Masjid At Taibin Senen – Jakarta Pusat

Masjid At Taibin Senen – Jakarta Pusat

Masjid yang diberi nama “At Taibin” ini terletak di Jln. Senen Raya IV, RW 2, Senen, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta.

“At Taibin” dalam bahasa indonesia berarti adalah “Tempat Orang-Orang Bertaubat”, masjid ini memiliki sejarah yang lumayan panjang, yaitu mulai dari masa-masa kelam penjajahan indonesia oleh kompeni belanda.

Masjid At Taibin

Masjid ini sudah ada sejak 2 abad yang lalu, tidak heran jika masjid ini menjadi salah satu masjid tertua di jakarta. Masjid dengan masa usia yang sama dikawasan jakarta adalah Majis Az-Zawiyah yang terletak di daerah pekajon, dan dibangun oleh komunitas muslim arab pada masa itu. Kedua masjid yang sudah memiliki usia lebih dari 2 abad ini sekaligus menjadi saksi bisu tentang sejarah negara indonesia pada masa penjajahan belanda.

Waktu dua abad bukan merupakan waktu yang sebentar, masjid ini menjadi saksi mulai dari Daerah Khusus Ibukota yang dulunya hanya sebuah kampung berukuran luas, sampai menjadi kota metropolitan yang megah seperti sekarang. Bahkan gedung gedung besar disamping masjid ini membuat masjid At Taibin hanya seperti miniatur kecil sebuah bangunan saja.

Meskipun dikelilingi dengan hiruk pikuk masyarakat jakarta, serta gedung-gedung tinggi yang mengepungnya, namun tetap saja masjid ini dapat memberikan suasana yang sejuk kepada para penganut agama islam disana. Para pekerja, sopir, karyawan kantor, maupun pegawai biasanya menggunakan tempat ini untuk sholat berjamaah, pada saat waktu Isoma datang.

Sekilas Sejarah Masjid Jami’ At Taibin

Masjid At Taibin pada awal mulanya didirikan hanya oleh sekelompok pedagang sayur dan penduduk yang bertempat di Pasar Senen Jakarta.  Pembangunannya dimulai pada tahun 1815, namun baru tercatat dan diketahui masyarakat luas mulai tahun 1918.

Dana yang digunakan untuk pembangunan masjid umumnya berasal dari swadaya masyarakat / dana sukarela yang dikumpulkan masyarakat setempat saja. bahkan desain dan arsitekturnya hanya seadanya, karena memang pada masa penjajahan belanda semuanya menjadi sangat kacau dan tidak terkendali.

Awalnya, masjid At Taibin ini memiliki nama “Masjid Kampoeng Besar”, kemudian dirubah menjadi “Masjid Imroni’ah” lalu dirubah kembali pada tahun 1970-an menjadi “Masjid At Taibin” seperti yang kita kenal saat ini.

Masjid ini dulunya, pada masa penjajahan difungsikan sebagai tempat untuk mengumpulkan bekal logistik untuk para pejuang kemerdekaan. Bekal logistik tersebut dikumpulkan dari para pelaku pasar di pasar senen, kemudian disalurkan kepada para pejuang dimedan perang.

Selain untuk tempat penyimpanan Logistik, masjid ini juga digunakan sebagai tempat pertemuan para ulama dan pejuang kemerdekaan dalam rangka menyusun strategi untuk melawan penjajah, misalnya saja pada pertempuran Senen, Keramat, dan pertempuran Tanah Tinggi.

Masjid ini pernah akan dibongkar pada tahun 1980-an namun alhamdulillah bisa diselamatkan oleh para ulama serta masyarakat setempat. Bahkan sampai saat ini, ditengah genjarnya pembangunan gedung-gedung pencakar langit Jakarta, masjid ini seakan tidak kehilangan nilai sejarahnya, dengan tetap mempertahankan keaslian dan ciri khas bangunan, serta penambahan fasilitas lain seperti madrasah pendidikan membaca Al-Qur’an dan Baitul Mal.

Sekilas Arsitektur Masjid At Taibin

interior Masjid At Taibin

Sedangkan dari segi Arsitekturnya, Masjid At Taibin didirikan diatas tanah dengan luas 711 meter persegi, dengan bentuk bangunan persegi panjang 25 x 20 m atau 500 meter persegi. Bagian lantai dibuat dari marmer, kemudian bagian atap dibuat tumpang dua dengan bahan genteng.

Untuk penyangga masjid terdapat 4 tiang yang berjejer terbuat dari kayu jati hitam, dengan ukiran kaligrafi sisi luarnya. Tiang-tiang kayu tersebut merupakan kayu jati hitam asli yang sudah berumur lebih dari 2 abad, sedangkan hiasan kaligrafi baru ditambahkan pada saat renovasi berlangsung.

Mimbar yang terdapat pada masjid berukuran 2 x 1,2 meter, dan juga terbuat dari kayu jati hitam dengan tinggi 3 meter. Bentuk mimbar pada masjid At Taibin mengingatkan kita pada mimbar-mimbar masjid yang dibuat pada zaman Wali Songo.

Arsitektur masjid ini mengadopsi perpaduan budaya Indonesia dan Eropa, maklum saja karena masjid ini memang dibangun pada saat kolonial belanda masih berkuasa di Indonesia.

Masjid Tombul – Bulgaria

Masjid Tombul – Bulgaria

Masjid Tombul atau “Tombul Mosque” terletak di Bulgaria, tepatnya di Georgi Sava Rakovski, Shumen, Bulgaria. Masjid ini tergolong masjid yang sangat bersejarah, dimana dibangun pada masa Emperium Usmaniyah (Ottoman / Turki Usmani). Pada saat masjid dibangun, Wilayah Bulgaria masih menjadi kawasan kekuasaan dari Turki Usmani, sehingga arsitektur Masjid Tombul pun juga mengusung gaya khas Emperium Usmaniyah tersebut. Ciri khas masjid yang dimiliki oleh masjid pada kekuasaan Eperium Usmaniyah adalah Kubah Jumbo, dengan menara pencakar langit.

Sampai saat ini, Masjid Tombul merupakan masjid yang paling tua dan terbesar di Bulgaria dan menjadi salah satu masjid terbesar didaerah Semenanjung Balkan.

masjid tombul bulgaria.

Awalnya, masjid ini disebut dengan “The Sherif Halil Pasha Mosque”, karena memang pendirinya adalah Sherif Halil Pasha yang merupakan mantan penguasa Bulgaria pada masa kejayayaan Emperium Usmaniyah. Beliau lahir di Madara, yaitu sebuah desa yang terletak 17 Kilometer dari kota Shumen. Namun kemudian oleh masyarakat setempat malah sering disebut dengan nama “Masjid Tombul” karena bentuk atap masjidnya yang berlapis bertingkat dan membumbung tinggi. Arti kata Tombul dalam Bahasa Turki adalah Timbul, jadi dalam bahasa Indonesianya Masjid Tombul berarti “Masjid Timbul” dari karakteristik bangunannya.

Masjid ini pertama kali dibangun pada abad ke-17 Masehi, atau sekitar tahun 1740-1744. Pembangunannya dilakukan langsung oleh Sherif Halil Pasha dengan mengambil tempat di timur laut kota Shumen, namun saat ini berada di sisi barat daya dari kota tersebut karena perkembangan pesat dari wilayah Shumen.

Ruang utama untuk sholat diberikan luas 1,1730 meter persegi, dimana mengambil  tempat yang dulunya dijadikan sebagai halaman serta ruang asrama sekolah madrasah diwilayah tersebut. Karena usianya yang sudah lumayan tua, masjid ini kemudian mendapatkan penghargaan sebagai “Monumen Arsitektur dan Kontruksi” yang di cap dalam undang-undang Nomor 22 tahun 1975 oleh pemerintah Bulgaria. Kemudian, karena merupakan warisan tua dunia, masjid ini juga dimasukkan dalam daftar 100 tujuan wisata yang wajib dikunjungi jika singgah ke negara Bulgaria.

pintu masuk masjid tombul bulgaria

Sedangkan untuk arsitekturnya, masjid ini biasa dikenal dengan lengkungan pelataran masjid, serta sedikitnya 12 ruangan yang mengelilingi masjid tersebut. Menara tunggal yang menjulang sampai 40 meter dengan 99 anak tangga yang terbuat dari batu juga merupakan ke-khas-an masjid ini.

Keunikan lainnya terdapat pada air pancuran dari tempat berwudhu yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tak heran jika banyak para wisatawan yang berkunjung ke Masjid Tombul selalu menyempatkan diri untuk berwudhu serta membawa air tersebut untuk oleh-oleh.

Pelataran bagian tengah adalah penghubung utama antara bangunan utama dengan bangunan yang lainnya. Ditambah dengan lapangan kecil yang terbuka serta jejeran Arcade yang langsung mengarah ke bangunan utama masjid membuat bangunannya semakin unik. Biasanya lapangan kecil tersebut digunakan untuk tempat bermain bagi anak-anak, ataupun digunakan sebagai ruang tambahan shalat jika kuota didalam masjid sudah terpenuhi. Sedangkan Arcade tersebut ditopang oleh 4 pilar yang terbuat dari batu pualam berukuran sangat besar.

halaman tengah masjid tombul

Untuk Struktur utama masjid adalah struktur bertingkat 3, dimana struktur paling bawah memiliki bentuk segi empat, lalu struktur kedua memiliki bentuk octagonal, serta tingkat teratas memiliki bentuk melingkar sebagai alas dari Kubah masjid berukuran 25 meter.

Kemeudian, Ruang Utama masjid berukurang lumayan kecil, hanya sekitar 15 meter persegi saja, ditambah dengan 4 jendela besar dengan kaca patri yang indah. Jamaah pria berada pada lantai paling bawah, sedangkan jamaah wanita berada di lantai dua.

Selain terkenal dengan eksteriornya yang indah, ternyata masjid ini juga memiliki interior desain Usmaniyah dan Baroque Prancis. Yaitu Interior masjid berupa lukisan dinding berupa beberapa pola tumbuhan, serta bentuk geometris dan Kaligrafi Al-Qur’an.

Masjid Shaat Gombuj – Masjid Tertua di Bangladesh

Masjid Shaat Gombuj – Masjid Tertua di Bangladesh

Masjid yang memiliki nama unik ini ternyata juga memiliki sejarah yang unik. Dari namanya “Shaat Gombuj” memiliki arti “60 Kubah”, namun kubah yang dimiliki masjid ini totalnya berjumlah 81 buah. Yang berjumlah 60 adalah pilarnya, atau tiang-tiang penyangga didalam masjid. Kemungkinan kesalahan penyebutan tersebut berasal dari zaman dahulu kala, dimana penyebutan “Shaat Amud” atau “60 Pilar” terdengar seperti “Shaat Gombuj” yang berarti “60 Kubah”. Namun kesalahan pemahaman dan penyebutan tersebut sepertinya sudah lumrah, apalagi nama masjid ini tidak dirubah sampai saat ini.

masjid shaat gombuj.

“Masjid Shaat Gombuj”, atau juga dikenal dengan “The Sixty Dome Mosque”, atau dalam bahasa Bangladeshnya “Shaat Gombuj Moshjid”, atau juga lebih dikenal dengan “Shait Gambuj Mosque”, kemudian “Saith Gunbad”, serta “81 Dome’s Mosque”, merupakan masjid tertua didaerah Bagerhat, Bangladesh. Masjid dengan sebutan nama yang sangat banyak tersebut juga telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Dunia, yang ditetapkan UNESCO pada tahun 1985.

Masjid ini sampai sekarang juga merupakan masjid terbesar di Bangladesh, dengan nilai sejarah yang tinggi karena pembangunan masjid ini dilakukan pada masa-masa negara Bangladesh masih berbentuk kesultanan. Karena ke-eksotisan zaman dahulu yang dimilikinya, masjid ini sekaligus menjadi Monumental Islam yang paling menarik di seluruh Federasi Rebuplik India.

Masjid Shaat Gombuj terletak di Bagerhat-Khulna Rd, Bagerhat, Bangladesh. Tepatnya didaerah Khulna, sekitar 3 Mill dari pusat kota. Sedangkan bagerhat sendiri berjarak kurang lebih 200 Mill dari ibukota negara bangladesh.

Ukuran total bangunan masjid Shaat Gombuj memiliki panjang 16 kaki, lebar 108 kaki, sehingga total keseluruhan luas masjid mencapai lebih dari 17 ribu kaki persegi.

masjid shaat gombuj

Masjid ini pertama kali dibangun sekitar abad ke-15 masehi dengan desain yang dibuat oleh Arsitek Jahan Ali dengan mengadopsi gaya Tughlaq. Ceritanya berawal dari abad ke-15 dimana saat itu kaum muslimin mulai membabat hutan mangrove untuk dijadikan tempat pemukiman. Tepatnya di daerah Sundarbans, didekat pantai Bagerhat, dan dipimpin oleh Khan Jahan Ali, salah satu tokoh muslim terkenal pada masa itu.

Beliau adalah tokoh utama yang ada di kota Bagerhat, pada masa pemerintahan Sultan Nasiruddin Mahmud Shah, kemudian beliau mendapatkan julukan sebagai “Khalifalabad”. Pada masa pemerintahannya, Beliau menghiasi kota Bagerhat dengan lusinan bangunan masjid yang megah dan indah (pada masanya). Salah satunya yang diketahui dan dapat bertahan sampai sekarang adalah Masjid Shaat Gombuj ini.

Masjid Shaat Gombuj pada masanya sudah menjadi masjid terbesar dan terunik, karena memiliki ukuran yang sangat luas, serta memiliki 81 kubah yang mengelilingi area utama masjid. Pembangunan masjid Shaat Gombuj dimulai pada tahun 1442, memerlukan waktu 7 tahun untuk menyelesaikan masjid ini. Selain difungsikan sebagai tempat beribadah, masjid ini juga difungsikan sebagai tempat belajar mengajar serta ruang pertemuan bagi kegiatan muslim disana.

interior masjid shaat gombuj

Pembangunan masjid ini juga tergolong unik, karena dibangun dengan tembok yang tipis hampir mirip benteng perang pada masa itu. kemudian hanya berbahan baku batu bata yang  dibuat tirus.  Ditambah dengan 77 kubah yang dibangun dengan ketinggian yang hampir sama, ditmbah 4 kubah dimasing-masing penjuru bangunan yang lebih tinggi daripada kubah yang lain. Jadi, total kubah yang dimiliki masjid ini berjumlah 81 buah.

Dari sini bisa kita ketahui bahwa pengambilan nama masjid ini berasal dari jumlah kubah yang totalnya ada 81 buah. Dua dari  Empat kubah pada penjuru masjid, dulunya digunakan sebagai tempat muadzin untuk mengumandangkan adzan.

Masjid Raya Senapelan – Pekanbaru Riau

Masjid yang diberi nama “Senapelan” ini merupakan masjid yang dibangun sekitar abad ke-18, atau sekitar tahun 1762 Masehi. Pada masa pembangunannya adalah pada masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, dilanjutkan pada kekuasaan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah.

Memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun masjid ini. Karena pada saat itu, teknologi pembangunan insfrastruktur dan bangunan belum semaju sekarang.

masjid senapelan

Pembangunan masjid ini tepatnya pada saat Kerajaan Siak masih di atas awan / pada puncak kejayaannya, dimana sang raja Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah beserta putranya selalu menerapkan tiga untuk yang akan menyelamatkan kehidupan manusia, yaitu : Raja, Adat, dan Agama.

Raja disini dimaksudkan sebagai pemimpin yang amanah, tidak korup, peduli terhadap rakyat miskin dan lain-lain. Lalu Adat dimaksudkan bahwa penyebaran Islam adalah lewat kebudayaan masyarakat, jika agama tanpa budaya tidak akan terlaksana, sedangkan jika budaya tanpa didasari dengan keyakinan muslim yang kuat, maka yang terjadi adalah kesalahpahaman antara dua hal tersebut. Ketiga aspek tersebut dipegang teguh oleh sang raja dimanapun berada, jika sang raja membangun tempat kekuasaan baru, maka 3 bangunan berupa Kerajaan, Balai Kerapatan, serta Masjid akan dibangun kembali sebagai simbol Raja, Adat serta Agama yang saling berkesinambungan satu sama lain.

Masjid Senapelan juga biasa disebut dengan “Masjid raaya Pekanbaru”, karena memang ibukota Kerajaan Siak sebelumnya dipindahkan dari wilayah Mempura Besar ke Bukit Senapelan (Kampung Bukit). Pemindahan tersebut terjadi pada masa Sultan Jalil Alamudin, kemudian Masjid Senapelan berubah namanya menjadi “Masjid Alam”.

Memang dalam perkembangannya, masjid ini sudah beberapa kali berganti nama, mulai dari “Masjid Alam”, kemudian berubah menjadi “Masjid Nur Alam”, dan sekarang menjadi “Masjid Senapelan Pekanbaru, atau Masjid Raya Pekanbaru”.

Konon menurut masyarakat setempat, diareal masjid ini terdapat sumur yang dikeramatkan. Banyak orang yang datang demi tujuan untuk memohon kesembuhan dari penyakitnya, membayar nadzar, ataupun niat yang lainnya.

interior masjid senapelan

Masjid yang beralamatkan lengkap di Kecamatan Senapelan, Pekanbaru, Riau ini telah mengalami beberapa Renovasi. Yaitu pada tahun 1755 M, Renovasi dilakukan dengan pusat pelebaran daya tampung masjid. Lalu pada tahun 1810 M, pada masa pemerintahan Sultan Syarif Ali Jalil Syaifuddin, masjid ini kembali direnovasi dengan menambahkan fasilitas tempat berteduh untuk pada peziarah makam disekitar areal masjid. Dilanjutkan pad tahun 1940 M, ditambahkan sebuah pintu gerbang masjid yang menghadap ke arah timur.

Renovasi yang terakhir, yang terjadi pada tahun 1940 M merupakan hampir renovasi total dari masjid yang bisa disebut sudah “sangat tua” yaitu dari tahun pembangunannya 1755 sampai pada tahun 1940. Ini artinya masjid tersebut sudah berusia hampir 2 abad lamanya.

Renovasi total dilakukan karena masjid ini dinilai sudah tidak layak pakai, apalagi dari segi bangunannya yang sudah banyak yang rusak ditelan waktu. Untuk bagian renovasi yang paling terlihat adalah pada bagian arsitektur kubahnya, yang semula bergaya Kubah Bawang, menjadi Kubah dengan gaya khas negara Timur Tengah yang saat ini sedang menjadi trend di Indonesia. Kubah yang digunakan berjenis Kubah Beton yang bisa bertahan hingga puluhan tahun.

Selain digunakan untuk tempat beribadah masyarakat sekitar, masjid ini juga sudah menjadi tempat tujuan wisata religius dari dalam negeri maupun mancanegara. Termasuk didalamnya terdapat beberapa fasilitas pendidikan Madrasah, yang dibangun untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak diwilayah sekitar masjid.

Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung

Bandung terkenal dengan beberapa tempat wisata dan juga cuaca nya yang selalu sejuk. Kota ini merupakan kota metropolitan yang sangat padat di Jawa Barat. Bandung juga dikenal dengan sebutan kota “Kembang” karena pada zaman dahulu dikota tersebut terdapat kembang-kembang dan pepohonan yang sangat cantik. Hingga kini pun Bandung masih memiliki keindahan dari bunga dan pepohonan meskipun sekarang Bandung dipenuhi oleh berbagai macam bangunan yang sangat menarik.

masjid raya bandung

Jika ingin melakukan wisata sejarah, kuliner hingga berbelanja, Bandung adalah kota yang sangat cocok untuk menjadi tujuan utama. Berbagai tempat yang sangat menarik, macam-macam makanan dan juga beberapa mall berada di Bandung. Tak hanya itu, beberapa tempat wisata pun banyak tersedia di Bandung dan selalu dipenuhi oleh berbagai orang dari luar Bandung. Contohnya seperti Tangkuban Perahu, Kawah Putih, Trans Studio Bandung, Braga Street, Kampung Gajah, Farm House dan tempat-tempat wisata lainnya. Tak heran Bandung selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan domestik bahkan wisatawan luar negeri.

masjid raya bandung

Tak hanya berbagai tempat wisata dan beragam makanan yang sangat enak dan lezat, Bandung juga memiliki bangunan yang sangat menarik dan megah. Salah satu bangunan tersebut merupakan sebuah tempat ibadah umat islam yaitu Masjid Raya Agung. Masjid ini berada di dekat alun-alun kota Bandung dan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Masjid Raya Bandung pertama kali dbangun pada tahun 1810 berdiri diatas tanah seluas 23.448 m2 dengan luas bangunan masjid mencapai 8.575 m2. Termasuk masjid yang memiliki bangunan besar, di tempat ini dapat menampung jamaah hingga berjumlah 13.000 jamaah. Sejak didirikan masjid Raya Bandung telah terjadi perombakan sebanyak delapan kali yang terjadi pada abad ke-19 lalu lima kali di abad 20 dan terakhir direnovasi kembali pada tahun 2001 hingga peresmian masjid tersebut dilaksanakan pada 4 Juni 2003. Peresmian Masjid Raya Bandung saat it di resmikan oleh H.R Nuriana yang merupakan Gubernur Jawa Barat pada masanya.

interior masjid raya bandung

Sebelumnya masjid Raya Bandung memiliki ciri khas dari coraknya Sunda, namun kini masjid tersebut memiliki corak Arab. Masjid ini juga di hiasi dengan dua menara yang menjulang tinggi mencapai 81 meter di sebelah kiri kanan masjid. Menara tersebut selalu dibuka untuk umum pada hari Sabtu dan Minggu. Pada bagian atap masjid diganti menjadi satu kubah besar pada atap tengah dan pada atap kiri kanannya terdapat kubah yang lebih kecil, sebelumnya atap bangunan masjid ini adalah atap joglo.

interior masjid raya bandung

Selain itu, banguan masjid terdahulu bentuknya berupa panggung tradisional sederhana, tiangnya menggunakan kayu dan pada bagian dindingnya berasal dari anyaman bambu. Di tempat itu  juga dulu terdapat sebuah kolam yang digunakan para jamaah untuk berwudhu. Telah terjadi salah satu perombakan pada tahun 1850 atas instruksi dari Bupati R.A Wiranatakusumah IV. Setelah selesai, bangunan masjid tersebut terlihat megah hingga diabadikan ke dalam sebuah lukisan oleh pelukis dari Inggris yang bernama W Spreat di tahun 1852.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, kini masjid Raya Bandung disulap menjadi masjid yang sangat megah dengan berbagai hiasan dari ornamen ukiran islam dengan mengutamakan seni budaya islami tatar Sunda. Dihalam masjid terdapat sebuah halaman yang sangat luas dan indah selalu dikunjungi oleh orang-orang ketika di hari libur atau di akhir pekan.

Masjid Manoa – Masjid Satu-satunya yang berada di Hawaii

Masjid Manoa – Masjid Satu-satunya yang berada di Hawaii

masjid di hawaiMasjid yang satu ini tergolong sangat unik, karena tidak sedikitpun mirip dengan masjid-masjid lain pada umumnya, hanya mirip sebuah rumah di wilayah Hawaii. Memang masjid ini bukanlah asli bangunan masjid, namun hanya rumah yang disewa kemudian di fungsikan sebagai tempat beribadah umat muslim di Hawaii.

Masjid ini bertempat di Hawaii, tepatnya di 1935 Aleo Pl, Honolulu, HI, Hawaii. Hawaii sendiri merupakan salah satu negara bagian dari Amerika, tepatnya negara yang bergabung dengan urutan ke-50. Hawaii biasanya di identikkan dengan pesona pantai yang sangat eksotis, karena memang terletak di daerah torpis, di tengah-tengah Samudra Pasifik.

Jumlah total penduduk Hawaii hanya sekitar 1,2 juta orang jiwa saja, di penuhi oleh penduduk Suku Asia (Jepang, China, Vietnam serta Filipina) sebesar 42%, kemudian suku kulit putih sebesar 27%, lalu warga suku asli hawaii hanya sebesar 10% saja. Kemudian sisa minoritas penduduknya berasal dari Timur Tengah serta Suku Kulit Hitam dan blesteran antara suku kulit hitam dan kulit putih. Dari keseluruhan total penduduk hawaii, ada sekitar 3,000 orang muslim yang menetap di Hawaii.

Masjid yang biasa disebut dengan “Manoa” ini merupakan satu-satunya masjid yang dimiliki oleh umat muslim disana sebagai tempat ibadah. Dikelola oleh MAH (Muslim Association of Hawaii) yang berlokasi di pulau Oahu, atau kota Honolulu.

Sebenarnya sampai saat ini pun, masyarakat muslim disana sedang mengusahakan untuk pembangunan masjid baru dengan bangunan masjid asli, bukan rumah yang disewa seperti sekarang. Namun usaha tersebut masih belum bisa tercapai karena terkendala dengan izin dari pemerintah setempat.

Bangunan Masjid Manoa tidak seperti masjid-masjid pada umumnya, karena memang hanya berbentuk rumah biasa yang disewa oleh komunitas islam disana. Meskipun hanya berbentuk rumah yang disewa, ternyata sejarah yang dimilikinya cukup panjang dan menarik untuk diceritakan, sampai pada akhirnya organisasi Islam di Hawaii tercipta berkat bantuan dari keikutsertaan dari negara muslim lainnya di Asia termasuk dari negara kita Indonesia.

Sejarah Berdirinya Asosiasi Muslim di Hawaii

MAH atau Muslim Association of Hawaii atau Asosiasi Muslim Hawaii, sebelumnya dikenal dengan MAS atau The Moeslem Student Association atau Asosiasi Mahasiswa Muslim Hawaii sudah berdiri sejak lebih dari 30 tahun yang lalu.

Asosiasi Mahasiswa Muslim Hawaii adalah suatu organisasi yang terbentuk dari sekelompok mahasiswa yang beragama muslim yang menimba ilmu di University of Hawaii, Manoa. Mahasiswa-mahasiswa tersebut berasal dari beberapa belahan dunia, misalnya India, Afghanistan, Pakistan, Malaysia, Indonesia serta dari negara-negara Timur Tengah lainnya.

Organisasi Mahasiswa Muslim tersebut sudah ada sejak tahun 1968, namun belum mendapatkan izin dari pemerintah setempat. Pada masa itu, para mahasiswa muslim hanya menggunakan sebuah Cottage (Rumah Kos) untuk mengadakan shalat berjamaah, tepatnya dikawasan East West Center, yang saat ini menjadi tempat berdiri Masjid Manoa.

interior masjid manoa hawaii

Asosiasi Mahasiswa Muslim Hawaii diakui secara resmi pada tahun 1979, sekaligus menjadi organisasi muslim pertama di Hawaii. 90% dari anggotanya sudah tidak berstatus sebagai mahasiswa, namun nama tersebut masih dipertahankan, karena bagi setiap muslim menuntut ilmu sampai akhir hayatnya merupakan suatu kewajiban tersendiri.

Ada beberapa mahasiswa Indonesia yang turut membantu perkembangan dan pembangunan masjid Mona pada saat itu, seperti Mohammad Bilal Farooq, Mohammad Haniff, Abdul Zainal, Pramudita Anggraita, serta Zamir Uddin. Jadi jika kita berkunjung kesana, pastinya tanggapan ramah akan kita dapatkan, melihat dari perjuangan keras yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa indonesia dalam mempertahankan dan melestarikan Islam disana.

Setelah kita membahas tentang sekilas sejarah tentang peran Asosiasi Mahasiswa Islam Hawaii serta beberapa orang Indonesia yang terlibat didalam perjuangan pembentukan masjid ini. Kali ini kita akan membahas sedikit tentang pembelian lokasi yang saat ini dijadikan masjid, serta perkembangan Islam disana sampai saat ini.

Proses Pembelian Masjid Manoa

Semua anggota Asosiasi Mahasiswa Islam Hawaii berusaha untuk mempromosikan dan mengumpulkan penggalangan dana untuk pembukaan Islamic Center Hawaii. Menurut Star Bulletin, dikisahkan bahwa James Abdullah Roshey, salah satu anggota Asosiasi telah bertemu dengan Pangerah Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal, Saudi Arabia dengan hasil yang menggembirakan. Karena Pangeran Abdulaziz sangat berlapang dada dan siap membantu apa saja demi pembangunan masjid, bahkan beliau menawarkan untuk membangun gedung pusat pendidikan, serta bisnis rumah makan dan pertokoan dalam satu komplek masjid.

masjid unik di hawaii

Pangeran Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal kemudian mengambil tanggung jawab untuk membangun keseluruhan kompleks tersebut. Meskipun begitu, nama Pangeran Abdulaziz tidak mau disebutkan didalamnya, hanya disebutkan sebagai Hamba Allah yang menyumbangkan dana untuk pembangunan kompleks masjid. Itulah bentuk dari kedermawanan dan keikhlasan seorang muslim sejati, dimana anggapan tentang harta yang dimilikinya semuanya adalah milik Allah SWT.

Rumah yang sebelumnya hanya disewa sebagai Cottage (Kost) bagi mahasiswa islam disana, kemudian dibeli total oleh Pangeran Abdulaziz. Namun, bangunannya tidak dirobohkan karena memang masih kokoh dan masih bisa dimanfaatkan. Yang dirubah hanyalah atap bagunan bagian depan dan diberi ukiran kayu mirip kubah kecil.

Sampai saat ini beberapa kamar dimasjid tersebut tetap disewakan bagi para penduduk muslim yang menimba ilmu di University of Hawaii, dengan catatan uang sewa tersebut digunakan untuk kemashlahatan masjid.

Sedangkan dari arsitekturnya, Masjid Manoa ini memang tidak mirip sama sekali dengan masjid-masjid lain pada umumnya. Karena memang bukanlah bangunan masjid pada dasarnya, tapi bangunan rumah yang dibeli oleh Pangeran Abdulaziz kemudian di alihfungsikan sebagai masjid tanpa merombak eksterior (bagian luar) bangunannya. Dari luar memang tidak terkesan sebagai masjid, namun dibagian dalamnya sangat tertata dengan rapi, dengan ornamen-ornamen khas masjid timur tengah, seperti lukisan dinding, dan kaligrafi.

Perkembangan Islam di Hawaii

Pada tanggal 30 November 1990, Asosiasi Mahasiswa Muslim Hawaii dibubarkan, karena tidak memenuhi syarat pendaftaran ulang di Hawaii’s Business Registration Division.

Lalu, pada tanggal 4 Februari 1997, dibentuk sebuah Organisasi baru dengan nama The Muslim Association of Hawaii dengan pengurus yang  berasal dari berbagai negara, seperti Indonesia, Afghanistan, Arabsaudi, serta muslim lokal Hawaii.

keserdehanaan interior masjid monoa

Menurut media lokal di Hawaii pada bulan November 2001 menyebutkan bahwa “Memeluk Agama Islam kini menjadi Trend Baru”, terutama dikalangan mahasiswa dan masyarakat lokal hawaii. Presiden Muslim Association of Hawaii, Hakim Ouansafi, menyatakan bahwa paling tidak sebanyak 3 orang masuk islam setiap bulannya.

Kebanyakan orang yang menjadi “Muallaf” atau baru masuk islam disana mayoritas adalah wanita, jika dirasiokan 1:4 antarai pria:wanita. Kemungkinan besar mereka cenderung memilih islam karena hak wanita adalah sama, bukan pria yang lebih berkuasa. Kemudian menurut beberapa info menyebutkan bahwa beberapa diantaranya menyadari akan adanya tuhan pada saat mereka sakit parah karena alkohon dan obat-obatan terlarang.

Sedangkan dari  wilayah West Coast, beberapa Muallaf adalah anggota militer. Jika di Honolulu para muallaf sebelumnya tidak beragama (penganut faham ateizme), berbeda dengan wilayah West Coast yang pada umumnya muallaf baru tersebut merupakan penganut dari agama lain sebelumnya.

Masjid Islamic Center –Samarinda

Masjid Islamic Center –Samarinda

Di Indonesia, memang banyak sekali masjid yang memiliki nama “Islamic Center” atau masjid perkumpulan umat islam. Salah satunya ada di Kota Samarinda. Tepatnya di Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

Masjid ini masuk nominasi “Masjid Termegah” se-Asia Tenggara, setelah Masjid Istiqlal di Jakarta, memiliki latar belakang unik yang berupa tepian sungai Mahakam, serta tujuh menara yang menjulang tinggi, ditambah dengan kubah yang super besar.

islamic center samarinda

Masjid Islamic Center Samarinda atau biasa disingkat menjadi MISC memiliki sejarah yang juga lumayan unik. Dimulai dari lahan yang digunakan merupakan bekas area pengolahan kayu PT Inhutani I.  Kemudian masyarakat muslim setempat mengajukan permohonan kepada Dinas Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur agar memberikan mereka tempat / tanah yang akan digunakan sebagai Masjid.

Berkat usaha yang sungguh-sungguh, akhirnya masyarakat setempat mendapatkan sebidang tanah seluas lebih dari 70,000 meter persegi, yang kemudian dihibahkan serta diberi dana dari APBD Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk pembangunannya. Pada saat itu, gubernur yang menjabat adalah Suwarna Abdul Fatah. Berkat kepedulian beliau terhadap umat muslim samarinda, akhirnya masjid Islamic Center pun dapat didirikan dengan megahnya dan kokoh sampai saat ini.

islamic center samarinda

Proses pembangunan masjid ini pun dibantu oleh beberapa perusahaan dan kontraktor, misalnya saja PT Anggara Architeam sebagai arsitekturnya, kemudian PT Perkasa Carista Extestika sebagai perencana struktur bangunananya, lalu PT Meco Systech Internusa sebagai perencana M&E, dan yang terakhir adalah Biro Arsitektur Ahmad Noeman sebagai perencana estetikanya.  Dengan bantuan sekitar 4 perusahan besar tersebut, tidak heran jika masjid ini menjadi masjid yang sangat megah, bahkan memegang rekor masjid terbesar dan termegah nomor 2 dikawasan Asia Tenggara.

Pembangunan masjid ini dimulai pada tanggal 15 Juli 2001, diawali peletakan batu pertama oleh Presiden Megawati Soekarno Putri (Presiden RI pada tahun tersebut), kemudian baru selesai pada tahun 2008 yang diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI pada tahun tersebut).

Sedangkan untuk bagian Arsitekturnya, masjid dengan luas bangunan utama sekitar 43,500 meter persegi, ditambah dengan luas bangunan sekunder 7,115 meter persegi serta luas basement 10,235 meter persegi ini merupakan sebuah karya seni yang tiada duanya.

Untuk lantai dasar masjid diberikan luas 10,270 meter persegi, kemudian lantai utama 8,185 meter persegi, lalu baloni dengan luas 5,290 meter persegi. Arsitektur yang dimilikinya mengadopsi arsitektur Masjid Nabawi, serta Masjid Haghia Sophia Istanbul Turki.

Total menara yang dibangun disekitar masjid adalah tujuh  buah, menara utama memiliki ketinggian 99 meter dengan filosofi Asma’ul Husna. Menara pencakar langit tersebut juga menduduki menara masjid tertinggi yang ada di Indonesia sampai saat ini.

Didalam bangunan menara, terdapat 15 lantai dengan masing-masing lantai memiliki tinggi 6 meter. Kemudian anak tangga untuk naik keatas diantara tingkat ruangan dibangun sebanya 33 anak tangga yang mengambil filosofi pembagian sepertiga jumlah tasbih.

lorong islamic center samarinda

Masjid ini juga memiliki 6 menara lainnya disamping menara utama , empat diantaranya memiliki tinggi 70 meter, dan sisanya memiliki tinggi 57 meter. 6 menara tersebut juga mengandung filosofi Rukun Iman yang jumlahnya ada 6.

Interior yan dipasang dimasjid juga merupakan inovasi tersendiri dengan lantai keramid dengan border granit yang sangat indah, serta penataan batu alam oster yellow yang sangat rapi. Sedangkan bagian lantai bangunannya memiliki 3 tingkat yaitu Basement, Ruang Pertemuan, serta ruang utama untuk sholat.

Untuk Basement, dijadikan sebagai lantai parkir kendaraan dengan daya tampung sekitar 200-an mobil, dan 130-an sepeda motor, serta fasilitas toilet dan penampungan air. Lalu Ruang Pertemuan dikhususkan bagi jemaah yang ingin melakukan pertemuan / seminar, maupun resepsi pernikahan. Sedangkan yang terakhir, Ruang Utama Shalat, memiliki daya tampung hingga 20,000 jamaah.

Masjid Islamic Center – Prabumulih

Masjid Islamic Center – Prabumulih

Masjid Islamic Center Prabumulih terletak di Jln. Lingkar, Kelurahan Gunung Ibul, Kecamatan Gunung Ibul, Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan. Nama kota yang dijadikan nama masjid ini memiliki sejarah yang unik, sebelum menjadi kota yang mandiri, ternyata masjid ini pernah menjadi Kota Administratif di wilayah kabupaten Muara Enim. Kota Prabumulih juga sempat dijadikan kota pembantu di wilayah Gelumbang.

Masjid Islamic Center Prabumulih atau biasa disebut dengan singkatannya MICP, mulai dibangun pada tahun 2010 lalu dan memerlukan waktu sekitar 4 tahun untuk penyelesaian seluruh bangunannya. Pembangunan masjid ini dikabarkan menghabiskan dana sekitar Rp. 29,68 miliar.

masjid islamic center prabumulih

Tender masjid dengan Budger luar biasa tersebut diambil oleh PT Cindo Abadi Perkasa (CAP) dengan tenggang waktu yang diberikan adalah sekitar 10 bulan. Ditambah Pihak Kontraktor yang memberikan janji bahwa bangunan masjid akan selesai dalam kurun waktu 10 bulan saja. Namun nyatanya, perkiraan tersebut meleset dan malah membutuhkan waktu pembangunan sekitar 4 tahun.

Setelah selesai, maka masjid garapan PT Cindo Abadi Perkasa (CAP) ini diserahkan kepada Komplek Perkumpulan Islam (Islamic Center) di daerah kota prabumulih pada akhir tahun 2014 lalu. Akhirnya, Masjid Islamic Center Prabumullih siap untuk digunakan sebagai tempat ibadah maupun sebagai tempat musyawarah oleh umat muslim sekitar pada awal tahun 2015.

Letak masjid ini berada dihadapan SMAN 7 Kota Prabumulih, sehingga setiap harinya masjid ini selalu ramai dikunjungi oleh para murid, serta guru-guru disana untuk melakukan ibadah shalat berjamaah.

Sedangkan konsep arsitektur yang dianutnya menggunakan konsep “Islam Sejuk Dipandang Mata” dengan ornamen dan instrumen khas negara timur tengah. Meskipun mengambil gaya dari luar negeri, namun estetika bangunan masjid dalam negeri juga ikut digbungkan.

Masjid Islamic Center kota Prabumulih juga telah mendapatkan prediket masjid terbesar dan terluas di daerah Provinsi Sumatera Selatan. Selain digunakan sebagai tempat ibadah, ternyata ada beberapa bangunan sekunder yang dibangun sebagai Kantor MUI dan Badan Zakat Nasional (Baznas) di wilayah Prabumulih.

pintu gerbang islamic center prabumulih

Bangunan yang digunakan sebagai lokasi MUI serta Baznas memiliki aula yang lumayan besar. Aula yang besar ini kadang-kadang digunakan sebagai tempat acara yang penting, misalnya pertemuan antar anggota dewan ataupun masyarakat sekitar.

Sedangkan untuk arsitekturnya, masjid ini memiliki ornamen-ornamen megah yang diadopsi dari masjid-masjid di daerah Timur Tengah. Warna dominan yang digunakan adalah abu-abu dan kream, serta bentuk kubah yang dicat berwarna-warni mirip seperti corak batik.

Kubah yang dibangun diatas ruangan utama masjid  merupakan kubah dengan 2 corak warna yang berbeda, sehingga keindahan dapat dirasakan. Sedangkan untuk model pembuatannya, kubah tersebut juga dibuat dengan panel enamel dengan hiasan warna yang beragam, seperti melihat ukiran batik di kubah tersebut.

Bentuk kubah masjid memang sangat beragam, misalnya saja kubah dengan pola enamel belah ketupat, namun yang diadopsi oleh masyarakat setempat merupakan kubah dengan motif batik untuk memberikan ciri khas kepada Kota Prabumulih sebagai kota batik juga, tak heran jika banyak sekali orang-orang serta wisatawan yang penasaran dengan Masjid Islamic Center Prabumulih.

Sedangkan untuk mitos yang beredar, disamping area masjid terdapat pemakaman dengan umur yang sudah sangat tua. Menurut warga setempat, kompek pemakaman merupakan kompleks pemakaman sesepuh yang menciptakan Kota Prabumulih.

Apalagi, pada saat belum dibangun masjid, konon kawasan Masjid Islamic Center ini merupakan hutan belantara yang di babat oleh pemerintah pusat Sulawesi Selatan, yang pada saat itu digunakan sebagai perluasan wilayah Prabumulih.

Masjid Agung Brebes

Masjid Agung Brebes

Di Jawa Tengah terdapat sebuah bangunan masjid tertua dan juga merupakan tempat persinggahan beberapa orang karena lokasinya berada di pantura yang cukup strategis. Masjid tersebut bernama Masjid Agung Brebes. Tepatnya lokasi masjid Agung Brebes berada di sebelah barat alun-alun kota Brebes. Karena berada di wilayah pantura. Masjid Agung Brebes selalu banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang melintas dari arah Jakarta-Cirebon dan dari arah timur Semarang Surabaya. Namun meskipun terbuka bagi mereka yang ingin beristirahat sejenak, komitmen yang dimiliki oleh pengurus masjid masih tetap terjaga untuk para jamaah hingga saat ini.

masjid agung brebes

Masjid Agung Pantura didirikan di tahun 1836 pada masa pemerintahan Bupati Raden Adipati Ariya Singasari Panatayuda I atau disebut juga dengan nama Kiyai Sura. Sebenarnya bangunan awal masjid ini bernuansa arsiektur Jawa Kuno yng kubahnya berbentuk limas. Masjid Agung Brebes pernah diratakan oleh tanah pada masa pemerintahan Bupati Raden Adipati Ariya Sutirta Pringghadirita atau dikenal dengan nama Kanjeng Tirto di tahun 1932/1933. Namun dibangun kembali menjadi masjid yang lebih besar dan lebih luas dengan pondasinya ditinggikan hingga 1 meter agar tidak sering terkena dampak banjir yang berasal dari Sungai Pemali. Meskipun masjid Agung Brebes telah dilakukan beberapa kali renovasi namun keaslian bangunan ini masih terlihat dan terjaga pada bagian depan masjid.

Kubah masjid yang berbentuk limas tersebut merupakan tempat penyimpanan benda-benda pusaka daerah seperti tombak, keris dan beberapa senapan pada zaman VOC. Namun saat ini benda pusaka tersebut telah dipindahkan ke museum di Semarang agar terjaga lebih aman. Masjid Agung Brebes telah mengalami pemugaran sebanyak tiga kali pada tahun 1933, thun 1979 dan pada tahun 2007. Tetapi dalam pemugarannya bangunan masjid tersebut masih terjaga dan tetap dipertahankan pada bagian kubah limas serta bangunannya yang berbentuk joglo.

Pada tahun 2015 Masid Agung Brebes mendapatkan penghargaan juara 1 sebagai Masjid Percontohan Nasional tingkat Provinsi Jawa Tengah dan mendapatkan nilai 295. Lalu juara dua didapatkan oleh Masjid Agung Purbalingga dengan nilai 245 dan disusul oleh Masjid Agung Kabupaten Semarang dengan nilai 197 sebagai juara 3. Kemenangan tersebut karena masjid Agung Brebes masih tetap mempertahankan bangunan kuno dan pelayanan dari pengurus masjid selama 24 jam non stop. Selain itu, pengurus masjid sangat disiplin dalam mengatur dan menjaga kebersihan serta keamanan masjid menambah poin tersebut. Selain itu kekompakan para pegurus masjid yang berjumlah 25 tersebut terus dijaga dengan adanya rapat setiap satu bulan sekali yang bertujuan untuk mengetahui kendala-kendala yang terjadi dan mengevaluasi semua kegiatan yang telah dilaksanakan.

interior masjid agung brebes

Masjid Agung Brebes memilik dua lantai dilengkapi dengan menara setinggi 33 meter. Telah disedikan juga tempat wudhu untuk wanita dan pria dan juga kamar mandi. Karena pengurus masjid disana lumayan banyak, terdapat juga kantor sekertariat.  Dilihat dari luar, masjid Agung Brebes tidak memiliki pintu gerbang hal itu bertujuan agar terihat lebih luas dan memberikan keleluasan bagi para pengunjung khususnya bag para jamaah masjid. Tak hany berfungsi sebagai tempat beribadah umat islam, masjid Agung juga memiliki fasilitas perpustakaan bagi para jamaah ataupun pengunjung untuk menambah wawasan khasanah keislaman. Tak heran masjid ini selalu ramai setiap harinya terutama di hari Jum’at, Hari Raya dan ketika libur.

Islamic Center Nunukan Kaltara

Islamic Center Nunukan Kaltara

Indonesia memiliki beberapa pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Tak hanya itu, dimasing-masing pulau tersebut memiliki ciri khasnya tersendiri hingga menjadi ikon tempat tersebut. Selain makanan, tempat wisata yang menjadi ciri tertentu pada sebuah kota atau pulaunya, bangunan yang menarik pun menjadi ikon tersendiri. Salah satunya berada di Kalimantan bagian Utara terdapat sebuah bangunan sangat megah sebagai tempat ibadah umat muslim. Bangunan tersebut bernama “Islamic Center Nunukan” atau dikenal juga dengan nama “Islamic Center Hidayatur Rahma”.

masjid islamic center nunukan

Bangunan masjid ini sangat menonjol karena memiliki daya tarik yang mempesona berupa tampilan eksterior massjid yang sangat indah menjulang tinggi diantara pohon bakau yang ada di tepian pantai Nunukan. Tempat ini berada di Jalan Sungai Jepun, Kelurahan Mansapa, Kecamatan Nunukan Selatan Kabupaten Kalimantan Utara. Masjid ini tepatnya berada di depan kantor bupati Nunukan.

Islamic Center Nunukan merupakan bangunan utama di wilayah tersebut sekaligus merupakan sebuah masjid yang dapat menampung hingga 800 jamaah sekaligus. Tak hanya digunaan untuk beribadah masyarakat sekitar, tak sedikit mereka yang berada di tempat lain untuk datang ke masjid Islamic Center Nunukan. Selain digunakan sebagai tempat beribadah, ternyata masjid ini digunakan sebagai tempat untuk belajar agama lebih mendalam dan melakukan aktivitas keagamaan lainnnya.

Untuk membngun sebuah masjid yang megah dibutuhkan dana sebesar hmpir 300 miliar rupiah. Dana tersebut menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (ABPD) Kalimantan Utara. Meskipun dana yang dipakai untuk membangun masjid ini tidak sedikit, namun hasil dari pembangunannya sangat luar biasa memukau. Bahkan bangunan masjid ini merupakan bangunan masjid termegah yang berada di sebuah perbatasan Negara Indonesia dan Malaysia. Masjid Islamic Center Nunukan telah berdiri kokoh diatas lahan seluas 10 hektar.

Pada awalnya, Forum Umat Islam di Kabupaten Nunukan memiliki keinginan untuk memiliki dan membangun sebuah masjid disana. Lalu H. Zainudin HZ yaitu seorang mantan Sekertaris daerah Nunukan dan Drs. Haji Abu Ubaedah yang merupakan mantan Kepala Kantor pada Kementrian Agama mencetuskan ide pembangunan masjid lalu meminta FUI Nunukan agar segera membuat dan mengajukan proposal untuk pembangunan masjid Islamic Center Nunukan. Sejak tahun 2009 FUI sudah mengajukan proposal tersebut tapi karena berbagai macam hal terjadi maka proposal tersebut disetujui pada tahun 2013 lalu.

interior masjid nunukan

Kemudian pada tanggal 30 November 2015 masjid ini resmi digunakan pertama kali dengan kegiatan Zikir dan Tabligh Akbar. Meskipu pda saat itu masjid tersebut belum rampung 100% namun jamaah yang menghadirinya sangat banyak. Dilihat dari bangunan masjid Islamic Center Nunukan, masjid ini memiliki satu kubah induk dengan empat menara pendampingnya. Pada setiap menara tersebut terdapat kubah kecil yang erwarna senada dengan kubah utama atau kubah induknya yaitu berwarna putih. Jika dilihat pada bentuk kubah induknya, kubah tersebut seperti kubah beton karena terlihat sangat kokoh.

Ketika akan memasuki masjid ini, maka pengunjung atau jamaah akan melewati sebuah tangga yang tidak terlalu tinggi dan jalan tersebut merupakan jalan utama untuk memasuki masjid ini. Terdapat juga angin-angin di depan tangg yang bentuknya melingkar seperti kubah utama yang ada di atasnya.

Hal itu memberikan kenyamanan dan kesejukan bagi para jamaah atau pengunjung. Di bagian inerior masjid tak lebih indah karena didalamnya terdapat hiasan yang menarik ditambah dengan lampu gantung yang sangat besar. Tak hanya itu, terdapat juga tulisan kaligrafi yang sangat indah pada bagian dinding atas yang melingkar sehingga para jamaah dan pengunjung ketika berada dala masjid dapt membaca tulisan Arab tersebut.

Hingga kini, masjid Islamic Center Nuukan menjadi tempat wisata religi yang selalu dikunjungi oleh berbagai masyarakat hingga di luar wilayah tersebut. Tak hanya pengunjung, masjid ini pun selalu dipenuhi oleh para jamaah yang melaksankan ibadah shalat.