Masjid Sultan Ahmed Warisan Kekhalifahan Turki Usmani

Masjid Sultan Ahmed Warisan Kekhalifahan Turki Usmani

Negeri penuh pesona dengan pemandangan alam dan bangunannya membuat banyak wisatawan ingin berkunjung di negeri dua benua ini. Terletak pada belahan benua Eropa yang berdekatan dengan benua Asia, menjadi teritori yang strategis dalam memimpin dunia waktu itu. Pesona bangunan yang sangat memukau salah satunya adalah Masjid Sultan Ahmed. Masjid warisan kejayaan kekhilafahan Turki Usmani hingga kini tampil dengan megahnya.

masjid sultan ahmed

Dekat tepian Laut Marmara di kota Istanbul menjadi letak keberadaan Masjid Sultan Ahmed. Selain itu, masjid Sultan Ahmed dikenal dengan sebutan Masjid Biru. Pada waktu dulu warna biru menjadi warna interior pada masjid Sultan Ahmed, kemudian warna biru tadi dihilangkan karena bukan asli warna sebenarnya masjid. Namun warna kebiru-biruan tampak pada kubahnya ketika dilihat dari dekat.

Masjid Sultan Ahmed menjadi ikon kota Istanbul karena masjid tersebut adalah masjid terbesar di Turki. Selain itu arsitektur yang mempesona akan tampak memukau diwaktu-waktu yang tepat seperti pada senja hari. Pemandangan laut Marmara yang sangat indah juga tampak mempesona menjadi background dari keindahan masjid Sultan Ahmed.

Sejarah

interior masjid sultan ahmed

Sultan Ahmed I memerintahkan untuk mendirikan sebuah masjid pada kisaran tahun 1609 -1616. Sedefhar Mehmet Aga ditunjuk oleh Sultan Ahmed I sebagai arsiteknya. Dalam pembangunan masjid tersebut Sedefhar Mehmet Aga diminta membuat dengan megah, artinya biaya pembangunan ada berapapun dana yang dihabiskan. arsitektur masyhur Mimar Sinan adalah guru dari Sedefhar Mehmet Aga. Sultan Ahmed I menginginkan ada sebuah menara dari emas, tetapi karena sang arsitek salah mengartikan bahasa Altin dari Sultan menjadi Alti, maka di bangunlah 6 menara pada masjid tersebut.

Melihat hasil dari pembangunan 6 menara pada masjid tersebut, maka Sultan Ahmed sangat terpukau dengan keindahan dan arsitekturnya. Pembangunan masjid tersebut berselang 7 tahun untuk menyelesaikannya.

Arsitektur

pilar masjid sultan ahmed

6 menara yang ada di masjid Sultan Ahmed memiliki diameter 23,5 meter kemudian kubah memiliki ketinggian 43 meter, dan memiliki diameter 5 meter pada kolom betonnya. Istana Topkapı sangat dekat dengan masjid ini, sehingga menara dan kubah masjid terlihat dari arah istana tersebut.

Hiasan 20.000 keramik Iznik berwarna biru, hijau, ungu, dan putih sangat mendominasi pada interior masjid. Ketika cahaya matahari masuk menembus jendela patri maka ornamen bunga dan tanaman akan ditangkap pada dinding dan lantai masjid. Pilar pilar masjid yang terbuat dari marmer juga menambah keindahan interior masjid.

Seyyid Kasim Gubari membuat kaligrafi ayat ayat Al Quran pada interior masjid, beliau adalah seorang kaligrafer terbaik pada masa itu. Mihrab yang terbuat dari marmer dengan pahatan yang sangat indah membuta interior masjid semakin megah bak istana.