Masjid Shanke Yadem, Masjid unik yang  beralaskan tanah di Turki.

Masjid Shanke Yadem, Masjid unik yang  beralaskan tanah di Turki.

Pada umumnya masjid memiliki bangunan yang luas, memiliki kubah, dinding yang kokoh dan tinggi serta lantai yang beralaskan ubin. Namun berbeda dengan masjid yang berada di Turki. Masjid ini sangat unik karena tidak memiliki lantai dan atap seperti masjid lainnya. Hanya dengan beralaskan bumi dan beratap langi, masjid Shanke Yadem di Turki menjadi masjid yang menarik bagi masyarakat sekitar hingga ke penjuru dunia.

Masjid Shanke Yadem

Berada di daerah Al-Fateh di pinggir kota Istanbul, Turki terdapa masjid yang ‘spesial’ dari masjid kebanyakan. Masjid ini sengaja di bangun tanpa atap dan lantai yang berasal dari bahan-bahan bangunan bernilai tinggi. Para jamaah akan merasakan beribadah ‘langsung’ diatas tanah dengan beratapkan langit. Seorang yang bernama Khairuddin Afandi, bukan orang yang kaya mampu membangun masjid unik ini dengan merelakan dirinya untuk tidak makan. Sehingga nama yang digunakan untuk masjid ini adalah ‘Shanke Yadem’ yang artinya ‘anggap saja saya sudah makan’. Khairuddin Afandi memiliki keinginan yang sangat tinggi untuk dan sangat mulia untuk membuat sebuat masjid. Meskipun dia tidak mampu, ia terus berusaha sedikit demi sedikit untuk mengumpulkan uangnya agar impian mulia itu dapat terwujud. Bahkan ia mampu menahan dirinya agar tidak menggunakan uang tersebut untuk apapun. Salah satunya hanya untuk mengisi perutnya agar tidak lapar. Dan pada saat itu juga setiap orang yang bertanya tentang hal itu, Khairuddin Afandi selalu menjawab ‘anggap saja saya sudah makan’.

Tak hanya dalam kurun waktu sebulan dua bulan, Khairuddin Afandi melakukannya hingga bertahun-tahun. Dan dia tetap konsisten menabung untuk mewujudkan keinginannya. Dan pada suatu hari, ia pun membuka hasil tabungannya dan mendapatkan jumlah uang yang cukup untuk membangun sebuah masjid. Akhirnya ia menggunakan uang tersebut untuk membeli berbagai material dan kemudian membangun sebuah masjid yang bernama ‘Shanke Yadem’. Nama itu dipilih karena Khairudin selalu menggunakan kata-kata itu jika ada orang yang bertanya padanya. Tidak disangka seorang Khairudin Afandi yang tidak kaya mampu membangun masjid  yang kebanyakan tidak dilakukan oleh orang kaya.

Masjid yang berada di wilayah perbukitan ini hanya di kelilingi oleh pagar dan dua menara berada di sebelah pinggir kanan kirinya. Dan di sebelah arah kiblat ditengahnya terdapat tempat yang seperti mihrab. Tak sedikit dari para jamaah ketika melaksanakan shalat di tempat ini merasakan khusyu’ yang lebih karena mereka melakukannya langsung di alam terbuka dia atas lapangan rumput yang sangat luas. Tak hanya orang-orang yang datang dari sekitar kota Istanbul saja, mereka berasal dari berbagai penjuru dunia datang ke masjid ini penasaran untuk melihatnya dan merasakan shalat di tempat yang terbuka. Suasana yang sangat bersahabat, udara yang segar dengan pemandangan alam luar biasa membuat para jamaah semakin khusyu’ dan betah untuk lebih lama berada di masjijd Shanke Yadem ini. Para jamaah lebih merasakan khusyu’ karena mereka langsung beribadah kepada Allah di alam yang terbuka hijau mengingat bahwa mereka hanya hamba biasa dan bukan apa-apa.  Jadi tak heran masjid ini selalu ramai oleh para jamaah.

interior Masjid Shanke Yadem

Tak sedikit orang yang percaya apa yang telah Khairudin Afandi lakukan karena unutk membangun masjid sangat membutuhkan dana yang sangat banyak. Dari sejarah tersebut, dapat dilihat bahwa keinginan kuat dan sangat mulia diiringi dengan kerja keras dan kesabaran mampu mengalahkan segalanya demi mewujudkan cita-cita yang sangat luar biasa.

Masjid Raya Sumatera Barat – Masjid Tahan Gempa Bergaya Minangkabau

Masjid Raya Sumatera Barat – Masjid Tahan Gempa Bergaya Minangkabau

Masjid Raya Sumetera Barat merupakan masjid  yang dibangun pada tanggal 21 Desember 2007 dan terletak menghadap Jln. Khatib Sulaiman, Padang Utara, Kota Padang.

Masjid Raya Sumatera Barat

Jika umumnya masjid dibangun dengan kubah diatasnya, lain halnya dengan masjid Raya Sumatera Barat yang tidak memiliki kubah melainkan hanya memiliki atap khas budaya Minangkabau dengan bagian atapnya memiliki desain rumah gadang dengan 4 sudut lancip, sedangkan bangunannya berbentuk gonjong.

Memang pada awal peletakan batu pertama dilakukan pada 21 Desember 2007 lalu, namun pembangunan yang sesungguhnya baru dimulai pada tahun 2008 dan mulai difungsikan sebagai tempat ibadah pada bulan Februari 2015.

Pembangunan masjid raya ini memiliki empat tahap yaitu :

  • Tahap pertama, pembangunan struktur bangunan selama dua tahun sejak dimulai pada awal tahun 2008 yang menghabiskan dana Rp. 103,871 miliar.
  • Tahap kedua, pengerjaan ruang shalat dan tempat wudlu pada tahun 2010 yang menghabiskan dana Rp. 15,288 miliar.
  • Tahap ketiga, pemasangan keramik lantai dan eksterior masjid yang menghabiskan Rp. 31 miliar.
  • Tahap keempat, penyelesaian ramp atau teras terbuka yang langsung menuju jalan raya yang menghabiskan dana Rp. 25,5 miliar.

Dari keempat tahap tersebut sampai masjid mulai difungsikan, dana yang sudah dipakai lebih dari Rp. 175 miliar.

Kontruksi masjid ini bertingkat yang terdiri dari tiga lantai, dimana lantai dua merupakan ruangan utama yang dipergunakan untuk shalat berjamaah. Masjid ini juga dibuat sedemikian rupa dengan rancangan anti gemmpa, namun tidak mengurangi kemegahan dan keindahan struktur masjid.

Masjid bergaya megah asli minangkabau ini menjadi masjid kebanggaan warga sumetara barat, apalagi pada saat masjid masih belum rampung, sudah banyak wisatawan yang penasaran dan berkunjung ke tempat wisata religi di tanah Minang ini.

Bangunan utama masjid memiliki luas area sekitar 40.000 meter persegi dengan daya tampung sebesar 20.000 jemaah. Tak hanya itu saja, masjid ini memang dirancang khusus oleh arsitek Rizal Muslimin sebagai masjid anti gempa bumi hingga 10 SR yang bisa digunakan sebagai Shelter atau lokasi evakuasi bila sewaktu-waktu terjadi bencana tsunami.

Lantai pertama masjid digunakan sebagai tempat wudlu dan tempat tambahan jika pada lantai utama (lantai dua) para jemaah sudah tidak bisa dimuat. Lantai kedua adalah ruang utama dalam masjid yang digunakan sebagai tempat utama shalat berjama’ah. Sedangkan lantai ketiga juga bisa difungsikan sebagai tempat alternatif untuk para jemaah shalat, ataupun bisa digunakan sebagai tempat istirahat jika pengunjung sepi.

interior Masjid Raya Sumatera Barat

Pada ruangan utama dihiasi dengan interior yang unik dan menarik dan baru dipasang pada tahun 2015. Pada bagian mihrab dibuat menyerupai bentuk batu “Hajar Aswad” dengan atap yang dihiasi dengan ukiran “Asma’ul Husna” berwarna keemasan. Sedangkan karpet yang membalut lantai sebagai alas para jemaah merupakan hadiah langsung dari pemerintah Turki.

Kemudian, dinding masjid dihiasi dengan ukiran tempat Al-Qur’an dengan empat sudut yang memiliki filosofi dalam adat budaya Minangkabau sebagai tau di nan ampek, atau 4 wahyu dari Allah (Al-Qur’an, Injil, Taurat, dan Zabur). Selain ukiran tempat Al-Qur’an, terdapat ukiran segitiga dengan enam sudut didalamnya yang bermakna tiga tungku sajarangan, tiga tali sapilin atau bisa berarti Ulama, Ninik Mamak, Cadiak Pandai harus memegang teguh 6 rukun iman sebagai pengikat dan pemersatu elemen yang ada di tengah masyarakat.

 

Masjid Larabanga di Ghana, Afrika yang sangat eksotis dan terbuat dari lumpur.

Masjid Larabanga di Ghana, Afrika yang sangat eksotis dan terbuat dari lumpur.

Masjid sebagai tempat ibadah selalu di desain sangat megah dan cantik dengan tujuan agar para jamaah dapat merasakan kenyamanan dan kekhusyu’an ketiika melaksanakan ibadah. Terdapat beberapa masjid yang memiliki bangunan menarik salah satunya adalah masjid yang berada di Ghana yaitu masjid Larabanga. Masjid ini sangat unik karena terbuat dari lumpur khas benua Afrika yang ada hingga saat ini karena telah dibangun sudah sangat lama sejak tahun 1421. Masjid ini menjadi salah satu masjid tertua di Afrika Barat. Bangunan masjid yang bergaya arsitektur Sudan di desa Larabanga ini mampu menarik perhatian orang lain.

Masjid Larabanga disebut juga sebagai Mekahnya Afrika Barat karena memiliki kekayaan sejarah dan nilai arsitekturalnya yang sangat tinggi.

Masjid Larabanga di Ghana                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Masjid yang memiliki ciri khas arsitekturnya yang berukuran segiempat dan tidak terlalu besar ini sangat mirip dengan surau yang berada di Indonesia. Ukurannya seluas 8 x 8 meter dilengkapi dengan pilar-pilar yang menopang atapnya dan ditambah lagi dengan pilar yang menjulang keatas. Dimasjid ini juga terdapat 4 buah pintu masuk dan sebuah menara di bagian sudut barat bangunan. Selain itu masjid yang dilengkapi dengan kerangka struktur atau pilar-pilar yang menopang atapnya sangat kuat dan kokoh. Masjid ini juga memiliki khas dengan dua menara kembar yang berbentuk piramida yang fungsinya sebagai menaara dan mihrab masjid. Ditmabah lagi dengan beberapa plar tambahan dengan puncak yang menjulang tinggi memberikan keragaman pada atap masjid Larabanga. Masjid ini memiliki empat pintu masuk yang setiap pintu masuk tersebut digunakan untuk kepala kampong, jamaah wanita, jamaah pria dan juga untuk muazin.

interior Masjid Larabanga di Ghana

Terdapat juga tumbuh sebuah pohon baobab yang sangat kokoh dan besar di dekat salah satu pintu masuknya. pohon tersebut hingga saat ini masih dilestarikan. Dan dibawah pohon ini lah dimakamkan seorang pendiri masjid Larabanga yang bernama Ayuba. Tak sedikit orang yang datang ke tempat ini hanya sekedar untuk melaksanakans halat atau penasaran ingin melihat masjid yang sudah lama dibangun. Dalam masjid Larabanga ini terdapat koleksi mushaf kuno yang diyakini oleh penduduk setempat sebgai pemberian dari langit untuk seorang imam masjid yang bernama Yidan Barimah Bramah pada tahun 1650 Masehi.

Selain itu, masjid yang berada di Afrika Barat ini telah mengalami restorasi beberapa kali sejak awal didirikan. Karena dibangun sudah sangat lama, masjid Larabanga memiliki nilai sejarah yang tinggi dan masuk dalam daftar 100 situs dunia yang h arus diselamatkan versi The World Monuments Fund’s. World Monuments Fund (WMF) juga telah memberikan kontribusi yang sangat besar untuk masjid ini. Selain itu, masjid ini juga terdaftar masuk dalam salah satu ditus yang paling terancam punah. WMF juga sangat peduli dan memberikan perhatian yang besar lepada masjid Larabanga karena pernah mengalami kerusakan oleh terjangan badai pada tahun 2000. Dilakukan juga restorasi total agar bentuk masjid ini dapat kembali ke bentuknya seperti semula. WMF juga melaksanakan kegiatan ini dan mendapatkan dana atas lembaga keuangan Amerika Serikat atau American Express yang telah menyediakan hingga $50.000 untuk keperluan tersebut. Selanjutnya dalam proses restorasi total tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati yang dilakukan oleh lembaga tersebut dan dibantu oleh beberapa para seniman yabg memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang pembuatan masjid Larabanga yang bangunannya terbuat dari lumpur ini.

Masjid Jamiul Alfar- Red Masjid – Masjid Merah

Masjid Jamiul Alfar- Red Masjid – Masjid Merah

Memang dari luar, tampilan tempat nyentrik ini bisa menipu karena lebih mirip taman bermain anak yang dihiasi warna merah dan putih yang tajam. Namun jangan salah sangka, karena tempat ini bukanlah tempat bermain, akan tetapi merupakan masjid sebagai tempat ibadah umat muslim di Sri Lanka.

Masjid Jamiul Alfar

Di Kolombo, Srilanka terdapat sebuah masjid yang sangat megah dan terkenal hingga penjuru dunia. Masjid tersebut sangat mempesona karena memiliki bangunan dan warna yang mencolok sehingga menarik perhatian orang lain untuk mengunjungi masjid ini. Tak heran, masjid Jamiul Alfar ini merupakan ikon pariwisata dan masjid tertua dan terbesar di kota Kolombo, Sri lanka.

Pembangunan masjid indah ini hanya memakan waktu satu tahun saja yang dimulai dari tahun 1908 dan dirancang oleh seorang arsitek bernama HL Saibo Lebbe. Yang menjadikan ciri khas dari masjid ini adalah ornamen dindingnya yang belang berwarna merah putih. Namun jika diihat, warna di masjid Jamiul Alfar ini dominan berwarna meah sehingga masjid ini diberikan julukan Samman Kottu Palli atau Rathu Palliya atau Masjid Merah.

Bermula ketika para saudagar muslim yang berasal dari India yang melakukan perjalanan bisnis dan beristirah di wilayah Sri Lanka. Karena seringnya singgah ditempat it, maka mereka berinisiati untuk membuat tempat beribadah yang menjadi persoalan serius pada saat itu. Akhirnya dibangun masjid tersebut dengan menggunakan dana yang ditanggung oleh komunitas muslim Peta di saat itu. Masjid ini memiliki sentuhan India yang sangat kental serta sentuhan dari masjid dinasti Mughal dengan bangunan kastil Inggris sangat terasa di Masjid Jamiul Alfar ini.

Bentuk bangunannya yang sangat unik dirancang seperti bangunan istana gula-gula dengan warnanya yang berlapis merah putih seperti kue lapis. Meskipun warnanya sangat menarik namun nilai spiritual yang berada di masjid ini sangat terasa. Di dalam masjid megah ini, dindingnya berwarna hijau toska dengan menampilkan efek kue lapis dengan warna merah-putih. Arsitek masjid ini juga berusaha untuk mengedepankan pola-pola lengkungan disetiap bagian atap dinding. Pola lengkungan tersebut digunakan di hampir setiap pintu masuk yang menghubungkan bagian ruang tempat shalat dan bagian halaman masjid dilantai dasar.

interior Masjid Jamiul Alfar

Masjid Jamiul Alfar ini memiliki menara seperti lazimnya bagunan sebuah masjid, namun keseluruhan menaranya berjumlah empat belas menara, dimana dua diantaranya berukuran sedang, dan sisanya berukuran lebih kecil. Masjid ini selalu ramai oleh pengunjung yang ingin beribadah, terutama pada saat shalat jum’at. Karena banyaknya jema’ah yang datang, masjid ini dilengkai pengeras suara disetiap sudut masjid agar suara imam terdengar dari setiap sudut.

Memang pada awal masjid ini dibangun pada tahun 1908 hanya memiliki kapasitas sekitar 1.500 orang jemaah saja. Namun dengan seiringnya perkembangan Islam di Sri Lanka, membuat jemaah shalat semakin bertambah, pada tahun 1975 dilakukan renovasi perluasan bangunan masjid dengan membangun gedung tambahan yang berdekatan dengan bangunan asli, dengan tujuan agar jumlah jemaah yang bisa ditampung bisa sampai lebih dari 3 kali lipat dari sebelumnya.

Saat ini kapasitas keseluruhan bangunan masjid dapat menampung sampai lebih dari 5,000 jemaah, sekaligus membuat masjid Jami Ul-Alfar menjadi masjid terbesar di Sri Lanka. Setiap harinya, jumlah jemaah shalat di masjid ini mencapai lebih dari 2,000 orang. Sedangkan pada waktu bulan Ramadhan jumlah jemaah meningkat sampai lebih dari 3,000 jemaah.

Masjid Imam Reza di Iran

Masjid Imam Reza di Iran

Masjid Imam Reza di Iran

Masjid sebagai tempat beribadah umat islam sangat diperhatikan dari segi  bentuk dan kemegahannya. Salah satu masjid yang sangat indah dan besar berada di Iran yang bernama masjid Imam Reza. Tempatnya terletak di wilayah Mashhad, Iran. Dinamakan masjid Imam Reza karena didalam masjid ini terdapat sebuah kompleks yang berisi imam Reza, imam Syiah Imamiyah ke delapan. Memiliki total luas area yang mencapai 598.657 meter persegi atau 6.443.890 kaki menjadikan masjid ini salah satu terbesar di dunia. Dengan rincian area di dalam masjid seluas 267.079 meter persegi dengan tujuh halaman yang mengelilinginya dapat mencakup area seluas 331.578 meter persegi. Juga terdapat ruangan yang mirip Masjid Goharshad, perpustakaan, museum, empat seminari, makam, serta Universitas Ilmu Islam Razavi dan beberapa ruangan lainnya. Masjid ini juga dapat menampung hingga jamaah yang berjumlah 700.000 orang. Karena saking megahnya masjid Imam Reza ini tak jarang orang mengunjunginya juga sebagai pariwisata di Iran.

Masjid ini memiliki sejarahnya sendiri. Dimulai dengan seorang yang  bernama Imam Reza yang lahir di Madinah pada 765 Masehi. Imam Reza sangat dikenal karena memiliki pendidikan yang tinggi dan suci. Sehingga ketika usianyamencapai 51 tahun ia ditunjuk dan dipilih oleh Khalifah Abbasiyah Mamun yang seorang Muslim Sunni untuk menggantikan dirinya. Tak hanya menjadi khalifah, Imam Reza juga dinikahkan dengan anak Khalifah Abbasiyah Mamun.

Imam Reza sementara tinggal di Sanabad lalu berangkat ke Baghdad untuk merebut kembali kota tersebut. Tetapi selama perjalanannya, ia sakit dan meninggal dunia. Istri imam Reza sangat bersedih dan menguburkannya di tempat saat ini yang menjadi masjid Imam Reza. Makam ini sebenarnya suda beberapa kali dihancurkan. Pertama dihancurkan oleh Sabuktagin mseorang Sultan Ghaznevid pada tahun 993 Masehi. Lalu pada than 1220 M dijarah oleh bangsa Mongol. Tapi setiap kali dihancurkan, masjid ini dibangun kembali dengan ukurannya yang lebih besar dan lebih indah.  Pada suatu saat masjid ini direnovasi dengan sangat indah dan menghebohkan dunia. Bagaimana tidak, perenovasian yang dilakukan pada tahun 1501 hingga 1786 oleh raja-raja Safawi memperindahnya dengan menggunakan emas dibagian kubahnya. Ditambah dengan menara keramik dan halaman yang luas serta bangunan akademik yang cukup luas.

Bangunannya yang sangat indah dan megah menawarkan indikasi yang sangat kom[leks. Sejarah dari kota suci dan kekuasaaanya yang pernah menjadi khalifah ini tercermin dari berbagai ruang-ruang fisik kota yang penuh dengan idelogis. Tak heran kemegahannya semakin bertambah sejak beberapa kali dihancurkan dan dibangun kembali karena berpindah tangan dari satu dinasti dan dinasti lainnya. Namun hasil yang didapatkan sangat menakjubkan dan menawan. Dihiasi dengan kubah emas,menara keramik dan bangunan akademik yang sangat luas. Bahkan hingga saat ini baik pengunjung, wisatawan dan sejarawan bisa menyebut kompleks keagamaan ini sebagai ‘The Glory of the World Islamic Architecture’ atau disebut juga ‘Keagungan dalam Dubia Arsitektur Islam’.

interior Masjid Imam Reza di Iran

Tak sedikit orang yang datang ke masjid terbesar ke tiga ini setelah masjidil Haram dan masjid Nabawi. Dengan bertujuan untuk melaksanakan iadah, pariwisata atau bahkan belajar, masjid Imam Reza sangat cocok untuk di kunjungi. Tak hanya itu saja, makanan yang disajikan disana juga sangat enak yaitu kebab yang rasanya terkenal sangat lezat. Jadi sempatkan waktu untuk mengunjungi masjid ini ketika sedang berada di Iran.

Masjid  I-Jahan-Nuhma India

Masjid  I-Jahan-Nuhma India

India adalah suatu negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, namun ternyata negara tersebut memiliki pemeluk agama Islam yang cukup banyak pula. Agama islam yang berkembang di negara ini ditandai munculnya masjid-masjid besar dan indah. Selain Masjid Taj- Mahal yang terkenal, ada salah satu masjid besar yang terkenal bernama Masjid I-Jahan-Nuhma, yang terletak dikawasan kota tua Delhi, tepatnya 1 km dari istana Lal Qila atau disisi jalan Chadni Chowk. Perjalanan menuju masjid ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum didaerah tersebut seperti autoricksaw atau lainnya.

Masjid I-Jahan-Nuhma India

Masjid I-Jahan-Nuhma juga dikenal sebagai masjid jami yang jemaahnya akan sangat banyak pada hari jum’at. I-Jahan-Nuhma dalam bahasa Persia diartikan sebgai Cermin Dunia, sehingga masjid ini menjadi salah saatu pendangan wisata religi dari para pengunjung maupun jemaah.  Masjid besar nan indah yang  dibangun pada zaman kerajaan Mughal ini mampu menarik perhatian para pengunjung baik dalam maupun luar. Masjid ini dinobatkan sebagai masjid terbesar dan Terindah di Delhi. Masjid ini merupakan masjid peninggalan raja Shah Jahan yang selesai dibangun pada tahun 1656.

Masjid I-Jahan-Nuhma mampu menampung sekitar 25.000 jemaah dalam ruangan utama masjid ini. Banyak sekali kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh warga sekitar masjid dengan mayoritas penduduknya muslim. Seperti halnya kegiatan bazaar yang dilakukan di sekitar daerah jalan menuju masjid, bazaar ini tentunya berkaitan dengan  kebutuhan umat muslim seperti buku-buku panduan beribadah, Al-Qur’an, pakaian muslim, kayu siwak dan sebagainya. Selain itu, didaerah sekitar wilayah masjid terdapat banyak restoran dan tempat – tempat menjual makanan yang halal khas muslim Mughal.

Secara corak artistik masjid I-Jahan-Nuhma ini memiliki dinding dengan warna merah bata dengan letak bangunan yang lebih menonjol dari pada bangunan lain disekitarnya. Dari jarak pintu masuk dengan halaman luar dipenuhi dengan anak tangga sebanyak lebih dari 20 anak tangga. Pada akhir tangga atau memasuki daerah pintu masjid depan untuk kaum wanita disediakan baju penutup sebagaimana ajaran yang berlaku, karena wanita yang memasuki masjid harus dalam keadaan tertutup. Dari pintu gerbang masjid, para pengunjung maupun jemaah harus melepas alas kakinya agar kesucian dan kebersihan area masjid terjaga.

interior Masjid I-Jahan-Nuhma India

Masjid ini memiliki tiga pintu gerbang besar yang terletak disebelah timur, selatan dan utara. Pintu-pintu gerbang ini semuanya disusun dari batu bata yang menjulang tinggi. Luas masjid ini sekitar 2160 m2 berada langsung menatap langit dan memiliki tempat wudhu ditengahnya berupa kolam air.

Masjid ini memiliki 2 menara pada ujung utara dan selatan gerbang masjid dengan masing – masing memiliki tinggi 41 meter. Pada bangunan utama masjid ini akan tampak kaligrafi dari ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis mengikuti bentuk dari gerbang masjid yang melengkung.

Jam kunjung juga ditetapkan pada peraturan masjid, hal ini disebabkan pengunjung yang datang bukan hanya dari kalangan muslim sehingga diharapkan tidak mengganggu kegaitan ibadah umat muslim yang memiliki  lima waktu sholat dalam sehari. Waktu untuk para pengunjung non-muslim yaitu diluar jam-jam sholat, misalnya setelah sholat subuh sampai dzuhur, lalu setelah sholat dzuhur sampai hampir tiba sholat ashar, nnamun pengunjung non-muslim tidak diperkenankan berkunjung lepas pukul  7 malam.

Masjid ini berdiri dengan elemen-elemen batu bata yang tersusun kokoh membentuk suatu bangunan yang megah. Atap masjid yang memiliki 3 buah kubah besar berhiaskan emas menambah  kemegahan dari Masjid yang berdiri sejak ratusan tahun silam. Menikmati keindahan arsitektur serta sejarah dari baitullah melalui masjid I-Jahan-Nuhma akan membawa wisata religi yang unik, karena wilayah tempat masjid ini berdiri merupakan mayorita umat Hindu.

Masjid Dimaukom – Masjid Pink Simbol Cinta dan Harmoni

Masjid Dimaukom – Masjid Pink Simbol Cinta dan Harmoni

Jika pada umumnya masjid berwarna natural dengan warna dasar putih, biru, maupun hijau. Di Filipina terdapat masjid yang unik dengan warna pink nan mencolok yang menghiasi seluruh eksterior dan interior masjid. Masjid dengan warna nyentrik ini sampai saat ini masih menjadi pusat perhatian masyarakan maupun wisatawan yang datang.

Masjid Dimaukom

Diberi nama “Masjid Dimaukom” karena masjid yang berlokasi di Kota Datu Saudi Ampatuan, Provinsi Maguindanao , Filipina Selatan tersebut dibangun atas perintah Walikota Datu Saudi Ampatuan, Samsodin Dimaukom, pada tahun 2011 lalu. Pembangunan masjid ini memakan waktu sekitar 2 tahun sampai pada tahun 2013 lalu.

Meskipun sudah dibuka sejak bulan Ramadhan tahun 2013, masjid ini baru populer karena ada kalangan para wisatawan mancanegara yang mampir dan memperkenalkan masjid tersebut dalam akun dunia maya mereka. Setiap harinya banyak sekali pengunjung masjid nyentrik ini, mulai dari orang Islam sampai orang-orang kristen yang ingin mengagumi keindahan dan keunikan masjid tersebut. Keunikan lainnya adalah masjid ini dibangun oleh para pekerja beragama Kristen.

Masjid ini dijuluki dengan “Masjid Pink” karena pada awal pembangunannya, umat kristen mau membantu dalam pembangunan masjid dengan sukarela atau tidak menerim upah sama sekali. Maka dari itu masjid ini diberikan warna pink yang dominan, sebagai bentuk apresiasi rasa persaudaraan, perdamaian, cinta kasih, serta harmoni antar umat beragama yang sangat kuat. Akhirnya, masjid ini dibangun dengan warna pink sebagai lambang atau simbil persatuan dan persaudaraan antar umat beragama di kota terebut.

Sedangkan warna pink menurut walikota Samsodin Dimaukom, dapat menjadi lambang kedamaian dan cinta, yaitu cinta pada Allah, sesama manusia, dan cinta kepada negara.

Memang jarang sekali terjadi toleransi antara umat islam dan kristen di dunia ini, namun berbeda halnya jika sedang berada dikawasan masjid pink ini. Anda bisa merasakan kehangatan dan ramah-tamah yang terjadi pada umat muslim disana dengan orang kristen. Kesinambungan hubungan yang harmonis tersebut benar-benar tercermin pada dunia nyata tanpa rekayasa.

Dari segi Arsitektur, keseluruhan warna yang dimiliki masjid ini dominan berwarna pink mencolok. Semua ornamen dan dinding masjid diberi warna pink juga. Pada awal kawasan masjid, sudah terlihat dengan jelas bahwa masjid ini memang didesain sedemikian rupa dengan warna dasar sama.

Selain masjid yang di cat dengan warna pink tersebut, ternyata bangunan terdekat dari masjid seperti pasar dan kantor polisi juga ikut diwarnai pink, bahkan siapapun yang datang berkunjung ke masjid ini harus berpakaian pink untuk menghormati keharmonisan masyarakat di sekitar masjid.

Warna yang terlihat berbeda di dalam interior masjid adalah tiang penyangga atas yang berwarna keemasan.

interior Masjid Dimaukom

Saat melangkahkan kaki ke dalam masjid, nuansa warna merah muda melekat pada semua interior dalamnya, yang berbeda hanya ketajaman warna di dalam ruang utama lebih redup daripada warna eksterior yang lebih mencolok.

Seperti masjid pada umumnya, masjid ini memiliki 1 kubah  besar dengan beberapa kubah kecil yang mengelilinginya serta 2 penjuru menara yang semuanya berwarna pink.

Untuk dapat menikmati keunikan dan keindahan masjid ini, pengunjung bisa naik Husky Bus atau jeep dari cotabato dengan jarak tempuh yang diperlukan sekitar 3 jam .

Jika kita melihat bangunan tersebut secara sekilas, memang tampak seperti rumah barbie yang ada di negeri dongeng, apalagi desain yang diadopsi oleh masjid tersebut sangat unik.

Masjid Badshahi yang indah dan megah di Pakistan

Masjid Badshahi yang indah dan megah di Pakistan

Bangunan masjid yang memiliki arsitektur indah dan menawan akan membuat para jamaah dan orang lain terpesona oleh tempat ibadah umat islam. Dengan adanya masjid seperti itu, kenyamanan dan kekhusyu’an dalam melaksanakan shalat akan lebih terasa. Di Pakistan terdapat masjid yang terkenal akan kemegahan dan keindahannya. Masjid tersebut adalah masjid Badshahi.

Masjid Badshahi

Masjid Badshahi ini sangat memukau hingga penjuru dunia karena memiliki ornamen yang sangat menarik. Selain itu, masjid ini juga menjadi masjid yang terbesar ke lima di dunia. Dalam bahasa Persia, Badshahi memiliki arti masjid Sang Raja dikarenakan pada masanya masjid ini dibangun atas perintah Sultan Mughal, Akbar. Pada saat itu, Sultan Mughal, Akbar adalah seseorang yang sangat menyukai seni. Tak heran masjid ini menghasilkan seperti seni yang sangat indah luar biasa. Lalu pembangunan masjid ini berada di bawah pengawasan Sultan Mughal, Aurangzeb. Pembangunannya dimulai pada tahun 1671 dan selesai di tahun 1673. Masjid Badshahi dapat menampung jamaah hingga berjumlah lebih dari 100.000 orang. Di ruang doa utama dapat menampung hingga jamaah berjumlah 55.000 dan selanjutnya di halaman dan portico dapat menapung jamaah hingga 95.000. Tak heran selain menjadi masjid terbesar kelima di dunia setelah Masjidil Haram di Mekah, Masjid Nabawi di Madinah, Masjid Hassan II di Casablanca dan Masjid Faisal di Islamabad, masjid ini merupakan masjid yang terbesar ke dua di Pakistan dan di Asia Selatan.

Kemegahan dan terkenalnya masjid ini didukung dengan letaknya yang sangat strategis yang berada di Taman Iqbal di Lahore, Pakistan. Karena taman ini merupakan salah satu taman terbesar di Pakistan dan banyak pengunjung yang sengaja datang ke tempat ini lalu mendatangi ke Masjid Badshahi. Masjid ini juga memiliki menara yang sangat tinggi  melebihi Taj Mahal yaitu dengan tinggi 4,2 meter. Dari luar juga terlihat bangunan yang didominasi oleh warna merah bata ini memiliki ornamen cantik di setiap sisi temboknya. Namun jika dilihat sepintas, arsitektur yang meleka di masjid Badshahi ini memiliki desain yang hampir mirip dengan masjid Jama di New Delhi, India yang telah dibangun pada tahun 1648. Masjid tersebut memang dibangun oleh ayah dan pendahulu Sultan Aurangzeb yaitu Sultan Shah Jahan. Tak heran desain yang dihasilkan pada masjid ini mendapat pengaruh Islam, Persia, Asia Tengah dan India.

interior Masjid Badshahi

Pada masanya juga masjid ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan di sekitar tempat itu hingga diberbagai tempat lainnya. Karena kemegahan dan keindahannya, masjid ini merupakan salah satu contoh semangat dan keagungan dari era Mughal. Masjid yang memiliki fondasi dan struktur bangunannya berasal dari batu bata dan tanah lempung yang dipadatkan ini menghasilkan masjid yang berdiri kokoh dan besar. Tanah lempung yang dipadatkan dengan cahaya sinar matahari kemudian di balur dengan lempengan batu pasir merah pada bagian kubah yang berlapis pualam putih.

Dan pada tahun 1993 pemerintah Pakistan menganjurkan untuk memasukkan Masjid Badshahi sebagai Situs warisan Dunia UNESCO. Selanjutnya masjid ini telah terdaftar dalam Daftar Tentatif Pakistan dan kemungkinan mendapatkan nominasi ke Daftar Warisan Dunia oleh UNESCO.

Tidak lengkap ketika berada di Pakistan jika tidak mengunjungi masjid Badshahi di kota Lahore ini yang mempunyai sejarah penting bagi negara Pakistan. Dalam kurun waktu selama 313 tahun atau dimulai pada tahun 1673 hingga 1986 masjid ini merupakan masjid terbesar di wilayah Pakistan sebelum pada akhrinya dapat dikalahkan oleh masjid Shah Faisal di Islamabad.

Masjid Agung Djenne – Masjid Dari Lumpur

Masjid Agung Djenne – Masjid Dari Lumpur

Masjid Agung Djenne

Biasanya masjid memiliki bangunan yang identik dengan kubah dengan hiasan beragam mosaic dan dilengkapi dengan menara yang tinggi menjulang. Namun di Afrika Barat terdapat sebuah masjid yang sangat unik dan megah tepatnya di sebuah kota kecil di pusat Mali. Masjid yang megah dan unik ini pembuatannya selesai hanya dalam kurun waktu satu tahun yang dibangun pada tahun 1906. Keunikan dari masjid ini adalah karena terbuat dari lumpur dan diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan situs sejarah dunia di tahun 1988. Bahkan di setiap tahunnya panduduk Mali selalu mengadakan festival dan melapisinya dengan plester yang sangat banyak. Festival tersebut sangat meriah dan penuh tawa. Tak hanya orang dewasa saja, anak-anak juga banyak yang mengikuti festival ini, mereka mencampur lumpur dengan sekam lalu memplester ulang masjid Djenne dengan tujuan agar bangunan masjid tetap kokoh.

Masjid yang pertama kali dibangun pada tahun 1240 Masehi  ini terlihat polos dan hanya terdapat  sedikit ornamen yang menghiasinya. Masjid ini dibangun oleh Sultan Koi Kunboro, pada masa awal dia masuk islam dan mengubah istananya sendiri menjadi tempat untuk beribadah. Keindahan dan kemegahan masjid pada saat itu diakui oleh Penguasa Djenne di awal abad ke 19, Sheikh Amadou.  Arsitektur yang dibuat pun bergaya ala Sudan Sahili yang mencerminkan kearifan masyarakat lokal Afrika Barat. Sang arsitek, Ismaila Traore telah menyulap lumpur yang digunakan sebagai bahan dasar masjid menjadi sebuah masjid yang memiliki seni tinggi. Ismaila hanya menggunakan bahan-bahan tradisional seperti batang dan cabang pohon yang diaduk bersama bata lumpur kering dan juga tanah liat serta hanya menggandalkan sinar matahari sebagai pengerasnya. Lumpur yang dihasilkan menjadi kuat dan kokoh seperti halnya semen.  Terdapat dinding yang kokoh dibangun diatas tanah seluas 5.625 meter persegi yang terbuat dari bata lumpur dan pada bagian luarnya diplester menggunakan lumpur yang sangat lembut. Keunikan lainnya adalah Pohon palem yang digunakan untuk membuat tembok masjid ,sehingga mampu menyanggah masjid dari bahan lumpur.

proses pembangunan

Mihrabnya memiliki tiga menara yang tingginya mencapai hingga 11 meter dan menonjol di atas dinding utama. Dalam setiap menara tersebut berisi tangga spiral yang menghadapke atap. Di puncak menara tersebut yang berbentuk kerucut telur burung unta yang menyimbolkan kemurnian dan kesuburan. Dinding masjid Djenne memiliki ketebalan antara 40 sampai 60 sentimeter yang makin keatas dinding tersebut maka ketebalannya makin menipis. Dinding tersebut berfungsi untuk menahan berat dari struktur masjid dan juga memberikan insulasi sinar matahari gurun yang menyengat. Pada siang hari tembok dari luar perlahan terasa panas namun dibagian dalam tetap memberikan kesejukan bagi para jemaah. Sedangkan pada malam hari tetap terasa hangat karena udara panasnya tersimpan di dalam tembok dan memberikan kehangatan di dalam masjid tersebut.  Meskipun lantainya tidak berubin, suasana di masjid Djenne sangat terasa kental akan nuansa islami.

Tak hanya penduduk Mali saja yang mengunjungi atau melakukan ibadah di masjid ini, banyak orang dari berbagai mancanegara datang dan mengunjungi masjid unik ini. Tak jarang orang yang datang ke Afrika Barat selalu menyempatkan waktunya untuk sekedar melihat atau beribadah di masjid yang terbuat dari lumpur ini. Selain itu, tak jarang dari mereka datang untuk berdo’a, belajar hingga berguru pada ulama yang ada disana.

Masjid Dengan Dua Arah Kiblat – Masjid Qiblatain

Masjid Dengan Dua Arah Kiblat – Masjid Qiblatain

Masjid yang terletak di Quba tepatnya di jalan Al Walid di atas sebuah bukit kecil sebelah uatara Harrah Wabrah Madinah ini sangat terkenal. Pada awalnya dikenal dengan nama masjid Bani Salamah karena masjid ini dibangun diatas bekas rumah Bani Salamah yang kira-kira 7 kilometer jika dihitung dari jarak masjid Nbawi di Madinah.

masjid Qiblatain

Bentuk bangunan masjid yang berbeda dengan masjid lainnya ini sesuai dengan namanya, yaitu masjid ini memiliki 2 arah kiblat yang menjadi saksi perpindahan arah kiblat kaum Muslim. Sejasrahnya yaiitu dahulu sebelum arah kiblat ditentukan menghadap ke ka’bah, masjid Qiblatain ini menghadap ke Baitul Maqdis di yerussalem. Namun setelah mendapatkan wahyu Allah ketika Rasulullah melaksanakan shalat bersama sahabat yang menghadap kea rah masjidil Aqsha pada waktu dhuhur.

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah di hari Senin bulan Rajab. Pada saat shalat, turun lah wahyu surat Al-Baqarah ayat 144 tentang arah kiblat untuk menghadap ke arah Masjidil Haram. Saat itu juga Rasulullah langsung memutar arah shalat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah.

Selain itu terdapat juga dua tempat imam shalat. Satu untuk imam shalat yang menghadap ke Baitul Maqdis dan satunya lagi tempat imam shalat yang menghadap ke Ka’bah. Namun saat ini tempat imam di bagian yang menghadap ke Baitul Maqdis sudah tidak dipakai. Ruangan mihrab masjid ini memiliki konsep orthogonal lalu dengan simetri adanya kubah kembar dan juga menara kembarnya. Kubah utamanyaa saat ini menunjukan arah kiblat yang sekarang menghadap ke Ka’bah sedangkan kubah satunya digunakan hanya untuk mengingat sadanya sebuah sejarah tentang masjid ini. Tempat mihrabnya berupa pasir dan tidak ada sajadah sedangkan tempat imam satunya terdapat sajadah dengan mimbar yang kusus. Karena itulah masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain.

Masjid Qiblatain telah beberapa kali mengalami pemugaran. Pemerintah kerajaan Arab Saudi         di bawah Raja Fahd melakukan perluasan, renovasi dan pembangunan kontruksi baru tanpa menghilangkan cirri khas masjid tersebut di tahun 1987. Selain itu, pada sebelumnya Sultan Sulaiman telah memguarnya juga di tahun 893 Hijriyah  atau 1543 Masehi.

Masjid Qiblatain juga memiliki bentuk yang cukup megah dan hampir sama dengan masjid lainnya. Salah satunya adalah adanya tempat shalat khusus wanita yang telah disediakan yang letaknya terpisah dengan jamaah laki-laki yang jaraknya cukup jauh. Khususnya bagi wanita ketika ingin menunaikan shalat di masjid ini harus berjalan berputar disebelah kiri masjid. Tempat shalat yang disediakan untuk jamaah wanita ini memiliki ukuran 150 meter persegi. Namun jika ingin langsung menunaikan shalat dan langsung menuju ruangan shalat, maka dapat menaiki escalator yang sangat tinggi. Lalu ada rak yang disediakan untuk menaruh alas kaki para jamaah.

masid qiblatin interior

Bentuk kubah masjid Qiblatain ini sama halnya dengan bentuk kubah masjid lainnya terutama di Indonesia. Bahannya terbuat dari beton sehingga sangat kuat dan kokoh dan tidak diragukan lagi tentang ketahanannya. Warna kubah ini adalah putih menyesuaikan warna masjid dibawahnya yang mencerminkan kemegahan dan kesederhanaan dari bangunan masjid Qiblatain ini. Bahkan kubah ini telah bertahan hingga puluhan tahun. Selain itu, biaya untuk perawatannya juga sangat terjangkau.

Saat ini Masjid Qiblatain menjadi tempat perhentian bagi umat Muslim yang berkunjung ke Madinah salah satu alasannya adalah ingin melihat arah kiblat di masjid itu.