laban, maka biasa disebut dengan “Laban Glass Mosque” atau “Masjid Kaca Laban”.

Masjid Kaca Laban

Masjid ini sekaligus menjadi masjid kaca pertama yang ada di India, sekaligus menjadi masjid yang terbesar pada wilayah India, khususnya pada India bagian timur. Saat ini, masjid Kaca Laban dikelola oleh “Shillong Muslim Union” atau Persatuan Muslim Shilong.

Meski disebut-sebut dengan nama masjid kaca, namun struktur masjid tetap menggunakan beton bertulang, begitu juga dengan pondasi sebagai tumpuan masjid bertingkat seperti pada umumnya. Hanya saja, memang sebagian besar interior dan eksteriornya berasal dari bahan baku kaca atau gelas, yang digunakan pada seluruh penutup bagian luarnya. Sehingga, jika dilihat dari luar, masjid ini tampak benar-benar seperti sebuah bangunan dari kaca. Jika kita melihatnya pada malam hari pada saat lampu-lampu masjid dinyalakan, kita bisa melihat transparansi bagian dalam masjid seakan-akan masjid tersebut tidak memiliki dinding. Kemudian jika dilihat dari kejauhan, masjid ini tampak seperti lampion dengan ukuran jumbo dengan warna hijau.

interior Masjid Kaca Laban

Laban sendiri merupakan nama didaerah dalam kota Shillong. Kemudian Shillong merupakan ibukota negara bagian Meghalya, India. Sebagai informasi, negara India merupakan negara Republik Federasi, yang wilayahnya terdiri dari beberapa negara bagian. Meghalaya terletak di bagian timur india, sekaligus merupakan negara bagian terkecil yang berada di Federasi Republik India.

Negara bagian Meghalaya terletak jauh dari ibukota India, New Delhi, dengan jarak sekitar 1.965 Km dengan jalur darat, atau membutuhkan waktu sekitar 8 jam jika ditempuh dengan jalur udara.

Tidak seperti tetangganya yaitu Negara Bagian Bangladesh yang memiliki mayoritas penduduk muslim, negara bagian Meghalaya hanya memiliki minoritas masyarakat muslim saja. meskipun India masuk dalam negara muslim terbesar ketiga setelah Indonesia dan Pakistan.

Jika kita lihat pada situs Wikipedia, tota penduduk negara Meghalaya hanya sekitar 2.175.000 jiwa saja, atau hanya sekitar 4% jumlah total dari seluruh penduduk dunia yang beragama islam.

Seiring fakta yang sudah terkuah bahwa india memang tidak pernah berhenti diserang oleh pertikaian antara Etnis dan Agama, wajar jika kemudian Vincent H Pala, sebagai Menteri Negara Meghalaya mengatakan bahwa masjid Kaca Laban ini menjadi simbol persatuan umat beragama disana.

Hal itu disampaikan, mengingat banyak sekali masyarakat agama lain yang terlibat dalam pembangunan masjid kaca tersebut, terutama penganut Hindu. Para penganut agama Hindu dengan sukarela membantu pembangunan masjid mulai dari sektor moril mapun materiil, termasuk didalamnya para pekerja beragama hindu yang membantu pembangunan masjid tersebut.

Pembangunan masjid Madina atau masjid kaca ini dimulai pada tanggal 2 November 2007 dan selesai pada tanggal 29 Agustus 2008. Kemudian secara resmi dibuka pada tanggal 18 Oktober 2012 oleh Menteri Negara, Vincect H Pala.

Fasilitas yang disedikan oleh masjid juga sangat lengkap, seperti Perpustakaan, Asrama bagi anak-anak yatim piatu, serta dibangun juga Institut Agama Islam di kompleks masjid tersebut. Sedangkan hiasan pada bagian pelataran, terdapat taman yang luas dengan pepohonan rindang.

Masjid Kaca Laban memiliki Empat lantai setinggi 120 kaki, dengan lebar 61 kaki, sehingga mampu menampung 8.000 jamaah secara bersamaan. Arsitektur masjidnya mengadopsi bangunan masjid pada umumnya dengan kubah besar diatap masjid dan diapit dengan 4 menara yang menulang tinggi.

Masjid Cuiaba – Brazil

Masjid Cuiaba – Brazil

Jika anda ingat dengan momen Piala Dunia Sepakbola pada tahun 2014 yang diselenggarakan di negara Brazil, pasti tahu dengan Kota Cuiaba yang saat itu juga menjadi salah satu tempat penyelenggaraan momen tersebut. Kota Cuiaba adalah ibukota negara bagian Mato Grosso, Republik Federasi Brazil, yang merupakan salah satu kota metropolitan Brazil sekaligus menajdi pusat bagi Amerika Selatan secara geografis.

Masjid Cuiaba

Kota ini didirikan sekitar tahun 1719 pada saat Gold Rush, yaitu masa gemilang tambang emas didaerah tersebut, sekaligus menjadi ibukota provinsi ataupun Negara Bagian Mato Grosso pada tahun 1818 sampai saat ini. Kota ini merupakan kota yang terkenal sebagai pusat perdagangan dengan julukan “Gerbang Selatan Amazon”. Karena sebagai kota perdagangan, pertumbuhan ekonomi serta infrastruktur kota ini sangat pesat.

Kota ini juga menjadi terbesar di Mato Grosso, dengan komunitas muslim yang cukup padat. Muslim di kota Cuiaba adalah keturunan dari Suriah, Lebanon dan juga Palestina. Jumlah total sampai saat ini seluruhnya sekitar 600 – 1000 jiwa. Sebagian mereka adalah pengungsi pada saat perang dunia II terjadi, dan menetap dikota tersebut sampai sekarang.

Karena saat ini menjadi kota perdagangan, masyarakat muslim didaerah tersebut kini menempati level menengah keatas, dengan usaha perdagangan yang maju.

Kemudian, dikota ini telah lama berdiri sebuah masjid yang terkenal dengan menaranya yang super tinggi, bahkan bisa menyaingi menara gedung perusahaan telekomunikasi terbesar di kota tersebut.

Masyarakat setempat menyebutnya dengan “Mequita Mosulmana” atau dalam bahasa indonesia berarti “Masjidnya Orang Muslim”.  Muslim Cuiaba bergabung dalam Organisasi Islam “The Muslim Beneficent Society of Cuiaba” yang sudah berdiri dari tahun 1972 silam, pada saat itu masyarakat muslim sudah memiliki masjid dikawasa Bandeirantes.

Kemudian, masjid Cuiaba mulai dibangun pada tahun 1975 sampai selesai pada tahun 1978, tepatnya pembangunan dimulai pada tanggal 10 Agustus 1975 kemudian diresmikan pada 16 Juli 1978. Pembangunan masjid ini menghabiskan lebih dari $70.000 yang berasal dari bantuan pemerintah Saudi Arabia.

Pada masa tersebut, hanya ada sekitar 95 kepala keluarga yang berkontribusi dalam pembangunan masjid. Disamping area masjid terdapat juga sekolah islam yang dibangun pada tahun 1979, sebagai sarana pendidikan dasar kelas 1 sampai 4.

Masjid Cuiaba ini akan sangat ramai pada saat hari raya lebaran. Suasana kerukunan islam sangat terasa disana karena ada kegiatan halal bihalal yang melibatkan seluruh penduduk muslim disana. Acara terasa sangat ramai, karena seluruh penduduk muslim melakukan sholat ied bersama-sama, dilanjutkan dengan beramah tamah sambil berjabatan tangan satu sama lainnya.

Sedangkan untuk desainnya, masjid ini memiliki desain seperti masjid arab, dengan kubah besar, dan menara yang tinggi. Pada bagian interior masjid terdapat lampu gantung yang menghiasi kubah serta ornamen-ornamen kaligrafi asal timur tengah.

interior Masjid Cuiaba

Sedangkan mimbar yang digunakan sangat unik, yaitu berupa tangga dengan pegangan dari kayu. Untuk desain pintu dan jendela memang hampir sama dengan masjid-masjid pada umumnya.

Meskipun hanya sedikit jumlah umat islam yang tinggal di daerah Cuiaba, namun kehidupan antar umat beragama disana sangat rukun, apalagi brazil dipenuhi dengan umat beragama kristen maupun ateis.

Pada saat Piala Dunia Sepakbola 2014 berlangsung, masjid ini sempat dikunjungi oleh beberapa pemain Timnas Bosnia yang akan melakukan shalat jum’at berjamaah. Pada saat itu, keramah tamahan penduduk islam Cuiaba sempat memukau para pemain sepakbola tersebut.

Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf Makassar

Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf Makassar

Masjid yang diberi nama “Al-Markaz Al-Islami” ini dikelola oleh Yayasan Islamic Center dan merupakan masjid termegah dan terbesar di titik sentral kawasan timur Indonesia, yaitu Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya berlokasi di Jln. Masjid raya, No. 92C, Timungan Lompoa Bontoala, Makassar, Sulawesi Selatan.

Masjid Al-Markaz

Masjid yang bernuansa monumental tersebut sampai sekarang masih berdiri kokoh dan menjadi pusat peradaban serta pengkajian Islam. Masjid ini juga mencerminkan kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan yang beradab, agamis dan totalitas bernafaskan Islam. Apalagi terdapat beberapa arsitektur asli masjid Mekkah dan Madinah yang turut diadopsi dalam pembangunan masjid, serta ornamen-ornamen dan Interior masjid yang didesain sedemikian rupa mirip masjid Islam pada umumnya.

Masjid megah ini dirancang oleh seorang arsitek ternama yang sudah sangat berpengalaman pada pembangunan masjid besar, Ir. Ahmad Nu’man. Arsitektur masjid ini mengadopsi arsitektur Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawa di Madinah. Meskipun ada unsur masjid dari Mekkah dan Madinah, namun Ir. Ahmad Nu’man tidak lupa untuk tetap memasukkan arsitektur khusus dari budaya khas Sulawesi Selatan. Hal ini bisa dilihat dari atap yang berbentuk kuncup segi empat seperti Masjid Katangka, Gowa yang saat ini menjadi masjid tertua di Sulawesi Selatan. Selain itu, bentuk-bentuk rumah bugis Makassar pada umumnya juga dimasukkan pada sebagian arsitektur masjid.

Untuk pondasi bangunan dibuat dengan 450 tiang pancang dengan kedalaman 21 meter. Bagian atap dibuat dari bahan baku tembaga atau tegola buatan Italia. Kemudian dinding lantai pertama menggunakan keramik, sedangkan lantai dua dan tiga menggunakan bahan baku batu granit.

Dinding mihrab di buat sedemikian rupa dengan bahan granit hitam berhiaskan kaligrafi unik segi empat yang terbuat dari tembaga kekuning-kuningan, sehingga mihrab menjadi sentralisasi visual yang apik.

interior Masjid Al-Markaz

Kaligrafi yang berada pada mihrab diantaranya bertuliskan “Laa Ilaaha Illallah, Muhammadur rasulullah”, dan tertulis juga surat Al-Baqarah ayat 144.

Sedangkan untuk arsitektur menara, masjid ini memiliki menara setinggi 84 meter, dengan ukuran 3 meter persegi. Tinggi menara ini hanya berselisih 1 meter saja dari ketinggian menara yang dimiliki oleh Masjid nabawi. Pada seperempat dari ketinggian menara, tepatnya pada ketinggian sekitar 20 meter terdapat bak penampungan air dengan volume 30 meter3.

Keunikan masjid ini juga terletak pada namanya, yaitu sejak akhir Desember 2005 lalu, Yayasan Islamic Center melakukan pertemuan dijakarta, akhirnya terciptalah nama “Al-Markaz Al-islami Jenderal M. Yusuf” yang diadopsi dari mantan Ketua BPK (Alm) Jenderal M. Jusuf, seorang pencetus pembangunan kompeks masjid tersebut.

Sebenarnya pada waktu itu, M. Jusuf tidak setuju bahwa namanya akan digunakan untuk penamaan masjid sebelum tiba “waktu yang tepat”. Kata-kata tersebut kemudian ditafsikan sebagai tanda bahwa nama M. Jusuf boleh dipakai jika pemilik nama tersebut sudah meninggal dunia.

Akhirnya disepakati bersama dalam Yayasan Islamic Center bahwa, nama yang akan digunakan untuk masjid yang berdiri di bekas kampus Universitas Hasanuddin tersebut adalah “Al-Markaz Al-Islami”, atau bisa diartikan sebagai Masjid Pusat Islam atau Masjid Islamic Center. Masjid ini sampai saat ini digunakan secara resmi sebagai Pusat Ibadah serta Kebudayaan Islam di daerah Makassar.

Hingga kini pun nama M. Jusuf juga tetap dipertahankan sebagai nama pelengkap masjid tersebut, karena jasa yang diberikan M. Jusuf terhadap pembangunan masjid ini sangat besar.

Masjid Agung Akçakoca Turki

Masjid Agung Akçakoca Turki

Negara Turki dikenal luas di dunia sebagai Negara yang pernah menjadi pusat pemerintahan Turki Usmani atau yang lebih dikenal dengan Emperium Usmaniyah yang menguasai lebih dari sepruh dunia pada masa kejayaannya. Sebagai negara yang pernah menjadi ibukota muslim, Turki sampai saat ini dikenal dengan masjidnya yang sangat megah.

Masjid Agung Akçakoca Turki

Turki memang sangat dikenal dengan kelekatan agama islam, dan ada ratusan masjid yang berada di negara tersebut. Salah satu yang paling terkenal adalah Masjid Agung Akcakoca yang memiliki ciri khas tersendiri dalam seni arsitektur bina bangunan yang bergaya Usmaniyah. Yaitu masjid dengan ukuran tinggi besar, dengan kubah setengah lingkaran yang ukurannya juga sangat besar, ditambah dengan menara lancip yang menjulang tinggi sampai puluhan meter.

Selain masjid yang memiliki khas arsitektur Usmaniyah, Turki juga memiliki ciri khas masjid Sejuk yang merupakan nenek moyang orang-orang turki. Ciri-ciri masjid Seljuk tidak jauh berbeda dengan masjid Usmaniyah lainnya, perbedaannya hanya terletak pada ukuran kubah yang tidak terlalu besar, namun tetap memiliki menara yang sangat tinggi.

Masjid Agung Akcakoca ini memiliki predikat “Aneh”, meskipun pembangunan di era modern sudah dilakukan, ciri-ciri khas masjid tersebut tetap di pertahankan. Apalagi, cara pembangunannya terlihat berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya.

Masjid Agung ini memiliki daya tarik sendiri, sehingga banyak wisatawan asing yang tertarik untuk mengunjunginya. Bangunan masjid dibuat sedemikian rupa sehingga tidak lazim dalam lingkup arsitektur masjid di Turki pada umumnya.

Masjid di kota Akcakoca tersebut memadukan seni arsitektur aneh dengan bentuk tenda Otok Turki, memiliki bentuk Oktagonal yang biasanya digunakan oleh Bangsa Seljuk pada masa lampau. Sedangkan interiornya didekorasi dengan kaca patri, kemudian kubah dan rangka atapnya menggunakan beton yang keseluruhannya mencapai berat 32 ton.

interior Masjid Agung Akçakoca Turki

Masjid dengan arsitektur tidak lazim ini pertama kali dibangun pada tahun 1989, kemudian dibuka untuk umum pada tahun 2004 lalu. Kubah yang dibangun memiliki tinggi hingga 31 meter, kemudian menaranya memiliki tinggi 58 meter. Arsitek yang menangani pembangunan masjid ini adalah Ergun Subasi, dia juga menambahkan sepasang menara kembar yang mengapit pada bangunan utamanya.

Keanehan yang paling terlihat adalah bentuk atap masjid yang dirancak dengan bangun berbentuk lancip dengan sudut Oktagonal. Ergun Subasi terinspirasi dari bentuk tenda yang digunakan bangsa Seljuk dimasa lampau.  Struktur atapnya ditopang oleh 8 buah beton bertulang dilengkapi dengan menara yang masing-masing memiliki ketinggian 31 meter. Sedangkan atapnya dilapisi dengan beton dan tembaga, sehingga berat total atap mencapai 32 ton.

Arsitek bangunan masjid seperti ini, sampai saat ini masih menjadi satu-satunya di Turki. Tak heran jika banyak sekali warga lokal maupun manca negara yang ingin berkunjung dan melihat sendiri kemegahan dan keunikan masjid tersebut. Apalagi, menurut cerita dari marbot masjid, kebanyakan pengunjung yang datang ke masjid ini karena rasa penasaran atas design yang dikatakan “aneh” tersebut. Ada juga cerita yang mengatakan bahwa beberapa pengunjung masjid tersebut mengaku sudah lama sekali tidak sholat dimasjid, kemudian baru masuk masjid lagi setelah melihat kemegahan yang tersirat dari bangunan Masjid Agung Akcakoca tersebut.

Bukan hanya pengunjung dari lokal saja yang sering mengunjungi masjid ini, akan tetapi banyak wisatawan yang datang dari negara-negara islam lain, seperti Arab Saudi yang menyempatkan diri untuk melihat Masjid Agung Akcakoca demi memuaskan rasa penasarannya.

Masjid Lubuk Bauk Tanah Datar

Masjid Lubuk Bauk Tanah Datar

Masjid Lubur Bauk atau masyarakat setempat menyebutnya dengan “Surau Lubuk Bauk”, terletak di daerah Nagari Lubuk Bauk, Batipuh Baruh, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Suaru ini pertama kali dibangun pada tahun 1896 dan rampung pada tahun 1901, membutuhkan waktu pembangunan sekitar 5 tahun.

Masjid Lubuk Bauk

Sebelumnya, tidak banyak yang mengenal Surau Lubuk Bauk ini, kemudian masjid ini dijadikan salah satu lokasi syuting film berjudul “Tenggelamnya Kapal Van der Wjk” yang dipublikasikan pada tahun 1938. Akhirnya, masjid ini kembali dikenal oleh masyarakat nusantara dari film yang diangkat dari karya novel Buya Hamka.

Menurut sejarah, Buya Hamka pernah belajar mengaji di surau ini dari tahun 1925 hingga tahun 1928. Akhirnya jalan disekitar Surau tersebut dinamai dengan Jl. Dr. Hamka, karena jasanya mengenalkan kembali masjid Lubuk Bauk kepada masyarakat Indonesia.

Menurut cerita masyarakat setempat, Surau Lubuk Bauk didirikan pada tahun 1896 oleh para ninik mamak yang berasal dari suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku di atas tanah yang diwakafkan oleh Datuk Bandaro Panjang.

Surau Lubuk Bauk ini selain difungsikan untuk tempat ibadah umat islam, juga dikhususkan untuk menjadi pusat pendidikan non-formal masyarakat Minangkabau seperti belajar mengaji dll.

Sedangkan untuk arsitekturnya, dibangun sepenuhnya menggunakan bahan baku utama kayu Surian, dengan luas 154 meter persegi, dan tinggi bangunan mencapai 13 meter. Corak bangunan dari Koto Piliang juta ikut dimasukkan pada konstruksi atap dan menara. Dengan konstruksi dengan bahan baku kayu Surian membuat tempat ini terhindar dari kerusakan yang berarti, walupun beberapa gempa besar dan angin kencang sudah sering terjadi pada wilayah itu.

Bangunan Surau berbentuk bujur sangkar, dengan total luas 154 meter persegi, dibantu dengan 30 tiang kayu penyangga segi delapan sebagai penopang bangunan yang saling terhubung tanpa paku besi. Lantai surau ini memiliki luas 13 x 13 meter, ditinggikan 1,4 meter dari permukaan tanah agar terhindar dari kelembaban tanah di wilayah tersebut. Kolong dibawah lantai di bentuk dengan lengkungan dengan bagian atas dihiasi berbagai ukiran dan pola tanaman sulur-suluran.

interior Masjid Lubuk Bauk

Mihrab didesain menjorok ke luar, dengan ukuran 4 x 2,5 meter dengan naungan atap Gonjong,yaitu atap yang biasanya terdapat pada rumah Gadang.  Pada setiap sisi ruangan diberi jendela kecuali pada Mihrab, dan pintu masuk terletak di sebelah timur, sejajar dengan Mihrab. Pada bagian tepi atas pintu terdapat tulisan “Basmalah”  yang diukir dengan unik, serta ditutup dengan bilah papan pada bagian belakangnya.

Surau Lubuk bauk memiliki tiga tingkat, yaitu lantai pertama memiliki luas 13 x 13 meter, sedangkan lanti dua 10 x 7,5 meter, dan lantai tiga memiliki ukuran 3,50 x 3,50 meter.

Kemudian, keunikan yang dimiliki Surau ini bisa dilihat dari ukiran khas Minangkabau serta Cap Izin Belanda yang disimbolkan dengan Mahkota Kerajaan. Cap Mahkota Kerajaan tersebut di ukir pada dinding gonjong surau, dan hampir setiap ukiran memiliki motif kaluak paku, ukiran aka cino, hingga motif lain seperti itiak pulang patang. Semua ukiran-ukiran unik tersebut memiliki filosifi arti sendiri, yang kesemuanya tetap berhubungan dengan tatanan hidup masyarakat dengan agama islam.

Sedangkan untuk bagian atap terbuat dari seng bersusun tiga, tingkat pertama dan kedua memiliki bentuk limas dengan permukaan cekung, sedangkan tingkat terakhir  didesain silang dengan gonjong di ke empat sisinya.

Susunan atap dengan bangunan menara melambangkan falsafah hidup masyarakat sekitar, bahkan konon organisasi Muhammadiyah pada awal perkembangannya bertempat di Lubuk Bauk, kemudian menyebar sampai kauman Padang Panjang.

Masjid Juma Derbent – Masjid Tertua di Rusia

Masjid Juma Derbent – Masjid Tertua di Rusia

Masjid Juma Derbent memiliki sebutan lain yaitu “Derbent Juma Mosque” dan “Derbentskaya Dzhuma Mechet”, merupakan masjid tua yang berada di kota Derbent, Otonomi Republik Dagestan, Federasi Rusia.  Masjid ini merupakan masjid tertua yang berada di Rusia karena pertama kali dibangun pada tahun 733 M / 115 H pada saat kota Derbent masih berada dibawah kekuasaan Islam.

Masjid Juma Derbent

Selain Masjid Juma, ternyata kota Derbent juga dipenuhi dengan masjid-masjid tua lain seperti Masjid Kyrhlyar yang dibangun pada abad ke-17, kemudian Majid Bala dan Masjid Chertebe yang dibangun sekitar abad ke-18.

Masjid Juma ini berlokasi di tengah wilayah kola lama Derbent, sekaligus menjadi ikon arsitektur kuno dari kota tersebut. Didalam kompleks masjid juga terdapat beberapa rumah tua dan madrasah (tempat belajar) yang dulunya digunakan sebagai rumah para ulama di kota Derbent.

Sekilas Tentang Kota Derbent                                           

Derbent merupakan salah satu kota tua yang berada di wilayah Republik Degestan, Rusia. Kota ini memiliki sejarah yang panjang tentang penyebaran Islam di wilayah Rusia, tepatnya di pegunungan Kaukasus.

Kota Derbent disebut-sebut sebagai kota tertua di wilayah Rusia, karena beberapa temuan terdokumentasi dari abad ke-8 sebelum masehi ditemukan di kota tersebut. Kota ini sering beralih kepenguasaan sebelumnya, mulai dari Persia, Arab, Mongol, Timurid, Shirvan serta kerajaan Iran.

Sejarah Masjid Juma

Tepatnya terjadi pada masa Khulafaurrasydin, para sahabat Nabi Muhamad berhasil menguasai kota Derbent pada tahun 654 M dibawah kepemimpinan “Maslama Ibn Abdul Malik”, kemudian menyebut kota ini dengan “Bab Al-Abwab” atau satu pintu menuju pintu-pintu lain, karena pada saat itu pasukan Islam berhasil menaklukkan seluruh wilayah Persia.

Segera setelah penaklukkan selesai, kota Derbent menjadi salah satu kota terpenting umat islam dan berkembang dengan pesat.

Akhirnya pada sekitar tahun 733 M / 115 H, sebanyak 7 masjid dibangun diwilayah tersebut, salah satunya adalah Masjid Juma, yang sampai saat ini masih berdiri dengan kokoh.

Bangunan Masjid Juma Derbent berukuran dengan panjang 68 meter dari timur – barat dan lebar 20 meter dari utara – selatan, sedangkan kubahnya mencapai 17 meter, dilengkapi dengan bangunan madrasah dan rumah-rumah sebagai tempat tinggal para ulama pada saat itu.

Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Dinasti Abasiyah sekitar tahun 763 – 809 M, pernah tinggal di kota ini dan merubah reputasi kota Derbent menjadi sangat disegani sebagai pusat budaya dan juga perdagangan. Menurut sejarah, saat itu penduduk kota Derbent sudah melampaui 50 ribu jiwa, sekaligus menjadi kota terbesar di Kaukasus pada abad ke-8 Masehi.

Kekuasaan Islam diwilayah Derbent sempat bertahan hingga lebih dari dua abad, dan mulai melemah pada penghujung abad ke 9. Kota Derbent sering berganti pemegang kekuasaan, sampai pada tahun 1813 Rusia berhasil merebut kota ini dan menjadikannya sebagai wilayah negaranya.

Masjid Juma pernah mengalami restorasi karena kerusakan besar pernah terjadi pada saat gempa bumi, Baku Tazhuddin adalah arsitek yang melakukan renovasi masjid ini pada tahun 1368 -1369. Kemudian restorasi kedua dilakukan pada tahun 1815, ditambah dengan perluasan wilayah masjid agar bisa menampung jamaah yang lebih banyak.

interior Masjid Juma Derbent

Sampai saat ini, atau sekitar 1300 tahun dari tahun berdirinya masjid Juma, keindahan dan arsitektur kuno masih dipertahankan sampai sekarang.

Saat ini, masjid Juma Kota Derbent tetap berdiri kokoh dengan arsitektur aslinya, ditambah keindahan taman dan pohon rindang di lokasi masjid.

Masjid Uqba Bin Nafi di Tunisia

Masjid Uqba Bin Nafi di Tunisia

Masjid Uqba Bin NafiTak hanya di Indonesia yang memiliki penduduk mayoritas beragama Islam, tetapi di Tunisia mayoritas masyarakatnya juga merupakan penduduk beragama Islam. Tunisia merupakan negeri muslim arab yang berada di ujung utara benua Afrika.

Terdapat beberapa persamaan antara Tunisia dan Indonesia yaitu negara Tunisia pernah tejadi demo besar-besaran menuntut presidennya yang kala itu adalah Presiden Ben Ali agar turun dari jabatannya. Sama persis dengan Indonesia, yang pernah melakukan demonstrasi masa untuk menurunkan presidennya dan pernah juga di jajah oleh negara Eropa. Selain itu di setiap kota di Tunisia memiliki masjid Agung yang biasanya menjadi ikon tersendiri bagi kota tersebut. Sama halnya di Indonesia terdapat masjid Agung di masing-asing kota dengan ciri khasnya yang berbeda. Salah satu masjid yang paling populer di Tunisia berada di kota Kairouan dan merupakan masjid Agung di kota itu.

Nama resmi dari  masjid Agung di Kairouan ini adalah Masjid “Uqba Bin Nafi“ atau dikenal juga dengan nama “Sidi Uqba dan Uqba Bin Nafis”. Nama tersebut diambil dari salah satu seorang sahabat Rasululllah SAW yang juga merupakan seorang panglima perang Islam penakluk Afrika Utara. Pada tahun 670 M Uqba Bin Nafi pula yang pertama kali mendirikan masjid ini dan menjadi seorang penguasa muslim pertama di Kairouan, Tunisia. Selain itu, Masjid ini juga masuk dalam salah satu masjid tertua di dunia.

Tepatnya masjid Agung Kairouan berada di timur laut wilayah medina kota Kairouan dan juga masuk ke dalam wilayah Houmat a-Jami sebagai perkembangan wilayahnya hingga ke arah selatan. Dari Tunis, yaitu ibukota Tunisia menuju kota Kairouan dapat ditempuh dengan jarak 116 kilometer. Dalam perjalanannya menuju kesana membutuhkan tenaga yang lumayan karena melewati padang rumput yang kering. Tak hanya itu, dalam perjalanan akan menemukan banyak pohon anggur dan pohon zaitun di sepanjang jalan. Bahkan terdapat pohon zaitun yang masih berbuah meskipun usianya sudah berumur lebih dari 1000 tahun.

Pada awalnya kota Kairouan merupakan kota yang kecil dan tidak seramai pada saat ini. Tempat ini menjadi jalur perdagangan berkembang menjadi kota ilmu pengetahuan dan pertanian juga salah satu tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi oleh beberapa wisatawan.

Masjid Agung Kairouan pernah hancur lebur pada tahun 690 M atau tepatnya 20 tahun setelah selesai pembangunan masjid. Kehancuran tersebut dikarenakan adanya serbuan dari pasukkan suku Barbar yang datang menyerbu kota Kairouan dibawah pimpinan Kusaila. Selanjutnya pada tahun 703 M masjid ini dibangun kembali oleh Hasan bin Al-Nu’man dengan kapasitas yang lebih luas, karena penduduk disana semakin bertambah banyak maka bertambah pula jamaah masjid. Dalam proses pembangunan tersebut masjid Agung Kairouan diruntuhkan secara keseluruhan namun tetap menyisakan bagian mihrab masjid.

interior Masjid Uqba Bin Nafi

Kini masjid Agung Kairouan berdiri di atas lahan seluas 9000 meter pesegi dengan tembok dinding yang sangat besar ditambah dengan sembilan gerbang utama. Tak hanya umat muslim saja yang bisa mengunjungi masjid ini tetapi non-muslim pun di izinkan untuk menunjungi masjid Agung Kairouan dengan syarat pakaiannya harus rapi dan menggunakan busana muslim.

Bahan yang digunakan untuk membuat halaman tengah masjid adalah bongkahan batu besar yang berbentuk segi empat. Disini para jamaah atau pengujung dapat menikmati setiap keindahan masjid dengan dihiasi oleh 400 pilar tua. Dibagian ujung utara halaman, terdapat menara masjid yang tingginya mencapai 115 kaki dan terdiri dari tiga lantai. Pada ruangan lorong tengah terdapat mihrab yang berasal dari abad ke 9 M terbuat dari kayu dan dipenuhi dengan ukiran sangat cantik.

Masjid Taj Mahal, India

Masjid Taj Mahal, India

Nama Taj Mahal sudah sangat populer hingga penjuru dunia. Taj Mahal sendiri  merupakan sebuah komplek yang sangat luas dan terdiri dari beberapa bangunan, seperti dibagian timur ada sebuah istana Kesultanan Mughl, di sebelah barat terdapat masjid yang begitu megah dan bangunan Taj Mahal itu sendiri. Ketiga bangunan tersebut dibangun secara simetris yang lokasinya bersebelahan dari bangunan satu dengan bangunan lainnya. Tak hanya bangunan tersebut, dimasing-masing bangunan terdapat pelataran dan taman yang begitu luas. Ketika pertama kali mengunjungi Taj Mahal mungkin akan sedikit membingungkan karena bangunan masjid dan bangunan istana peristirahatan merupakan dua bangunan yang sangat persis dan sulit jika membedakan kedua bangunan tersebut dari luar.

Masjid Taj Mahal

Masjd Taj Mahal berada disebelah barat bangunan mausoleum Taj Mahal dan bangunan tersebut menghindari ke arah makam karena hal itu dilarang dalam agama islam. Masjid megah ini didirikan dengan perpaduan seni khas Dinasti Mughal, Persia dan arsitektural islam. Keindahan masjid Taj Mahal mengundang beberapa wisatawan lokal hingga luar negeri untuk datang menikmati keindahan bangunan megah ini ditambah dengan adanya sungai Yamuna yang semakin mempercantik bangunan masjid Taj Mahal.

Kemegahan masjid Taj Mahal tak lepas dari sejarah yang terukir di India. Majid yang dibangun pada tahun 1632 dan selesai pada tahun 1652, merupakan sebuah proyek besar dan memperkerjakan ribuan pekerja bangunan dan beberapa pekerja seni yang menangani pembuatan kaligrafi  ayat-ayat Al-Qur’an, Asmaul Husna hingga ukiran ornamen bercorak islami yang menghiasi hampir seluruh bagunan. Arsitektur masjid Taj Mahal adalah Isa Muhammed yang memegang peranan penting dalam pembangunan masjid.

Pembangunan masjid Taj Mahal hampir bersamaan dengan Maosoleum Taj Mahal. Pada tahun 1631 Seorang ratu yang bernama Ratu Mumtaz Mahal meninggal dunia lalu jenazahnya sementara waktu dimakamkan di area sekitar sisi tembok Taj Mahal. Makam tersebut terlihat dengan adanya tanda batu pualam ditinggikan yang berukuran sama dengan makam tersebut. Dan pada tahun yang sama juga kopleks Taj Mahal mulai dibangun juga rampung pada tahun 1648, sesaat setelah itu jenazah Ratu Mmtaz Mahal dipindahkan ke dalam Taj Mahal.

UNESCO bahkan sampai menghadiahkan gelar Permata Islam pada bangunan Tajmahal, atas apresiasi terhadap keindahan bangunan, serta warisan kuno, yang diberikan pada tahun1983.

interior Masjid Taj Mahal

Arsitektur masjid Taj Mahal sangat megah meskipun bahan bangunannya menggunakan batu pasir merah. Masjid tersebut dilengkapi dengan empat menara di masing-masing penjuru masjid yang memiliki bentuk segi delapan dengan dilapisi oleh batu pualam sangat halus. Selain itu terdapat kubah yang sangat mewah berjumlah tiga buah, kubah tersebut dilapisi oleh pualam putih. Masyarakat Indonesia biasanya menyebut sebagai kubah bawang.

Di bagian puncak kubah terdapat hiasan dengan menggunakan ornamen seperti kuntum bunga teratai terbalik yang sangat unik dan cantik. Pada dasarnya kubah masjid Taj Mahal sama seperti kubah yang berada di Masjid Jami Delhi yang merupakan kubah  yang sangat cantik dan sempurna dengan sisi bawahnya berupa silinder.

Pada lantai masjid Taj Mahal jelas terbentuk dari sajadah yang berbahan batu pualam yang sangat halus karena sudah digosok permukaannya dengan teliti dan lumayan cukup lama. Ada juga mihrab yang dihias dengan kaligrafi Al-Qur’an dari surah As-Syams serta pada bagian sisi kanan mihrab terdapat mimbar masjid yang terbuat juga dari batu pualam yang halus.