Masjid Agung Bangkalan Madura

Masjid Agung Bangkalan Madura

Masjid Agung Bangkalan terletak di Jalan Sultan Abdul Kadirun No. 5, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur.  Masjig Agung Bangkalan Madura ini ternyata sangat berkaitan erat dengan Robben Island / Pulau Robben, Afrika Selatan. Memang kita jarang mendengar tentang hal tersebut, karena memang kaitan ini terjadi pada saat masa penjajahan belanda.

Robben Island pada zaman penjajahan Belandan sampai pada masa rezim apartheir berkuasa di Afrika Selatan merupakan pulau kecil di lepas pantai Kota Tanjung Harapan, Afrika Selatan, yang digunakan sebagai tempat pengasingan maupun penjara untuk tahanan dari negara-negara yang dijajah.

Salah satu tokoh yang menuturkan kaitan antara Madura dengan Robben Islan adalah Nelson Mandela (Alm), yaitu seorang tokoh pembebasan Afrika Selatan.

masjid agung bangkalan madura

Di pulau tersebut, tepatnya didalam lingkup penjara, ada sebuah makam tokoh yang sangat di hormati, sampai-sampai makamnya dikeramatkan oleh orang-orang disana hingga saat ini. Pada makam keramat tersebut tertulis “The Grave of Shaikh Mathura”, kemudian penjelasan lain yang tertulis adalah, “Orang Pertama yang membaca Al-Qur’an di Afrika Selatan”.

Dihari pembebasan Nelson Mandela yang sudah dikurung hingga 29 tahun lamanya, dia menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam keramat tersebut sambil menjelaskan bahwa, perjuangannya selama 29 tahun belum ada artinya dibandingkan dengan orang yang dimakamkan tersebut. Tampaknya orang yang dimakamkan di sini adalah seorang pejuang negara yang sangat dihormati, orang ini dipenjarakan oleh penjajah sampai dia mati, bahkan dia belum sempat mengunjungi negerinya.

Pastinya pertanyaan yang muncul adalah siapa sebenarnya Shaikh Mathura yang dimakamkan di Afrika Selatan tersebut?. Shaikh Mathura atau biasa dibaca dengan Shaikh Madura, biasa disebut dengan Sayyid Abdurrahman Makuto, atau biasa di lekatkan dengan julukan Pangeran Cakraningrat IV, memiliki nama asli Tumenggung Suroadiningrat. Beliau merupakan penguasa Madura Barat pada pertengahan abad ke-16.

Pada masa kekuasaan Cakraningrat IV, wilayah kerajaan Madura meluas bahkan mencapai wilayah Jawa Timur. Namun, setelah kekalahan yang dialami melawan pihak Belanda, beliau sempat melarikan diri ke Banjarmasin, dan akhirnya tertangkap disana. Cakraningrat IV lalu di buang ke Robben Island, Afrika Selatan. Beliau dipenjarakan hingga akhir hayatnya, dan dimakamkan di areal pengasingan tersebut pada tahun 1753.

Cakraningrat IV sampai di Robben Islan pada tahun 1740-an, meskipun di tempat pengasingan, beliau tidak gentar dan tidak patah semangat dalam menyebarkan agama islam di wilayah tersebut. Sampai akhirnya satu persatu orang-orang disana memeluk agama Islam kemudian beliau menjadi imam pertama di Cape Town, dan juga menjadi orang yang pertama kali membaca ayat suci Al-Qur’an di Afrika Selatan.

interior masjid madura

Masjid Agung Bangkalan terletak di tengah kota Bangkalan, tepatnya di alun-alun Kota Bangkalan sebelah baratnya. Hingga sampai saat ini, Masjid Agung Bangkalan sudah mengalami beberapa proses renovasi.

Masjid ini berdiri diatas lahan seluas 11.527 meter persegi, sedangkan bangunannya memiliki luas 3.000 meter persegi. Bangunan asli yang masih dipertahankan sampai sekarang adalah bangunan utama masjid sebagai tempat sholat utama. Memiliki atap limas bersusun tiga sangat khas dengan arsitektur asli Indonesia. Meskipun sudah 2 kali di renovasi, namun masyarakat setempat tetap mempertahankan seni arsitektur asli pada bangunan utama masjid.

Sebanyak dua buah menara yang menjulang tinggi dibangun setelah masjid tersebut berdiri, menara tersebut dibangun dengan gaya masjid Turki dengan menara yang ramping dan runcing seperti pensil. Disebelah kiri masjid terdapat fasilitas tempat wudhu dan toilet untuk pria, sedangkan disebelah kanan terdapat tempat wudhu dan toilet untuk wanita.

Arsitektur dalam bangunan utama masjid dipenuhi sekitar 16 tiang penyangga yang terbuat dari kayu, dengan ukiran tumbuhan sulur yang terdapat dibagian bawah tiang penyangga. Kemudian mihrab di buat menjorok keluar, dengan mimbar disamping ruangannya. Lampu gantung besar nan klasik juga ikut diletakkan ditengah-tengah ruang sholat sebagai penerang utama.

One Comment

Leave a Reply to GRC KUBAH Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *